
Rembulan kini mengikuti permintaan dari Langit, yang memintanya untuk mencuci mobil dengan Nova, sebagai bentuk pembalasan atas perbuatan, tidak menyenangkan yang di perbuat Rembulan dengan Nova.
“Sudah cepat naik... ngapain lama-lama!” ketus Langit, yang sudah duduk di kursi kemudi.
“Iya, enggak sabaran amat sih!”
Perlahan Rembulan membuka pintu mobil, lalu duduk di kursi penumpang.
“Ngapain di belakang, di depanlah! Emangnya gue sopir!” tukas Langit dengan nada memerintah.
Kemudian Bulan bangkit, keluar dan berpindah ke jok depan, duduk sejajar bersama Langit.
“Banyak protes banget sih! Terlalu menuntut, padahalkan kita enggak gini-gini amat sama lho!” keluh Rembulan setelah duduk di jok depan, sementara langit terkekeh.
“Makanya jadi orang jangan jahil, di jahilin balik gak terima kan?”
“Iya-iya... maafin gue, enggak lagi-lagi deh, ngerjain lho. Lagi pula kemaren enggak ada niatan buat ngerjain lho Ngit, kita hanya kepepet saja!” ucapnya.
“lho bilang kepepet, sumah ya lho keterlaluan banget, jadi kalau setiap kepepet gue gitu yang jadi sasarannya,” ujar Langit di sela mengemudi.
“Enggak gitu maksud gue,” ucap Bulan nyengir kuda.
“Terus... maksudnya gimana? Kalau enggak gitu,” ucap Langit menimpali Rembulan.
“Ah sudahlah, susah ngejelasinnya,” ujar Bulan kemudian terdiam.
Sore itu jalanan, tidak terlalu macet sehingga Langit bisa sedikit dengan cepat sampai ke rumahnya.
BRUG!!!
Langit keluar dari mobil, di ikuti oleh Bulan, sementara Nova baru saja datang menyusul mereka.
“Besar juga rumah lho!” seru Nova, baru saja keluar dari mobilnya.
Kemudian Langit menimpali ucapan yang dilontarkan Nova.
“Ini bukan Rumah gue, tapi Rumah kedua orang tua gue,” ujar Langit.
“Sama saja kali, yaudah mau di cuci di mana mobilnya?” ucap Nova ingin segera mencuci mobil milik Langit.
“Jangan buru-buru, ayo makan dulu nanti kalian sakit, habis makan baru cuci mobilnya,” sahut Langit yang sudah ada di dalam rumah.
Sejenak Bulan terdiam, dia merasa bersalah karena telah salah menilai Langit, ya, meskipun Langit urakan, pecicilan, tapi jauh di dalam hatinya, sebenarnya Langit orang yang sangat baik hati.
Tiba-tiba saja Nova mendekati Bulan yang sedang termenung. “ lho kenapa diam-diam aja? Wah... gue tahu, lho mulai suka ya sama Langit?” ucap Nova menyadarkan Bulan.
“Apa-apaan sih, suka. Mana mungkin, jangan ngadi-ngadi deh!” celetuk Bulan perlahan memasuki rumah megah Cantika dan Fariz, kedua orang tuanya Langit.
Sementara Bintang kini sedang mengantarkan, Malam ke rumahnya.
“Kamu beneran mau langsung pulang? Enggak mau menjenguk Ayah aku dulu?”
“Mau sih, sebenarnya. Tapi aku takut Momy mencari-cari aku Bin,”
“Yaudah begini aja, aku antarkan kamu pulang, kalau kamu mau ikut aku ke rumah sakit ya kamu minta ijin dulu! Sama Daddy dan Momy kamu,”
__ADS_1
“Oke kalau begitu aku setuju!”
Malam sangat terlihat senang, kini dia dengan Bintang sangat akrab, selangkah lebih maju daripada sebelumnya.
Kemudian Malam turun dari mobil, segera memasuki rumahnya, mengajak Bintang untuk masuk menunggunya di ruang tamu.
“Yaudah katanya mau nungguin aku, kenapa masih di dalam mobil sih?” ucap Malam menyadarkan lamunan Bintang.
“Ehehe... Iya-iya sorry!” seru Bintang lalu mengikuti langkah Malam.
Malam sangat senang lantaran ia akan pergi bersama dengan Bintang, untuk menjenguk Adrian, calon ayah mertuanya di masa depan.
Kini Malam terlihat sangat sibuk memilah, pakaian di dalam lemari, hingga akhirnya dia memakai mini dres, berwarna merah jambu.
“Uuuh... Bintang pasti suka kalau aku pakai ini,” gumamnya.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Malam segera menyusul Bintang, di ruang tamu menunggu dengan setia.
“Bin... gimana menurut kamu, pas gak kalau aku pake baju ini?!”
Padahal Malam, sangat berharap mendapatkan pujian dari Bintang, akan tetapi Bintang yang sangat cuek dan super kaku.
Hanya bicara apa adanya. “Pas sih di badan kamu, tapi kalau di pake sama anak seumuran kamu, rasanya aneh!” ucap Bintang yang terlalu berterus terang, sehingga membuat hancur perasaan Malam yang sudah ada di atas awan.
