
Sore itu Rembulan menyantap makan malam bersama Sherlly ibunya, sesekali ia menelan sesendok nasi di piring.
Sementara Sherlly terlihat menatap wajah Bulan ia teringat dengan Riana, yang hilang akibat penculikan.
'Jika kamu ada di sini, mungkin kamu sudah sebesar Bulan Riana,' batin Sherlly menatap bulan yang ia anggap putri angkat.
"Buk ... kenapa Ibu melamun? Ibu sedang ada masalah?" ucap Bulan menyadarkan Sherlly dari lamunan.
Sekilas Sherlly tersadar menatap lekat Bulan.
"Eng'gak ... Ibu enggak melamun, kata siapa Ibu melamun," dusta Sherlly terhadap Bulan.
"Kalau enggak melamun ngapain Ibu bengong, apa ada masalah di kantor?" tanya Rembulan lagi.
"Enggak, beneran enggak ada masalah apa-apa sayang, semuanya baik-baik saja." sangkal Sherlly lantaran ia tidak ingin tahu jika sebenarnya ia memiliki seorang putri selain Rembulan.
"Ibu ke kamar ya ... kamu lanjutkan saja makannya, habis itu panggil si Mbok untuk membereskan meja," kata Sherlly bangkit dari kursi, perlahan berjalan menuju kamar.
'Ibu kenapa ya? Wajahnya terlihat sangat sedih, apa ada yang di sembunyikan oleh Ibu?' batin Bulan sambil menyuap makanan.
Dengan rasa penasarannya Rembulan segera mengikuti ibunya yang telah lebih dulu menyelesaikan makan.
"Mbok ... tolong di bereskan ya!" perintah Rembulan terhadap pembantunya.
"Baik Nona...," sahut si Mbok mengiyakan perintah Rembulan.
Hingga akhirnya Rembulan menyusul Sherlly yang kini sedang berada di kamar. Sherlly terlihat menangis sambil memegang photo bayi di tangan.
"Maafkan Mama Nak ... semua ini salah Mama! Andai saja Mama tidak pernah melakukan keburukan di masa lalu, pasti semua ini tidak akan menimpa kita," lirih Sherlly menyesal.
Setelah mengetahui kejadian itu Rembulan yang hendak masuk ke dalam kamar, akhirnya mengurungkan niat, karena kini ia tahu bahwa Sherlly bersedih merindukan anak kandungnya.
"Jadi selama ini Ibu punya Anak ... lalu sekarang di mana Anaknya," gumam Rembulan.
"Pantas saja selama ini Ibu sering terlihat sedih, ternyata ini penyebabnya," gumamnya lagi, menatap Sherlly dari sela pintu.
Perlahan Bulan menutup pintu kamar ibunya, ia segera bergegas ke kamarnya. Bukan iri yang ia rasakan saat ini, melainkan malam merasa kasihan pada Sherlly selalu terlihat sedih.
KLEK. Pintu kamar di buka oleh Rembulan, ia duduk menatap langit-langit di kamar.
'Aku harus bantu Ibu menemukan Putrinya, ya aku harus membantunya,' batin bulan memutar otaknya berpikir untuk rencana yang akan dia lakukan.
***
Sementara Karina kini masih terlihat menenangkan Malam, yaitu putri dari Aquilla sahabatnya. Mereka duduk di taman yang terletak tak jauh dari kamar rawat Adrian.
"Tante paling baik ... makasih ya Tante, Tante selalu bisa membuat hati Malam tenang," ucap Malam.
"Sama-sama sayang, maafkan perlakuan Bintang terhadapmu ya, Tante yakin pelan-pelan Bintang akan mencintai kamu kok,"
__ADS_1
"Malam ingin tahu satu hal, kenapa Tante selalu baik pada Malam. Apa Tante tidak bosan dengan Malam yang selalu saja merepotkan,"
"Sama sekali tidak merepotkan sayang, karena kamu adalah Putri dari sahabat Tante, sekaligus calon menantu Tante," ucap Karina tersenyum.
"Makasih Tante ... Tante terbaik, coba kalau Mommy. Pasti aku di omelin kalau ketahuan nangis, Mommy itu galak Tante!" ujar Malam.
Sedangkan Aquilla masih meneliti obrolan mereka berdua, lalu menghampiri. "Eh ... Malam sudah bisa ngatain Mommy ya sekarang,"
Sekilas Karina menoleh bersamaan dengan Malam, ke sumber suara di belakang mereka.
"Aquilla ... kau mengagetkan kami saja," ucap Karina menyala sahabatnya.
"Mommy!" ucap Malam kaget.
