
"Ayo ikut aku!" paksa Malam menarik tangan Bulan.
"Kita akan ke mana Malam?" tanya Bulan dengan panik, ia ketakutan jika Malam akan bertindak di luar batas terhadap dirinya.
Malam terlalu emosi pada sepupunya, sehingga dia melupakan hubungannya dengan Bulan, "Ini tempat kamu yang seharusnya!" desis Malam mendorong Bulan ke tumpukkan sampah di belakang sekolah.
BRUK!!!
Bulan menangis saat diperlakukan kejam oleh Malam, padahal selama ini Bulan tidak pernah memusuhi sepupunya. Bahkan, ia tidak pernah merebut apapun dari Malam seperti yang Malam katakan.
"Malam, kenapa kamu tega sama aku?" lirih Bulan menangis di tengah tumpukan sampah.
"Tempat kamu di sini, jangan sampai kamu kembali ke kelas dasar Anak Sampah!" seru Malam kesal.
Malam begitu tega memperlakukan Bulan dengan kejam, mendorongnya bak sampah yang tidak ada harganya. Setelah itu Malam pergi begitu saja, sementara Bulan masih menangis merengkuh lutut dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba saja sebuah tangan terulur di depannya, "Bangunlah," ucap pria mengulur tangan, "Sedang apa kau di sini?" lanjutnya lagi.
Bulan mendongakkan wajahnya menatap pada seseorang yang mengulurkan tangan untuknya.
Bulan segera meraih tangan itu sambil menangis sesenggukan.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Langit merasa kesal atas perlakuan yang di dapatkan Bulan.
Namun, Bulan tidak mau berterus terang. Lantaran, takut Malam akan semakin bertindak kurang ajar padanya.
"Ini bukan salah siapa-siapa, aku tidak sengaja terpeleset," kelit Bulan tidak mau mengaku.
Langit meraih rambut panjang Bulan, dan menyelipkan ke telinganya. "Kamu jangan takut, katakan siapa Orang yang melakukan ini padamu?" tanyanya dengan bibir bergetar.
"Kalau kamu hanya diam, baiklah aku akan menebaknya!" Lanjut langit, merasa penasaran.
"Ini bukan salah siapa-siapa Langit, aku hanya terpeleset tadi." tandas Bulan meyakinkan.
"Aku tahu yang melakukan ini pasti Malam kan?" tebaknya menatap Bulan.
"Bukan,"
"Jika kamu mengatakan bukan Malam yang melakukan, pasti jawabannya, 'iya!"
Langit lantas bergegas untuk memberi pelajaran pada Malam, yang sudah berlaku kasar pada Bulan--sahabatnya.
"Langit!" panggil Bulan berusaha mencegah. Namun, Langit tidak mau mendengar dia terus beranjak menemui Malam.
__ADS_1
BRAK!!!
Langit menggebrak meja tempat belajar Malam, membuat semua orang di dalam kelas itu terlonjak kaget.
"Kamu yang mendorong Bulan di tempat pembuangan sampah belakang Sekolah?" murka Langit menatap Malam.
Dengan marah Malam bangkit dari tempat duduknya, "Kalau iya memang kenapa hah? Apa yang mau kamu lakukan?"
Langit mengepalkan tangan, "Kamu benar-benar keterlaluan Malam, apa salah Bulan sama kamu?"
"Salah dia selalu merebut apa yang aku suka, dan dia selalu memilikinya!" bentak Malam terus terang.
Semua orang terpelongo dengan pengakuan Malam pada saat itu, Malam yang terkenal anggun ternyata tidak jauh seperti iblis yang begitu kejam.
"Apa Ngit, Malam mendorong Bulan hingga jatuh di tumpukan sampah?" Nova terkejut, "Terus Bulan di mana sekarang?" lanjut Nova bertanya.
"Kamu jangan ikut-ikutan ya Nova! Terus saja kamu membela Bulan! Kamu Sahabat aku atau Bulan sih?!" kesal Malam pada Nova.
"Malam kita semua bersahabat di sini, apa yang kamu lakukan sekarang sudah sangat keterlaluan," Nova langsung pergi menyusul Bulan, yang mungkin saja saat ini sedang menangis karena seragamnya bau sampah.
Sedangkan Malam masih terus berhadapan dengan Langit, yang ingin meminta pertanggung jawabannya atas perlakuannya terhadap Bulan.
"Kamu harus dilaporkan ke kepala Sekolah Malam, biar kamu ini kapok!" ancam Langit beranjak dari hadapan Malam.
