
Hari kian sore siang itu jam pelajaran telah berakhir, Rembulan dengan Nova tampak bersiap membereskan buku-bukunya.
Sementara Langit menatap tajam kepada dua wanita itu, ia sangat marah lantaran karena ulah mereka berdua Langit di hukum oleh gurunya.
Perlahan langit berjalan ke arah Nova dan Rembulan.
“Ikut gue... urusan kita belum selesai!” ucap Langit dingin menatap Rembulan.
Namun Bulan menolak, karena ia pikir dirinya tidak punya urusan dengan Langit.
“Mau ke mana si? Urusan apa coba?” tanya Bulan.
“Eh... jangan pura-pura lupa ya! Gara-gara kalian gue di hukum, padahalkan itu bukan kesalahan gue!” ucap Langit dingin.
Sontak saja Bulan teringat masalah tadi pagi, akibat ulahnya dengan Nova. Langit yang kena getahnya.
Sejenak Bulan dan Nova bertatapan, mengedipkan mata memberi kode untuk kabur.
“Kenapa kalian pada diam!” ucap Langit.
“Satu... dua... tiga... kabur...,” ucap Rembulan dengan Nova bersamaan.
“Woy... jangan lari!” terial Langit mengejar Bulan dengan Nova, yang berusaha lari darinya.
Rembulan berlari dengan sangat cepat, di ikuti Nova. Sesaat kemudian mereka sampai ke mobil milik Nova dan segera bergegas pulang.
“Ahhh... sial!” umpat Langit kesal.
“Awas saja kalau besok ketemu lagi!” gumam Langit menatap kepergian Bulan dan Nova.
Kemudian Langit berbalik arah menuju mobilnya, lalu segera pergi dari sekolahan.
Sementara Bulan dengan Nova kini tengah di dalam perjalanan pulang, seperti biasanya Bulan di antarkan oleh sahabatnya.
“Huh. Untung saja kita lolos dari kejaran Langit, kalau tidak mungkin dia bakal ngerjain kita habis-habisan,”
“Elu sih! Nyaraninnya coba aja, tadi pagi tuh jangan Langit yang di jadikan tumbal, pasti kita aman-aman aja!” ujar Nova.
“Hem... giliran dah kejadian aja nyalahin gue, padahalkan itu demi nolong lho! Huh...,” ujar Bulan menoyor kepala sahabatnya.
Sekilas Nova menoleh memicingkan matanya, tersenyum kepada Bulan.
“Ehehhe... sorry my bestie!” ucap Nova tersenyum.
“Iya gue maafin... tapi jangan di ulang lagi, coba mau sampe kapan kita kucing-kucingan dengan Langit!” ujar Bulan.
“Sampe Langit bosan atau cape ngejar-ngejar kita!” sahut Nova.
“Huh... mana ada orang yang mau balas dendam, cape atau bosan! Dih lo mah... rada-rada!” ujar Bulan terhadap Nova.
“Ya kali aja begitu!” sahut Nova.
TIN-TIN-TIN. Suara klakson pengendara lain mengagetkan Nova.
Mereka sangat terkejut, setelah tahu siapa yang mengklaksoni mereka.
__ADS_1
“What’s... Langit!” ucap Nova terkejut.
Citttt... Suara Ban mobil Nova akibat dia menginjak remnya. Seketika Nova menghentikan mobilnya.
Lantaran Langit menghadang mereka, perlahan Bulan dengan Nova turun dari mobil menghampiri Langit.
“Woy... mau nyari mati ya! Maen hadang sembarangan!” ketus Nova.
Seketika pandangan Langit beralih padanya. “Eh... Diem lho ya! Pokoknya gue enggak mau tahu, kalian harus membayar apa yang kalian lakukan tadi pagi ke gue!” ucap Langit menyandar pada mobilnya, sambil menatap Rembulan dengan Nova.
“Kalau gue enggak mau memangnya lho mau apa haa...,” ketus Nova.
“Ya kalau lho enggak mau palingan gue minta lho mengerjakan soal mata pelajaran matematika gue selama satu minggu!” jawab Langit santai.
Mulut Bulan menganga menatap tidak percaya dengan apa yang di minta Langit.
“Memangnya kalau kita mau nerima hukuman dari lho! Emang hukuman apa yang bakal lho berikan?” tanya Bulan terhadap langit.
Sementara Nova mengkode Bulan untuk tidak menurutinya. “Bulan ihhh... ngapain lho malah kayak nantangin gitu,” bisik Nova yang perasaannya mulai tidak enak.
