
"Jadi dia Anak kamu?" Karina sungguh tidak menyangka kalau Rembulan adalah putri dari Sherlly, wanita yang pernah merebut suaminya.
"Kenapa kamu melarang Putri kamu untuk bertanggung jawab atas kesalahannya?" tanya Adrian.
"Karena golongan darah Putramu dengan Putriku tidak sama!" jawab Sherlly.
"Tahu dari mana kamu, kalau golongan darahnya tidak sama. Jelas-jelas dia sendiri yang mengatakan kalau golongan darahnya AB+," ucap Karina.
Sejenak Sherlly diam, berusaha menahan emosi.
Hampir saja Sherlly keceplosan kalau putra yang di besarkan oleh Adrian dan Karina, sebenarnya bukanlah putra kandung mereka.
"Ya karena aku tidak ingin Putriku mendonorkan darahnya untuk Anak kamu! Setetes darah pun aku tidak akan pernah rela!" tegas Sherlly menarik tangan Rembulan.
"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Sherlly kepada Rembulan.
"Buk ... tapi bagaimana dengan Bintang, benara kata mereka aku harus bertanggung jawab!"
Rembulan berusaha melawan kepada ibunya, karena ia tahu Bintang tertabrak mobil semua karena ingin menyelamatkan dia.
"Kamu ikut Ibu pulang, Ibu melarang kamu berhubungan dengan mereka lagi," ujar Sherlly tanpa penjelasan apapun.
"Tapi kenapa Buk? Tolong jangan membuat Bulan bingung seperti ini!"
"Bulan ... Ibu tidak bisa menjelaskan sekarang, tapi suatu saat nanti pasti Ibu akan beritahu kamu. Mengapa Ibu seperti ini!"
"Tapi Buk?"
"Tidak ada kata tapi, ayo ikut Ibu pulang!" Sherlly berusaha terus menjauhkan putrinya dari keluarga Adrian, meskipun sebenarnya Sherlly belum tahu siapa sebenarnya Rembulan.
Sementara Langit masih bingung dengan ibunya Rembulan, yang melarang keras Rembulan untuk tidak dekat-dekat dengan keluarga Bintang.
"Aish ... kenapa aku jadi kepo begini sama urusan mereka," gumam Langit mengikuti langkah Bulan dengan ibunya.
"Tante ... tunggu Tan!" seru Langit menghentikan langkah Sherlly dan Rembulan.
Sekilas Sherlly menoleh menatap ke arah Langit, sejenak Sherlly menghentikan langkahnya, lalu bertanya pada Langit, sambil menatap wajah putrinya.
"Dia temanmu?"
"Iya dia teman sekelasnya Rembulan, Buk!"
Kemudian Sherlly beralih menatap Langit. "Kenapa kamu memanggil saya?"
"Saya hanya ingin mengembalikan ini Tante," ujar Langit sambil menyerahkan sapu tangan Sherlly yang tidak sengaja terjatuh. "Ini punya Tante kan?" tanyanya lagi.
"Ah ya ... itu milik Tante! Terima kasih telah mengembalikan sapu tangan milik Tante ini!" ujar Sherlly mengambil alih sapu tangan miliknya.
Sherlly sempat menyukai Langit sebagai temannya Rembulan, namun setelah mengetahui bahwa Langit putra dari Cantika dan Fariz, Sherlly langsung melarang Rembulan berteman dengan Langit.
__ADS_1
"Apakah benar kamu teman Anaknya saya, maksud Tante Rembulan?"
"Iya Tante ... saya teman satu sekolah dengan Putri Tante!"
"Siapa namamu?"
"Langit Tante!"
"Nama kedua Orang tuamu siapa?" tanya Sherlly mendetail, lantaran dia tidak mau putrinya berteman dengan anak yang ada sangkut pautnya di masa lalu.
"Mama Papa saya Dokter Fariz dan Dokter Cantika Tan----," belum sempat Langit menyelesaikan ucapannya Sherlly langsung mengajak Rembulan untuk pulang.
Sherlly terdiam sejenak, sedikit menarik nafasnya. Sebelum mengajak Rembulan untuk pulang.
"Huh ... Nak, ayo kita pulang!" ajak Sherlly tanpa menimpali Langit.
"Ngit ... gue pulang duluan yah!" ucap Bulan terhadap Langit yang masih heran dengan sikap ibunya Rembulan.
"Iya Lan, hati-hati! Eh tunggu?"
"Iya ada apa Ngit?"
"Kamu enggak sekolah?"
Namun Sherlly langsung menjeda obrolan mereka berdua. "Hari ini Rembulan ijin tidak masuk!" jawab Sherlly singkat. "Ayo cepat kita pulang!" ajak Sherlly tergesa-gesa.
Dengan segera Sherlly menaiki mobilnya, keluar dari Rumah sakit demi menjauhkan putrinya dari keluarga Karina dan Adrian.
