
Fariz berusaha merebut kembali lembar kertas itu, dari tangan Adrian. Namun, dengan sigap Adrian bangkit dan membaca isi surat tersebut.
"Lancang kamu Adrian!" kesal Fariz karena Adrian mengambil kertas berisi keterangan tes DNA itu.
Adrian meremas kertas tes DNA, dan dengan marah merobek kertas itu.
BREK!!!
Kertas itu di robek hingga tidak berbentuk lagi, bahkan tulisan dalam keterangan itu pun tidak terbaca lagi.
"Apa yang kau lakukan, kau sengaja mau menyembunyikan kenyataan ini dari Semua Orang, kalau Bintang Putraku, dan Langit Putramu Hah?!"
Fariz menatap dengan tajam terhadap Adrian yang merobek-robek surat itu.
"Kau tidak lihat apa yang aku lakukan hah? Aku menyelamatkan Putraku darimu!" Adrian tidak terima dengan keterangan dalam surat itu.
"Bintang Putraku, bukan Putramu! Sekarang juga aku akan mengatakan yang sebenarnya!" Fariz mendorong Adrian yang berusaha menghalanginya.
BRUK.
Adrian terhuyung tubuhnya membentur dinding rumah sakit itu.
"Farizzzzzz!" Adrian begitu murka saat Fariz berusaha memberitahu Bintang. Dia mengejarnya, dan berhasil menggapai tangan Fariz yang hendak membuka pintu ruang rawat putranya.
"Berhenti bersikap tolol, atau aku sama sekali tidak akan mendonorkan darahku padanya!" ancam Fariz.
Adrian melepaskan pegangan tangannya, dia tidak bisa berbuat apa-apa setelah Fariz mengancamnya. Ia hanya termenung pasrah di sana.
"Jangan egois Adrian!" sergah Fariz menepiskan Adrian.
Ceklek!!!
Fariz membuka pintu ruang rawat itu, dan melihat Karina yang terus mendampingi Bintang--Putranya.
"Karina, saya minta kau keluar!" pintanya sarkas, "Kau tak seharusnya di dalam Ruangan ini, kau bukan Ibu Kandungnya!"
DEG!!!
Bak petir menggelegar di siang bolong, Karina tidak terima atas perkataan dokter Fariz, sehingga dia emosi pada Fariz.
"Apa-apaan? Bintang Putraku, sudah sepantasnya aku berada di sini!" sinis Karina tidak menyukai sikap Fariz.
"Kenyataannya memang seperti itu Karina, aku sudah tes DNA dan Bintang benar-benar Putraku!" tandas Fariz lagi dengan jelas.
Namun, Karina masih belum terima. "Atas dasar Apa kamu mengakui Bintang sebagai Putraku?"
Fariz kembali mengambil surat salinan tes DNA dan membiarkan Karina membacanya.
__ADS_1
"Baca baik-baik isi dari keterangan tes DNA ini!" Fariz menyodorkan surat itu pada Karina.
Dengan perasaan tak enak, Karina mengambil surat itu dari dokter Fariz, dan membacanya dengan perlahan.
Sambil meneteskan air matanya Karina membaca surat tersebut, ia tampak terlihat hancur setelah mengetahui kalau Bintang memang bukan Putra kandungnya.
"I--ini surat palsu kan? Kau berbohong kan?" lirihnya dengan buliran yang terus menetes dari tiap sudut matanya.
"Dengan menyesal aku katakan kalau saat ini aku tidak sedang berbohong Karina, Bintang memang benar-benar Putraku!" tegas Fariz menyampaikan.
"Tidak, kamu bohong Dokter. Bintang Putraku, sembilan bulan aku mengandungnya, tiga belas tahun aku lima belas tahun aku membesarkannya, dan sekarang dengan tega kau mengakuinya? Brengsek kamu!" Karina memukul Fariz, lantaran tidak terima putra yang dia besarkan di akui begitu saja oleh orang lain.
"Kenyataan memang Pahit Karina," ucap Fariz tanpa rasa sesal.
"Kalau Bintang bukan Putraku, siapa dan di mana Putraku?" sinis Karina kesal.
Fariz terdiam dia memikirkan rencana selanjutnya, pasalnya dia pun tidak rela jika Langit harus ia relakan bersama Karina, dan Adrian.
"Aku tidak tahu di mana Putramu, yang jelas sekarang Bintang bukanlah Putra kandung kalian!"
