
Adrian menatap pada putranya dia merasa bersalah atas apa yang telah terjadi selama ini, namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi terlebih saat ini kenyataan yang amat menyakitkan itu benar-benar tidak bisa di pungkiri.
"Kita tinggal tunggu waktu saja Adrian, Bintang Putraku, atau langit Putramu!" ujar dokter Fariz setelah memberikan darahnya pada Bintang yang di duga putra kandungnya.
Adrian terdiam, pasalnya dia tidak bisa menerima begitu saja kenyataan yang sangat mengguncang ini.
Perlahan Karina menghampiri suaminya, dan mencoba menenangkan Adrian. "Semua itu belum tentu terjadi Adrian... bisa saja Bintang benar-benar Putra kandung kita, tapi rekam medis yang telah salah," ujarnya seraya mengelus lengan Adrian-suaminya.
Adrian bersikap pesimis, lantaran ia sangat percaya medis, dari pada sebuah dugaan belaka.
"Ini mungkin saja terjadi Karina, untuk itu aku minta kau bersiap-siap dengan kenyataan yang tidak baik ini," Adrian meninggalkan Karina dengan segala gundahnya.
"Tapi, Adrian...,"
Adrian tetap pergi, untuk menenangkan dirinya sendiri.
Sementara Karina masih berdiri di sana, dan berbalik menatap pada Bintang yang masih terbaring di dalam ruangan itu.
"Kenapa harus begini? Jika memang Bintang bukan Putraku, kenapa dia lahir dari Rahimku Tuhan...," lirihnya menatap sang putra dari balik pintu kaca.
Karina mulai merasa frustasi, takut dengan kenyataan yang kian nyata di depan matanya ini. Bahkan, sampai terbesit dibenaknya untuk mencari cara agar Bintang tetap menjadi Putranya meskipun kenyataan menyatakan yang sebenarnya bahwa Bintang bukan putra kandungnya.
"Apa aku harus lakukan cara itu, cara apapun agar Bintang tetap Putraku?" gumamnya mengusap dahi yang terasa pusing.
Kemudian, Karina meninggalkan kamar rawat itu demi mencari Adrian yang tengah di Landa gelisah.
Karina terus berjalan di koridor rumah sakit, hingga menghentikan langkahnya tepat di sebuah taman yang ada di rumah sakit itu.
Perlahan Karina menghampiri suaminya yang terlihat melamun di ujung kursi taman itu.
"Adrian," sapanya pada sang suami, "Bolehkah aku duduk di sampingmu?"
Adrian menoleh dengan cepat, "Ya, tentu saja. Tidak ada yang melarangmu di sini,"
Karina tersenyum senang, dengan respon suaminya.
"Kau masih memikirkan perkataan Dokter Fariz bukan?" tanyanya dengan ragu.
"Ya, aku terus memikirkannya," balasnya dengan jujur. "Aku tidak terima jika Bintang Putra kandung Dokter itu! Lantas, di mana Putra kita?" Adrian menggeleng kepalanya.
__ADS_1
"Ini semua memang salahku Karina, salahku mengenal Sherly di masa lalu. Kalau saja aku tidak pernah menjalin hubungan dengannya, mungkin saja hidupmu tidak semenderita ini," lirih Adrian merasa bersalah.
"Kamu tidak perlu menyalahkan masa lalumu Adrian... mungkin saja semua ini memang sudah seharusnya seperti ini, kau jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri," Karian meraih tangan Adrian mencoba memberikan dukungan.
Perlakuan Karina yang selalu baik padanya, semakin membuat Adrian kagum, dan semakin merasa bersalah atas semua yang terjadi hingga kini.
Tanpa mengaba-aba lagi, Adrian memeluk Karina, "Aku beruntung memiliki Istri sepertimu Karina... aku sungguh Pria bodoh yang tidak menyadari betapa baiknya Tuhan padaku karena telah memberimu,"
"Kenapa kau bicara seperti ini?" Karina lantas mempererat pelukannya.
Saat Karina dan Adrian saling mendukung, dan berpelukan di taman itu. Dari koridor rumah sakit Langit menatap pada mereka, dan datang menghampiri.
"Om, Tante." Langit menyapa Karina, dan Adrian.
Namun, Adrian tidak menyukai keberadaan Langit di sana.
