
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💞💞
.
.
.
⚘️⚘️⚘️⚘️⚘️⚘️
HAPPY READING
Satu hari kemudian.
" Papa .. Mala... !! " Teriak meri memanggil suaminya dan mala andk kesayangannya.
Meri sangat terkejut saat memeriksa perhiasannya ada beberapa yang hilang. Tepatnya 2 gelang nya hilanf, 10 gram dan 5 garm dan sudah dicari - cari tidak ketemu juga. Meri terus berteriak memanggil mala dan pak andi. Pak andi yang ada di kolam ikan sedang memberi makan ikan pun langsung berlari masuk menghampiri istrinya, begitupun dengan mala yang sedang tiduran dikamar langsung menemui mama nya.
" Papa ...mala " Teriak meri lagi karena kedua nya tak kunjung datang.
" Ada apa ma ?" Tanya pak andi dan mala bersamaan.
" Ada maling !" Jawab meri dengan singkat. Membuat pak andi dan mala langsung khawatir, tapi masak iya sore - sore begini ada maling.
Pak andi melihat lemari yang berantakan pun heran, dia mengira jika ada maling beneran. Tapi paj andi tidak khawatir, dirumah dia memang tidak menyimpan uang. Begitupun dengan berkas dan surat - surat penting sudah dia amankan dari jauh - jauh hari.
" Mana ada sore - sore begini ada maling ? " Tanya pak andi heran.
" Ada ini buktinya 2 gelang mama tidak ada. Hanya tinggal cincin sama anting saja , yang hilang 2 yang masing - masing beratnya 10gram dan 5gram pa, mama sudah mencari sampai lemari berantakan begini tetap tidak ketemu juga. Hikss... Hikss..." Ucap meri lalu menangis.
Pak andi sama sekali tidak kaget dengan cerita meri, karena dia tahu kemana dua gelang itu. Namun dia masih diam tidak langsung memberitahu kemana gelang milik meri.
" Ini pasti Aluna ! Iya Aluna, kemarin saat dia pulangkan mama sama kamu masih dipasar.Pasti dia masuk ke kamar ini dan mengambil perhiasan mama " Ucap mama meri berfikir negarif kepada aluna.
" Iya bertul itu ma , pasti aluna " Ucap mala sependapat dengan mamanya.
__ADS_1
" Jangan asal bicara kalian ! Jika tidak ada buktinya jangan asal tuduh, kalian menuduh tanpa bukti jadi jatuhnya menjadi fitnah. Bukan aluna yang mengbil tetapi papa yang sudah mengambil gelang mama sekitar satu bulan atau dua bulan yang lalu papa lupa " Ucap pak andi dengan santai.
Pak andi berjalan keluar kamar dan duduk si sofa ruang keluarga, meri dan mala pun mengikuti pak andi. Mereka duduk di sofa seberang pak andi.
" Jadi papa yang mengambil gelang mama ? Untuk apa pa ?" Tanya meri dengan serius.
" Iya " Jawab pak andi singkat.
" Untuk apa pa? Dan sekarang mana gelangnya ?" Tanya mama meri segera ingin tahu dimana dua gelangnya disimpan oleh seuaminya.
" Untuk bayar hutang. Gelangnya sudah aku pakai bayar hutang - hutang mu. Tapi lebih tepat nya untuk menebus surat motor yang sudah mama gadaikan kepada rentenir tanpa sepengetahuan papa , papa rasa sudah cukup jelaskan papa menjelaskannya. Sekarang kamu sudah tahu kan kemana dua gelangmu itu ,jadi sekarang lebih baik kamu berhenti menangis dan segera masak karena sudah mau malam " Ucap pak andi bicara tanpa melihat kearah istrinya.
" Papa kenapa menebus surat motornya memakai gelang ku ? Itukan surat motor papa, kenapa perhiasanku yang papa korban kan ?" Tanya meri tidak terima.
" Yang menggadaikan surat motor kan kamu ma, jadi wajar dong kalau papa menggunakan perhiasan itu untuk menebus surat motor ku, lagi pula waktu itu papa memang lagi tidak ada uang. Makanya ma kalau mau bertindak itu di fikirkan dulu akibatnya , jangan ceroboh " Ucap pak andi lalu bangkit dan berjalan menuju kamarnya.
