Pria Kaku Ini Jodohku

Pria Kaku Ini Jodohku
Season3: Chapter V


__ADS_3

"Maafkan saya, semua ini karena kesalahan saya," kata Bulan sambil menangis hingga cegukan.


"Jadi semua ini karena kamu!" bentak Karina yang terlihat sangat panik.


"Sekali lagi maafkan saya Tante...," lirihnya.


"Gampang sekali kamu meminta maaf! Sementara Anak saya dalam keadaan kritis," ujar Karina terus menyudutkan Rembulan.


"Semua ini tidak sepenuhnya salah dia Tante ... Bintang atas kemauannya sendiri menolong Bulan," ucap Langit membela Bulan, iya tidak tega sahabatnya itu terus di salahkan.


Sekilas Karina menoleh menatap tajam kepada Langit, wajahnya tampak familier bagi Karina.


"Kamu!" seru Karina. "Kamu Langit kan, Anaknya Dokter Faris?" ucapnya sinis.


"Iya saya memang Putra dari Dokter Faris!" jawab Langit.


Beruntung sekuriti segera datang menghampiri mereka yang sedang ribut di depan kamar pasien.


"Maaf Nyonya ... Tuan, tolong jangan membuat keributan di Rumah sakit!"


"Iya Pak ... maafkan saya!" ujar Adrian menimpali sekuriti," Sayang ... sudah jangan membuat keributan, kita berdoa saja untuk ke sembuhan Bintang yah!" kata Adrian menenangkan Istrinya.


Karina mulai terlihat tenang, setelah Langit membawa Bulan untuk menjauh dari kedua orang tuanya Bintang.


"Lan, sebaiknya kita pergi dulu dari sini, kalau keadaannya sudah membaik baru kita kembali lagi," bisik Langit di telinga Rembulan.


Bulan pun mengerti apa kata sahabatnya, ia mengikuti Langit ke tempat tunggu lain yang tersedia di Rumah sakit.


"Iya Ngit ... aku juga harus mengabari Ibu, hari ini aku putuskan tidak masuk sekolah saja," ucap Rembulan terbata-bata.


"Awas ya kamu kalau Anak saya kenapa-kenapa!" ucap Karina menatap Rembulan.


Sementara di Rumah, Sherlly masih kebingungan lantaran putri angkatnya itu pergi tanpa berpamitan padanya.


Si Mbok pun di buat kebingungan, karena Sherlly memerintahkan mengecek kamar Rembulan akan tetapi orangnya tak ada di sana.


"Di kamarnya juga tidak ada Nyonya ... mungkin Non Rembulan terburu-buru kali Nyak," kata si Mbok.


"Tidak mungkin Mbok seterburu-burunya Bulan dia tidak pernah lupa untuk berpamitan," ucap Sherlly.


'Ke mana ya Anak itu,' ucap Sherlly dalam hati.


"Ya sudah Mbok ... kalau begitu saya berangkat kerja dulu, jaga rumah, jika nanti pas pulang sekolah Bulan belum pulang, segera kabari saya!" ucap Sherlly.


"Baik Nyonya!" balas si Mbok.


Sherlly pun segera bergegas menuju mobil, pada saat ia membuka mobil tiba-tiba saja ponselnya berdering.


DRT-DRT-DRT. Ponsel di genggaman pun bergetar, Sherlly menggerutu kesal, karena pada saat terburu-buru seperti ini masih saja ada yang menghubunginya.

__ADS_1


"Huh- siapa lagi yang menelepon," gerutu Sherlly lalu menerima panggilan dari putrinya.


Sherlly sangat lega karena Rembulan menelepon, sehingga ia merasa tenang.


"Bulan," gumam Sherlly menempelkan ponselnya ke telinga. Namun iya tidak pernah tahu Sasha meneleponnya, karena histori panggilan di ponsel Sherlly telah Rembulan hapus.


"*Halo Nak ... kenapa kamu berangkat sekolah tidak berpamitan sama Ibu?" tanya Sherlly.


"Maafkan Bulan Buk, Bulan tidak bermaksud pergi tanpa pamit sama Ibu," ucap Bulan di seberang sana.


"Lantas kenapa Nak ... memangnya ada apa dengan kamu, Ibu rasa ada sesuatu yang kamu rahasiakan dari Ibu," tebak Sherlly.


"Bulan sedang di Rumah sakit, teman Bulan ada yang kecelakaan. Semua ini karena kesalahan Bulan Buk," lirih Rembulan mulai meneteskan lagi air matanya.


"Di Rumah sakit? Tapi kamu tidak apa-apa kan sayang? Ibu khawatir sama kamu!" seru Sherlly.


"Bulan enggak kenapa-kenapa ... tapi Bulan merasa sangat bersalah, terlebih lagi orang tuanya menyalahkan Bulan," lirih Rembulan.


"Yaudah Ibu ke sana ya! Kamu share lock alamatnya ya!" ucap Sherlly khawatir. "Kamu sekarang di temani siapa di sana?" sambungnya.


