Pria Kaku Ini Jodohku

Pria Kaku Ini Jodohku
Season3: Chapter Z


__ADS_3

Sherly langsung menutup pintu rumah, tidak membiarkan Rama masuk ke rumahnya.


"Tunggu Sherly!" Rama menahan pintu, agar Sherly tidak menutupnya. "Ada yang ingin kubahas denganmu!" tandasnya lagi.


"Tidak ada yang perlu dibahas di antara kita Ram, aku minta kau pergi jangan ganggu hidupku lagi!" tukas Sherly tak membiarkannya masuk.


Bulan yang berada di ruangan keluarga tidak sengaja mendengar suara gaduh itu, ia datang dan bertanya pada bundanya.


"Bun, siapa yang datang? Kenapa Bunda tidak membiarkan Orang itu masuk?"


"Om Rama yang datang, kamu tahukan mau apa dia datang kemari, dia mau membuat hidup kita menderita Bulan," ujar Sherly cemas, "Kamu masuk ke kamar," titahnya pada Bulan. Pasalnya, Sherlly sangat takut jika Rama berkata yang tidak-tidak kepada Bulan putrinya.


Bulan menuruti perintah ibunya, ia pun masuk ke kamarnya tanpa ragu. Sedangkan Sherlly masih berjaga-jaga di depan pintu.


BRUG...


BRUG...


Rama menggedor pintu itu tanpa henti, tetapi Sherlly tidak mau kalah, dia terus mendorong pintu rumahnya hingga terkunci.


"Sherly kau akan menyesalinya," tukas Rama geram, karena tidak disambut baik oleh sang adik.


"Aku tidak akan pernah menyesal Rama, aku tidak pernah sedikitpun ingin bertemu kamu ataupun Adrian dan yang lainnya. Tolong jangan ganggu hidupku dengan Putriku, aku minta pergi dari sini!" pekik Sherlly mengusir Rama.


Rama merasa tidak memiliki celah untuk membuat Sherlly percaya padanya, ia menyerah meskipun hatinya sangat kesal.


"Sial sekali kamu Sherlly! Kamu dan Putrimu tidak akan pernah kubiarkan menghancurkan kebahagiaan Putriku!" ketusnya berbalik meninggalkan rumah megah itu.


Rama kembali ke mobilnya, dan rupanya ia datang ke rumah itu tidak sendiri melainkan bersama Aquila--istrinya yang menunggu di dalam mobil.


"Bagaimana? Apa Sherlly mau menjauhkan Putrinya dari Bintang? Apa kamu Berhasil membujuknya Sayang?" Aquila terus bertanya pada Rama.


"Ram, kenapa kau diam? Bagaimana, apa kau berhasil?"


"Tidak, aku tidak berhasil membujuk Ibu satu Anak itu!" jawab Rama kesal.


"Apa? Perempuan itu rupanya masih saja bersikap angkuh, apa dia dendam sama kita?" Aquila memasang wajah malas. "Sudahlah ayo kita pergi saja dari sini, kita pikirkan cara lain untuk menjauhkan Bulan dari Bintang!" gerutu Aquila mendengus sebal.

__ADS_1


Dalam perjalanan itu Aquila dan Rama terus memikirkan soal bagaimana caranya menyingkirkan Sherly, dan Bulan yang merupakan ancaman bagi hidup putrinya mendatang, bukan soal cinta tapi urusan harta pun Bulan merupakan ancaman yang harus di musnahkan oleh Rama.


Karena Bulan adalah satu-satunya cucu yang begitu di sayangi oleh Ryan ayahnya Rama dan Sherly.


"Ribet banget Sherly kenapa sih dia kembali ke kota ini!" tiba-tiba Aquila meluapkan amarahnya, di dalam perjalanan itu.


"Sabar Aquila, kita masih memiliki banyak waktu untuk membuat Sherlly hancur lebur. Bahkan, dia tidak akan pernah berani lagi muncul di kehidupan kita!" ujar Rama berusaha meyakinkan.


"Kamu bisanya cuma omong doang,buktikan dong Ram kalau kamu itu adalah Ayah yang benar-benar bertanggung jawab untuk Putri kita!" tukas Aquila kesal.


"Iya-iyaa Sayang ... aku akan buktikan, kalau aku ini Ayah yang bertanggung jawab bagi Malam, sudah ya jangan marah-marah lagi," ujar Rama meyakinkan.


"Aku tunggu pembuktian kamu," Aquila masih marah, dan kesal saat itu.


