
10 Tahun telah berlalu, Kini Adrian dan Karina semakin bahagia dengan kehidupan nya.
Begitu juga dengan kehidupan Rama dan Aquilla yang harmonis.
Sedangkan Devano dan Sasha telah memilih menetap di germand. Sementara Sherlly kembali ke Jakarta setelah Billy meninggal dunia.
"Nak...,Maafkan ibu yah! Ibu terpaksa membawamu kembali ke Jakarta." Batin Sherlly.
"Bu kita mau kemana? kenapa ayah harus meninggal secepat ini buk, Hiks ..., Hiks..., Hiks." lirih Rembulan.
"Bulan kamu yang sabar yah...,Dibalik peristiwa pasti semua ada hikmahnya, Sayang!" Balas Sherlly menenangkan putrinya.
"Kita akan ke rumah siapa buk?" Tanya lagi Bulan pada ibunya.
"Kita akan ke rumah tante kamu, Rumah adiknya ibu tante Sasha!" Jawab Sherlly.
Bulan tak bertanya lagi karena hal yang ingin dia ketahui sudah di jawab semua oleh ibunya.
Taksi yang mereka kendarai kini telah memasuki parkirkan mansion mewah milik keluarga Sherlly.
"Ini rumah nya buk?" Tanya Rembulan dengan keterkejutannya.
"Ia sayang ini rumah tante Sasha, Rumah masa kecil ibu bersama kakek dan nenek kamu. Sayangnya mereka semua, Memilih tinggal di germand sekarang. Jadi ibu disini hanya mengelola perusahaan tante kamu, Dan mengutus rumah ini." Jawab Sherlly.
Dengan raut wajah gembira Rembulan turun dari taksi, Luka hatinya sedikit terobati, Sejenak melupakan ayahnya yang telah pergi ke sorga.
Sherlly tersenyum melihat tingkah putri angkatnya yang melompat kegirangan.
"Nak...,Ibu senang jika kamu menyukainya." Ucap Sherlly mendekap putrinya, Yang kini sudah berusia lima belas tahun.
Sedangkan Adrian dan Karina, Kini sedang berada di sekolahan putranya, Mereka mendampingi putranya yang ikut serta dalam perlombaan basket antar sekolah tingkat nasional.
Riuh suara tepuk tangan menyemangati tim Bintang, Suara begitu bergelora terdengar ramai ke setiap telinga para penonton.
Sedangkan Malam Aninita, Putri dari pasangan Rama dan Aquilla, Menjadi tim cherlleader dari sekolah SMP Harapan Bunda. Yaitu sekolah Bintang dan Malam saat ini.
Kini mereka telah tumbuh menjadi remaja tampan dan cantik.
"Bintang...,Bintang...,Bintang." Sorak para siswa yang mendukung Bintang.
Dengan melompat Bintang kembali memasukkan bolanya ke gawang, Tim basket dari sekolahan kota pinggiran. Yaitu sekolahan tempat Rembulan dan langit menimba ilmu.
"Sial..., Lagi-lagi tim kita kalah." Umpat langit mengomel.
"Halo Langit, Sudah aku katakan sebelumnya kan, Kau bukan tandingan ku." Ucap Bintang meledek Tim basket langit.
__ADS_1
"Diam kau..., Rupanya kau ingin berkelahi denganku." Geram Langit terhadap Bintang.
Mereka bertengkar di tengah tribun, Karina sangat panik melihat putranya berdarah karena di pukul oleh langit, Lawannya Bintang.
"Bintang...,Nak hentikan. Jangan berkelahi bunda mohon hentikan, Bintang!" Karina berlari berusaha untuk melerai perkelahian putranya.
"Karina, Hey..., Kamu mau kemana!" Adrian berlari berusaha mengejar Istrinya.
Seketika karina berhasil menghalangi langit, Yang akan memukul Bintang.
Langit mengurungkan niatnya, Meski tangannya sudah mengepal di udara, Siap meluncurkan pukulan pada Bintang.
"Akhhhhh..., Tante mohon hentikan." Teriak Karina.
Kini tatapan langit dan Karina bertemu, Ada sesuatu yang tak bisa diartikan di dalam hatinya, Langit merasa heran dengan tatapan Karina yang mampu menenangkan amarahnya, Dalam sekejap.
"Jika saja Bunda mu datang terlambat, Maka habislah kau." Ucap Langit dingin, Menatap taj pada Bintang.
Kemudian ia beranjak pergi meninggalkan tribun, perlahan langit melangkahkan kakinya. Ia menuju parkiran gedung sekolah, Dengan segera ia meninggalkan sekolahan itu.
