Pria Kaku Ini Jodohku

Pria Kaku Ini Jodohku
Season3: Chapter AF


__ADS_3

"Sherlly tinggalkan ruangan ini," perintah Ryan agar putrinya itu terhindar dari Rama yang selalu ingin menyingkirkannya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi ia bergegas meninggalkan ruangan itu.


BRUG.


Suara pintu ditutup oleh Sherlly yang meninggal Rama dan Ryan di dalam ruangan.


Rama dan Ryan saling bertatapan sinis, Ra yang tidak mau kalah dari papanya, begitu juga Ryan yang berusaha adil dalam membagi hak kedua anaknya itu.


"Kenapa Papa selalu berpihak pada Sherlly, padahal Papa tahu dia itu Perempuan licik, mau sampai kapan Papa membela dia?"


Rama tidak terima sang papa membela Sherlly--adiknya.


"Diam kamu Rama! Papa sangat kecewa sama kamu!" bentak Ryan melengos pergi begitu saja dari hadapan Rama putra sulungnya.


'Sherlly, kamu benar-benar ancaman untukku dan Malam, benar kata Aqilla ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Sepertinya memang harus ada yang di korbankan di sini,' gumam Rama terhasut oleh ucapan istrinya.


BRAG!!!


Rama membanting pintu ruangan dengan kasar, membuat para karyawan yang lewat di sana terlonjak kaget atas perbuatannya.


Dengan rasa benci yang sudah mendarah daging, dan gelap mata karena harta ia bahkan menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan Sherlly.


"OB!" Rama memanggil office girls di pantry kantornya.


Seorang pekerja kebersihan itu lantas menghampiri Rama, dan menanyakan kebutuhan tuannya itu.


"Tuan memanggil saya?" tanyanya dengan heran.


"Tolong antarkan dua gelas kopi ke Ruanganku," perintahnya dengan memasang wajah datar.


OB itu pun langsung bergegas menuju pantry untuk membuatkan minuman yang diminta Rama.


Beberapa saat, OB itu telah membawakan kopi ke ruangan Rama--direktur di perusahaan itu.


TOK! TOK! TOK!


Suara ketukan pintu mengalihkan Rama yang sedang duduk di dalam ruangan itu.


"Masuklah," Rama berteriak meminta seseorang yang baru saja mengetuk pintu ruangannya untuk masuk. "Kau rupanya, letakan saja di meja," titahnya pada seorang OB.


Seorang OB itu meletakkan secangkir kopi di meja atas perintah Rama.


"Kau boleh pergi," pintanya lagi.

__ADS_1


Rama perlahan berjalan menghampiri meja, di sana secangkir kopi sudah disiapkan.


"Maafkan aku Sherlly, sepertinya kau harus berakhir," seringai Rama sambil menuangkan racun ke dalam cangkir itu


Setelah itu, Rama meminta OB yang lain, datang ke ruangannya agar mengambil kopi yang sudah dicampuri racun di antar ke ruangan Sherlly.


"Cepatlah ke Ruangan saya,"


"Baik, Tuan,"


Rama tersenyum miring saat membayangkan jika rencananya berhasil maka tidak akan pernah ada lagi penghalang untuknya menguasai semua harta Ryan.


Tok! Tok!


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya, Rama bangkit dari tempat duduknya menghampiri seorang yang berada di luar ruangan.


Ceklek!!!


Setelah membuka pintu ia meminta OB mengantarkan kopi ke ruangan Sherlly pagi itu.


"Ada apa Tuan, apa yang bisa saya bantu?" seorang OB itu tampak heran.


"Ambil kopi itu, dan antarkan ke ruangan Sherlly,"


Tanpa berpikir panjang OB itu melakukan perintah, Rama dan mengantarkan kopi ke ruangan Sherlly.


Tiga puluh menit telah berlalu.


Rama mondar-mandir di ruangannya, setiap kali ada orang yang datang ke ruangannya ia kira membawa kabar kematian Sherlly. Namun, tidak kunjung kabar itu berhembus di telinganya.


Rama bergumam dengan kesal, "Sial! Kenapa belum juga ada kabar mengenai Sherlly?"


Rama pergi menuju ruangan Sherlly, dia begitu penasaran dengan keadaan Sherlly.


Ceklek!!!


