
Malam turun dari taksi, Ia berlari memasuki rumah Adrian dan Karina calon mertuanya.
Sementara di mobil, Sherlly menatap nya penuh tanya. Lantas yang Sherlly ketahui Adrian tak memiliki anak perempuan.
"Hiks ..., Hiks ..., Hiks." Lirih Malam, Berlari menubruk kepada kedua orang tuanya,Yaitu Aquilla dan Rama.
"Kau ..., Kenapa nak?" Tanya Aquilla, Heran terhadap Malam yang baru datang menangis.
"Nak ..., Kamu kenapa?"..., Jangan buat daddy mu ini khawatir sayang." Ucapnya, Menangkup pipi cantik Malam.
Namun Malam hanya diam, Tak menjawab. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, Lirihnya. Lalu Karina bertanya pada Malam, Sambil memeluknya.
"Malam ..., Kamu kenapa sayang," Sudah ya jangan menangis lagi, Jawab tante siapa yang telah membuat mu menangis seperti ini?" Tanya Karina, Sambil mengelus pipi cantik Malam.
"Hiks ..., Hiks ..., Hiks." Bi-bintang ..., Hiks ..., Hiks ..., Hiks." Lirih.
Karina terkejut, Setelah mendengar ucapan dari Malam, Bahwa putranya lah yang membuat Malam menangis.
"Apa yang dilakukan Bintang padamu nak?" Tanya Adrian, Bangkit dari tempat nya terduduk.
Kemudian Malam menceritakan apa yang dilakukan Bintang terhadap nya, Kepada Adrian, Karina dan kedua orangtuanya.
"Aku tidak terima atas perlakuan putramu terhadap putriku, Adrian." Sentak Rama mengeratkan rahangnya.
"Mas, Sabar ..., Maklumi saja mereka." Ucap Aquilla menenangkan suaminya.
"Tahan emosimu Rama, Lebih baik kita minta penjelasan dulu pada bintang. Sebelum kau meluapkan emosimu." Sahut Adrian, Bersikap tenang dalam menanggapi sikap Rama sahabatnya.
Sedangkan Karina hanya diam dia berusaha menenangkan Malam, Yang terus menangis. Begitu juga dengan Aquilla yang terus berusaha menenangkan, Suaminya yang sedang emosi.
Tak berselang lama yang di tunggu mereka akhirnya pulang ke rumah.
Saat Bintang membuka pintu utama rumahnya, Ia terkejut, Atas apa yang dilihatnya. Tatapan nya begitu dingin, Terlihat kemarahan dari sorot matanya.
'Mau apa mereka berada disini,' Kata Bintang dalam hatinya. Ia hanya berlalu begitu saja di hadapan kedua orangtuanya.
"Bintang...," Sentak Adrian memanggil putranya, Kemudian berujar...," Kau apakan Malam sehingga dia menangis." Dengan tatapan tajamnya.
"Adrian," Tenangkan dirimu! Dia putra kita, Tak seharusnya kamu bersikap se kasar itu." Tukas karina, Memperingatkan suaminya.
"Aku tak melakukan apapun padanya, Dia nya saja yang terlalu cengeng. Aku hanya tak suka di dekatinya apakah aku salah." Sahut Bintang, Dingin.
"Anak kurang ajar," ..., Ayah kecewa padamu Bintang." Ucap Adrian, Dengan rahang yang mengeram.
__ADS_1
Sementara rahang Rama semakin menegang, Memperhatikan percakapan antara Bintang, Dengan Adrian. 'Anak kurang ajar ..., Beraninya dia mengatai putriku.' Kata Rama dalam hati.
Perlahan Rama berjalan mendekat ke arah Adrian yang sedang berdebat dengan Bintang.
"Adrian ..., Didik anakmu yang kurang ajar ini dengan benar," Ucapnya, Kemudian menoleh pada istri dan anaknya,"Aquilla ..., Malam! Ayo kita pulang." Ucap Rama dingin.
"Ram ..., Tolong jangan marah dulu, Ini hanya masalah kecil. Tolong maafkan Bintang." Ucap Karina yang berusaha mencegah Rama.
"Apa! ..., Masalah kecil katamu, Tidak Karina ini penghinaan. Bagiku ini bukanlah masalah kecil." Sahut Rama memaksa istri dan anaknya untuk pulang.
Namun Aquilla terus berusaha menenangkan, Suaminya yang semakin terlihat marah. " Ram ..., Tunggu dulu, Kita selesaikan masalah ini tanpa emosi yah?" Ucap Aquilla, Terhadap suaminya.
"Tidak bisa ..., Ikut pulang dengan ku atau tidak sama sekali." Sentak Rama.
Sementara Malam terlihat sangat ketakutan, Ia tidak menyangka bahwa Pappy nya yang selalu terlihat teduh bagaikan air yang tenang. Tapi jika melihat sekarang ia seperti melihat seorang raja yang sangat murka.