"Kalau begitu serahkan Langit, Putramu. Dia pasti Putraku kan?" sela Adrian.
Fariz menatap dengan cepat kepada Adrian, ia terlihat mengepalkan tangannya tidak terima dengan pernyataan Adrian barusan.
"Langit Putraku juga, jadi jangan harap Langit akan aku serahkan pada kalian," Fariz berjalan menghampiri Bintang yang masih belum pulih total.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Putraku!" hardik Karina.
BUGH.
"Ayo keluar Fariz, kau tidak berhak atas Putraku!" usirnya dengan tegas.
"Sudah aku katakan berulang kali, Bintang Putraku!" bentaknya dengan suara keras.
Adrian yang menyaksikan istrinya dibentak, ia marah dan menantang Fariz untuk duel.
"Seujung kuku saja kau mendekat pada Bintang, maka akan aku pastikan kau menyesal Fariz."
Fariz yang merasa tertantang pun balas menyanggupi tantangan Adrian. "Siapa takut Adrian! Aku tidak akan gentar,"
"Langkahi dulu aku Fariz!" tukas Adrian marah.
"Jika itu maumu baiklah, mari kita duel!"
Fariz menerima tantangan itu.
Adrian sangat geram, dan sontak saja dia melayangkan pukulannya.
__ADS_1
BUGH!!!
"Hentikaaaaaaaan!" Langit berteriak dengan keras, entah dari mana dia datangnya.
Kini semua orang yang ada di sana itu menatap arahnya, Fariz dan Adrian sangat terkejut dengan kedatangan Langit.
"Apa yang Daddy dan Om lakukan? Kenapa kalian bertengkar?" tanya Langit dengan suara baritonnya.
Fariz terdiam begitu saja, dia tidak mau jika sampai Langit tahu kalau dia bukanlah ayahnya. Kemudian, Fariz menghampiri Langit, dan membujuk Langit untuk pergi.
"Nak, kapan kau sampai kemari?"
Langit menjawabnya dengan cepat, "Sejak tadi, saat Daddy mengatakan kalau aku bukanlah Anak Daddy, tapi Anak Om Adrian!"
Sontak, Fariz tercengang dan dengan berbagai cara dia menutupi kenyataan itu dari Langit--putranya.
"Kata siapa Nak, kau mungkin hanya salah dengar saja," ujar Fariz lembut.
Merasa takut kehilangan Bintang, Adrian membeberkan semuanya.
"Ya, kata Daddymu kau memang bukan Anaknya. Tapi, kau Anak saya, 'Adrian!"
Langit berkaca-kaca saat mengetahui hal ini, "A--apa? Eng--engak mungkin?!" dengan perasaan kalut Langit pergi.
"Langit!!!" seru Fariz kembali memanggilnya.
Fariz berbalik menatap Adrian, "Jika sampai Langit kenapa-kenapa, kau harus diberikan pelajaran Adrian!" geramnya dengan tangan mengepal siap menghantam wajah Adrian.
"Heuh! Kau pikir aku takut, tidak Fariz?!"
Sementara itu, Langit terus berlari dengan kalut dia tertunduk lesu di bangku taman. Meratapi nasibnya, yang ternyata bukan Putra kandung pria yang begitu dia kagumi yaitu dokter Fariz.
Cantika yang bertugas di rumah sakit yang sama pun, tidak sengaja melihat putranya murung di taman.
"Sus, kamu cepat ke Ruangan Pasien ya, nanti saya susul kamu," Cantika segera menghampiri Langit.
Cantika masih belum mengetahui yang sedang terjadi, dia tetap bersikap seperti biasa lantaran dia tidak mengetahui permasalahan itu.
"Langit, Anak Mami ... kamu kenapa Sayang? Kok murung sih?"
Begitu mendengar suara familiar itu, Langit menoleh dan ternyata benar saja tebakan Langit dalam hatinya kalau suara yang dikenal itu adalah ibunya.
Tanpa bicara apa-apa lagi, ia langsung menubruk Cantika, dan memeluknya dengan erat.
"Langit tidak mau berpisah dengan Mami, Orang Tua Langit hanya Mami, bukan yang lain?"
Cantika terbingung, tidak mengerti apa yang Putranya katakan. "Nak, kenapa kamu ngomong seperti ini? Memangnya siapa yang akan memisahkan kamu dari Mama?" Cantika menangkup pipi Langit, "Katakan sama Mami, siapa Orang yang akan memisahkan kita?"
__ADS_1