Rebirth Of Queen Needles

Rebirth Of Queen Needles
bab 108


__ADS_3

“Baiklah, sekarang duduk di depanku kita harus segera bersatu,”


Li Shang Yue yang mendengarnya tentu saja merasa senang hingga dengan penuh senyuman berjalan mendekat ke arah sosok itu.


"Baik..!" Seru Li Shang Yue.


Li Shang Yue duduk lotus hingga sinar warna warni itu mengelilingi LI Shang Yue dengan sosok itu hingga membuat mereka melayang-layang ke udara. Satu persatu cahaya itu masuk ke dalam badan Li Shang Yue membuat gadis itu menahan sakit.


Uhukk uhukkk


“Ayah…!” Jendral Xin dengan segera berlari ke arah Jendral Feng yang memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.


“`Sudah, jangan ganggu ayah dulu Xin’er,” kata Jendral Feng yang menghapus darah di mulutnya lalu mulai berkonsesntrasi lagi untuk melanjutkan langkah apa yang dilakukan olehnya.


Sedangkan di sisi lain Li Shang Yue dengan sekuat tenaga menahan rasa sakit akibat dari beberapa warna yang berusaha untuk masuk dan menyatu dengannya. Hingga beberapa saat kemudian terlihat penyatuan Li Shang Yue dengan sosok itu berjalan lancar.


Li Shang Yue berdiri mengambil pedangnya lalu keluar dari labirin itu. Sampai di luar dia melirik labirin ke empat yang masih terikat dengan rantai hitam.


“Kamu tidak bisa melepaskan rantai itu jika mu tidak memiliki Pedang Kematian dan elemen petir. Hanya dua itu yang bisa membuat kamu memutuskan rantai itu,” terang sosok di depan Li Shang Yue.


“Aku tahu,” jawab Li Shang Yue yang langsung menghilang lalu sadar di hadapan  Nino dan White yang sedang menunggunya.


“Nona anda…,”


“Aku harus kembali dulu Nino. Perasaanku tidak enak mengenai ayah,” kata Li Shang Yue yang langsung menghilang kembali ke dunia nyata.


Uhukkk uhukkk

__ADS_1


Li Shang Yue membuka matanya bersamaan dengan Jendral Feng yang memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.


“Ayah…!” seru Jendral Xin dan Li Shang Yue secara bersamaan.


“Yue’er..,”


Li Shang Yue segera bangun dari ranjang lalu turun menghampiri Jendral Feng yang sepertinya sudah lemah.


“Ayah apa yang terjadi?” tanya Li Shang Yue dengan wajah khawatir.


“Ayah tak apa Nak, selamat akhirnya kamu berhasil Yue’er. Ayah bangga padamu,” ucap Jendral Feng dengan lemah.


Li Shang Yue tidak membalas apa yang dikatakan oleh sang ayah. Gadis itu dengan cekatan mengambil tangan sang ayah lalu memeriksa nadi Jendral Feng.  Li Shang Yue terkejut saat merasakan jika aliran darah sang ayah tak beraturan. Selain itu, hal yang mengkhawatirkan adalah nadi sang ayah semakin lemah membuat Li Shang Yue semakin panik.


Tanpa ba-bi-bu Li Shang Yue duduk lotus di belakang tubuh sang ayah. Kedua tangan Li Shang Yue terangkat lalu keluar sinar hijau keemasan yang menuju ke punggung Jendral Feng. Sinar hijau keemasan itu masuk secara perlahan ke dalam bada Jendral Feng.


“Terima kasih Yue’er,  ayah tak menyesal melakukan pengorbanan ini padamu nak,” kata Jendral Feng dalam hati sebelum jatuh tak sadarkan diri di pelukan sang Putra Xin Qion.


“Yue’er ada apa dengan ayah?” tanya Jendral Xin dengan panik.


“Tak apa, gege. Ayah hanya kelelahan saja, ayo pindahkan ayah di atas ranjang biarkan dia istirahat,” kata Li Shang Yue yang memberi instruksi kepada Jendral Xin untuk memindahkan Jendral Feng di atas pembaringan.


Jendral Xin dengan segera mengangkat sang ayah membawanya di atas ranjang lalu menyelimuti pria yang sudah mulai tua itu.


