Pria Kaku Ini Jodohku

Pria Kaku Ini Jodohku
Season3: Chapter AC


__ADS_3

"Kamu kenapa, jawab Mami Langit?" Cantika tampak heran melihat putranya yang hanya diam seperti ketakutan.


"Langit, jawab Mami?" ulang Cantika bertanya pada putranya.


"Langit bukan Anak kandung Mami kan? Apa Mami sudah tahu?"


Cantika mengernyitkan dahinya heran atas apa yang di katakan putranya. "Kamu kenapa ngomong seperti ini, apa penyebab kamu bisa bicara seperti ini ayo jelaskan sama Mami?" pinta Cantika.


Namun, Langit begitu gusar dia tidak mau bila harus menerima kenyataan pahit yang menyatakan bahwa dia bukanlah anak kandung dari pasangan dokter itu.


"Enggak!" pekik Langit mendorong ibunya, dan pergi begitu saja.


"Langit!" seru Cantika memanggil putranya yang berlari menjauh darinya. "Tunggu Mami Langit!" Cantika mengejar Langit.


Sontak Fariz, Karina dan Adrian menoleh pada sumber suara yang mengalihkan perhatian mereka, begitu mendengar suara itu Fariz segera keluar dari ruangan itu untuk memastikan.


'Cantika dan Langit?' batin Fariz mulai diselimuti rasa khawatir.


Fariz lantas berlari mengejar istri dan anaknya, pasalnya dia sudah menduga jika Langit telah mengetahui kalau dia bukanlah anak kandungnya.


"Cantika," panggil Fariz terhadap istrinya. "Ada apa dengan kamu, dan Langit?" tanyanya dengan helaan nafas.


Cantika menghentikan langkahnya, dan menatap tajam pada suaminya. "Apa sebenarnya yang terjadi Mas, Langit sampai mengatakan kalau dia bukan Anak kandung aku, kamu pasti tahu jawabannya kan?" sergah Cantika.


Melihat sorot mata Cantika yang menuntutnya untuk jujur, Fariz mencoba mencari cara untuk menenangkan Cantika agar bisa menjelaskan dengan pelan supaya Cantika tidak kaget.


"Mari ikut denganku, terlebih dulu kita susul Langit," ajak Fariz terhadap sang istri menyusul putranya.


"Baik, tapi setelah ini tolong kasih tahu aku apa yang sebenarnya telah terjadi," ujar Cantika menuntut.


"Baik, ayo ikutlah denganku," Fariz mengajak Cantika menuju mobilnya menyusul Langit yang sudah dapat dipastikan pulang ke rumah.


"Kamu mau ajak aku ke mana Mas?"


"Kita pulang, Langit pasti sudah ada di Rumah," ajaknya sambil membuka pintu mobil.


Cantika langsung masuk dalam mobilnya, kemudian Fariz berlari kecil menuju pintu kemudi dan menjalankan mobilnya.


Sementara Adrian, dan Karina masih berada di ruangan rawat Bintang--Putranya.


Karina yang tidak mau Bintang direbut darinya oleh Fariz pun mengajak Adrian agar memindahkan perawatan Bintang ke rumah sakit lain.


"Adrian, mumpung Fariz tidak ada apa tak sebaiknya kita pindahkan saja Bintang ke Rumah Sakit lain, aku tidak mau jika harus kehilangan Bintang aku tidak mau Adrian,"

__ADS_1


Adrian terdiam sejenak untuk mempertimbangkan saran dari istrinya.


"Ya, mungkin sebaiknya kita pindahkan saja Bintang dari Rumah Sakit ini, tapi bagaimana dengan Langit, bukankah dia juga Putra kita?" ujar Adrian mulai menginginkan putra kandungnya.


"Untuk masalah Langit, sebaiknya kita pelan-pelan saja mendekatinya. Lagi pula Langit kan aman bersama Mama Papanya saat ini," kata Karina.


"Ya, kau benar ... tapi kita harus memiliki izin dulu dari Rumah Sakit ini Karina,"


"Lebih baik diam-diam kita pergi saja tanpa sepengetahuan siapapun, karena aku yakin Fariz sudah memberitahu pihak rumah sakitnya untuk menahan Bintang dirawat di sini," ujarnya.


"Baiklah, aku ikuti saja saranmu," Adrian lantas bergegas mencari kursi roda.


Beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa kursi roda di tangannya, "Ayo cepat, Adrian," ucap Karina dengan pelan agar Adrian membantunya membopong Bintang agar di taruh ke kursi roda.


Setelah berhasil menaruh Putranya duduk di kursi roda, mereka berdua pun lantas bergegas meninggalkan rumah sakit tersebut.


