
"Malam ... Ayo cepat nak!" Aquilla memanggil Malam putrinya, yang terlihat berjalan di koridor sekolahnya.
Namun sepertinya Malam tak mendengar, suara ibunya yang memanggil dirinya.
'Anak itu ... Ada apa dengan Malam? kenapa dia terlihat seperti yang melamun?' ucapnya dalam hati. Lalu kembali memanggil putrinya kembali.
"Malam ... Ayo cepetan!" Ucap Aquilla mengulang kalimatnya. Sekilas Malam menoleh setelah tersadarkan oleh suara ibunya.
"Eh yaa , Mom's." Sahut malam menghampiri Aquilla yang berdiri di dekat mobil.
"Ayo cepetan ... kita pulang, daddy kamu nungguin di rumah. Kita harus menjenguk om Adrian nak," ucap Aquilla setelah berada di dalam mobil.
"Kenapa kita harus menjenguknya mom's, memangnya om Adrian kenapa?" tanya Malam terduduk di samping ibunya.
"Katanya semalam om Adrian mengalami kecelakaan nak! kasihan yah ini semua pasti gara-gara sikap Bintang yang selalu membangkang nya." Sahu Aquilla di sela mengemudikan mobilnya.
"Hemmm ... pantas saja hari ini Bintang enggak masuk sekolah, ternyata ini alasannya," Kasihan tante Karina ya Mom's. Pasti dia yang paling sedih sekarang!" sambung Malam. menyender pada jok mobilnya.
Kurang lebih dua jam jarak dari sekolah kerumahnya, kini mereka berdua telah sampai di rumahnya.
Brug ... Malam membuka pintu kemudian menutupnya, setelah keluar dari mobilnya, lalu berjalan menuju masuk ke rumahnya. Disambut oleh Rama yang terduduk di sofa ruang tamu.
"Ayo cepat kalian ganti pakaian, kita harus segera pergi!" ucap Rama.
"Iya sebentar ya dad's ... Malam ganti baju dulu yah." Sahut Malam terhadap daddy nya.
"Tunggu sebentar dong sayang, baru juga aku pulang kerumah." Sambung Aquilla.
"Iya ... Aku juga tahu." Balas Rama singkat.
Dengan segera Aquilla, mengganti pakaiannya. begitu juga yang dilakukan oleh Malam putrinya.
Malam terlihat sangat cantik dengan berdandan, membalut wajahnya dengan make up.
'Kau harus terlihat cantik di depan Bintang ... Kau harus memikat hatinya.' katanya dalam hati.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Malam ... Ayo nak cepetan, kamu sudah beres belum," daddy kamu sudah menunggu di bawah ." Ucap Aquilla mengetuk pintu kamar putrinya.
"Iya mom's ... Ini juga udah kok!" Sahut Malam menghampiri pintu, keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Kini mereka bertiga sudah siap berangkat, menuju rumah sakit. Untuk menjenguk Adrian yang sedang di rawat.
Sementara Karina masih di buat heran oleh Sherlly yang menghindarinya, ia masih berdiri di ambang pintu rumah sakit.
"Bunda sedang mencari siapa!" ucap Bintang membuyarkan lamunan karina. Sekilas Karina menoleh pada putranya.
"Tidak sayang ... Bunda tidak sedang mencari siapa-siapa!" sahut karina.
"Yasudah." Kita kembali ke kamar ayah ya bun," Ucap Bintang mengajak bundanya kembali.
"Iya sayang, kita kembali ke kamar ayah kamu." Sahut Karina sesekali menoleh, ke halaman rumah sakit.
Sementara Cantika dan fariz terlihat akan pulang, sambil mendorong kursi roda putranya Langit.
"Dad's ... Sekali lagi Langit minta maaf pada daddy dan mommy yah! selama ini Langit telah salah sangka pada kalian." Lirihnya, terduduk di kursi rodanya, di dorong oleh kedua orangtuanya.
"Sudahlah sayang ... jangan di bahas lagi yah. Daddy juga minta maaf padamu nak, daddy telah lalai dalam memperhatikan mu." Sahut fariz di sela mendorong kursi roda.
"Iya sayang ... Mulai sekarang. Apapun yang terjadi, kamu harus cerita pada kita jika sedang ada masalah," sambung cantika tersenyum bahagia melihat suami dan putranya telah berdamai.
