
"Buk ..., Hati-hati," Ucap Bulan yang merasa takut.
"Iya sayang ... Kamu diam disini ya nak, Ibu akan turun memberi pelajaran pada mereka!" Sahut Sherlly membuka pintu mobilnya, Dan menghampiri mobil yang telah menyenggol mobilnya.
Sherlly menghampiri mobil yang berhenti tepat di hadapannya.
Sementara Rama, Terlonjak kaget saat ia tak sengaja menabrak mobil di sampingnya.
"Ram ... Bukankah itu Sherlly?" Ucap Aquilla terkejut, Sekilas Rama menoleh mengedipkan matanya.
'Sherlly ... Jadi dia telah kembali ke Jakarta.' Ucapnya dalam hati.
Tok ... Tok ... Tok ..." Buka pintunya hey." Sentak Sherlly, Mengetuk pintu mobil milik Rama.
Kemudian Rama keluar dari mobilnya, Begitu juga dengan Aquilla. Kini mereka bertemu kembali setelah bertahun-tahun tak bertemu.
"Sherlly," Sejak kapan kau ... Berada di Jakarta?!" Tanya Rama, Menatap tajam pada saudara nya itu.
"Bukan urusan mu Rama, untuk apa kau bertanya seperti itu!" Sahut Sherlly, Kemudian berbalik arah menghindari Rama.
"Tunggu!" Ucap Aquilla yang menatap keduanya. Sekilas Sherlly menoleh kembali.
"Untuk apa kau menghentikan ku, Oh ... Untuk mengingatkan ku untuk menjauhi papa iya, " Bentak Sherlly.
"Bagus kalau kau sudah tahu, Aku tidak perlu repot-repot untuk memberitahu kamu!" Sambung Aquilla.
"Jangan lupa ... Suatu saat aku akan membuka kebobrokan kalian di depan papa, Lagi pula kalian tidak tahu keberadaan papa sekarang kan!" Ucap Sherlly ..., "Sudah kuduga." Tukasnya Kemudian bergegas kembali memasuki mobilnya.
Sementara di dalam mobil, Bulan memperhatikan seorang anak perempuan sebayanya, Yang berada di dalam mobil Rama.
Klek ..., Suara pintu dibuka oleh Sherlly. Ia kembali memasuki mobilnya.
"Siapa mereka buk?" Tanya Bulan terhadap ibunya.
"Bukan siapa-siapa nak ... Tolong jangan bertanya lagi." Sahut Sherlly, Dingin.
Seketika, Bulan terdiam ia tahu bahwa suasana hati ibunya sedang tidak baik-baik saja.
'Kau tahu Ram ... Suatu saat kau akan menyesali perbuatan mu sendiri,' Gumam Sherlly menatap tajam terhadap Rama, Yang masih berdiri menatap nya.
Sherlly berlalu begitu saja, Menstarter mobilnya membelah jalanan kota sore itu.
Sedangkan Rama masih berdiri, Menatap tajam pada mobil yang berlalu di hadapan nya, Yaitu mobil Sherlly saudarinya.
"Sial ... Kenapa sekarang dia harus kembali ke Jakarta," Geram Rama, Mengepalkan tangannya .
"Sudah Ram ... Ayo cepat kita pulang! Kita harus cari dimana wanita licik itu tinggal." Sahut Aquilla. Menggenggam tangan suaminya.
__ADS_1
Kemudian Rama dan Aquilla memasuki mobilnya kembali. Malam hanya menatapnya heran.
"Pappy ... Siapa orang yang tadi?!" Tanya Malam.
"Bukan siapa-siapa ... Kebetulan itu hanya orang gila." Balasnya kemudian menstarter mobilnya.
"Ram ... Turunkan emosimu sayang ... Ingat kamu sedang menyetir." Ucap Aquilla kembali menenangkan suaminya.
"Huhhhh," ...Menghela nafas, Kemudian Rama kembali berbicara," Ini semua karena perempuan itu, Maafkan aku sayang." Sahut Rama mengelus rambut Aquilla.
Sementara Malam, Otaknya masih berputar memikirkan perempuan yang sebaya dengan orang tuanya.
'Siapa sebenarnya tante yang tadi itu, Apakah orang itu masih ada hubungan keluarga dengan Pappy, Atau ada hubungan keluarga dengan mommy.' Katanya dalam hati.
"Malam ... Kau melamun kenapa nak?" Kau ... sedang tidak memikirkan sesuatu kan?!" Tanya Rama terhadap putrinya.
Malam tersadar dari lamunan saat pappy nya bertanya.
" Eng-gak ... Siapa yang melamun, Malam hanya ingin Pappy jangan marah kepada keluarganya tante Karina." Balasnya menatap wajah Pappy nya.
"Sudahlah." ... Jangan bahas lagi masalah itu yah! Pappy enggak mau membahas masalah itu." Ucap Rama dingin, Kembali terfokus mengemudikan mobilnya.
