Pria Kaku Ini Jodohku

Pria Kaku Ini Jodohku
Season3: Chapter S


__ADS_3

Dengan raut wajah kesal Bintang bangkit meninggalkan Malam, yang ternyata masih berharap dengan perjodohan.


"Bintang ... aku minta maaf, aku tidak bermaksud mau membahas hal itu,"


"Lantas kenapa kamu membahasnya! Kamu sudah tahukan, soal hati tidak bisa di paksakan Malam!" sentak Bintang, lalu berbicara lagi. "Sudah cukup, lebih baik kita tidak usah saling kenal lagi."


Langkah gontai dari Bintang terpampang nyata meninggalkan Malam, yang menatap nanar padanya.


"Kenapa kamu terus salah paham sama aku Bin ... kenapa kamu tidak pernah sedikitpun menghargai perasaanku," ucapnya menatap tubuh pemuda yang amat iya sayangi.


KLEK. Suara pintu ruang rawat Adrian, di buka oleh putranya. Secara bersamaan Karina dan suaminya menoleh, menanyakan keberadaan Malam.


"Malam mana?" tanya Karina terhadap putranya.


"Jangan sebut nama itu di hadapanku Bunda ... aku tidak ingin lagi mendengar nama itu," ucap Bintang.


"Kamu bertengkar dengan Malam? Nak ... kamu jangan bertengkar sama dia, kasihan Malam," ucap Karina.


Adrian sangat marah pada Bintang, karena tak henti-hentinya membuatnya kesal.


"Kamu tinggalkan dimana dia? Ayah tidak pernah mengerti dengan jalan pikiran kamu Bintang!" geram Adrian menatap Bintang.


"Ayah tidak perlu marah pada Bintang, lagi pula untuk apa Ayah terus-terusan belain Malam sih! Dia kan bukan siapa-siapa Ayah!" balas Bintang dengan suara tegas.


"Kamu ya!" kesal Adrian mengepalkan tangan, hendak bangkit dari ranjang perawatan, akan tetapi di cegah oleh istrinya.


"Mas ... jangan terlalu keras sama Anak kita, dia punya hak untuk marah, jika Malam memang benar membuatnya kesal," ucap Karina menghalangi niat Adrian.


"Kamu ini selalu saja membela dia, kamu tidak pernah mengerti Mas, Karina!"


Sejenak Karina memijat keningnya yang terasa mulai pening, ia heran dengan sikap Adrian yang selalu memperlakukan putranya dengan keras.


"Aku heran dengan kalian ... enggak di rumah, enggak di sini kenapa sih kalian ini selalu saja ribut!" kesalnya kemudian pergi dari ruang perawatan itu.


"Kamu mau kemana? jangan tinggalkan aku," ucap Adrian memohon.


"Aku mau keluar sebentar, mau menenangkan pikiran!" ketus Karina.


Bintang hanya terduduk, diam dan tak berbicara sama sekali, begitu pun yang di lakukan oleh Adrian ia hanya menatap putranya yang selalu membangkang.


"Semua ini gara-gara kamu, kapan sih kamu mau mengerti Bintang. Kamu Putra Ayah satu-satunya hanya kamu harapan Ayah,"


"Cukup Ayah! Selama ini Bintang selalu sabar atas segala perlakuan Ayah, sekarang tidak lagi!"


"Baik kalau kamu tidak mau menuruti keinginan Ayah ... semua pasilitas yang sudah Ayah berikan untuk kamu, akan Ayah cabut kembali!" ancamnya terhadap Bintang.

__ADS_1


"Silakan ... lagi pula Bintang bisa kok hidup tanpa ada pasilitas dari Ayah!" tantang Bintang terhadap Adrian.


'Anak ini ... kenapa sikapnya hampir mirip denganku. Huh ... menyebalkan,' ucapnya dalam hati.


Lalu Bintang bangkit dari tempat duduknya, ia merasa sangat kesal lantaran selalu di ceramahi oleh Adrian.


"Ayah belum selesai bicara, mau kemana kamu?!" seru Adrian.


"Mau keluar cari angin, gerah berada di sini!" umpat Bintang pergi.


"Ayah bilang berhenti dan tetap berada di dalam ruangan ini, Ayah belum selesai bicara Bintang!" tegas Adrian mengeratkan rahang, namun Bintang tak peduli ia tetap meninggalkan ruangan perawatan Adrian.


Sementara Karina sekarang bersama Malam, ia menenangkan putri dari sahabatnya itu, karena Malam sedang bersedih telah bertengkar dengan Bintang.