" Papa harus mengganti dua gelang ku itu. !!" Teriak meri tetap tidak terima perhiasannya dipakai untuk menebus surat motor.
Meri masih saja menangis, dia tidak rela dan sampai kapanpun dia tidak rela. Mala mengusap pundak mama nya untuk menenangkan sang mama agar tidak menangis lagi.
" Itu untuk bayar kamu kuliah mala " Jawab mama meri masih menangis.
Hhhuuffff
Mala menghembuskan nafas dengan berat, lagi - lagi soal kuliah. Sebenarnya dia sendiri sudah malas untuk kuliah tapi dia malu jika harus berhenti kuliah, apa kata teman - temannya nanti. Belum lagi soal aluna, mala jelas tidak mau kalah saing dari Aluna.
********
" Apa mama masih saja tidak menyukai aluna setelah mama tahu semuanya tentang aluna ?" Tanya pak akbar kepada istrinya.
Mama sita masih belum sepenuhnya bisa menerima aluna untuk menjadi menantunya. Padahal siapa aluna dan pendidikan aluna dia sudah tahu, bahkan aluna adalah seorang wanita yang cerdas dan mandiri.
" Mama belum tahu pa, yang terpenting mama sudah menganggapnya menantu. Mama juga tidak tahu kenapa hati mama masih ada sedikit rasa tidak suka kepada Aluna." Ucap mama sita mengakui perasaannya.
" Itu semua karena mama masih termakan rayuan meri dan anaknya itu. Papa tidak menyangka loh kalau meri itu perempuan yang tidak punya rasa kasih sayang kepada Aluna, beruntung candra menikah dengan aluna setidaknyadia bisa melindungi dan membahagiakan aluna" Ucap pak akbar.
__ADS_1
" Oh iya ma, bagaimana kalau besok kita kekontrakan nya candra. Papa dengar sebentar lagi candra akan pindah rumah " Ucap pak akbar.
" Pindah ? Pindah kemana ? Kerumah ini atau ke villa ?" Tanya mama sita.
" Pindah kerumah pak tirta yang sudah dia beli dan uangnga untuk ganti rugi keperusahaan. Rumah itu cukup bagus dan besar, jarak ke pabrik juga tidak jauh. " Ucap pak akbar menjaskan.
" Mama mau lihat rumahnya dong pa " Seru mama sita.
" Iya besok , sekarang sudah malam papa malas mau keluar rumah. Daerah sini kalau malam dingin banget, didalam rumah saja dingin apa lagi diluar sana " Ucap pak akbar.
Drett... Drett... Drett...
Tiba - tiba getaran ponsel mama sita mengagetkan , ada panggilan masuk dari mama meri. Dengan malas mama sita menganggkatnya.
[ Hallo jeng meri ] Sapa mama sita .
[ Iya hallo jeng sita maaf malam - malam mengganggu. Kemana saja jeng kok tidak pernah ada kabar, terakhir main kerumah jeng sudah dua minggu yang lalu. ]
[ Kabar saya baik jeng, ya saya memang jarang ada di desa. Ada urusan dikota yang mengharuskan aku pulang ke kota , tapi ini sudah di desa lagi kok jeng. Mainlah kesini ajak mala sekalian biar ramai ]
* Aku ingin tahu apa kamu akan datang kerumah ku dan menceritakan anisa wanita bodoh. Padahal kalian berdualah yang bodoh *Gumam mama sita dalam hatinya.
[ Oh jeng sudah di desa ? baikla besok kami akan main ke rumah jeng sita. ]
[ Baiklah saya tunggu ya jeng meri, salam untuk mala ya jeng. ]
Klik...
Tanpa menunggu jawaban dari meri, mama sita langsung mematikan sambungan teleponnya, malas lama - lama berbasa - basi dengan meri. Bagi mama sita, meri tak ubahnya sebagi penjilat.
*********
RATE BINTANG 5NYA DULU YA KAK 🙏❤️❤️
LIKE, KOMENTAR, VOTE, FAVORITE, DAN BERIKAN HADIAHNYA YANG BANYAK YA KAK 🙏❤️
__ADS_1
TERIMAKASIH 🙏❤️