Pria Kaku Ini Jodohku

Pria Kaku Ini Jodohku
Season3: Chapter AD


__ADS_3

Bulan tidak mengerti apa yang ibunya katakan, pasalnya dia tidak pernah tahu kalau memiliki saudara, apalagi saudaranya adalah pria yang sangat dicintainya.


"Bulan Saudaranya Bintang?" tanya Bulan masih diselimuti rasa heran. "Heuh, Bunda mengada-ngada... mana mungkin Bulan bersaudara dengan Bintang. Lagi pula Bintangkan--,"


Bulan tiba-tiba berhenti bicara setelah ia menyadari apa yang ibunya katakan, "Jadi kalau Bulan bersaudara dengan Bintang, berarti Papa Bulan Om Adrian Bun, apa benar begitu?"


Sherly mengusap dahinya ia salah bicara soal Bulan dan Bintang.


'Sial! Kenapa aku harus memberitahu Bulan kalau dia bersaudara dengan Bintang. Jadi berabe kan semuanya, aku harus mencegah Bulan mengetahui keburukan aku di masa lalu, jika itu terjadi pasti Bulan akan sangat membenciku,' gumam Sherly menggeleng kepalanya.


Bulan yang menunggu penjelasan dari Sherlly pun kembali menanyakan soal kebenaran itu.


"Kenapa Bunda tidak menjawab? Bun, apa benar Om Adrian Papaku?"


Sherlly tertawa dan memutar otak mencari alasan agar Bulan tidak mengetahui siapa ayah biologisnya.


"Kamu ini ada-ada saja, mana mungkin Om Adrian Papa kamu Bulan, Bunda hanya bercanda tadi," elak Sherlly.


Namun, Bulan tidak percaya begitu saja pada Sherlly. Pasalnya, ia bisa membedakan saat Sherlly bercanda atau dalam keadaan serius.


"Enggak, Bunda mengatak hal yang sebenarnya kan?" Bulan menuntut agar ibunya mengaku.


"Kamu ini, sudah sampai Sekolah nih. Jangan bahas ini lagi ya," ucap Sherlly mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, kali ini Bulan berusaha percaya sama Bunda," Bulan lantas membuka pintu mobilnya, dan menyalim tangan sang ibu.


Bulan telah berlalu dari hadapan Sherlly, tapi Sherlly terus memerhatikan Putrinya itu dari kejauhan.


"Maafkan Bunda, 'Bulan," gumam Sherlly lalu pergi dengan mobilnya.


Bulan yang berjalan di koridor sekolah tampak memikirkan ucapan ibunya, Bulan bisa membedakan kalau ucapan Sherlly--ibunya sangat serius. "Hem ... aku dan Bintang bersaudara, lalu apakah Om Adrian Papa kandungku? Tapi, bagaimana dengan Ayah?" gumamnya sambil mengayunkan langkahnya.


"Woy," seseorang mengagetkan Bulan saat itu.

__ADS_1


Bulan mengalihkan perhatian pada si pembuat dirinya kaget itu, "Huh, Nova. Kebiasaan ya," gerutu bulan.


Nova tersenyum pada sahabatnya itu, "Sorry Bulan," ucapnya meminta maaf, lalu merangkul pundak Bulan, "Lagian kamu kenapa terus bengong seperti tadi, kayaknya ada yang sedang kau pikirkan, ayo dong cerita sama aku?" tuntut Nona agar Bulan mau berbagi cerita padanya.


Namun, bagi Bulan ini adalah urusan pribadi yang tidak patut dia bagi dengan orang lain, termasuk pada Nova--sahabatnya.


"Enggak ada apa-apa Nova, lagi pula siapa yang bengong kamu aja tuh pikirannya negatif melulu," Bulan berkelit.


Tapi, Nova tidak begitu saja mempercayai Bulan, dia tahu kalau sahabatnya itu sedang memendam sesuatu saat ini. Akan tetapi Nova tidak mau ikut campur karena dia menghargai privasi sang sahabat.


"Em ... kalau kamu tidak mau cerita ya enggak apa-apa, tapi setidaknya kita ke kantin yuuuk," Nova merangkul Bulan mengajaknya ke kantin.


"Hmmm ... ya sudah ayo kita ke kantin, lagian aku juga lapar lagi nih," seloroh Bulan setuju.


Ketika mereka telah sampai di kantin, dan tidak sengaja mereka berpapasan dengan Malam yang memasang wajah malas saat berjumpa dengan mereka.


