
"Adrian ...," Karina mengeram menoleh ke arah suaminya.
"Iya sayang ... ada apa?" sahut Adrian terkekeh melihat wajah Karina yang kesal.
"Kamu ini kenapa sih ... dari dulu nyebelin banget ... paling seneng banget ngerjain aku!" gerutu Karina.
"Maaf sayang ... aku gak sengaja sumpah deh." Balas Adrian sambil menyunggingkan senyumnya dan mengangkat tangannya.
"Awas ya kalau sekali lagi begitu, aku tinggal kamu dari rumah sakit ini!" ancam Karina berpura-pura ngambek terhadap Adrian.
"Sayang ... jangan ngambek dong ... ia aku janji gak bakalan ngulangin lagi kejadian kayak tadi." Ucap Adrian masih menahan tawa.
Sepintas Karina menoleh," Tuh kan ... kamu mah ngeledekin aku ... aaa Adrian." Ucap Karina.
"Enggak sayang, siapa yang ngeledek!" balas Adrian masih dengan senyumannya.
"Yasudah," aku mau beli sarapan dulu, inget kamu gak boleh kemana-mana. Jangan coba-coba turun dari ranjang yah!'' ujar Karina.
"Iya ... istriku yang cantik dan juga baik hati!" seru Adrian melempar senyuman.
Perlahan karina melanggkahkan kaki, bergegas membeli sarapan.
...****************...
Sedangkan Sherlly terlihat terburu-buru, setelah menerima telepon dari sekretarisnya. Ia segera membekal makanan di tuperware.
"Bulan ... maafkan ibu kali ini ibu tidak bisa mengantar kamu ke sekolah, Bulan tidak apa-apa kan!" ujar Sherlly.
"Iya buk ... tidak apa-apa, lagian Bulan mau pake angkutan umum aja kok!" balasnya. Kemudian Sherlly merasa khawatir.
"Jangan naik angkutan umum dong, nak ... yaudah, tunggu sebentar. Ibu pesen taksi buat kamu!" ucap Sherlly.
"Enggak kok buk ... enggak apa-apa, ibu kalau mau berangkat yaudah gih, berangkat ... jangan terlalu mengkhawatirkan Bulan, lagian Bulan sudah terbiasa kok naik angkutan umum!" Sahut Bulan terhadap Sherlly.
Namun tetap saja Sherlly, merasa khawatir dengan putrinya itu.
"Aduhhh ... gimana yah! yaudah ibu yang naik taksi, kamu yang bawa mobil!" ujar Sherlly menyerahkan kunci mobil, lantaran ia tidak ingin putrinya naik angkutan umum.
"Ya ampun ibu ... bener deh enggak apa-apa. Lagi pula Bulan ini masih Smp belum waktunya Bulan bawa mobil, kan ibu tahu Bulan ini belum cukup umur!'' Balas Bulan hingga akhirnya Sherlly berangkat, lantaran sekretarisnya kembali menghubunginya.
Drt ... Drt ... Drt ... Dering Ponsel.
'Iya hallo ... sebentar yah! saya sebentar lagi sampe kok! ... Ok kamu atur aja yah, dalam lima belas menit saya datang ke sana!" Ujar Sherlly kembali menutup ponselnya.
"Yaudah," ... kalau begitu kamu hati-hati dijalannya, maaf banget ... ibu enggak bisa nganterin kamu nak!" ucap Sherlly.
__ADS_1
"Iya ibu ... ya ampun sampe segitunya! udah sono jalan ... nanti ibu telat loh." Balas Bulan di sela menyantap sarapannya.
"Muachhh ... dah anak ibu ...," ujar Sherlly, kemudian pergi dengan mobilnya.
Sementara Bulan masih menyantap roti di meja makannya, lalau asisten rumahnya, lewat di depannya, seketika Bulan memanggil asisten rumahnya untuk membereskan makannya.
"Mbok ... tolong beresin meja makannya yah! aku udah selesai," ucap Bulan terhadap asisten rumahnya.
"Baik non ...," ucap asisten rumahnya, menyanggupi perintah anak majikannya.
"Owh ya mbok ... jaga rumah baik-baik ya ... aku mau sekolah dulu ...," ucapnya tersenyum." Dahh ... si mbok!" ucapnya lagi melambaikan tangan.
"Ia non hati-hati dijalannya." Balas asisten rumahnya, mulai bergerak membereskan piring-piring di meja.
Perlahan Bulan melanggkahkan kakinya, keluar dari halaman rumah. Ia berjalan kaki di trotoar menunggu angkutan umum lewat.
Sementara Langit masih dalam perjalanan, tiba-tiba saja dia lewat di halaman rumahnya Bulan. karena memang biasanya dia lewat jalanan ini, Langit tidak pernah tahu jika Bulan tinggal tak jauh dari rumahnya.