“Kalau begitu aku ganti dulu ya, kamu takut malu jalan sama akunya!” seru Malam.
“Enggak usah, udah gitu aja kelamaan,” ucap Bintang kembali dengan ucapan tajamnya.
“Yaudah deh!” ucap Malam terlihat sedikit murung.
Saat mereka berdua hendak keluar rumah, tiba-tiba saja Aqueela memanggil mereka.
Perlahan Bintang menghampiri Aqueela dan menyalaminya.
“Maaf Tante, Bintang mau ngajakkin Malam untuk jenguk Ayah, enggak apa-apa kan?” ucap Bintang meminta ijin kepada Aqueela.
“Owh gitu... yaudah enggak apa-apa, hati-hati ya nyetirnya. Anterin Malam pulangnya jangan terlalu malem yah!” ucap Aqueela.
“Iya Tante, tenang saja. Bintang Cuma mau jengukin Ayah doang kok,” katanya.
“Yaudah hati-hati, salam untuk Bunda kamu!” ujar Aqueela tersenyum ramah.
Kemudian Bintang dan Malam segera bergegas memasuki mobil, Bintang kesal dengan Malam, lantaran Malam tidak ijin terlebih dahulu pada ibunya, akhirnya ia terpaksa berbohong mengaku dia yang meminta Malam untuk menjenguk ayahnya.
‘Dasar benalu, minta ijin aja harus gue, huh.’ Gerutu Bintang dalam hatinya.
Kalau saja Bintang tidak terlanjur berjanji pada ayahnya, untuk menerima Malam, meski hanya jadi temannya, dia tidak akan maun.
Sementara Aqueela masih berdiri, tersenyum menatap kepergian putrinya dan putra sahabatnya.
“Akhirnya mereka selangkah lebih maju, mudah-mudahan pada saatnya mereka berjodoh,” gumam Aqueela, menatap kepergian putrinya.
***
Sementara di kantor, Sherlly tampak sudah mengemasi barang-barangnya, ia melihat arloji di tangan waktu menujukan pukul 16.30wib.
__ADS_1
“Ya ampun, sudah sore ternyata,” gumamnya.
“Coba telpon ke rumah dulu kali ya, siapa tahu si Mbok sudah nyiapin makanan untuk Bulan, sekalian aku nanyain ke Mbok bulan sudah pulang apa belum,” katanya sambil mengusap layar ponsel, mencari nomor telepon rumahnya.
*Keadaan di rumah kediaman Sherlly*
KRING-KRING-KRING. Suara telepon rumah terdengar menggema di dalam rumah mewah itu.
Terlihat seorang pembantu, segera mengangkat telepon dari majikannya.
“Halo, dengan kediaman Nyonya Sherlly di sini,” ucap si mbok.
“Mbok ini saya!” ucap Sherlly di seberang sana.
“Eh iya maaf Nyonya, saya tidak tahu!” ujar si mbok.
“Ada apa Nyonya?” tanyanya.
“Saya Cuma mau tanya, Bulan sudah pulang belum? Atau ada pulang tapi pergi lagi!” tanya Sherlly di seberang sana.
“Non, Bulan belum ada pulang Nyonya setahu Mbok!” jawab si mbok menimpali Sherlly yang masih di kantor.
“Oh gitu ya! Yaudah deh.” Ucap Sherlly menutup panggilannya.
Sherlly tampak khawatir, lantaran Bulan tidak biasanya pulang sesore ini.
‘Ke mana lagi kamu pergi Bulan, kenapa akhir-akhir ini kamu sering membuat Ibu khawatir Nak,' lirih Sherlly dalam hatinya.
“Aku harus segera mencari Bulan, aku tidak mau kejadian kehilangan Anak terjadi lagi, hanya Bulan yang mampu menggantikan ke kosongan Riana,” gumamnya.
Kemudian Sherlly bangkit dari kursi kebesarannya, lalu keluar dari ruangannya.
Sherlly segera bergegas pulang, sekaligus mencari putri angkatnya itu.
Jalanan kota sudah semakin terlihat macet sore itu, lampu-lampu jalan mulai bernyalaan.
Sedangkan keadaan jalanan sangat macet, membuat Sherlly kesal di buatnya, lantaran perasaan takut kehilangan putrinya terasa seperti momok menyeramkan baginya.
TIN-TIN-TIN... TIN-TIN-TIN...
Dengan kesal Sherlly mengklaksoni mobil yang menghalangi jalannya.
“Sial... kenapa enggak nyingkir sih itu mobil, mengganggu jalanku saja!” gerutunya.
Sesekali Sherlly memijat kepalanya, pusing dan rasa takut berkecamuk dalam dirinya.
Rasa panik terus membuat hatinya merasa ketakutan, ketakutan akan kehilangan putrinya untuk kesekian kali.
Bersambung...
Halo Readers, maaf yah updatenya agak lama.
Sesuai janji Othor, Novel ini pasti akan tamat, ini masih on going tetap kalian ikuti, meski menunggu itu terasa membosankan.
Sama othor juga bosan, sebenarnya.
__ADS_1
Untuk itu tolong dukung othor meski hanya dengan like dan komentar kalian jangan lupa klik tombol fav dan kasih Vote untuk Othor yah.
Happy reading.