Adrian dan Karina membawa Bintang melalui lift yang langsung terhubung ke basemen di mana di sana mobilnya di parkir.


Sementara dari arah lain, terlihat Malam yang membawa parcel buah untuk Bintang--pria yang dia taksir, tidak sengaja ia melihat Karina dan Adrian, tapi beruntung Bintang sudah di masukkan ke dalam mobil sehingga Malam tidak mengetahui kalau Bintang akan dibawa pergi.


"Om, Tante. Kalian mau ke mana?" tanya Malam setelah berada tepat di dekat Adrian, dan Karina.


Sontak, Adrian dan Karina kaget.


"Kamu!" pekik Karina kaget, "Malam, kamu bikini Tante kaget saja, kamu mau ke mana Malam?"


"Mending kamu pulang saja ya Malam, ini sudah larut malam kembalilah besok. Kasihan Bintang butuh istirahat," ujar Karina meminta malam untuk pulang lagi.


"Tapi--,"


"Jangan memaksa Malam!" tegas Karina memotong ucapan anak itu.


Tidak mau membuat Karina, dan Adrian marah ia pun menurut pada permintaan kedua orang tua pria yang di taksirnya itu, bahkan tanpa rasa curiga sedikitpun.


"I--iya baiklah kalau begitu Tante," gagapnya segera beralih kembali menuju mobilnya.


Namun, Malam kembali menoleh dan menoleh lagi, ia masih berharap di panggil oleh Adrian, dan Karina untuk menjenguk Bintang.


"Huh! Kenapa mereka tidak memanggilku?" Malam mendengus kesal, sambil memasuki mobilnya, lalu pergi meninggalkan basemen rumah sakit itu.


Adrian dan Karina masih berdiri di depan mobilnya, ia memastikan Malam benar-benar pergi dari rumah sakit itu supaya mereka tidak dicurigai membawa Bintang kabur dari rumah sakit milik Fariz ini.


"Ayo, cepat kita pergi!" ujar Karina mengajak suaminya agar secepatnya pergi dari rumah sakit ini.

__ADS_1


Kini Adrian dan Karina berhasil membawa Bintang tanpa sepengetahuan Fariz, dan petugas rumah sakit.


***


Keesokan harinya di kediaman Sherly dan Bulan, seperti biasanya Sherlly mengantarkan putrinya ke sekolah sebelum ia berangkat ke kantornya.


Namun, disepanjang perjalanan itu Bulan tidak henti-hentinya menanyakan perihal larangan ibunya yang memintanya agar tidak berhubungan dengan Bintang.


"Bun, bolehkan aku bertanya sama Bunda? Tapi, Bunda harus menjawab aku dengan jujur ya?"


"Hmmm ... memangnya kamu mau bertanya tentang apa Bulan?" Sherlly menggeleng kepalanya--sementara tangannya terus fokus mengemudikan mobilnya.


"Kenapa Bunda melarang aku berteman dengan Bintang,"


Citttt!!!


Sherlly refleks menginjak pedal rem hingga berhenti di tengah jalan.


TIN! TIN!


Semua pengendara mobil pagi itu membunyikan klakson, pasalnya Sherlly menghentikan mobilnya dengan mendadak.


"Bunda! Ada apa sih? Kenapa Bunda ngerem mendadak seperti ini sih?" gerutu Bulan heran terhadap ibunya yang terlihat begitu kaget.


"Dengar ya Bulan, Bunda sudah katakan pada kamu kalau kamu jangan pernah berhubungan Lagi dengan Bintang, apalagi dengan kedua Orang Tuanya, terus terang Bunda kurang suka sama mereka," ucap Sherlly terlihat serius.


"Iya tapi alasannya apa Bun?"


"Kamu mau tahu alasan Bunda melarang kamu bergaul atau berteman dengan Bintang?"


"Ya, tentu saja!"


"Kamu mencintai Bintang, atau memang hanya berteman?" Sherlly balik bertanya pada putrinya.


Bulan menundukkan kepalanya, pasalnya dia tidak mau jika ibunya itu marah lagi padanya.


"Bulan mencintainya Bun!" dengan penuh keyakinan Bulan mengatakan hal itu.


"Bulan, kamu tidak boleh mencintainya? larang Sherlly.


"Iya tapi kenapa?" kesal Bulan lantaran tidak mendapatkan jawaban pasti.


Sherlly pun merasa tak berdaya dengan tuntutan Bulan, yang terus menanyakan alasan dia melarang berteman apalagi pacaran dengan Bintang.

__ADS_1


"Karena kamu dengan Bintang bersaudara Bulan!"


DEG.


__ADS_2