"Malam ... jangan ngomongin Mommy di belakang ya," ucap Aquilla menghampiri.
"Enggak, siapa juga yang ngomongin Mommy," balas Malam.
"Iya quilla siapa juga yang ngomongin kamu, kita tuh hanya memuji kamu," ujar Karina.
"Heum ... iya deh," kata Aquilla "Kalian lagi ngapain di sini, malam-malam nongkrong di taman," sambungnya.
Segera Malam menutupi kejadian yang menimpanya, lantaran jika Aquilla tahu kalau Bintang memarahinya pasti Malam akan di larang untuk berteman lagi, dan Bintang pun bisa kena masalah.
"Lagi cari angin saja Mom's ...," sekilas Malam menoleh pada Karina, memberikan aba-aba agar tak memberitahu soal perlakuan Bintang terhadapnya, "Iya kan Tante," kata Malam.
"Oh- iya ... kita lagi cari angin, kamu sendiri mau ngapain di sini?" Karina bertanya balik pada Aquilla.
"Yaudah kalau begitu ayo kita ke ruangan perawatan Adrian saja," timpal Karina mengajak sahabatnya.
"Yaudah!" balas Aquilla.
Karina dengan Aquilla pun berjalan menuju ruang perawatan Adrian, di ikuti oleh Malam di belakang mereka.
'Huh ... syukurlah Mommy tidak mengetahui yang terjadi sebenarnya,' batin Malam menarik nafas.
"O yah Rin ... kapan Adrian bisa di bawa pulang ke rumah? Bukannya sudah mendingan ya!" ucap Aquilla berjalan di samping Karina.
"Mungkin besok juga sudah pulang Quill, hanya tinggal menunggu hasil hasil Rontgen aja kok," balas Karina.
"Syukurlah ... semoga semuanya cepat membaik yah," kata Aquilla turut mendoakan keluarga sahabatnya.
"Iya quilla terima kasih ya atas doanya,"
"Sama-sama sahabat tercintaku," sahut Aquilla sambil merangkul Karina.
Sementara Rama lebih dulu sampai di ruang perawatan Adrian, di mana Adrian terlihat diam seperti sedang memikirkan sesuatu.
TOK-TOK-TOK.
__ADS_1
Sekilas Adrian menoleh ke arah pintu, terlihat di sana Rama tengah berdiri di ambang pintu.
"Ternyata elo Ram...," ucap Adrian.
"Iya ini saya, kenapa? Sepertinya lho gak seneng dengan kedatangan saya!"
"Enggak maksud gue enggak seperti itu,"
"Ya terus...,"
"Enggak ada!" ucap Adrian singkat.
"Yeah... di tanya serius malah bercanda!" kesal Rama.
"Lagian pertanyaan lho itu tidak berbobot!" sahut Adrian.
"Dasar!" balas Rama. "Oh ya mana Putra lho?" ucap Rama menanyakan Bintang.
"Dia sedang di luar, bersama Malam mungkin!" dusta Adrian, sengaja menutupi.
"Sudah mulai akrab mereka,"
"Ya begitulah... mudah-mudahan mereka selamanya seperti itu,"
Tidak berselang lama Karina, Aquilla dan Malam pun masuk ke ruang rawat Adrian. Malam langsung menghambur ke pelukan Daddy-nya yaitu Rama.
"Daddy ... Malam kira Mommy datangnya sendirian," ucap Malam melingkarkan tangannya ke pinggang Rama.
"Mana mungkin Mommy, Daddy biarkan pergi semalam ini sayang," ucap Rama sambil menepuk-nepuk tangan putri kesayangannya.
Aquilla tersenyum menatap Malam, putrinya memang terbilang sangat akrab pada Rama ketimbang dirinya. Karina sangat takut jika Rama dan Aquilla mengetahui kalau Malam sudah di buat menangis oleh putranya.
'Semoga Malam tidak mengadu soal kejadian sore tadi,' batin Karina seraya menatap ke arah Malam dan Rama yang terlihat sangat jelas Rama begitu menspesialkan putrinya.
Aquilla menyadari ketika Karina sedang menatap suami dan putrinya.
EKHEM. Aquilla berdeham sehingga Karina dan Adrian mengitarkan pandangan kepada Aquilla.
Kini tatapan mereka bertiga bertemu, suasana di dalam ruangan itu pun menjadi canggung.
***
To be Continued...
Sampai bertemu di chapter berikutnya.
Ikuti terus kisahnya ya guys...
Jangan lupa like, fav dan komentarnya, mau sepedas apapun komentar kalian silahkan guys hehe...
__ADS_1
Happy reading 🔥🔥🔥