Pria Kaku Ini Jodohku

Pria Kaku Ini Jodohku
Season3: Chapter X


__ADS_3

Langit telah kembali dari Toilet, dan duduk kembali ke bangkunya. Sementara Nova masih di buat penasaran dengan pernyataan Langit yang memberitahunya kalau Bulan mengalami kecelakaan.


'Kecelakaan apa yang di alami Bulan?' batin Nova terus bertanya-tanya. 'Hum ... Gue harus cari tahu nih kayaknya,' Nova peanasaran dengan pernyataan temannya itu.


Jam pelajaran pun berjalan dengan sangat cepat, bel sekolah telah berbunyi membuat semua murid antusias lataran jam pelajaran telah berakhir.


Langit segera bergegas mengambil tas, dan langsung pulang. Diam-diam Nova mengikuti Langit dari belakang.


"Langit!" panggil Nova terhadap teman sekelasnya itu.


Langit pun menghentikan langkahnya, lalu menimpali Nova. "Ada apa Lo manggil Gue?" tanyanya.


"Kita pulang bareng ya, gue lagi enggak bawa mobil!" Nova berdalih, dia sengaja ingin tahu apa yang sedang terjadi antara Langit dan Bulan.


Namun, Langit mengetahui dari maksud Nova yang ingin pulang bareng dengannya. "Enggak, gue lagi ada urusan. Lo pulang aja sendiri!" tolak langit.


Seketika Nova diam, lalu bergumam. 'Ada apa ini? Kenapa Langit menolak? Atau jangan-jangan ada yang di sembunyikan olehnya,' gumam Nova dalam hatinya.


"Sudah ya Gue mau pulang!" ucap Langit kemudian. Perlahan Langit kembali melangkahkan kakinya, berjalan di koridor sekolah menuju parkiran mobil, di mana di parkiran tersebut mobilnya terparkir.


'Kenapa sebenarnya dengan Mamanya Bulan, ya? Kenapa raut wajahnya berubah ketika mendengar nama Papy dan Momy?' batin Langit masih melangkahkan kakinya.


Nova yang merasa penasaran, ia terus mengikuti langkah Langit. Bahkan sampai ke parkiran mobil, hingga Langit berangkat pulang, dengan segera Nova mengikutinya menggunakan mobilnya sendiri.


Langit masih heran dengan sikap Sherlly, Mamanya Bulan. Dalam perjalanan Langit tidak berhenti memikirkan hal itu, hingga tanpa sadar Langit menepikan mobilnya di halaman Rumah kediaman Rembulan dengan ibunya.


Langit menatap nanar pada rumah megah yang berdiri kokoh di hadapannya. Kemudian Langit memberanikan diri untuk menekan tombol bel di pintu gerbang rumah orang tua Rembulan, temannya.


TEET!!!


Sherlly yang sedang berada di ruang keluarga pun, sontak tersadarkan oleh bunyi bel, menandakan ada seseorang di depan rumahnya. "Siapa yang bertamu ya?" gumam Sherlly, dengan segera memastika siapa yang datang ke rumahnya.


"Bun, biar Bulan saja yang menemui Orang itu!" Bulan mengalihkan perhatian ibunya.


"Ah-Iya ..." balas Sherlly kembali duduk di sofa.


Bulan yang mengetahui kalau orang yang datang ke rumahnya itu adalah langit, dengan segera Bulan menemuinya di depan gerbang. "Langit, Lo ngapain ke sini? Lo nyari mati, Bundaku melarang kita berteman sekarang!"

__ADS_1


"Memangnya apa salah Gue? Dan kenapa Bunda Lo melarang kita untuk berteman?"


"Gue juga enggak tahu alasannya, yang jelas Lo cepat pulang ya, gue takut kalau Bunda tahu Lo datang kemari nanti Lo kena marah Gue gak enak sama Lo!" Bulan segera memerintah Langit untuk segera pulang, dia tidak mau Langit kena marah Bundanya.


"Siapa yang datang Nak?" teriak Sherlly dari ambang pintu rumah. Berdiri menatap Rembulan yang masih berinteraksi dengan Langit, beruntung Langit terhalangi oleh tembok gerbang, sehingga Sherlly tidak mengetahui jika langit yang datang menemui Rembulan.


"Ini Bun, tukang Las keliling!" dusta Bulan pada Bundanya. "Udah Lo cepetan pegi!" Bulan memerintah Langit untuk secepatnya pergi.