"Bulan di temani Langit Buk!" jawab Bulan.


"Yasudah Ibu segera ke sana sekarang!" balas Sherlly menutup saluran panggilan*.


Dengan segera Sherlly masuk ke dalam mobil, menstater keluar dari Rumahnya menuju Rumah sakit dengan kecepatan kendaraan sedang.


Sementara Bulan terlihat tegang saat melihat Bintang sedang di tangani oleh Dokter di dalam ruan ICU.


"Ya Tuhan, tolong kau selamatkan dia," gumam Bulan menatap nanar Bintang dari balik pintu kaca.


Sedangkan Karina tidak berhenti menangis, ia di rangkul oleh Adrian suaminya, Adrian berusaha membuat Istrinya tenang.


"Sabar sayang ... semuanya pasti baik-baik saja, Bintang tidak akan kenapa-kenapa Anak kita kuat sayang," lirih Adrian, Ia pun tak kuat menahan rasa sedih melihat putranya berjuang melawan maut di atas bangsal.


"Bagaimana kalau Bintang kenapa-napa? Ini tidak baik sayang...," Buliran air mata jatuh bercucuran melintasi pipi cantik itu.


Kemudian Karina menatap kepada Bulan, yang sedang melihat Bintang. Karina pun menghampiri Rembulan dan memakinya.


"Semua ini gara-gara kamu! Kalau saja Putraku tidak menyelamatkan kamu, semuanya tidak akan terjadi seperti ini!" bentak Karina.


Rembulan hanya diam ia tidak melawan, lantaran ia merasa ini kesalahan yang ia perbuat, karena ke cerobohnya merugikan orang-orang di sekitarnya.


"Cukup Tante! Semua ini kecelakaan, bukan salah teman saya!" Langit membela Rembulan mati-matian, semenjak ia mengenal Bulan, ia seperti ingin selalu melindungi gadis itu.


"Kamu jangan ikut-ikutan! Atau semua ini kalian sengaja ya mencelakakan Anak saya, karena saya tahu selama ini kamu selalu ribut dengan Anak saya kan?" sentak Karina terhadap Langit.


"Ini tidak ada kaitannya dengan permusuhan saya dengan Bintang Tante!" ujar Langit membela diri.


Tiba-tiba saja seorang Suster keluar dari ruang ICU, menanyakan kedua orang tuanya Bintang.

__ADS_1


"Mohon maaf siapa keluarga pasien di sini?" ucap Suster mengalihkan perhatian Karina.


"Saya orang tuanya Sus! Ada apa dengan Putra saya?" tanya Adrian lebih dulu menjawab.


"Pak, Buk. Anak Anda butuh darah golongan AB+ stok di Rumah sakit kami sedang kosong,"


"Ambil darah saya Sus ... kebetulan golongan darah saya sama!" jawab Adrian.


"Mohon maaf Pak Adrian, Anda baru saja sembuh, jadi kami tidak bisa mengambil darah Anda!" ujar Suster. "Apakah masih ada anggota keluarga lainnya, yang golongan darahnya sama?" tanya Suster.


'AB+ kan golongan darah aku juga,' batin Rembulan.


Sejenak Rembulan terdiam ia bingung dengan ke cocokan darah yang sama dengan Adrian dan juga" Bintang.


DEG!!!


Keadaan di sana tiba-tiba saja hening, lantaran Suster tidak memperbolehkan Adrian untuk mentranspusi kan darahnya.


"Kalau bukan saya yang menstranfusi darah ke Putra saya siapa lagi Suster, darah keluarga lainnya berbeda," ucap Adrian.


"Darah saya cocok dengannya Suster, ambil darah saya saja!" seru Rembulan.


Sontak semuanya menatap ke arah Rembulan, Karina merasa tidak percaya dengan ke cocokan darah Putranya dengan orang yang bukan Anggota dari keluarganya.


"Jangan ngaur kamu kalau bicara, mana mungkin golongan darah Anak saya sama dengan golongan darah kamu!" bentak Karina merasa tak percaya.


Sementara Sherlly datang tepat pada waktunya, iya tidak ingin rahasia di masa lalu terbongkar begitu saja, tentang keburukannya.


"Tunggu Rembulan! Jangan pernah kamu donorkan darah kamu, Ibu tidak rela!" teriak Sherlly baru saja tiba.


Adrian maupun Karina, mereka sangat terkejut sekaligus tercengang karena ternyata Rembulan adalah putrinya Sherlly.


Mereka kini berhadapan kembali setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu.


"Sherlly?" ucap Karina tercengang.


Bersambung...


Happy reading.


IG: Blazingdark15.


Halo sobat semuanya, kira-kira terungkap enggak yah, kalau Bintang bukanlah anak kandung Karina dengan Adrian.


Hanya Sherlly, othor dan Tuhan yang tahu kapan terungkapnya.


Sekarang nikmati saja ya alurnya.


Like,Vote Hadiah, tambahkan ke favorit kalian dan sertakan komentarnya.

__ADS_1


__ADS_2