Pria Kaku Ini Jodohku

Pria Kaku Ini Jodohku
Season 3 : Chapter M


__ADS_3

Sinar mentari mulai bersinar aktifitas di kota mulai terlihat memadat, dengan lalu lalang orang-orang yang akan bepergian bekerja.


Sementara Langit baru terlihat merapikan seragamnya, wajah tampan yang entah dari siapa di wariskan yang jelas itu bukanlah wajah fariz.


"Daddy sama mommy kemana mbok?" tanya Langit yang baru keluar kamarnya, mendekati meja makan.


"Anu den ... nyonya sama tuan sudah berangkat, kayaknya ada urusan penting!" silahkan dimakan den sarapannya." jawab asisten rumahnya.


Namun Langit tampak terlihat kesal, dengan kebiasaan buruk kedua orangtuanya. Yang pergi tak berpamitan padanya.


'Mulai lagi deh penyakitnya, aku ini anaknya apa bukan sih!' batin Langit, yang masih berdiri di dekat meja makan.


"Den ... silahkan di makan sarapannya!" seru asisten rumahnya lagi.


"Buat mbok saja ... saya gak nafsu!" sahut Langit segera bergegas menuju mobilnya.


"Yah ... kumat lagi deh si aden, uring-uringannya. Yaudah kalau gitu bibi saja yang makan!" ujar si mbok.


Sementara Langit kini sudah berada di dalam mobil, menstarternya Kemudian pergi, ke sekolahan.


Sedangkan Bintang ia masih berada di rumah sakit mendampingi kedua orangtuanya. Namun Adrian meminta putranya agar segera bersiap berangkat ke sekolah.


"Bintang ... lebih baik kamu berangkat sekolah. Tidak baik kamu selalu tidak masuk sekolah, lagian ayah sudah sembuh sekarang, hanya tinggal pemulihan." ujar Adrian meminta putranya untuk segera pergi ke sekolah.


"Enggak ayah ... Bintang mau menemani ayah saja, lagian disini juga Bintang belajar kok, tenang saja!" sahut Bintang tersenyum.


Kemudian Karina membujuk putranya, agar segera berangkat lantaran perintah dari ayahnya tak mampu di dengarkan oleh Bintang.


"Bintang ... benar kata ayah! lebih baik kamu berangkat sekolah ya sayang ... lagian kamu tidak akan jadi dokter, jika tidak belajar ... katanya mau jadi dokter." Bujuknya terhadap putra semata wayangnya.


"What's ... Bintang! kamu ingin jadi dokter ... enggak-enggak. Ayah tidak mau kamu jadi dokter, kamu harus jadi Ceo seperti ayah!" tegas Adrian.


"Adrian ... sayang ... stop deh! hentikan sikap pemaksa kamu itu, lagian kalau cita-cita Bintang ingin jadi dokter kenapa memang, kan itu pekerjaan yang mulia!" Bela Karina terhadap putranya.


"Nah benar kata bunda ... yasudah kalau begitu Bintang berangkat sekolah ya ... Permisi Bunda dan Ayah!" ucap Bintang segera bergegas pergi.


Adrian tidak berhenti uring-uringan pada Istrinya, lantaran mengijinkan putranya untuk jadi seorang dokter.


"Karina sayang ... kamu kok ngijinin Bintang jadi dokter sih! kamu kan tahu dia adalah calon penerus perusahaan aku." ujar Adrian.


"Iya sayang aku juga tahu ... tapi seenggaknya dengan ucapan aku yang tadi, Bintang jadi semangat belajarnya," sahut Karina.

__ADS_1


"Iya ... tapi tetap saja, dia itu bersemangat belajar karena ingin jadi dokter. Bukan ingin jadi Ceo kaya aku ayahnya!" ucap Adrian yang tak mau kalah.


"Hadehhh ... kamu ini mulai lagi deh, apa salahnya sih jadi seorang dokter, sekaligus jadi Ceo. Tidak ada yang salahkan!" tegas Karina menatap suaminya.


Sekilas ingatan Adrian bertraveling ke masa lalu, saat dia menemani Karina yang sakit pada saat itu dan dokternya adalah fariz, sejak saat itu Adrian tidak menyukai seorang dokter yang masih muda, lantaran saat itu fariz sukses membuatnya cemburu.


"Pokoknya Bintang tidak boleh jadi dokter, ntar dia kayak si fariz lagi dokter genit itu!" ucap Adrian kekanakan.


"Astaghfirullah ... kamu masih mengingat itu, iiih ... kamu ini dari dulu gak pernah berubah yah! Fariz itu sama sekali tidak ada menggoda aku sayang ... kamu itu salah paham sama dokter fariz, ish ... kamu ini sangat kekanak-kanakan." ujar Karina.