"I-iya gue pergi!" Langit segera kembali memasuki mobilnya, dan bergegas meninggalkan rumah megah itu.


MUM-MUM-MUM!!!


Sherlly merasa heran lantaran yang di katakan putrinya hanya tukang Las, tapi dia mendengar suara mobil yang pergi dari halaman rumahnya.


Bulan segera kembali memsuski rumahnya, dia takut kalau Bundanya curiga. "Kamu tidak sedang membohongi Bunda kan?"


****DEGH****!!!


Seketika Bulan terdiam berusaha memutar otak mencari alasan yang tepat agar sang bunda tidak curiga padanya.


"Astaghfirullah Bunda, untuk apa Bulan membohongi Bunda," sementara dalam hatinya Bulan berkata.


"Terus kenapa kamu masih berdiri di situ? Ayo masuk!" ajak Sherlly pada putrinya.


"I-iya Bun ..." Bulan tersenyum, sambil menghela nafasnya. "HUH!"


Sementara Nova masih heran dengan sikap Langit, lantaran berbohong memberitahukan jika Bulan kecelakaan padahal jelas-jelas Bulan sehat-sehat saja.


"Langit memang ada-ada saja ya, Orang Bulan baik-baik saja begitu, terus kenapa juga tuh Bulan kok kayaknya sembunyi-sembunyi menemui Langitnya?" Nova tampak terlihat bingung.


Kemudian Nova melanjutkan perjalanannya kembali.


***


Sementara Karina, dengan Adrian masih dengan setia berada di rumah sakit menemani putranya yang masih belum sadarkan diri.


"Kamu makan dulu ya, kamu kan belum makan dari tadi pagi," Adrian menawarkan makanan pada istrinya, yang masih terlihat sedih dengan ke adaan putranya.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa makan, Mas ... kamu tidak lihat Putra kita masih belum sadarkan diri, dia butuh donor darah. Kita harus mencarinya di mana?" lirih Karina menanggapi suaminya.


"Pokoknya aku tidak akan memaafkan Sherlly dengan Putrinya itu, kalau sampai terjadi apa-apa pada Bintang!" tukas Karina kesal.


"Iya sayang ... kamu harus sabar, seenggaknya kamu makan dulu untuk menjaga kondisi kesehatan kamu ya!" bujuk Adrian pada Karina istrinya.


"Eh Karina, Adrian?" Dokter Fariz menyapa mantan pasiennya dahulu, yaitu Karina. "Kalian sedang apa di sini, siapa yang sakit?" tanyanya.


'Aish ... kenapa harus ada Dokter Fariz sih, menyebalkan!' gumam Adrian, tak menyukai kehadiran Dokter Fariz.


Adrian menatap tajam pada Dokter Fariz dia merasa cemburu ketika mengingat masa lalunya. "Anda bertugas di Rumah sakit ini juga, Dok?" tanya Adrian mengalihkan perhatian Fariz yang sedang asik mengobrol dengan Karina.


Fariz menoleh lalu menimpali Adrian. "Ah-Iya saya sedang bertugas di sini, kalau boleh tahu siapa yang dirawat?"


"Bintang Dok, Putra kami!" seloroh Karina. "Dia membutuhkan golongan darah AB+!" lanjutnya memberitahu Fariz.


'AB+? Bukannya itu golongan darah yang sama dengan golongan darahku dengan Langit?' batin Fariz bertanya-tanya.


Kemudian Fariz menawarkan hal yang sama sekali tidak terduga dia menawarkan darahnya untuk di donorkan pada putra mereka berdua.


"Kalau kalian tidak keberatan, kebetulan golongan darah saya AB+ apa kalian bersedia jika saya mendonorkan darah saya pada Putra kalian?"


Seketika Adrian terdiam, dia tidak rela darah orang lain mengalir dalam tubuh putranya. Namun, Adrian tidak bisa bersikap egois kali ini.


Sejenak Adrian menghela nafasnya, kemudian berpikir jernih berusaha menerima donor darah dari Dokter Fariz.


"Baiklah, saya bersedia! kalau bisa secepatnya saja Dok, kasihan Putra kami!" tanggap Adrian.


Karina tertegun dengan sikap sang suami, lantaran baru kali ini Adrian bersikap tidak egois.


'*Bersyukur banget kamu mau mengalah Mas ...' batin Karina terharu.


****


Bersambung ...


follow IG Blazingdark15

__ADS_1


Jangan lupa Vote, Like dan komentar terima kasih*.


__ADS_2