“Gege sebenarnya ada apa dengan ayah? Kenapa sampai aliran darah ayah tidak beraturan padahal sebelumnya ayah baik-baik saja? Lalu itu apa? Kenapa sampai ada darah dan juga pola aneh itu?” tanya Li Shang Yue dengan melempar pertanyaan yang berurutan kepada Jendral Xin.


“Gege juga tidak tahu, apa yang dikerjakan oleh ayah, Yue’er. Tadi kami datang ingin mengajakmu makan malam akan tetapi kamu tertidur jadi kami memutuskan untuk menunggu kamu terbangun. Namun tiba-tiba vahaya keemasan keluar dari tubuhmu dan menyinari seluruh ruangan ini. Ayah yang melihatnya sampai panik lalu menyuruh aku untuk menutup jendela dengan cepat. Setelah itu tiba-tiba ayah mengambil sebuah buku aneh dengan sambut warna emas juga. Ayah menggambar pola aneh itu lalu membiarkan darahnya mengalir di atas pola itu membuat sebuah pelindung mengelilingi ruangan ini hingga sinar dari tubuhmu tidak keluar keluar. Ayah sampai muntah darah sampai 2 kali bersamaan dengan kau terbangun,” terang Jendral Xin yang menceritakannya dengan cepat.

__ADS_1


Li Shang Yue yang mendengarnya tertegun sesaat. Siapa yang menyangka jika sang Jendral rela emmpertaruhkan nyawanya hanya demi anak yang dia angkat menjadikannya sebagai putrinya saja. Li Shang Yue mendekati pola itu namun Li Shang Yue tidak mengetahui akan pola itu sama sekali.


Li Shang YUe mencari sekitar guna untuk menemukan buku yang seperti yang dijelaskan oleh Jendral Xin padanya Namun Li Shang Yue tak menemukan buku apapun di dalam ruangan itu.


“Nino apa kau mengetahui pola aneh ini?” tanya Li Shang Yue kepada Nino barangkali hewan kontraknya itu mengetahui sesuatu karena dia berasal dari zaman entah yang keberapa.


“Itu pelindung darah Nona atau bisa di katakan juga sebagai pengorbanan darah. Pola itu untuk melindungi cahaya atau arah dari seseorang hingga tak menyebar kemana-kemana. Di anggap sebagai segel pengorbanan darah adalah karena seseorang yang menggunakan darahnya untuk membuat pola itu maka bayarannya adalah nyawanya jika kekuatannya tidak besar,” terang Nino yang memang mengetahui tentang pola itu.


“Maksudmu seseorang yang menggunakan pola ini akan mati jika ia tak memiliki energi yang cukup kuat?”


“Benar Nona karena pola itu selain menghisap darah pengguna dia juga menghisap energi spiritualnya juga,” 


Deg


Li Shang Yue yang mendengarnya sampai tertegun. Matanya menatap pola itu yang masih ada darah yang telah dia yakin jika itu darah dari sang ayah angkatnya karena ia jelas melihat sebuah luka di tangan Jendral Feng tadi.


“Jadi ini alasan kenapa sedari tadi aku di dalam ruang dimensi aku cemas? Semua rasa cemas itu karena ayah dalam bahaya. Lagi lagi aku berhutang budi bahkan nyawa pada ayah,” guman Li Shang Yue yang menatap kosong lantai.


Jendral Xin yang melihat jika sang adik sedang sedih segera menghampiri gadis itu. Jendral Xin tahu adiknya itu pasti merasa sedih dengan keadaan ayah mereka saat ini.


“Yue’er apa yang kau lakukan? Kenapa kau duduk disini? Ayo bangun,” Jendral Xin membantu sang adik bangun dan membawanya di kursi samping pembaringan.


“Ayah seperti ini karena aku, semua ini salahku..!” lirih Li Shang Yue.


“Bukan. ini bukan salahmu Yue’er. Jangan berkata seperti itu jika ayah mendengarnya pasti ayah akan merasa sedih,” ujar Jendral Xin yang terpaksa membawa nama-nama sang ayah agar Li Shang Yue kembali ceria.


“Jika aku terlambat sedikit saja, maka aku bisa kehilangan ayah.”

__ADS_1


__ADS_2