"Tetap saja aku tidak mau, kalau Bintang jadi dokter titik!" balas Adrian cemberut.


"Yasudah," itu urusan kamu! lagian yah kalau Bintang jadi dokter cocok banget, dia tampan ... iya ... baik ... iya Dan ---" seketika ucapan Karina terpotong oleh Adrian.


"Dan ramah seperti dokter fariz, puas ...," sela Adrian merungkup dirinya dengan selimut, Kemudian berbaring di ranjang perawatannya.


"Ish ... kamu ini cemburuan banget sih! padahal itu kejadian belasan tahun yang lalu loh! kita juga sudah tua sayang ... mau sampe kapan kamu seperti ini terus." Ucap Karina.


Kemudian Karina mengupas buah apel untuk suaminya, ia berusaha membujuk Adrian yang mulai seperti bayi.


"Sayang ... sudah dong ngambeknya! lagian kamu ini kayak enggak tahu aku aja. Aku kan setia sama kamu, memangnya kamu yang tidak bisa membedakan mana istri yang asli dan mana yang palsu." ujar Karina sambil mengupas buah apel.


"Sumpah ... kamu masih ingat dengan kejadian itu sayang! kamu masih ingat dengan penyamaran kamu itu. Iya deh maafkan aku, aku janji enggak bakal ngambekan lagi!" ucap Adrian terkekeh.


"Serius kamu mau buang sikap ngambekan, dan rasa cemburuan berlebih kamu itu." Sahut Karina antusias.


"Yupz ... tapi dengan satu syarat!" ucap Adrian tersenyum.


"Yah ... pake syarat kamu mah!" balasnya.


"Mudah kok sayang syaratnya, kamu tinggal cium kedua pipi aku ini, hem ... hem ...," ujar Adrian sambil mengedipkan mata genitnya.


"Iiih kamu ini, aneh-aneh saja deh! yaudah gitu doang kan syaratnya ...," ujar Karina kemudian naik ke ranjang untuk mencium Adrian." Muachhh ... Muachhh ... sudah?" ucap Karina.


"Lagi ...," balasnya, kemudian Karina kembali mencium pipi tampan Adrian, hingga pada akhirnya mereka memperdalam ciuman itu.


Bermesraan di atas ranjang perawatan itu, sejenak ciuman itu terhenti. Masing-masing mereka mengambil nafas dan kembali melanjutkan adegan itu.


Hingga seorang perawat yang akan mengantarkan obat untuk Adrian, tidak berani masuk lantaran takut mengganggu aktifitas mereka.


"Sayang ... stop! ini rumah sakit, takutnya ada dokter nanti kita malu," ujar karina berusaha menghentikan permainannya.

__ADS_1


"Aku tidak malu, lagian malu kenapa! dokter juga pasti memakluminya, kalau kita itu sudah lama tidak melakukan ----," ucapan Adrian seketika terpotong oleh seorang perawat yang masuk ke ruangannya.


"Permisi nona ... tuan ... sudah waktunya minum obat yah! maaf saya mengganggu aktifitas mesra kalian." ucap suster terkekeh.


Sementara wajah Karina memerah lantaran malu, karena terpergok bermesraan dengan suaminya.


'What's jadi suster ini dari tadi diam-diam mengintip kami,' batin Karina menatap tajam pada suaminya.


Sementara Adrian hanya nyengir, sambil meminta maaf dengan ucapan pelan pada Karina.


"Maafkan aku sayang ... sebenarnya dari tadi aku sudah tahu kalau suster mau masuk!" bisik Adrian di telinga istrinya.


"Enggak lucu!" gerutu Karina.


Sekilas suster menoleh, sambil menyahuti ucapan Karina.


"Apa yang enggak lucu nona?" sahut suster.


"Ahahahaha ... cic-cak didinding, maksud saya enggak lucu sus!" ucap Karina nyengir sambil menunjuk ke plafon rumah sakit.


"Owh ... saya kira saya yang enggak lucu!" ujar suster.


'Ya suster juga enggak lucu,' batin Adrian.


"Baiklah ... kalau gitu saya permisi, silahkan di minum obatnya ya tuan!" ucap suster berpamitan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo Readers ...


Kangen yah sama couple Adkar? tenang saja meskipun slow, aku usahain update kok.


Bantu like, komen dan Vote yah ...


jangan lupa tambahkan ke kolom favorit kalian.


Supaya tidak ketinggalan Update ...


ingat ya pembaca yang baik selalu meninggalkan jejaknya.


Happy reading ...

__ADS_1


__ADS_2