Fariz dan cantika mendorong kursi roda putranya melangkah secara bersamaan, tak sengaja mereka berpapasan dengan Karina dan juga Bintang. Yang sedang berjalan akan menuju ke ruangan Adrian.
"Dokter fariz ... Dokter cantika!" ucap Karina sejenak terdiam.
Sementara Bintang menatap tajam pada musuh bebuyutan nya, yaitu Langit. Yang selalu menjadi saingan nya.
'Huh ... Kenapa aku harus berpapasan dengan orang arogan ini,' Ucap Bintang dalam hatinya. Menatap tajam pada Langit yang duduk di kursi roda.
"Nona Karina? kebetulan sekali kita bertemu disini," ucap Cantika ramah.
"Iya kebetulan sekali yah kita bertemu disini, saya sangat tidak menyangka kita bertemu di kesempatan yang seperti ini." Balasnya terhadap dokter Cantika.
"Anda di rumah sakit, memangnya siapa yang sedang sakit nona Karina?" tanya dokter fariz, terhadap Karina.
"kebetulan Adrian sedang di rawat dok, dia mengalami kecelakaan tadi malam," sambung Karina, terlihat wajah sedihnya.
Sekilas karina menoleh pada seorang putra yang terduduk di kursi roda, yang tak lain adalah Langit musuh bebuyutan putranya.
"Jadi Langit ini putra kalian! wah saya sangat tidak menyangka dok, ternyata selama ini Langit putra kalian." Tukasnya.
"Iya dia memang putra saya ... Anda kenal dengan putra saya darimana?" sambung fariz.
__ADS_1
"Siapa yang tidak mengenal putra kalian ... Dia kan juara basket tahun ini untuk kota Jakarta. Dan salah satu saingan putra saya Bintang, bahkan anak-anak kita terlibat pertengkaran, apa kalian tidak mengetahui nya." Tutur Karina membeberkan semuanya.
Cantika dan fariz sangat terkejut setelah mendengar ucapan yang terlontar dari Karina.
"Benarkah!" Jika memang benar, seperti itu tolong maafkanlah putra kami." Ucap Cantika meminta maaf.
"Tidak apa-apa dok ... kalian ini kayak tidak pernah muda saja, wajarlah jika mereka bertengkar nanti juga mereka dapat membedakan mana yang salah dan yang benar," saya memakluminya!" ucap Karina menanggapi dengan santai.
"Syukurlah jika tanggapan anda seperti itu, kami tidak terlalu khawatir jadinya," sekilas Cantika teringat jika hari ini dia bertemu dengan Sherlly ... " Oh ya nona karina ... Hari ini banyak sekali pertemuan yang secara kebetulan bagi saya," sambung Cantika.
"Maksud dokter?" Karina terkejut mendengar ucapan dari dokter Cantika.
"Itu loh ... Saya tadi bertemu dengan Sherlly teman anda, kebetulan putrinya satu sekolahan dengan putra saya Langit. Sherlly jauh lebih baik ya sekarang, jika di bandingkan dengan dulu," ucap Cantika.
Karina tercengang ternyata dia tidak salah jika telah melihat Sherlly di rumah sakit itu. Namun setahunya Sherlly tak memiliki anak selain dari Adrian.
"Putri apakah dia Riana" Gumamnya.
"Kenapa nona Karina?" ucap Cantika menyadarkan lamunannya.
"Akhhh ... tidak, bukan apa-apa!" Oh ya ... kalau begitu kami pamit ya dok, kasihan Adrian sendirian di ruangannya." Ucap Karina.
"Oh iya silahkan! kebetulan kami juga harus pulang." Sahut Cantika.
Kemudian Karina pergi menuju ruangan suaminya, bersama dengan Bintang putranya. Begitu juga dengan Cantika dan keluarganya segera menuju parkiran, untuk segera pulang kerumah.
Sedangkan Sherlly baru terlihat sampai di kediamannya. Iya turun dari mobilnya lalu berjalan gontai membuka pintu rumahnya.
"Ibu belum jawab pertanyaan Bulan, tolong jawab buk!" Sela Bulan saat Sherlly membuka pintu rumah.
"Ibu harus menjawab apa nak, ibu juga tidak tahu orang itu siapa!" ucap Sherly.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo Readers yuuk ikuti terus kisahnya...
jangan lupa tambahkan ke kolom Favorit kalian...
Dan jangan lupa like komen dan Vote ...
Happy reading , semoga kalian Terhibur...
__ADS_1