
"Klek." Suara pintu di buka oleh Pembantu yang bekerja di Rumah Sasha.
"Nona mau bertemu dengan Siapa,,?" Tanya Mbok Wati yang Tak mengenali Sherlly sama sekali. Karena Wajah Sherlly Masih di balut dengan perban.
"Saya Mau bertemu dengan Majikan kamu, Apakah beliau masih di Rumah." Timpal Sherlly, Seketika Mbok Wati Mengenali Suara yang Sangat familiar baginya.
"Tunggu..., Tunggu. Suara Nona Ini sepertinya sudah Tak asing lagi di telinga saya," Ucap Mbok Wati.
"Tentu Saja mbok Tak Asing lagi dengan Suara Saya...,Saya ini Sherlly mbok." Balas Sherlly.
"Owalah...,Non Sherlly. Terus ini Anak Siapa Non,,? Nona kemana Saja selama ini, Tak pernah pulang lagi kerumah." Sahut Mbok wati Yang pada Akhirnya mengetahui, Orang Yang berdiri di hadapannya Adalah Tuannya.
Sasha Yang heran melihat Mbok wati dengan Wanita yang Wajahnya masih di balut perban, Terlihat Akrab. Ia langsung menghampiri Mbok Wati yang Masih berdiri di Pintu utama Mansion.
"Siapa dia mbok,,?" Tanya Sasha mengencangkan Suaranya.
"Ini Nona Sherlly, Non Sha." Sahut pembantu nya Seraya menoleh.
"Sherlly,,?" Gumam Sasha dalam hatinya bertanya-tanya .
"Benarkah Kamu kak Sherlly,,?" Tanya Sasha.
"Iya Ini kaka Dek, Kak Sherlly." Balas Sherlly Antusias.
"Lalu Anak yang kamu gendong itu anak Siapa,,? Jangan bilang kamu mempunyai Anak lagi kak! " Timpal Sasha.
"Bolehkah kaka Masuk ke Rumah dek,,? Nanti akan Kaka ceritakan semuanya." Sahut Sherlly terhadap Sasha.
"Silahkan masuk Kak, Ngapain juga kamu berdiri diluar." Sasha bersikap Ramah Terhadap kakanya.
Kemudian Sherlly memasuki Rumah Kediamannya, saat bersama dengan Sasha.
"silahkan duduk kak." Ucap Sasha terhadap Kakaknya.
"Terimakasih dek, Kamu Masih mau menerima Kakak mu ini." Timpal Sherlly sambil meletakkan pantatnya.
"Kamu Jangan terlalu Naif kak, Kamu tahukan kenapa aku masih mau menerima kamu Saat ini, Itu semua tak lebih Rasa hormat ku pada Mommy." Ucap Sasha .
"Maksud Kamu,,?" Balas Sherlly Bingung.
"Maksud Aku, Jika Kak Sherlly ingin tinggal disini silahkan saja. Tapi Ada syaratnya!" Ucap Sasha Dingin.
"Apa Syaratnya,,?" Tanya Sherlly pada Sasha.
__ADS_1
"Kamu kelola perusahaan ku, Karena Aku akan pindah ke German dengan Devano. Kami akan menikah di sana." Balas Sasha Singkat.
Sherlly Terdiam Berusaha menetralisir permintaan Adiknya, Sekaligus Kaget karena memutuskan menikah dengan laki-laki Yang Sangat Bajingan itu.
"Apakah kamu serius, Benarkah kamu Akan menikahi Devano,,? Kamu tidak sedang bercanda kan Dek. Kamu tahukan Devano itu laki-laki bajingan." Ucap Sherlly Kaget.
"Kalau Devano Bajingan, Apa bedanya dengan Adrian Kak,,? dulu kamu tertipu Oleh nya kan." Timpal Sasha membalikkan Perkataan Kakanya.
"Kakak, Kemari bukan mau berdebat dengan kamu Sha, Niat Kaka meminta pertolongan dari kamu." Ucap Sherlly .
"Sesuai Yang aku katakan Tadi, Kamu terima Syarat yang aku katakan. Maka Aku akan menolong kamu kak." Ucap Sasha Dingin.
Tanpa berlama-lama Sherlly langsung mengiyakan Syarat dari Sasha adiknya.
"Baiklah Kaka terima Syarat dari kamu, Tapi ijinkan Kakak merawat putri Angkat kakak ini!" Ucap Sherlly.
"Baiklah kalau begitu, Oh Yah...,kenapa Dengan Wajah kamu kak,,?" Tanya Sasha yang baru menanyai keadaan Wajah Sherlly yang di balut dengan perban.
"Seharusnya Kamu sejak tadi bertanya tentang keadaan Wajah kakak, Sha. Kakak tak habis fikir ternyata kamu telah berubah Sha." Lirih Sherlly Berbicara dalam Hatinya.
