
Teeetttt ... Bel sekolah telah berbunyi, Menandakan jam pelajaran telah berakhir.
Rembulan berdiri di depan gerbang sekolah menunggu di jemput oleh ibunya. Kemudian dengan mobilnya, Nova berhenti di depan Bulan.
"Bul-bul ... Kau mau aku antarkan atau tidak!" Ucap Nova menurunkan kaca mobilnya.
"Enggak ah, Gw mau di jemput sama nyokap. lho duluan aja!" Sahut Bulan.
Tidak berapa lama Sherlly telah sampai ke depan gedung sekolahan putrinya.
"Tuh ibu gw sudah datang," Ucap Bulan.
"Yaudah," Gw duluan yah," Sahut Nova menstarter mobilnya, Berlalu pergi dari hadapan sahabatnya.
Perlahan Bulan menghampiri ibunya, Ia memasuki mobil ibunya.
Brug, Suara mobil di tutup oleh Rembulan.
"Gimana dengan sekolah mu hari ini nak?!" Ucap Sherlly, Bertanya terhadap Bulan yang duduk di sampingnya.
"Lancar-lancar saja sih buk ... O yah! Ibu jadi mau nemenin bulan untuk menjenguk temen Bulan," Ucap Bulan.
"Jadi dong nak ... Ibu kan kepengen kenal dengan temen kamu itu." Ujarnya, Di sela mengemudikan mobilnya.
Sementara di rumah sakit, Karina menangisi Adrian yang tak kunjung sadarkan diri. Begitu juga dengan Bintang menatap ayahnya sendu.
"Ayah ... Bangun yah ... Maafkan sikap Bintang yang selalu membangkang pada ayah," lirih Bintang, Terduduk di samping ranjang perawatan ayahnya.
"Adrian ... bangunlah aku disini untukmu, Maafkan semua kesalahanku Dri," ... Ayo bangun lihatlah putera kita menyesali perbuatannya," Ucap Karina lirih, Menggenggam tangan suaminya.
Namun di parkiran gedung rumah sakit, Terlihat Sherlly menghentikan mobilnya, Kemudian Turun bersama dengan Bulan, Mereka memasuki lobby rumah sakit. Mencari kamar rawat Langit.
Tok ... tok ... tok ... Bulan mengetuk pintu ruang perawatan Langit, Seketika Fariz dan Cantika saling bertatapan, Kemudian menoleh ke arah pintu ruangan tersebut.
"Ma ... Coba kamu bukakan pintu, Siapa yang datang," Ucap Fariz, Meminta istrinya untuk membuka pintu.
Kemudian Cantika berjalan gontai untuk membuka pintu, Setelah pintu itu di bukanya. Cantika sangat tidak menyangka bahwa dia akan bertemu kembali dengan Sherlly.
"Siapa em -," Ucapannya terpotong. Ia terkejut dengan seseorang yang telah lama tak pernah ia jumpai lagi.
"Selamat siang tante," Ucap Rembulan disela Cantika akan berbicara.
"Iya ... Selamat siang," Sahut Cantika, Sekilas menoleh ..." Bulan yah? ... Tante kira siapa?" Ucapnya, Sesekali menoleh kepada Sherlly.
"Kamu Cantika bukan?!" Ucap Sherlly, Bertanya terhadap Cantika.
"Iya ... Saya, Cantika! Kamu Sherlly, Kan ? " Balas Cantika. Otaknya bertraveling ke belasan tahun silam.
__ADS_1
"eummm iya ... Saya Sherlly!" Sahutnya ,Melempar senyuman.
"Ayo silahkan masuk, " Ajak Cantika terhadap Sherlly dan Bulan.
Perlahan Sherlly melanggkah memasuki ruang rawat temannya bulan, Yaitu Langit.
Matanya berdecak kaget setelah mengetahui Jika teman sekelas putrinya adalah putra dari Dokter cantika dan Dokter Fariz.
Ingatannya kembali ke belasan tahun silam, Dimana saat dia menukar bayinya Karina, Dan Bayinya Dokter Cantika kala itu. Saat ia merasa sakit hati terhadap icha ibunya Adrian, Mantan kekasihnya.
"Dia putra kalian?" Tanya Sherlly, Menatap Langit.
"Iya nona Sherlly dia ini putra kami satu-satunya," Sahut Cantika dan Fariz.
"Ah ya ... Yang dulu persalinan nya bareng dengan teman saya yah!" Sambungnya.
"Betul sekali nona Sherlly," Ucap Fariz ..." Dunia ternyata memang kecil yah! Kita yang sudah lama tak bertemu, Tapi kini di pertemukan lagi." Sambung fariz melanjutkan ucapannya.
"Iya ... Kok bisa kebetulan Seperti ini yah!" Sahutnya tersenyum samar terlihat sedikit kebohongan yang belum terungkap.
"Oh ... Jadi ibu dan tante ini, Sudah saling mengenal yah?" Ucap Bulan yang ikut nimbrung.
