
"Kamu ngomongin Bintang, dan Adrian lalu Karina... kamu sadar tidak dibalik sikap kamu yang seperti ini Langitlah yang menderita Fariz!" Cantika kesal kepada Fariz lantaran selalu membahas Bintang, dan selalu Bintang.
Fariz mendengus sebal pada Cantika yang seolah tidak mau mengerti pada situasinya saat ini, padahal sudah jelas kalau Bintang yang perlu diperhatikan saat ini. "Cantika dengarkan aku baik-baik yah, Bintang adalah Putra kandung kita Langit Putra kandung mereka, untuk itu yang paling utama saat ini adalah Bintang, bagaimana caranya kita harus mendapatkan Bintang, rebut dia dari tangan Karina, dan Adrian!"
Cantika masih tidak mau percaya kalau Bintang adalah Putra kandungnya, dia mengelak meskipun semua fakta mengarah kalaulah Bintang putranya. "Enggak mungkin, dan tidak akan pernah mungkin Bintang bukan Putra kita, kamu sadar itu Fariz!"
"Yang harus sadar itu kamu Cantika, buka matamu. Langit bukan Anak kandung kita!" kesal Fariz.
Namun, Cantika tetap tidak mau mengakui Bintang sebagai putranya, bagi Cantika hanya Langit dan tidak akan tergantikan.
"Kalau begitu perjuangkan Bintang untukmu saja, aku tidak mau memperjuangkannya karena bagiku cukup Langit seorang!" Cantika beranjak meninggalkan Fariz yang merasa paling benar.
'Dasar tidak mau kalah! Aku tahu Bintang Putra kita, tapi bisakah kau menjaga perasaan Langit?!' gerutu Cantika dalam hatinya.
Cantika terus berjalan meninggalkan suaminya. Sementara Langit tiba-tiba saja menelepon ibunya--Cantika.
Drtttt.
Cantika menghentikan langkah untuk sejenak, dan mengambil ponsel dari dalam saku jas kerjanya.
'Halo, Langit. Ada apa Nak?' tanya Cantika menjawab sambungan telepon putranya.
'Mom, Mommy di mana Sekarang?' Langit berusaha memastikan ibunya tidak sedang mencari keberadaan Bintang.
'Mom di Rumah Sakit Nak, ada apa?' tanya Cantika lagi tanpa ragu.
'Mom tidak bohong kan? Mom tidak sedang berusaha membuktikan kalau aku bukan Anak Mommy kan?'
'Stttt ... kenapa kamu berbicara seperti ini Nak? Tentu saja Mommy tidak melakukan hal itu, kenapa tiba-tiba kamu bicara seperti ini? Ada apa?' Cantika heran pada sang putra.
'Enggak kenapa-kenapa kok Mom, ya sudah kalau begitu Langit lanjut belajar ya Mom, bye Mommy...,' Langit segera memutus sambungan itu.
Cantika semakin heran dan khawatir atas sikap Langit, dia merasa takut jika Langit sudah mengetahui kebenarannya.
"Kenapa Langit bertanya seperti ini? Ini pasti ada hal yang menggangu pikirannya? Atau mungkin dia sudah mengetahui kalau dia bukan--," gumam Cantika segera menampik pikirannya, "Tidak, ini tidak bisa dibiarkan!" Cantika semakin mempercepat langkahnya.
BRAK!!!
Saat Cantika sedang terburu-buru ia tidak sengaja menabrak seseorang.
__ADS_1
"Hey! Apa kau tidak bisa--," seketika ucapan Cantika berhenti. Cantika tidak percaya melihat orang yang sudah lama ia cari, dan saat ini berada tepat di depan matanya.
"Kau?" Cantika masih tercengang menatap perempuan yang saat ini sedang membalas tatapannya.
"Cantika!" perempuan itu adalah Sherlly, ia langsung bergegas menghindari Cantika.
"Tunggu Sherlly!" Cantika mengejar Sherlly, ia ingin memperjelas apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu saat ia melahirkan Langit di rumah sakit yang sama dengan Karina.
"Jangan lari Sherlly!" teriak Cantika kesal, karena selama ini begitu banyak sebuah pertanyaan dalam hatinya untuk di tanyakan pada Sherlly.
Sama-sama menggunakan sepatu high heels, Sherlly dan Cantika saling mengejar. "Huh! Kenapa aku harus dipertemukan lagi dengan Sherlly?" gumamnya terus mengayunkan langkah--semakin menjauh dari Cantika.
