
Aku mulai membuka Mata Ku, Ku hitarkan Pandangan . Aku berada di suatu Ruangan bercat Putih dan selang infus tertanam Di tanganku badanku terasa lemas. saat penglihatan Mulai terlihat jelas Lelaki Kaku itu dengan setia Mendampingi aku Yang sangat Rapuh.
"Kamu sudah sadar sayang, Kamu jangan Banyak gerak Dulu ya" ucap Adrian si pria Kaku Yang sangat aku cintai.
Aku meneteskan Air mata Saat kembali mengingat Ibu ku Yang sudah meninggal.
Adrian menyeka Pipiku Yang basah karena Air mata Yang tak henti mengalir.
"Sssst Sayang Sudah ya Kamu jangan Nangis lagi Aku Ikut sedih Kalau kamu terus seperti ini.
Tanpa Terduga Aku Terharu Atas sikap Adrian Yang semakin hari semakin Menyayangi aku.
"Maafkan Aku Ya Mas, Aku selalu merepotkan kamu. Hanya saja Aku tidak bisa begitu saja merelakan kepergian Mommy mas"
"Iya sayang Aku juga ngerti, Apa yang saat ini kamu Rasakan. Aku tau Kalau kamu sangat terpukul dengan semua ini, Tapi Kamu harus Ikhlasin Kepergian Mamah kamu Ya"...!
Aku Hanya menganggukkan Kepalaku Yang masih terasa pusing. Tidak berapa lama Dokter Datang untuk memeriksa ku, Mungkin Adrian suamiku Yang memanggil.
"Permisi tuan Adrian saya Mau periksa Nona karina Dulu ya' " ucap seorang Dokter cantik Menggunakan hijab Yang berdiri di belakang Adrian. Dokter itu sangat Ramah Dia murah senyum terhadap siapapun.
"Oh" Iya... Dok. silahkan" Balas Adrian Kemudian berpamitan padaku" Sayang Aku Tinggal sebentar ya," Dia Adrian meminta ijin pada ku.
"I."..iya sayang... silahkan" Balasku terhadap suamiku Tercinta. Kini hanya ada aku Dan dokter Di dalam Ruangan IGD.
"Baik Nona Karina " Mari saya bantu Untuk bersandar Ya biar Jahitan di perut ibu saya periksa"
"Baik sus" Terimakasih"
Aku merasakan sedikit sakit saat Tangan Dokter mulai menyulam bagian Jahitan Yang kembali terbuka sisa operasi Yang aku jalani.
"Tahan sebentar Ya bu Ini Akan terasa sedikit sakit" Tarik Nafas dan Jangan terlalu banyak gerak Ya bu"
"Baa...Baik" Dokter" Jawab ku Yang sedikit Merasa sedikit ngeri Karena Kali ini merupakan Operasi kedua Meskipun Hanya membenarkan Bekas benang Yang terputus. Tapi Aku masih bisa merasakan Betapa Sakitnya Jarum itu menusuk Daging perutku.
__ADS_1
Pandangan ku memudar Saat sebuah Cairan Dokter suntikan ke selang infus Yang tertancap di bagian Tangan.
* * *
Aku Adrian Sangat gelisah Saat seorang Dokter memintaku untuk keluar, Karena Aku takut kalau kehilangan Karina Istriku.
Aku tidak akan bisa hidup jika Tanpanya.
Karina terpaksa menjalani operasi ulang Karena Jahitan diperutnya kembali bedah.
"Deg...Deg..." Detak Jantung ku serasa terhenti Denyut nadi ku pun berhenti sejenak. saat lampu Ruangan Operasi itu menyala Berwarna merah. itu Artinya dokter dan Para pendamping nya sedang mengoyak Jahitan Yang ada di perut istriku.
"Adrian Bagaimana Keadaan karina Nak,..?" Tanya seseorang Yang menyadarkan ku dari lamunan. dan ternyata itu adalah Mommy ku.
"Karina Masih ada di dalam Ruangan ma, Dokter sedang meng-operasi nya."!
"Kenapa Semua ini bisa Jadi seperti ini Adrian, Apa kata dokter.
"Ma Adrian belum tahu pasti , Yang jelas lebih baik kita Doa bersama saja ya ma.
"Ram Lebih baik kalian pulang saja, Kasihan Aquilla. Mungkin dia terlalu capek, Kasihan Bayi dalam Kandungan nya" Ucapku Menyuruh Rama Untuk pulang.