Sedangkan Bintang kini di bawa ke ruang poliklinik, Yang ada di sekolahan tersebut.
"Kau membuat ayah khawatir nak...,Kenapa kamu selalu berkelahi. Memangnya kamu bermusuhan dengan anak yang tadi?" Ucap Adrian bertanya pada putranya.
"Bintang denger bunda, Bukannya tadi tim kamu yang menjadi pemenang nya kan." Ucap Karina menangkup pipi tampan putranya.
"Iya tapi baru kali ini tim kami memenangkan pertandingan itu Bun, Makannya dia marah!" Sahut Bintang.
Tok...,Tok...,tok...
Kemudian mereka menoleh ke sumber suara ketukan pintu, Sesaat kemudian orang yang mengetuk pintu itu memasuki ruangan tempat Bintang di rawat.
"Permisi Om..., Permisi tante." Ucap Malam yang berniat menjenguk Bintang.
"Malam tante kira siapa, Ayo masuk sayang...,Duduk sini bareng tante." Karina mempersilahkan Malam untuk duduk di sampingnya.
Kemudian Malam bicara dengan Bintang, Agar Bintang tak mudah emosi saat di pancing marah oleh Langit.
"Bin...,Gimana lukanya tidak ada yang serius kan? Semoga cepat sembuh ya Bin...,Lain kali kamu jangan terpancing oleh ledekan dari langit yah! Kamu kan tahu langit itu orangnya sangat arogan." Ucap Malam berusaha menasehati Bintang.
"Ya...,Ya...,ya! Lain kali pun aku tak akan membiarkan Langit menang dariku." Sahut Bintang.
"Hemmm...,Kamu ini, Di nasehati malah seperti ini." Balas Malam.
Kemudian Malam kembali meningalkan ruangan Bintang dirawat, Lantaran masih banyak yang harus ia kerjakan, Setelah perlombaan nya selesai.
__ADS_1
"Om...,Tante...,Kalau begitu Malam pamit yah. Masih banyak yang harus malam kerjakan." Ucap Malam meminta ijin pada Karina dan Adrian.
"Iya Malam silahkan!" Sahut Karina.
Perlahan malam melanggkah pergi meninggalkan ruangan poliklinik, Tempat dimana laki-laki pujaannya dirawat.
"Tampak nya Malam itu jatuh hati pada kamu Bin, Sudah cepat kamu nyatakan cintamu." Ucap Adrian terkekeh geli, Melihat anak bau kencur sudah bermain dengan cinta.
"Ayah apa-apa an sih, Malam itu bukan tipe aku yah. Kalau aku mau mungkin dari kemarin sudah aku jadikan pacar aku." Balas Bintang.
"Iya kamu ini ada-ada saja mas, Mereka kan masih kecil mas...,Inget loh jangan ajarkan putra kita hal yang tidak baik." Sahut Karina menatap pada suaminya.
"Iya..., Iya..., Ayah cuman bercanda saja kok bun." Sahut Adrian.
Sedangkan Langit, kini dalam perjalanan pulang, Ia kesal karena sebenarnya. Ia iri dengan Bintang yang selalu mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya. Sementara dia bagaikan tak memiliki kedua orang tua, Lantaran kedua orangtuanya selalu di sibukkan dengan pekerjaan.
Langit tak sadar Ia memarkirkan mobilnya, Di halaman rumah sakit. Tempat kedua orangtuanya bekerja.
"Huhhhh...,Kenapa aku harus kesini sih! Ngapain juga aku kesini.Toh Daddy dan mommy tak akan memperdulikan ku." Batin Langit menatap gedung yang bercat serba putih itu.
Sedangkan Dokter faris dan Dokter Cantika kini sedang berjalan bersamaan, Mereka tak sengaja melihat mobil milik putranya, Terparkir di halaman gedung.
"Mas..., Bukannya itu mobilnya langit yah?" Ucap Cantika berbicara pada suaminya.
"Iya...,Itu mobilnya langit." Jawab faris sambil menoleh. Seketika faris menangkap bahwa Langit sedang dalam masalah.
"Pasti Langit sedang ada masalah mah! makannya dia datang kemari." Ucap Fariz.
"Kamu ini, Selalu saja buruk sangka pada putra kita mas." Sahut Cantika.
Kemudian Cantika dan Fariz menghampiri mobil putranya itu. Akan tetapi langit menyalakan starter mobilnya setelah mengetahui daddy dan mommy nya menghampiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo Readers...
Ikuti terus Kisahnya yah...
Season 3 ini menceritakan, kehidupan Adrian dan Karina setelah putranya besar.
Jangan lupa favorit kan...
Bantu like, komen dan Vote...
Happy reading...
__ADS_1