"Iya sayang ... Dulu itu dokter fariz, Adalah langganan kakek kamu jika sedang berobat." Sahut Sherlly.
"Tepat sekali nona Sherlly!" Ucap Cantika.
"Ah ya ... Terimakasih ... Kebetulan saya tidak akan lama-lama disini, Soalnya kami ada keperluan lain," Sahut Sherlly, Kemudian menghampiri Langit. "Halo ... Nama kamu siapa nak?" Sherlly mengulurkan tangannya.
"Saya Langit, Terimakasih tante sudah mau menjenguk saya," Sahut Langit mencium punggung tangan Sherlly, Lalu ia menoleh ke arah Rembulan, " Bulan ... Maafkan atas sikapku yang kemarin yah!" Sambung Langit meneruskan perkataannya.
"Ah ya ... Tidak apa-apa Ngit, Gw ngerti kok!" Balasnya tersenyum.
"Baiklah kalau begitu kita pulang nak!" Ucap Sherlly, Mengajak putrinya untuk pulang.
Kemudian Bulan berpamitan kepada Cantika, Fariz dan Langit.
"Tante ... Om, Saya pamit yah. Ngit gw pamit yah. Cepet sembuh jangan lupa diminum obatnya." Ucapnya terhadap mereka.
"Baiklah," Hati-hati di jalannya yah! Terimakasih loh sudah mau nyempetin untuk jenguk Langit." Sahut Cantika, Tersenyum.
"Sama-sama tante," Ucap Bulan.
"Dokter Fariz ... Dokter Cantika, Lain kali kita ngobrol-ngobrol lagi yah, Jika ada waktu senggang." Ucap Sherlly tersenyum, Perlahan melangkah kan kakinya.
Di ikuti oleh Rembulan yang mengekor di belakangnya.
Kini Sherlly dan Bulan putrinya, Berjalan di koridor rumah sakit, Mereka terlihat akan meninggalkan rumah sakit, Akan tetapi dari arah berlawanan. Terlihat Karina berjalan sambil menenteng tasnya, Seketika mereka berpapasan. Namun mereka tak saling menyadari, Karina berlalu begitu saja di hadapan Sherlly.
__ADS_1
"Buk ... Berarti hari ini kita jadi nyari orang untuk kerja di rumah kita yah?!" Ucap Bulan beriringan dengan Ibunya.
"Iya nak ... Soalnya kalau di nanti-nanti takutnya. Enggak sempet lagi!" Jawabnya.
"Iya buk ... lebih cepat lebih baik ya," Sahut Rembulan menimpali ucapan ibunya.
Saat Sherlly dan Bulan berada di ambang pintu keluar rumah sakit, Karina menoleh. Karena ia tahu suara yang terngiang di telinganya adalah suara dari Sherlly.
Deg ...
'Bukankah itu Sherlly?" Dengan siapa dia? Apakah itu putrinya,' Kata Karina dalam hati, Menatap pada keberadaan Sherlly di ambang pintu rumah sakit.
"Sherlly ..." Teriak Karina memanggilnya.
Sekilas Sherlly menoleh, Kini tatapan mereka bertemu. Setelah sekian lama tak jumpa.
"Karina," Ucapnya menatap terhadap Karina ..." Rembulan ... Ayo cepet kita masuk mobil nak!" Ajak Sherlly terburu-buru, Ia menghindari Karina. Karena ia tak mau berhubungan lagi dengan keluarga Karina ataupun, Keluarganya sendiri.
"Siapa tante itu sebenarnya buk?!" Tanya Rembulan penasaran.
"Bukan siapa-siapa sayang, Sudah ... Ayo cepat kita pergi dari sini." Katanya, Sambil menggenggam tangan putrinya untuk segera pergi dari rumah sakit itu.
Sementara Karina berusaha menghampirinya.
Dengan berjalan sangat cepat, Kini karina berada di ambang pintu. Namun sayang nya Sherlly sudah menghilang dari pandangan nya.
"Sherlly ... Tunggu aku," Teriak Karina, Dengan membawa banyak pertanyaan yang belum terjawab di dalam hatinya.
"Huh," Menghela nafas ... " Itu benar Sherlly kan? Apa mungkin aku salah melihat, Ah rasanya tidak mungkin, Aku salah lihat." Gumamnya, Mengitarkan pandangan ke Sekeliling nya.
Namun Sherlly telah pergi meninggalkan rumah sakit itu bersama Rembulan.
"Bunda nyari siapa?!" Tanya Bintang membuyarkan lamunan. Sekilas Karina menoleh kepada putranya.
"Ah ... Tidak sayang, Bunda tidak sendang mencari siapa-siapa." Sahut Karina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo Readers ...
Ikuti terus Kisahnya yah ...
Tambahkan ke kolom favorit kalian yah ...
Bantu like, Komen dan Vote ....
Happy reading...
__ADS_1
Semoga terhibur...