
"Pulang yuuk udah sore nih, gue takut nyokap nyariin gue," Bulan berkata pada sahabatnya yaitu Nova.
"Yaudah lagi pula pekerjaan kita sudah selesai, bener juga kata lho. Nyokap bokap gue juga pasti nyariin," ujar Nova menimpali ucapan Rembulan yang sudah sejak tadi ingin pulang.
Tiba-tiba saja Langit menghampiri mereka, dengan duduk santai di sofa. "Mau pada ke mana?"
"Kita mau pulang Ngit, ya kali mau nginep!" jawab Nova dengan nada tengilnya.
"Huh... ya iya gue juga tahu, tapi buru-buru amat. Memang di rumah kalian ada apa, di sini saja lah, sekalian temenin gue hehe..." Langit nyengir kuda menatap kedua teman sekelasnya.
"Dihhh... ogah banget, yuuk Lan kita pulang. Ngit gue pamit ya!" seru Nova sambil menggenggam tangan Rembulan mengajaknya untuk pulang.
"Ngit makasih ya makanannya, salam sama nyokap dan bokap lho," ucap Rembulan mengekor di belakang Nova.
"Iya nanti gue sampein... makasih udah cuciin mobil gue." ujar Langit tersenyum kemenangan.
Rembulan dengan Nova melangkahkan kakinya keluar dari rumah megah, kediaman Dokter Faris Dokter Cantika. Namun pada saat mereka berdua keluar dari rumah megah tersebut, tiba-tiba saja ada mobil memasuki area rumah dengan membunyikan klakson.
TIN-TIN-TIN. Suara klakson dari mobil yang barusan masuk, dan ternyata orang di dalam mobil adalah kedua orang tua Langit.
BRUG. Cantika keluar dari mobil dan disapa oleh Rembulan dan Nova.
"Sore Tante, sore Om," sapa Rembulan dengan Nova.
"Selamat sore... kalian berdua temannya Langit?" tanya Cantika.
"Iya Tante kami berdua teman sekelasnya Langit!" jawab Bulan lugas.
"Owh... kalian habis belajar kelompok ya? Kok Tante enggak pernah Langit kenalin ke kalian ya, padahal Tante ingin lho deket sama teman Anak Tante,"
Senyum merekah dari bibir Dokter kecantikan itu, ia sangat senang akhirnya Langit memiliki teman.
"Kalian satu kelas juga dengan Langit?" tanya Faris terhadap mereka berdua, namun langsung di timpali oleh Nova.
"Iya Om kita sekelas, iya kan Kan?" ucap Nova. " Kenalin Om saya Nova, dan ini teman saya Rembulan," sambung Nova sambil mengulurkan tangan.
"Oh ya... senang bisa kenal kalian!" Fariz mengulurkan tangannya berjabat tangan dengan Nova.
'Yes... satu langkah lebih maju dari Bulan, gue pasti bisa dapetin lho Ngit,' ucap Nova dalam hati.
"Kalian mau pada ke mana? Baru saja Om dan Tante pulang, ayo masuk lagi kita ngobrol-ngobrol!" ajak Cantika pada Rembulan dan Nova.
__ADS_1
"Maaf Tante nanti lain waktu saja ya, soalnya kami takut di cariin. Sudah sore juga kan," sahut Rembulan.
"Hemmm... padahal Tante pengen banget ngobrol-ngobrol sama kalian," ucap Cantika memelas.
"Nanti deh Tante, kapan-kapan saya main lagi!" jawab Rembulan tersenyum.
"Yaudah kalau gitu, hati-hati di jalannya ya," ucap Cantika seraya tersenyum.
"Kita pamit ya Tante... assalamualaikum," Rembulan menyalim tangan Cantika dan Fariz, kemudian masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Nova.
Sedangkan Sherlly kini sedang dalam perjalanan pulang, sambil berusaha menghubungi ponsel Rembulan.
"Ya ampun ke mana ini Bulan, kenapa telpon ku enggak di angkat," gumam Sherlly di sela mengemudi.
Jalanan mulai macet lantaran orang-orang mulai pada pulang kantor, kembali ke rumahnya masing-masing.
"Apa aku coba hubungi Nova saja ya?" gumamnya lagi.
TUT-TUT-TUT. Terdengar dering nada sambung dari seberang sana, akan tetapi Nova pun tidak mengangkat telpon dari Sherlly.