"Kau, Langit?" tanya Adrian jelas menunjukkan raut wajah sinisnya. "Mau apa datang kemari?" lanjutnya lagi dengan nada bariton.
Menyadari ketidak sukaan Adrian pada Langit, Karina lantas ikut bicara menyambut baik kedatangan Langit.
"Nak, Langit Temannya Bintang ya?" sambut Karina dengan senyuman.
"Kedatangan Langit kemari untuk apa sayang? Biar Tante tebak ya, Langit pasti mau jenguk Bintang ya?" tebak Karina, padahal sudah tahu pasti dengan kedatangan anak itu.
"Iya Tan, Langit mau jenguk Bintang, bolehkah?"
"Tentu saja boleh, ayo Tante antar," Karina bangkit dari tempat duduknya untuk mengantarkan Langit menuju kamar rawat putranya.
Namun, tiba-tiba saja Adrian mencegah mereka. "Tidak, dia ini musuh bebuyutan Bintang di Sekolah, pasti dia memiliki niat jahat pada Putra kita Karina, untuk itu dia tidak boleh menjenguk Bintang!" larang Adrian dengan tegas.
DEG!!!
Langit tercengang setelah mendapatkan penolakan dari Adrian ayahnya Bintang. Pasalnya, kedatangan ke rumah sakit ini benar-benar untuk menemui Bintang, dan berusaha menyemangati Bintang agar cepat pulih.
"Saya tidak ada pikiran ke sana Om, saya memang sering bertengkar dengan Bintang tapi saya juga punya hati, tidak mungkin saya--,"
"Cukup!" bentak Adrian, lalu mengusirnya, "Pergi dari sini, keberadaan kamu tidak di inginkan di sini!" tukasnya murka.
Namun, Langit tetap bersikukuh ingin menemui Bintang. Tetapi, Adrian malah terus mengusirnya.
__ADS_1
"Saya akan tetap berada di sini, karena saya peduli sama Bintang!" keukuh Langit tidak mau mengalah.
"Cukup! Adrian... Langit. Tolong jangan bertengkar!" Karina berusaha menengahi. "Adrian kedatangan Langit sangat baik, dia ingin menjenguk Bintang, apa salahnya?"
"Salahnya dia adalah Putra Fariz yang berusaha mengusik kita Karina, semenjak Bintang kenal mereka semua jadi kacau kan?!"
Adrian sangat muak pada Langit, padahal hatinya yang paling dalam dia juga menyayangi Langit, hanya saja dia tidak bisa terima kalau Bintang harus pergi darinya gara-gara tertukar di saat mereka masih bayi.
"Om, kenapa begitu membenci Daddyku?Apa salah dia sama Om?" tanya Langit merasa penasaran.
Tidak menjawab sepatah katapun, Adrian melengos pergi begitu saja.
Karina hanya bisa menggeleng kepalanya, lantaran ia tidak percaya dengan sikap Adrian.
"Langit, kamu jangan masukkan ke hati ya," Karina mencoba memberikan pengertian.
"Tidak apa-apa Tante,"
Karina senang dengan keberadaan Langit, apalagi Langit begitu sopan dan menghargainya.
"Terima kasih yah, sayang ... kalau begitu Tante mau susul Om Adrian, kamu tunggu di sini. Tante janji akan mempertemukan kamu dengan Bintang tapi setelah Om Adrian tidak emosi, kamu tidak apa-apa kan?"
Langit menganggukkan kepalanya setuju.
"Tentu saja tidak apa-apa Tante," balasnya merespon dengan baik, dan pada akhirnya Langit duduk dibangku taman. Sedangkan, Karina menyusul Adrian.
***
Sementara di seberang sana, tepatnya di rumah tinggal Sherly dan Bulan terlihat seorang pria dengan paruh baya tengah mengetuk-ngetuk pintu rumah itu.
"Permisi, Sherly kau berada di Rumahkan?"
Sherly yang saat ini berada di ruangan tamu, menghampiri pintu utama rumahnya untuk memastikan siapa yang bertamu ke Rumahnya itu.
Ceklek!!!
Sherly tercengang setelah mengetahui siapa yang tengah berdiri di depan rumahnya itu, dengan sinis Sherly menanyakan tujuan orang itu datang ke rumahnya.
"Mau apa kau datang kemari?"
__ADS_1