"Sherlly Tampaknya Sudah berubah, Jadi tidak mungkin Aku menggunakan nya untuk membalas Karina dan Adrian." Gumam Sasha dalam hatinya, Berjalan kembali ke Kamarnya untuk mengambil Tas kerjanya dan menemui Ratu putri nya.
Tidak berapa lama Sasha kembali dari kamarnya, Sambil menggendong Ratu putrinya. Sementara Sherlly Masih terduduk di Sopa, Ruang keluarga Di dalam Rumahnya Sasha.
"Terimakasih Ya dek, Atas bantuan nya." Balas Sherlly Sambil menggendong Putri Angkat nya Yaitu Rembulan.
"Sudahlah tidak Usah berterimakasih, Ini adalah kerjasama Yang saling menguntungkan." Sahut Sasha Cuek.
• • •
Icha sudah berlinang Air mata Saat mengetahui Kalau menantunya Lumpuh, Sesekali ia menatap Cucunya Yaitu "Bintang"
"Hiks...hiks...hiks..." Cucu Oma yang sabar Yah, Sayang." Badai Pasti berlalu Yah! Bintang Kan Masih Ada Oma, Papa, dan Oppa yah." lirih Icha Sambil menyeka Air matanya.
"Mah...,Jangan seperti itu sayang! Kita Harus tetap Berpikir positif, Papah Yakin kalau Karina Akan sembuh seperti sedia kala." Syafiq berusaha menenangkan Istrinya.
Hati Adrian Kini hancur, Saat melihat wanita Yang di cintai nya, kini Hanya bisa berjalan dengan Kursi Rodanya, Saja.
Tak berapa Lama Dokter Rudy dan Asisten nya keluar dari Ruangan Karina, Adrian segera menghampiri Dokter Rudy untuk menanyakan Keadaan Istrinya.
"Bagaimana keadaan Istri saya Dok,,? Apakah Istri saya bisa disembuhkan Dok." Ucap Adrian dengan Terbata-bata.
"Istri anda Akan sembuh, Namun kemungkinan nya Hanya 25% saja, Tuan Adrian. Jika boleh Saya menyarankan, lebih baik Anda membawa Nona Karina berobat ke German, Disana Fasilitas medis sudah sangat maju pak." Timpal Dokter Rudy Terhadap Adrian dan Keluarganya.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu bawa karina berobat ke German Saja Nak, Biarkan Bintang Mama dan Papah Yang merawatnya." Ucap Icha Terhadap Adrian.
"Apa Mamah, Yakin Bisa merawat Bintang mah!" Ucap Adrian Sambil menyeka Buliran putih yang melintas di pipinya.
Kemudian Syafiq berusaha meyakinkan Putranya. " Jika kamu percaya menyerahkan Bintang Pada Kami, Maka Kami akan dengan senang Hati merawat Bintang, nak." Ucap Syafiq menepuk pundak Adrian.
"Jika memang Ini Yang terbaik, Saya akan Segera membawa Karina ke German, Saya Titip Bintang Pada kalian Ya Pah." ucap Adrian menggenggam Tangan Ayahnya.
"Berangkatlah, jangan Khawatirkan kami di sini." Ucap Syafiq penuh meyakinkan.
kemudian Adrian berjalan ke Ruang Rawat Karina, dimana Disana Karina Masih memejamkan matanya, Karena masih dalam pengaruh Obat yang di suntikan Suter ke selang infus nya.
" Bolehkah Saya melihat keadaan Istri Saya Dok," Pinta Adrian kepada Dokter Rudy.
"Tentu saja..., Silahkan Tuan Adrian." Balas Dokter Rudy.
setelah Berada di dalam Ruang Rawat Karina, Adrian duduk di samping Ranjang Istrinya.
"Karina Sayang...,Aku berjanji Akan mengobati kamu Sampai sembuh, Akan aku pastikan setelah kamu sembuh, Tak akan ada lagi penderitaan yang datang menghampiri kamu Sayang." lirih Adrian Sambil mencium punggung Tangan Istrinya.
Kemudian Karina Tersadar, Ia melihat Adrian Yang menundukkan kepalanya, Sambil menciumi tangan, Dan Menangis sesegukan di hadapan Karina.
"Ad,rian...,Sayang. Tolong jangan seperti ini...,Kamu masih ingatkan. Kalau Aku tidak mau melihat laki-laki cengeng di hadapan Aku." Ucap Karina Terbata-bata Mengelus puncak kepala Adrian Suaminya.
Alih-alih Adrian menghentikan tangisnya, Ia malah semakin mengencangkan Tangis nya.
"Hiks...Hiks...hiks." Ma.., maaf." Aku memang laki-laki cengeng Sayang." Ucap Adrian Terbata-bata.
🌷
🌷
🌷
**Nextpart...
Halo Readers,Ikuti terus Kisahnya yah...
jangan lupa tinggalkan jejak kalian,Dengan Cara Like, komentar,dan Tap Bunga atau Vote jika berkenan...
NB: Tambahkan ke kolom favorit kalian Yah...
Mari saling mendukung...
__ADS_1
Happy Reading**