"Astaga... kenapa Nova juga ikut-ikutan susah di hubungi ya? Ya Tuhan lindungilah putriku di mana pun dia berada Tuhan," gumam Sherlly mencemaskan Rembulan. Sementara kedua tangannya dengan setia berpegangan pada setir.
"Itu kan mobilnya Nova, keluar dari rumah siapa dia?" ucap Sherlly bertanya pada dirinya sendiri.
Mobil yang di kemudikan oleh Nova pun berlalu pergi, begitu pun dengan Sherlly. Perlahan mengikuti laju kendaraan tersebut.
Tidak memakan waktu lama akhirnya Nova menepikan mobilnya tepat di depan rumah sahabatnya.
"Terima kasih ya Nov ... lho sudah mau nganterin gue,"
"Iya Lan sama-sama ... ya sudah kalau gitu gue balik ya," ucap Nova melanjutkan perjalanan.
TIN-TIN-TIN. Suara klakson dari mobil Sherlly menyadarkan Rembulan yang beranjak memasuki gerbang, sekilas ia menoleh pada mobil sang ibu.
'Ibu ... aduh pasti Ibu marah ini, gara-gara aku pulang se sore ini,' batin Rembulan pasrah.
Dengan segera Rembulan mendorong pintu gerbang. Kemudian Sherlly pun memasuki area rumahnya.
BRUG. Suara pintu mobil di tutup kembali setelah Sherlly keluar dari dalamnya.
"Dari mana saja kamu pulang se sore ini? Ingat Nak ... dari tadi siang Ibu telepon-telepon kamu enggak di angkat, Ibu khawatir. Kamu dari mana?" tanya Sherlly dengan nada kecewa, ia berharap putrinya itu jujur.
__ADS_1
"Bulan habis belajar kelompok di rumah temen Buk...," jawab Bulan lugas.
Akan tetapi Sherlly tidak begitu saja percaya kepada anaknya itu. "Belajar bersama siapa saja?" ucap Sherlly meneliti wajah putrinya mencari setiap inci kebohongan yang tertinggal di sana.
"Bersama Nova, dan Langit!" kata Rembulan berterus terang.
"Huh!" Sherlly menghela nafasnya, sejenak terdiam sebelum lanjut bicara. "Kamu tidak bohong kan, sama Ibu?"
"Enggak Buk, untuk apa Bulan bohong," ucapnya terbata-bata lantaran takut dengan Sherlly yang terlihat marah.
"Baiklah, ayo kita masuk." ajak Sherlly terhadap putrinya itu.
'Hukh... syukurlah Ibu tidak curiga,' batin Rembulan mengikuti langkah gontai ibunya.
Hari pun mulai gelap, sang mentari telah tenggelam di sambut oleh mega kekuningan di atas langit nan indah. Lampu kota mulai bernyalaan seiring kegelapan datang.
Sementara Bintang dan Malam masih setia menemani Adrian di rumah sakit, meskipun keadaan Adrian mulai membaik, akan tetapi Dokter belum mengijinkan untuk pulang.
"Bin ..." ucap Malam memanggil nama Bintang.
"Ya! ada apa Lam?" tanya Bintang terhadap Malam.
"Aku mau nanya boleh gak?"
"Boleh ... memangnya apa yang mau kamu tanyakan" sahut Bintang mengiyakan Malam.
"Kamu menolak perjodohan kita, bukan karena kamu memiliki pacar kan?" tanya Malam meskipun akhirnya Bintang tidak menjawabnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba bahas ini, jangan bilang kalau kamu masih menaruh harapan padaku, soal perjodohan itu!" ucap Bintang dengan intonasi suara sedikit meninggi, serta memandang tak suka pada Malam.
"Enggak ... maksud aku bukan seperti itu Bin, aku hanya ingin kejelasan saja," balas Malam sambil menundukkan kepalanya.
"Ku kira kamu sudah paham soal perjodohan itu, ternyata kamu itu tidak paham-paham ya, stop bertanya itu lagi Malam, aku tidak suka kamu membahasnya." geram Bintang bangkit dan meninggalkan Malam.
To be Continued...
Halo teman-teman semuanya, terus ikuti kisah ini ya.
Jangan lupa di like, dan Vote lalu tambahkan ke kolom favorit kalian.
sampai bertemu di bab selanjutnya.
__ADS_1