Saat Rama membuka pintu ruangan adiknya itu, ia tercengang lantaran Sherlly masih terlihat sehat bugar berdiri bersama dengan klien sedang meeting pendek di ruangan itu.


"Pak Rama, kenapa Anda main masuk saja ke Ruangan saya?" Sherlly berdecak kesal, "Bukankah Anda sudah tahu kalau kami sedang meeting?!"


Rama menggaruk tangannya yang tidak gatal, pasalnya malu setelah mengetahui adiknya itu tidak kenapa-kenapa.


"Maafkan saya, saya kira di Ruanganmu tidak sedang meeting," Rama merasa malu terhadap para klien yang menatap dengan heran.


"Maafkan saya Pak, silakan kalian lanjutkan kembali," selorohnya lagi.

__ADS_1


Sementara Sherlly hanya menggeleng kepalanya, karena heran dengan sikap Rama yang begitu aneh saat ini.


'Aneh sekali? Memalukan aku saja!' desisnya menggerutu dalam hati.


Kemudian, Sherlly kembali beralih pada dua klien yang saat ini bersamanya.


Sementara di sekolah, Bulan tengah berhadapan dengan Malam yang kalang kabut padanya. Lantaran, masih terus bersekolah di sekolah yang sama dengannya.


"Kak Bulan ini tidak tahu malu, atau pura-pura tidak malu hah?!" bentak Malam melotot sambil bersedekap tangan dengan angkuh.


"Malam, kamu ini kenapa sih? Kadang baik, kadang jahat sama Kakak? Salah Kakak apa coba, enggak ngerti?"


"Wah!!!" teman Malam mengompori Malam supaya bertambah marah pada Bulan.


"Dia ini pura-pura tidak mengerti Malam, atau mungkin dia menantangmu bersaing untuk mendapatkan Bintang?!"


Bulan marah pada teman-temannya si Malam yang terus mengojok-ojok sepupunya agar semakin marah. "Kalian ini apa-apaan sih? Seharusnya kalian menenangkan Malam bukan malah semakin memanas-manasinya?!"


Malam mendorong tubuh Bulan hingga duduk membentur kursi, "Cukup Bulan!.Uhhh!"


"Ahhhhhhhhh," pekik Bulan kaget, "Malam! Kamu kenapa sih?" Bulan bangkit kembali menatap Malam.


Namun, Malam malah semakin marah. Pasalnya, Bulan terkesan murka padanya. "Heh! Berani kamu menatap saya seperti itu?" tukas Malam murka.


"Malam, lebih baik kita ngobrol berdua selesaikan semua ini baik-baik yah?!" pinta Bulan meraih tangan Malam.


Akan tetapi, Malam menolak. Bahkan, sampai menepiskan tangan Bulan.


"Males ngomong sama Orang yang enggak baik seperti kamu Bulan, kenapa sih kamu ini enggak pergi saja dari kota ini?! Apa perlu aku bilang ke Opa untuk mengusir kamu dari kota ini?!"


DEG!!!


Bulan tidak menyangka Malam begitu tega menginginkannya pergi jauh dari kota ini, padahal Bulan sangat bahagia berada dekat dengan kakeknya, dan Malam juga Omnya--Rama.


Bulan mengelus dadanya yang merasa lemas, "Apa alasan kamu sehingga menginginkan aku pergi jauh-jauh Malam?"


"Alasan aku cuma satu, kau adalah ancaman dalam mendapatkan cintanya Bintang. Kamu ini adalah batu sandungan bagi aku Bulan!"


"Malam, aku enggak pernah menyukai Bintang. Lagi pula Bintang dan aku hanya berteman, justru aku akan sangat senang bila kamu yang pacaran dengannya," ujar Bulan berusaha meluruskan.


"Bohong!" bentak Malam tidak percaya, "Buktinya Bintang terus saja dekat denganmu, padahal dia selalu mendapatkan kesialan bila berada dekat dengan kamu, kamu itu pembawa sial Bulan!"


Perkataan Malam begitu perih ditelinga Bulan, bahkan ucapan itu hingga terngiang-ngiang di telinganya.


"Malam, Setega inikah kamu padaku? Aku pikir kamu--,"

__ADS_1


"Sudah diam, dan turuti saja apa mauku!" Malam menyela Bulan, tidak membiarkannya bicara sedikitpun.


__ADS_2