'Kenapa semuanya jadi begini, Duhhhh!!! Kalau begini bisa-bisa aku tidak akan pernah bersatu dengan Bintang.' Katanya dalam hati.
Kemudian Malam membela Bintang, Ia sedikit merasa bersalah karena telah melebih-lebihkan ceritanya pada kedua orangtuanya.
"Pappy ..., Mommy ..., Tolong maafkan Bintang Py ..., Ini semua tidak sepenuhnya salah dia, Aku yang memulai duluan mendekati Bintang." Lirihnya.
"Maksud kamu apa nak ..., Tetap saja tak seharusnya Bintang memperlakukan mu seperti itu." Itu sama saja membully kamu!" Balas Rama, Menimpali perkataan Malam.
Sekilas Bintang menoleh, Begitu juga dengan Adrian dan Karina.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintai mu Malam! Jadi jangan pernah bermimpi." Sentak Bintang, Menatap tajam pada Malam.
"Dan sampai kapanpun, Kau ...., Tidak akan pernah bisa menemukan perempuan sebaik putriku," Sahut Rama, Penuh penekanan.
"Tidak pyh ..., Malam sangat mencintai Bintang pyh!" Lirih.
"Malam ..., Dengarkan kata pappy ! Masih banyak laki-laki yang lebih baik dari dia nak, Ayo cepat kita pulang. lagi pula masa depan mu masih panjang nak ..., Lupakanlah dia, Lupakan cintamu." Ucap Rama Kembali mengingatkan putrinya.
Sedangkan Adrian dan Karina hanya diam tanpa bisa berkata-kata lagi, Mereka merasa bersalah atas tindakan putranya.
Saat Karina akan mencegah kepergian mereka, Tiba-tiba saja Bintang menghentikan langkahnya.
"Bunda tidak perlu mencegahnya ..., Untuk apa bunda mencegahnya." Ucap Bintang.
"Tapi nak ..., Mereka sahabat bunda, Mereka sudah seperti keluarga bunda nak." Sahut Karina, Menoleh.
"Tapi aku putramu bunda, Sampai kapanpun tidak akan pernah meninggalkan mu." Ucap Bintang.
__ADS_1
Karina terdiam, Sementara Rama dan Aquilla begitu juga dengan Malam telah semakin jauh melanggkah kan kakinya, Untuk pergi dari rumah mereka.
"Cukup Bintang ..., Jangan banyak bicara lagi, Ayah kecewa denganmu." Ucap Adrian dingin, Pergi meninggalkan putra dan istrinya.
"Kau ..., Mau kemana? Jangan pergi Dri!" lirih Karina.
"Didik putramu, Baru aku akan pulang kembali." Sahut Adrian menepis tangan istrinya.
"Pergilah ayah ..., Seharusnya ayah tidak pernah bicara seperti itu terhadap bunda. Bagaimana pun bunda tidak salah sama sekali dalam hal ini." Ucap Bintang, Menatap tajam pada ayahnya.
"Anak kurang ajar ..., Beraninya kau menasehati ayahmu sendiri!" Geram Adrian, Sambil mengangkat tangannya.
"Hentikan Adrian, Jangan pernah kau menyentuh putraku." Bela Karina terhadap suaminya.
"Anak dan ibu sama saja ..., Kau membuatku pusing saja." Sentak Adrian, Kemudian pergi meninggalkan rumahnya.
Karina hanya terdiam sambil menyeka air matanya, Ia menangis menatap kepergian suaminya yang tengah di kuasai emosi.
'Maafkan aku Dri ..., Aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuk mu,' Batin Karina.
Sementara di kantor, Sherlly dan Bulan baru akan terlihat pulang. Sherlly hanya terfokus menyetir, Ia diam memikirkan ucapan dari para karyawan nya, Yang tak berhenti mencemooh putri angkat nya.
" Bu ..., Ibu kenapa?" Tanya Bulan terhadap Ibunya. Sekilas Sherlly menoleh, " Ia nak ada apa." Ucap Sherlly.
"Ada apa dengan ibu? Kenapa ibu terdiam." Ucap Bulan kembali mengulang pertanyaan.
"Tidak ada apa-apa sayang, Percayalah!" Jawabnya.
Namun dari arah lain terlihat, Rama mengemudikan mobilnya, Dengan sangat cepat ia marah terhadap keluarga Adrian.
Tiiit ..., Duk ..., Duk ..., Duk ...
"Oh sit ..., Dasar sialan." Umpat Sherlly memaki pengendara yang menyenggol mobilnya.
Kemudian pengendara yang menyenggol mobilnya berhenti, Tepat di depannya. Lalu Sherlly turun dari mobilnya dan menghampirinya.
...**ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo Readers ...
Ikuti terus kisah nya yah ...
Jangan lupa like, Vote,Komen dan tambah ke kolom favorit kalian, Agar tak tertinggal update terkini...
__ADS_1
Happy reading** ...