Sherlly sangat takut jika Cantika membongkar semua rahasianya, apalagi saat ini Adrian sudah semakin curiga jika Bulan adalah putrinya.
"Sherlly!" Cantika memanggil Sherlly yang sudah menjauh darinya.
Sherlly sudah merasa aman dari Cantika, dia berhasil menyeberangi jalan raya tanpa tertangkap.
Kini Sherlly memilih melanjutkan perjalanan menuju kantornya. Beberapa saat kemudian, Sherlly sampai di perusahaan sang papa, sebuah perusahaan ternama di kota ini yang di kelola bersama Rama kakaknya.
Sherlly keluar dari mobilnya, setelah memarkirkan kendaraannya itu. Sedangkan Rama sudah menunggu kedatangannya.
"Sherlly!" sambut Rama di depan bangunan megah itu. Menatap dengan tajam ke arahnya, "Ayo ikut denganku, ada yang ingin dibicarakan!" sambil mencengkeram pergelangan tangannya.
"Lepaskan Ram, apa yang ingin dibicarakan lagi? Aku rasa tidak ada!" tepisnya kesal.
"Ikut saja, apa susahnya!" desis Rama dengan tatapan dingin.
"Oke, aku ikut denganmu," Sherlly menyetujui untuk bicara empat mata dengan Rama.
Rama tersenyum miring, dan memulai langkahnya menuju salah satu ruangan.
"Ayo silakan masuk," Rama membuka pintu ruangan itu mempersilakan Sherlly masuk terlebih dahulu.
Tanpa ragu Sherlly masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di kursi yang tersedia di dalam sana.
"Apa yang ingin kau bicarakan, 'sebenarnya?" tanya Sherlly penasaran.
Rama menarik nafasnya dalam-dalam, dan memulai obrolan dengan Sherlly. "Apa kau tidak ingin pindah dari Kota ini Sher?"
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal ini?" Sherlly balik bertanya. "Apa kau merasa terancam ada aku di kota yang sama denganmu?"
"Hah!" Rama tertawa sambil menunjuk dirinya, "Aku terancam karenamu? yang benar saja Sherlly?" ujarnya tersenyum meremehkan.
"Lantas?" Sherlly berusaha ingin tahu, "Kenapa kau menanyakan hal ini, oh--iya... satu hal yang harus kau tahu, aku tidak akan pergi dari kota ini,"
Sherlly bangkit kembali dari tempat duduknya, berniat pergi.
"Bagaimana kalau aku menginginkan kau pergi dari Kota ini?!" ucap Rama membuat Sherlly terkejut.
"Kenapa kau sangat menginginkan aku pergi dari Kota ini?" tanya Sherlly menatap Rama dengan tajam.
"Tentunya kau sudah tahu Sherlly, dengan adanya kamu dan Putrimu di kota ini membuat Putriku Malam, tidak nyaman. Karena Bulan Putrimu selalu saja mengambil perhatian Kakeknya, terlebih lagi saat ini perhatian dari Bintang pun dia rebut," tukas Rama dengan nada serius.
"Kenapa kau menyangkut pautkan Bulan dengan masalah ini? Bulan juga berhak bahagia, lagi pula dia juga pantas mendapatkan perhatian itu bukan?"
"Perhatian dari kakeknya hanya untuk Malam, bukan Putrimu yang Haram!"
PLAK!!!
Sherlly melayangkan tamparannya mendarat dengan tepat di pipi Rama--kakaknya.
"Jangan pernah merendahkan Putriku! Jika Putrimu direndahkan juga kau tidak mau bukan?!" murka Sherlly ketika Bulan disebut haram oleh Rama.
Rama mengusap pipinya yang panas akibat tamparan dari Sherlly, dia mencoba membalasnya lagi.
"Wanita ******, beraninya kau menamparku?!" Rama melayangkan tangannya membalas Sherlly.
Namun, Ryan menggagalkannya.
"Berhenti!" Ryan membentak Rama, dengan suara baritonnya.
Rama menghentikan niatnya, dan menarik kembali tangan yang siap mendarat itu.
"Jangan pernah kau menyentuh Adikmu Rama! Jika itu terjadi kau akan kehilangan semuanya, termasuk daftar waris harta Papa!" ancam Ryan.
Rama mengepalkan tangannya, marah sekali pada Ryan yang selalu membela Sherlly.
"Apa-apaan ini Pap, jangan bertindak tidak adil terhadap Putramu ini!" sinis Rama marah.
__ADS_1
Lantas, akankah Sherlly bertahan di kota ini? Sedangkan, Rama berusaha menghalalkan segala cara agar dia pergi?