"Cup-cup-cup ... sudah jangan nangis lagi sayang, maafkan Bintang yah, sebenarnya dia juga cinta sama kamu. Hanya saja Bintang belum siap dengan perjodohan ini," ucap Karina menghibur Malam.


"Sampai kapanpun Bintang tidak mau Bunda! Bunda jangan kasih harapan dong sama dia," ucap Bintang tiba-tiba saja datang, dan mematahkan harapan Malam.


Karina amat kesal terhadap putranya, ia bangkit dan menarik tangan Bintang membawanya menjauh dari Malam.


"Bintang ... ayo ikut Bunda," ucap Karina, sambil memberikan aba-aba terhadap Malam. "Kamu tunggu sebentar ya sayang...,"


"Iya Tante ...," ucap Malam berlinang air mata.


"Bintang! Kamu bisa enggak sih menjaga perasaan orang lain, meskipun kamu tidak menyukainya!" sentak Karina.


"Maaf Bun, Bintang tidak bisa berpura-pura! Bintang bukan Pria yang mudah berbohong," balas Bintang tegas. "Lagi pula kita sudah pernah bahas ini kan, kalau aku tidak mau Ayah dan Bunda jodoh-jodohkan aku!" ucapnya lagi.


"Ini hanya untuk menghibur Malam saja Bintang, enggak lebih. Kalau kamu tidak suka ya Bunda juga tidak memaksa, lagi pula pernikahan kamu nanti setelah kamu dewasa,"


"Iya setelah aku dewasa Bun ... kenapa musti di bahas saat ini!" tukas Bintang.


"Justru karena kalian masih remaja, pada saat kalian sudah dewasa kamu akan di nikahkan dengan Malam, dan kamu jangan sesekali pacaran dengan siapapun apalagi jatuh cinta!" sentak Karina.


"Bunda dan Ayah sangat egois ... Bunda dan Ayah sama saja, sama-sama tidak pernah mengerti perasaan aku!" geram Bintang kesal, pergi dari hadapan ibunya.


"Mau kemana kamu?" cegahnya sambil menahan tangan Bintang.


"Mau kemana pun bukan urusan Bunda!" kesal Bintang melepaskan tangan Bundanya.


"Bintang, berhenti kamu tidak bisa pergi seenaknya!" teriak Karina menghentikan langkah Bintang.


Namun Bintang tidak mau berhenti, ia terlanjur kecewa terhadap kedua orangtuanya.


'Kenapa sih semuanya tidak ada yang mengerti perasaanku,' batin Bintang melangkah pergi.

__ADS_1


BRUG.


Tidak sengaja Bintang bertabrakan dengan Aquilla dan juga Rama. Mata mereka bertemu, saling bertatapan namun Bintang langsung pergi begitu saja.


"Bintang ...," ucap Rama. "Dimana Malam?" tanyanya.


Segera Bintang bangkit tanpa menjawab pertanyaan Rama.


Rama dan Aquilla heran atas sikap Bintang yang tak ramah terhadap mereka.


"Ada apa dengan Anak itu?" ucap Rama.


"Entahlah ... tadi siang dia baik-baik saja," kata Aquilla. "Oh ya sayang ... lebih baik kita langsung saja ke ruangan Adrian yah." ajaknya.


Sementara Malam masih bersama Karina, ia sudah sedikit lebih tenang meskipun genangan air mata masih terlihat di sela-sela kelopak mata.


"Maafkan Malam ya Tante ... gara-gara Malam Tante dan Om bertengkar dengan Bintang,"


"Enggak apa-apa sayang ... ini bukan salah kamu, sudah ya jangan menangis," ucap Karina menangkup pipi Malam dengan kedua tangan, lalu menyeka mata calon menantunya.


"Terima kasih Tante ... Tante selalu baik sama Malam,"


"Iya sayang ... kamu tahu kenapa Tante selalu baik sama kamu?"


Malam menggeleng kepalanya, sambil menatap wajah Karina.


"Karena kamu adalah Putri dari sahabat Tante yang paling baik ... seduania!" ucap Karina.


"Tante bisa saja, padahalkan Mommy itu galak banget," celetuk Malam.


Entah dari mana Aquilla mengetahui keberadaan mereka di taman, ia langsung menghampiri Karina yang sedang bersama dengan Malam.


"Eh ... Malam, kamu sudah berani ya ngatain Mommy kamu!" ucap Aquilla.


Sontak Malam dan Karina menoleh ke sumber suara yang familiar bagi mereka.


Bersambung ...


Halo Readers...


Ikuti terus kisahnya yah.


Jangan lupa follow IG: Blazingdark15.


Sampai bertemu di chapter berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2