"Tapi alasannya apa Buk? Kenapa semua Orang yang dekat dengan Bulan Ibu larang?"
"Ibu punya alasannya Bulan, tolong kamu mengerti Ibu hanya ingin melindungi kamu, tidak ingin kamu terlibat masalah dengan mereka!"
"Masalah apa Buk, memangnya hubungan antara Ibu dengan mereka apa?" tanya Bulan yang semakin di buat bingung oleh ibunya.
"Ibu sudah katakan bukan, suatu saat Ibu akan kasih tahu kamu," ujar Sherlly.
Rembulan pun diam dia sangat kecewa atas sikap diktator ibunya, Rembulan tidak lagi mengenal ibunya yang dulu yang selalu mendukungnya dalam hal apapun.
***
Sementara di sekolah, Malam sedang menunggu Bintang. Pria yang sangat ia cintai, meskipun Bintang tidak membalas cintanya, namun dengan dalih persahabatan. Malam bisa terus berhubungan dengan Bintang.
"Hukh ... kenapa sudah sesiang ini Bintang belum sampai ke Sekolahan? Jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya?" gumam Malam bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Kemudian Malam mengambil ponsel di sakunya, berniat menghubungi Bintang, namun tiba-tiba saja bel pertanda jam pelajaran berbunyi.
TET!!!
"Aish ... malah masuk lagi pelajaran pertama," gerutunya kesal. "Ya sudahlah nanti saja setelah istirahat aku hubungi Bintang," gumamnya lagi.
__ADS_1
Malam pun melenggang masuk kedalam kelas, ia duduk di bangku yang bersebelahan dengan tempat duduk Bintang, sesekali Malam melihat ke tempat bangku kosong si sebelahnya, di mana biasanya Bintang sangat fokus belajar.
'Sebenarnya kamu ke mana Bin ... kenapa hari ini enggak masuk sekolah?' batin Malam kembali beralih pada buku pelajaran di tangannya.
Sedangkan Langit, kini telah sampai sekolahan. Langit masih heran dengan perubahan sikap ibunya Rembulan kepadanya.
"Woy!" tiba-tiba saja Nova mengagetkannya.
"Huh ... lho ngapain ngagetin gue si!" kesal Langit sambil duduk di bangkunya.
"Lagian dari tadi gue perhatiin lho gak pokus banget belajarnya, ada apa?"
"Bukan urusan lho, lagian enggak ada apa-apa!" jawab Langit berdalih.
"Alah, bohong. Pasti ada yang elo sembunyikan dari gue, hayo apa yang lho sembunyikan!" goda Nova terhadap Langit.
"Ah lho gak asyik!" ketus Langit.
"Yey ... gitu aja marah! Lho kenapa sih?"
"Nova stop plish oke!" tegas Langit kesal terhadap sikap jahil temannya itu.
"Iya-iya maafpin gue!" ujar Nova, kemudian Nova teringat dengan Rembulan yang tiba-tiba saja tidak masuk sekolah pada hari ini, karena biasanya Rembulan termasuk yang paling rajin mengikuti pelajaran.
"Oh iya Ngit, Rembulan enggak masuk Sekolah ke mana ya? Tumbenan tuh Anak enggak masuk, mana gue hubungi susah banget lagi!"
"Nah, katanya lho temennya Bulan ... masa Bulan hampir kecelakaan pun lho enggak tahu!"
Sontak saja Nova tercengang, setelah mendengar kabar tentang Rembulan dari Langit.
"Apa!"
"Hampir kecelakaan? Kenapa lho gak bilang dari tadi?" ucap Nova.
"Lho kenapa jadi nyalahin gue, lho nya aja gak nanya !"
"Sumpah gue baru tahu dari lho, terus-terus gimana sekarang keadaannya Rembulan? Dia tidak apa-apa kan?" tanya Nova penuh rasa penasaran.
"Dia tidak apa-apa Nova, kan gue udah bilang hampir kecelakaan! Sudah jelaskan?" gerutu Langit kesal, terhadap Nova yang lodingnya lama.
"Terus lho bisa tahu soal Rembulan hampir kecelakaan dari mana? Jangan-jangan lho mulai suka dengan Bulan yah?" ledek Nova terhadap Langit.
"Ah sudahlah ... nyesel gue kasih tahu lho!" ketus Langit bangkit dari tempat duduknya, kemudian keluar dari kelas, dengan meminta ijin kepada guru yang mengajarnya.
"Pak saya mau ke toilet sebentar!" ucap Langit meminta ijin.
"Yasudah! Ingat Langit jangan bolos lagi pelajaran saya!" tukas pak guru memperingatkannya.
Bersambung...
__ADS_1
follow IG : Blazingdark15.
Happy reading teman-teman, jangan lupa like dan komentarnya.