'Itukan Rembulan ...," ucap Langit." Ah, ya ampun ... kenapa harus bertemu dia sih!" gumamnya.
Langit menepikan mobilnya, dan menurunkan kaca jendelanya. Menoleh ke arah Rembulan, kebetulan dekat dengan pintu kemudinya.
"Ayo naik!" seru Langit cuek.
Sekilas Bulan tersadar oleh ucapan Langit, yang menawarkan tumpangannya kesekolah.
"Ya iyalah ... memangnya sama siapa lagi sih!" ucap langit kemudian bergumam,'Menyebalkan.'
Namun rupanya Bulan masih bisa mendengar ucapan sarkas yang terlontar dari mulut, seorang Langit.
"Apa yang lho katakan. Menyebalkan? apa aku enggak salah denger ...," Bukannya kamu yang nyebelin!" ucap Bulan geram.
"Yaudah ...," balas Langit dingin.
"Yaudah apa?" tanya Bulan lagi.
"Yaudah naik! lho gak mau kan? telat datang ke sekolah." Ujar Langit.
"Ogah ... gue, semobil sama lho ... hihhh ... najong! mending gue jalan kaki, daripada berangkat ke sekolah bareng lho!" gerutu Bulan tiba-tiba moodnya ancur, gara-gara Langit.
"Yaudah ... kalau lho gak mau, gue juga enggak maksa bye ...," balas Langit, namun ia masih belum menyalakan mobilnya.
"Kenapa lho belum jalan juga? hihh ... lho mau ngerayu-rayu kayak apapun, sorry ya gue enggak bakal mau!" tukasnya.
"Hahaha ... kepedean banget lho!" ledek Langit menyeringai.
__ADS_1
"Apa lho bilang!" ucap Bulan memelototi Langit.
"Kepedean ... puasss!" balas Langit seketika melajukan mobilnya.
Mum ... mum ... mum ....
Langit pergi dengan mobilnya, sambil menggerutu lantaran tawarannya, di tolak oleh Bulan.
'Nyesel ... nyesel ... ngapain juga gue, nawarin dia tumpangan,' batin Langit, disela mengemudikan mobilnya.
Sementara Bulan, kembali menunggu angkutan umum. Sesekali ia mengelap keringatnya, lantaran ia berdiri tanpa ada penghalang dari terpaan sinar mentari, yang mulai naik permukaan.
'Duh ... angkutan umumnya, kok enggak lewat-lewat yah! kalau gini aku bisa telat nih.' batin Bulan sesekali mengelap keringat dengan tangan.
Tidak berapa lama Bintang juga lewat, di jalan raya yang seperti biasanya dia lewati, jika jalan utama sedang macet, seperti sekarang ini.
Bintang lewat begitu saja, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Bulan. Hingga terlihat lampu lalulintas di depannya, menyala merah. Akhirnya Bintang menghentikan mobilnya.
Sementara Bulan memilih berjalan kaki, lantaran tidak ada satupun, angkutan umum yang lewat.
'Hukh ... kalau begini aku bisa kesiangan, bukan cuma kesiangan, pasti kena hukuman juga!' batin Bulan kesal, sambil menendang kaleng yang tepat berada di hadapannya.
Prangggg ...
Kaleng itu mengudara, akibat di tendang oleh Bulan, " Prang ... Bughhhh." Sebotol kaleng itu mengenai kepala Bintang, yang sedang menatap lampu merah, dalam keadaan kap mobilnya terbuka.
"Auuuuww ... Sial! siapa nih yang nendang kaleng sembarangan," ucap Bintang mengambil kaleng di bawahnya.
Kemudian menengok, ke kanan dan kirinya. Sehingga bertemulah tatapannya dengan Bulan yang sama menatapnya.
'Ngapain ... orang itu menatapku, kok dia kayak yang lagi marah yah,'batin Bulan polos, sambil menatap ke arah Bintang, yang sedang menatapnya.
"Hey ... ini pasti kerjaan lho kan?!" Bentak Bintang menatap dingin pada Bulan, kemudian Bintang turun dari mobil, menghampiri Bulan yang masih dalam keadaan menatapnya.
Bintang sangat marah, lantaran sebuah kaleng mengenai kepalanya hingga mengalami benjolan.
"Ini pasti kerjaan lho ... kan!" Sentak Bintang murka, menatap tajam terhadap Bulan, sambil menggenggam tangannya dengan keras, sehingga Bulan merasa kesakitan.
Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya ...?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo Readers ...
Yuuk ikutin terus Ceritanya ...
__ADS_1
Bantu like, komen dan Vote yah, sobat Noveltoon dimanapun kalian berada.
Happy reading, semoga terhibur!