Kurang lebih memakan waktu perjalanan sekitar satu jam, mereka sampai di rumahnya. Sementara, Malam telah menunggu kedatangan papa, dan mamanya itu di depan pintu rumah.


Malam tersenyum gembira, ia tahu kalau kedua orang tuanya itu telah berhasil membujuk tantenya untuk pergi dari kota ini.


"Papa--Mama," sambut Malam menghampiri kedua orang tuanya, "Bagaimana apa kalian berhasil mengusir Tante Sherly dan Bulan, untuk pergi dari kota ini Pa?"


"Pah, kenapa diam?" Malam mencecarnya.


"Malam, kamu jangan khawatir ya. Papa akan mengusir Bulan dari Sekolah kamu,"


Namun, Malam tidak puas dia justru menginginkan Bulan pergi sejauh mungkin dari sisi Bintang.


"Huh! Malam tidak mau jika Bulan hanya di usir dari Sekolah, apa gunanya jadi cucu Walikota!" gerutunya kesal, dan berbalik arah.


BRUKKK!!!


Malam tidak sengaja menabrak kakeknya--Ryan yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka.


"Kakek?" Malam terlihat gugup serta takut, "A--apa Kakek mendengar percakapan kami?" tanya malam memastikan.


Raut wajah Ryan sangat terlihat marah, dia begitu kesal karena cucu yang masih belia sudah ditanamkan bibit kejahatan oleh kedua orang tuanya.


Namun, sebisa mungkin Ryan tidak menunjukkan bahwa dia telah tahu rencana jahat itu.

__ADS_1


"Memangnya apa yang kalian bahas?" Ryan bertanya pura-pura tidak mendengar.


Supaya tidak diketahui oleh Ryan, Aquila langsung menyergah obrolan. "Enggak ada apa-apa kok Pah, kami hanya membahas soal liburan ke Luar Negeri, apa Papa mau ikut?" tawar Aquila.


"Tidak, Papa banyak urusan di kota ini. Jika kalian ingin berlibur silakan saja, tapi satu pesan Papa pada kalian, jangan sampai telantarkan perusahaan!" Ryan pergi begitu saja dari hadapan mereka setelah memberi peringatan.


Setelah memastikan Ryan pergi, Aquila dan Rama menghela nafasnya lega.


"Beruntung Papa tidak mendengar obrolan kita Qil, kalau saja Papa mendengar pasti dia akan mengusir kita!" tukas Rama marah, "Dan kamu Malam, Papa peringatkan, kurangi membahas soal Tante kamu, dan Bulan di Rumah ini!" tegas Rama seraya berjalan memasuki rumah.


"Iya, Pah maafkan Malam," ucapnya merasa bersalah.


"Ayo masuk Sayang ... jangan terlalu dipikirkan," ucap Aquila merangkul malam.


Malam begitu kesal, karena kakeknya begitu membela Bulan. Padahal, dia juga cucunya yang berhak mendapat perhatian lebih. Baginya perhatian sang kakek tidak boleh dibagi dua dengan cucu manapun apalagi harus berbagi kasih sayang dengan Bulan.


"ARGHHH!"


Malam mengumpat di dalam kamarnya, "Kenapa sih Kek, kenapa kakek begitu menyayangi Bulan? Kakek pilih kasih sama Malam!" umpatnya, "Apapun yang Malam punya selalu saja bulan rebut, Bulan, dan selalu saja Bulan!" umpatnya lagi.


***


Sementara di rumah sakit, Adrian dan Karina kini sedang menunggu hasil lab tes DNA antara Adrian, dan Bintang juga Dokter Fariz.


Adrian merasa tak sabar ingin segera mengetahui siapa sebenarnya Bintang, dan juga kenyataan yang menakutkan itu.


Ceklek!!!


Fariz begitu senang setelah melihat hasil lab, yang menunjukkan bahwa Bintang benar-benar putra kandungnya dengan Cantika, tetapi di sisi lain juga dia sedih harus kehidupan Langit putra yang sudah ia besarkan sedari kecil.


"Dokter Fariz!" Adrian memanggil Fariz yang sedang membaca hasil tes DNA.


Fariz terlonjak, hingga tidak sengaja menjatuhkan kertas tes DNA itu dari tangannya.


Adrian yang begitu tak sabar, segera mengambil kertas itu yang tergeletak di lantai.


DEG!!!

__ADS_1


__ADS_2