"Kamu tidak akan pernah melaporkan kejadian ini pada Kepala Sekolah Langit, atau semua Orang di Sekolah ini akan tahu kalau kamu bukan Putra Seorang Dokter!" Malam balas mengancam Langit.
"Sial!" desis Malam kesal. Karena ancamannya tidak mempan terhadap Langit.
Malam berusaha mengejar Langit, sebisa mungkin Malam mencegahnya. Lantaran, dia tidak mau masalah ini sampai ditelinga kedua orang tuanya.
TOK! TOK! TOK!
Langit mengetuk pintu ruangan kepala sekolah, "Masuk saja pintunya tidak dikunci," seseorang di dalam sana meminta Langit masuk ke dalam ruangan.
Ceklek!!!
Langit menggapai gawai pintu, dan mendorong hingga pintu itu terbuka.
"Ada apa Langit?" tanya pak kepala sekolah.
Langit duduk di bangku tepat di hadapan kepala sekolah, dan mulai menceritakan masalah Bulan, dan Malam.
"Saya terpaksa melaporkan semua ini sama Bapak, saya sudah tidak bisa membiarkan Malam semena-mena lagi sama Bulan,"
__ADS_1
"Apa maksud kamu Langit?" Kepala sekolah itu heran.
"Malam membully Bulan, bahkan mendorongnya hingga jatuh di tumpukan sampah belakang sekolah kita Pak! Perilaku seperti Malam sudah tidak bisa ditoleransi lagi!" ujar Langit melaporkan.
"Bohong!" pekik Malam saat telah berada di ruangan kepala sekolah.
"Saya tidak bohong Pak, dia benar-benar melakukannya!" sela Langit meyakinkan.
"Kamu kenapa sih Ngit, selalu ikut campur masalah aku sama Bulan?!"
"Karena aku tidak suka Orang seperti kamu melakukan kejahatan terus menerus Malam?!" sinis Langit menatap dengan tajam pada Malam.
Pak kepala sekolah merasa yakin atas apa yang dilakukan Malam terhadap Bulan, ia pun meminta Langit untuk membawa Bulang menghadap.
"Jika ini memang benar seperti yang kamu katakan, kamu bawa Bulan menghadap saya, 'cepat! Kamu Malam tunggu di sini!" pinta kepala sekolah dengan tegas.
Malam tidak bisa berkutik lagi, dia hanya bisa menuruti perintah kepala sekolah dan menyesali apa yang telah diperbuatnya.
'Aduhhh!!! Bagaimana ini? Bagaimana kalau Mami, dan Daddy sampai tahu ini?' batinnya khawatir.
Beberapa saat kemudian, Langit membawa Bulan menghadap pada kepala sekolah.
"Ayo Bulan masuk," pinta Langit.
Dengan penampilan lusuh Bulan memasuki ruangan itu, dan bau sampah menyengat di indera penciuman mereka.
Pak kepala sekolah mengibaskan tangannya di depan hidung, dan mulai bertanya pada Bulan. "Benar yang membully kamu Malam, 'Bulan? Katakan saja jangan ragu, Bapak akan memanggil kedua Orang Tua kalian untuk hal ini!"
DEG!!!
Malam merasa ketakutan saat pak kepala sekolah akan memanggil kedua orang tuanya, dengan segera Malam mengakui kesalahannya.
"Ini semua memang saya yang melakukannya Pak, tapi saya mohon jangan panggil Orang Tua saya, biarkan semua ini selesai di sini saja," mohon Malam pada kepala sekolah.
Namun, pak kepala sekolah tidak mau mentolerir perlakuan Malam yang sudah diluar batas.
"Baik, jika Orang Tuamu tidak mau Bapak panggil ke Sekolah ini. Kamu akan dikeluarkan dari Sekolah, apa kamu mau itu terjadi?!"
Malam menggeleng kepalanya, "Tidak Pak, jangan keluarkan saya dari Sekolah ini," mohonnya dengan wajah memelas.
Bulan yang merasa kasihan pada Malam, ia berusaha meminta kepala sekolah untuk memaafkan perlakuan Malam terhadap dirinya.
"Pak, tolong jangan seperti ini. Malam hanya khilaf, 'iya kan Malam?" mohon Bulan masih berusaha mengasihani Malam sepupunya.
__ADS_1
Pak kepala sekolah, dan Langit menggeleng kepalanya. Mereka kagum pada sikap Bulan yang begitu baik, meskipun telah diperlakukan kasar oleh sepupunya.
Lantas, akankah Malam dikeluarkan dari sekolahnya?