"Kenapa tuh Orang, gitu banget sih lihat kita?" ujar Nova menatap sinis pada Malam.


Malam melengos begitu saja dari hadapan Bulan, dan Nova. Namun, Bulan menyapa sepupunya itu.


Malam balik menoleh pada Bulan, dan menatapnya dengan remeh. "Jangankan bayar sendiri, Gratis pun ogah makan bareng sama Orang enggak tahu diri kaya kamu, berhenti sok baik pada aku ya!" sinis Malam kesal.


"Loh, kamu kenapa Malam? Aku hanya mau nawarin sarapan bareng kamu saja kok, kenapa kamu ngatain aku seperti ini?"


"Cukup Bulan, tidak usah sok polos. Kalau mau sarapan, ya pergi saja Sono!" tandasnya memasang wajah tidak suka.


Nova yang semula diam saja, tapi tidak setelah Malam merendahkan sahabatnya. "Woy! Biasa saja dong, kalau enggak mau makan bareng sepupu kamu. Apa salahnya sih tolak dengan bahasa yang enak di dengar, enggak susah kan?"


Malam ikut marah pada Nova, "Diam deh, kamu enggak usah ikut-ikutan ya!"


"Apapun yang menyangkut Sahabatku, aku pasti akan ikut campur di dalamnya, 'Paham!" sentak Nova menatap tajam pada Malam.


Malam mengibaskan tangannya, "Sudahlah enggak ada gunanya aku ribut sama Cewek bar-bar seperti kamu, mending aku pergi." ujar Malam berlalu, "Habis-habiskan tenaga saja meladeni kalian," imbuh Malam melengos pergi dari hadapan Nova, dan Bulan.

__ADS_1


"Huh!"


Nova menyoraki Malam yang berjalan membelakangi mereka berdua.


Sementara di seberang sana di rumah sakit, Dokter Fariz tampak kesal karena Adrian telah membawa Bintang pergi dari rumah sakit itu. Fariz sangat murka pada Adrian dan Karina.


"Kenapa kalian lengah! Padahal saya sudah himbau kalian agar memperketat penjagaan Bintang, bodoh kalian ini!" Fariz memarahi para perawat yang pada saat itu berjaga di rumah sakit.


Para perawat itu menunduk, mereka tidak berani menatap Fariz yang sedang di kuasai emosinya.


"Apa pembelaan kalian?"


Para perawat itu pasrah, dan menerima kesalahan mereka.


Namun, Cantika membela para perawat itu dan meminta suaminya agar tidak terus-menerus memarahi mereka.


"Fariz, sudahlah. Tidak ada gunanya kamu memarahi mereka," lerai Cantika menjadi penengah, "Sudahlah lagi pula, menjaga Bintang bukan urusan mereka kan?"


"Iya... bukan tugas mereka Cantik, tapi aku sudah titip pada mereka. Tapi mereka ini memang dasarnya tidak becus!" Fariz beranjak meninggalkan Cantika yang saat ini bersama para perawat yang di marahi atasannya itu.


"Maafkan kami Dok,"


"Berhenti meminta maaf, aku tidak butuh!" tukas Fariz geram.


Fariz kini berada di ruangannya, ia fokus kembali pada pekerjaan. Tapi, dia terus memikirkan Bintang, dan Langit. Di sisi lain Fariz menginginkan Bintang kembali padanya, karena dia tahu Bintang putra biologisnya. Sementara di sisi lain, dia terlanjur menyayangi Langit, meskipun telah tahu Langit bukan siapa-siapa baginya.


"ARGHHH! Adrian, Karina. Selalu saja kalian yang membuatku kesal?! Kalian harus mengembalikan Bintang padaku, tapi jangan harap kalian akan mendapatkan Langit," gumamnya kesal dan menyandarkan kepalanya di kursi.


Cantika tiba-tiba saja mengunjungi ruangan suaminya, "Mas Fariz," panggilnya, "Apa sih urusanmu dengan Adrian?"


"Kamu mau tahu Cantika? Adrian itu membawa Bintang!"


"Mereka kan Orang Tuanya, ya biarkan saja. Kenapa kamu yang repot sih?!" ujar Cantika yang masih belum mengetahui sumber permasalahan antara Fariz dan Adrian.

__ADS_1


"Bagaimana aku tidak marah Cantika, mereka membawa pergi Bintang--Putra kita!"


Cantika terdiam sejenak, ia berusaha memahami ucapan sang suami yang terkesan meragukan.


__ADS_2