"Baiklah Dri, Benar kata lho Kasihan Bayi ku." Tapi kalau ada Apa-apa, segera Kabari aku Dan Aquilla Ya"
"Tenang Aja Pasti Aku kabari kalian secepatnya, Jika Operasi nya sudah selesai" Balasku Terhadap kedua sahabat dari Istriku.
Setelah Berpamitan mereka Berdua pulang untuk beristirahat karena mungkin saja esok hari mereka akan Kerja.
"Tante Saya pulang Dulu ya, Tante jaga kesehatan ya...! " Ucap Aquilla Yang berpamitan Pada ibuku.
"Iya sayang Kalian Hati-hati ya Di jalannya, Duh si jabang bayi. Sehat-sehat ya sayang di dalam perut mama kamu nya" Ibuku sambil mengelus perut Aquilla Yang mulai terlihat buncit.
Aku sangat sedih disaat Mama ku sendiri Tidak bisa menimang cucunya sendiri, Karena Calon anakku tidak berhasil Lahir ke dunia ini. Karena Istriku Di dorong dari Eskalator oleh mantan Pacarku. saat aku mengingatnya Aku merasa sangat bersalah Pada Istriku , ibuku, Dan calon anakku.
__ADS_1
Masalah ini semua berasal dari kesalahan ku di masa lalu.
Andai Semua bisa ku putar kembali, Aku ingin Hidup Pada masa itu dan berusaha memperbaiki nya,.
"Adrian" Adrian" Hentak Ibuku menyadarkan aku dari lamunan.
"Ya kenapa Ma" Balasku Kaget.
"Kamu kenapa " Jangan banyak melamun na, kamu jangan pernah memperlihatkan Kesedihan kamu di hadapan istrimu. Karena saat ini kamu Yang harus kuat, Supaya istri kamu bisa tabah dalam menerima Takdir Yang sedang menimpa keluarga kita."
"Iya ma, Adrian Hanya sedih saja jika teringat Bayi Aku Dan karina" lirihku.
Mungkin ini Yang dirasakan Seorang Ayah ketika Ditinggalkan oleh anaknya, Bahkan Bayi itu belum lahir Tapi aku sudah sangat merasa sedih. Hampa Hidupku , Rapuh jika Tanpa seseorang Yang sangat berarti bagiku.
Saat aku menoleh Tiba-tiba saja Lampu berwarna merah itu telah berganti menjadi Warna Hijau. Dan kemudian Dokter Yang menangani "Karina" istriku keluar dari Ruang operasi, Sambil melepaskan Sarung Tangan medisnya.
"Bagaiman Dok keadaan istri saya,?" Tanyaku pada Dokter wanita yang memakai hijab itu.
"Alhamdulillah Semuanya dalam keadaan baik-baik saja pak. Nona karina telah berhasil kami operasi.
Tapi saya Minta bapak biarkan Nona Karina untuk istirahat ya, saat ini beliau belum sadarkan Diri karena Masih dikuasai Obat Bius.
"Terimakasih Dok, Anda memang hebat. Saya percaya dengan Dokter Risma. Ya tuhan semoga Menantu ku, cepet sehat lagi" Sahut Ibu ku Yang terlihat sangat gembira saat mendengar Kabar baik terkait keadaan menantunya.
"Sama-sama ibu, Bukan saya Yang hebat ibu Tapi Nona karina lah Yang sangat Kuat. Dalam Semua hal ini. jika saya yang berada di posisi nya. Mungkin saya Tidak akan sekuat beliau" Ucap Dokter cantik Yang bernama Risma, Dia beranjak pergi meninggalkan Kami.
Aku dan Ibuku Hanya menatap Keberadaan Karina Dari balik pintu kaca. Karina masih Terbujur kaku Dengan beberapa Alat bantu Medis.
"Karina Sayang, cepat sadar Ya. Aku sedih jika Kamu masih seperti ini sayang" Gumam ku.
"Nak " Ucap ibuku sambil menepuk pundak ku." Kamu Jangan lupa makan Terus kamu juga istirahat Ya sayang." Ucap ibuku Yang meminta ku untuk makan, Karena pas pulang Dari pemakaman boro-boro aku ingin makan Ketika istriku Masih Rapuh seperti ini.
~~Happy Reading ~~
__ADS_1
Bantu vote...
Jangan lupa komen & like Jika kalian suka dengan Novelku ini...