“Udah lho tenang aja, gue yakin Langit enggal bakal ngasih kita hukuman yang berat-berat,” bisik bulan membalas Nova.
Sementara Langit terkekeh melihat mereka, yang sedang berbisik-bisik seperti sedang berdiskusi.
“Oy... gue di sini! Ngeliat sama gue lah, ngapain lho berdua bisik-bisik!” ujar Langit.
Sontak saja Bulan dengan Nova terkaget-kaget.
“Ihhh... gak usah ikut campur, ini urusan Cewek,” sahut Bulan kesal.
“Sudah memangnya apa yang akan lho berikan pada kita, sebagain hukuman?” ucapnya.
“Iya apaan... cepetan jangan bertele-tele deh lo!” gerutu Nova.
“Oke baiklah, kalian lihat mobil ini mobil gue, dan ini kotor banget!” ucap Langit.
“Ya terus...,” sahut Bulan.
“Kalian berdua cuci mobil gue sampe bersih!” ujar Langit.
Sontak saja Bulan dengan Nova menganga, menatap tidak percaya pada Langit.
“Lho tega ngeliat kita-kita nyuci mobil lho, kita kan Cewek mana bisa nyuci mobil,” ujar Bulan.
“Iya Ngit... ada yang lain gak?” ujar Nova menurunkan egonya.
“Tidak ada tawar menawar ya. Ini bukan di pasar!” jawab Langit sinis.
“Huh... dasar!!!” ucap Nova kesal.
Kemudian di tenangkan oleh Bulan. “Sudah Nov... ikutin aja ya maunya dia, daripada kita di kejar-kejar terus tiap hari!” ucap Bulan.
“Iya-iya... gue ikutin!” sahut Nova.
“Nah... gitu dong kan enak!” ucap Langit.
__ADS_1
“O yah... lho Bulan ikut mobil gue, dan lho Nova jangan coba-coba kabur, gue ingin kalian berdua nyuci Mobilnya di rumah gue!” ujara Langit kemudian memasuki mobilnya.
“Harus banget bareng satu mobil dengan lho?” ucap Bulan.
“Haruslah supaya lho enggak kabur lagi kayak tadi!” jawab Langi yang sudah berada di dalam mobilnya.
“Ayo cepat tunggu apalagi!” gerutu Langit.
“Iya-iya sebentar... bawel banget sih!” ketus Bulan.
“Nov... lho harus ngikutin gue dari belakang!” ucap Bulan.
“Oke... tenang saja, kita selesaikan masalah ini berdua!” ujar Nova.
TRING. Nova mengedipkan matanya.
Kemudian mereka bertiga pergi, terpaksa mengikuti keinginannya Langit, mengikuti Langit ke rumahnya.
Sementara Bintang kini sedang bersama dengan Malam, mereka terlihat jalan bersama menuju lobby sekolahan.
“Kamu enggak mau pulang bareng saya?” tanya Bintang terhadap Malam.
“Saya nungguin Momy... katanya mau jemput, tapi---,” seketika ucapan Malam terpotong.
“Tapi belum datang-datang, ya sudah ayo bareng saya!” ujar Bintang.
Perlahan Malam melangkahkan kakinya, mengikuti langkah Bintang yang menuju ke mobilnya.
“Kamu kalau Momy kamu telat ngejemput, enggak apa-apa bilang aja sama saya!” ucap Bintang kini tengah menyalakan mobilnya.
“Iya... tapi apa tidak merepotkan?” tanya Malam.
“Tidak merepotkan, tenang saja! Kita kan sahabat!” ucap Bintang tersenyum.
Perlahan mobil Bintang keluar dari area parkiran sekolahan, bergerak cepat dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota.
Sesekali Malam menatap wajah Bintang, Malam sangat kagum dengan sosok Bintang yang ternyata sangat baik. Berbeda saat mereka akan di jodohkan Bintang sangat menentang perjodohan.
‘Aku sangat senang meskipun hanya bisa jadi sahabat kamu Bin,' batin Malam menatap lekat wajah tampan Bintang.
Sementara Bintang terfokus mengemudikan mobilnya, tatapannya lurus melihat ke arah jalanan.
‘Maafkan saya Malam... hanya dengan cara ini saya bisa meredam perasaanmu, maafkan saya sebenarnya tidak tulus berteman denganmu!’ batin Bintang.
***
Halo ada yang kangen enggak!!!!
Kalau enggak ada enggak apa-apa!!!
yang penting tetap Baca!!!
Tetap Like!!!
Tetap Vote!!!
__ADS_1
Tetap komentar!!!
salam sayang dari Othor...muachhh!!!