"Sudah-sudah," Kalian ini kenapa sih!" Ucap Aquilla melerai suami dan anaknya.
Sementara Karina, Masih duduk di ruang tamu menunggu kepulangan Adrian, Sesekali ia menyeka buliran putih yang mengalir di pipi nya.
"Bukan nak ... Ini bukan salah kamu, Maafkan bunda dan ayah yah, Semua ini terjadi karena kesalahan kami." Balas Karina menangkup wajah tampan puteranya.
"Kau tak perlu khawatir nak ... Semua ini pasti baik-baik saja!" Ucap Karina mengulang kalimatnya.
Sementara Adrian kini dalam perjalanan nya menuju kantor, Untuk menenangkan dirinya yang sedang emosi kepada istri dan anaknya.
'Maafkan aku Karina, Seharusnya aku tidak membentak mu,'.... Batin Adrian di sela menyetir, Sekilas ia teringat karena telah memarahi putranya,' Maafkan ayah juga nak ... Ayah tak bermaksud memarahi mu,' Katanya dalam hati.
"Kau bodoh, Adrian ... ini semua salahmu." Dengan sekali hentakan Adrian membelokkan mobilnya, Tanpa ia sadari dari arah lain kendaraan melaju dengan sangat cepat.
tiiit ... Duk ... Duk ... Duk ...
Brukkkk ... Pray ... Brush ... Mobil yang di kendarai oleh Adrian terjatuh ke kolong jembatan dengan arus sungai yang sangat deras.
Pray ... Gelas di tangan karina terjatuh, Disaat ia akan menenggak air minumnya.
"Astaghfirullah ... Kenapa hatiku merasa tidak enak begini," Ucap Karina pada dirinya sendiri.
"Kenapa bun ... Ada apa ini?!" Tanya Bintang terkejut, Melihat pecahan gelas di kaki Bunda nya.
"Tidak apa-apa nak ... Ibu hanya sedikit kurang enak badan saja!" Sambung Karina.
__ADS_1
"Ayo Bintang bantu bunda ke kamar yah ... Hati-hati Bunda." Ucap Bintang memapah bundanya.
"Tunggu nak bunda belum membereskan pecahan gelas itu," Sahut Karina.
"Sudah bun ... Biarkan bibi saja yang membersihkan nya." Ucap Bintang, Mencegah bunda nya.
Kemudian Bintang memapah bundanya, Menuju ke kamarnya.
"Mana lagi si bibi," Ucap Bintang mengitarkan pandangan nya ke sekeliling, Mencari keberadaan pembantunya.
"Bi ... Bibi," Teriak Bintang memanggil pembantunya, Kemudian si mbok menghampiri nya.
"Ada apa tuan? ... Kau memanggil saya!" Ucap si mbok menghampiri nya.
"Tolong bereskan pecahan gelas di dapur." Sambung Bintang memerintah pembantunya.
"Siap tuan muda." Sahut si mbok.
Sementara Adrian mengalami kecelakaan hebat, Darahnya mengucur dari kepalanya mengaliri wajah yang tak lagi muda, Namun masih tetap terlihat tampan.
"Tolong ... Tolong," Ucap Adrian dengan suara yang semakin pelan.
Bersyukur, Suara Adrian terdengar oleh warga sekitar yang membantunya. Dengan segera Adrian dilarikan ke rumah sakit, Untuk mendapatkan pertolongan.
Kini Adrian telah sampai di rumah sakit, Terbaring tak sadarkan diri kepalanya di balut dengan perban, Tampak terlihat jelas darah merah yang membasahi perbannya.
sementara Langit masih berada di rumah sakit, Ditemani oleh kedua orangtuanya.
"Nak ... Besok sore kamu sudah boleh pulang, Ingat pesan mommy ... Jika mempunyai masalah bercerita lah pada kami, Iya kan pah!" Ucap Cantika menoleh pada suaminya.
"Ya," Sahut Fariz, Kemudian berbicara lagi ... " Kau, Jangan segan cerita pada daddy. Jika daddy dan mommy terlalu sibuk dalam pekerjaan, tegur saja daddy dan mommy." Tukasnya.
Tidak terasa buliran putih terjatuh dari matanya, Saat Fariz akan meninggalkan ruang perawatan Langit, Tiba-tiba saja Langit menghentikan langkahnya daddy nya.
"Dad's ... hiks ... hiks ... hiks," ... Maafkan aku dad's, Aku sayang daddy." Lirihnya.
Kemudian Fariz menghentikan langkahnya, Membalas pelukan putera nya. "Nak ... Maafkan daddy, Yang terlalu sibuk selama ini." Lirih Fariz , Mengeratkan pelukannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo Readers ikuti terus kisahnya yah ...
Jangan lupa tambahkan, Ke kolom favorit kalian...
Jangan lupa like, Komen dan Vote ...
Happy reading ....
__ADS_1
Sampai bertemu di part berikutnya ...