Rebirth Of Queen Needles

Rebirth Of Queen Needles
bab 51


__ADS_3

“Nona ini buka yang anda minta.” Nino menyerahkan dua buku yang memiliki sampul gambar Pedang.


"Pedang ini…, Li Shang Yue langsung mengambil mengambil buku yang memiliki sambul sebuah pedang biru dengan judul, Tarian Seribu Pedang.


Li Shang Yue langsung mengambilnya dan membuka buku itu matanya terbelalak saat melihat dengan jelas jika pedang yang berada di dalam buku itu sangatlah sama dengan pedang yang sering dia gunakan baik di dunia modern maupun di dunia kehidupan keduanya ini. Pedang yang biasa dia gunakan dan di beri nama Blue Moon didalam buku itu pedang itu di namakan dengan Pedang biru.


Li Shang Yue terus membuka lembar perlembar buku itu hingga dia menyadari jika jurus yang dia kuasai masih berada di tahap awal. Memikirkan hal itu langsung membuat Li Shang Yue tersenyum senang. JIka jurus yang dia andalkan adalah tahap awal bagaimana jika tahap akhir.


“Aku keluar dulu.”


Wussssh


Li Shang Yue keluar begitu saja meninggalkan Nino yang terdiam kaku melihat tingkah dari sang junjungan yang tadinya cemberut langsung terlihat ceria saat melihat buku pedang itu. 


Sedangkan di luar Li Shang Yue baru membuka matanya lalu melihat Bonzhu yang masih duduk tenang menjaga agar api unggun tidak mati.


"Yuyu kau sudah selesai?" 


"Sudah, istirahatlah aku akan menjaga kalian." Kata Li Shang yue.


Bonzhu yang memang sudah mengantuk segera meresahkan dirinya dekat dengan api unggun. Li Shang Yue tak ingin diam segera membuka buku yang diberikan Nino tadi. Pertama yang di buka adalah Buku Tarian pedang yang merupakan kelanjutan dari jurus yang telah dikuasai-nya sejak zaman modern.


Li Shang Yue dengan serius mulai membuka halaman tahap kedua lalu mulai memperhatikan pola dan gambar yang ada di buku. Lu Shang Yue dengan pelan mulai menggerakkan tangannya dengan terus membuka lembar buku itu hingga sampai ke lembar 22 lembar buku itu telah selesai Juris tahap kedua.


"Yuyu, jika kamu ingin mempercepat menghafal jurus itu maka kamu membutuhkan tempat yang luas." Kata Long yang keluar dari lengan baju Li Shang Yue. 


"Kamu benar tapi aku juga tidak mungkin meninggalkan mereka yang dengan sukarela menerimaku," kata Li Shang yue memandang ke empat pria yang menerimanya dengan tangan terbuka.


"Soal itu Yuyu tidak perlu khawatir, aku akan memasangkan mereka aray pelindung dengan begitu mereka akan aman." Kata Long.

__ADS_1


"Ya sudah cepat lakukan!" Serh Lh Shang Yue yang sudah tidak sabar ingin segera melatih kekuatannya.


Long segera berubah menjadi manusia lalu mulai membacakan sebuah mantra dalam sekejap mata terlihat pelindung yang mengelilingi mereka.


“Ayo kita pergi aku harus kembali sebelum matahari muncul,” Li Shang Yue dan Long segera berlari masuk ke dalam hutan.


Setelah berlari beberapa saat akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang begitu luas dengan sebuah air terjun yang indah.


“Aku rasa ini cocok untuk berlatih?” Li Shang Yue menoleh ke arah Long meminta pendapat padanya.


“Lebih baik kamu berlatih di batu itu dengan begitu seranganmu kamu bisa menargetkan air sana. JIka kamu menargetkan pepohonon maka akan memancing orang atau mungkin juga binatang buas nantinya.


“Aku mengerti,”


Li Shang Yue langsung terbang ke arah batu besar yang berada di bawah air terjun. Pertama-tama Li Shang Yue mengambil Rantai lalu mulai memngayunkannya seperti pedang mengikuti gerakan gambar. Percobaan pertama gagal begitu pula percobaan kedua membuat Li Shang Yue kesal.  Di kehidupannya  yang dulu ia tak pernah mengalami kegagalan lebih tepatnya Clara membenci kegagalan karena dari kegagalan semuanya menjadi buruk.


Tiba-tiba saja amarah dalam diri Li Shang Yue tiba-tiba meledak keluar membuat Long yang sedang terbaring di rantai pohon langsung terbelalak kaget. Long kaget bukan karena melihat Li Shang YUe marah namun kaget karena aura yang di keluarkan Li Shang Yue sangatlah kuat dan mendominasi seperti sudah membunuh ribuan orang dengan tangannya sendiri.


Ledakan aura Li Shang Yue terus menyebar hingga sampai di sebuah hutan yang terlihat begitu mengerikan karena tidak ada cahaya apapun di dalam sana. 


“Akhirnya kamu kembali sayang…! Setelah sekian lama aku menunggu akhirnya penantianku tidak sia-sia,” guman sosok yang berdiri menatap ke atas sana.


 Anehnya di atas sana tidak ada cahaya bulan sama sekali. Memang tidak ada bahkan matahari hanya muncul satu kali satu bulan. Entah sudah berapa ratus tahun wilayah itu hidup dengan tidak adanya cahaya Matahari dan bulan yang menemani mereka setiap malam dan setiap hari.


Tentu saja itu bukan keinginan mereka namun karena sebuah insiden membuat seluruh penghuni dan penduduk di daerah itu membuat kutukan sendiri yaitu dengan tidak adanya matahari dan juga bulan yang menemani mereka semua.


“Hiks hiks akhirnya kamu kembali sayang,” 


Pria itu jatuh terduduk dengan air mata yang keluar dari matanya, bedanya air mata itu tidak bening tapi merah seperti darah. Pria itu menangis dengan terus mengucapkan kata sayang dengan senyum tipis namun tulus dari bibirnya.

__ADS_1


“Yang Mulia!”


Seorang bawahan yang mendapati sang junjungan berada di dalam hutan dengan keadaan yang begitu menyedihkan langsung menghampiri pria itu.`


“Yang Mulia ada apa?” 


“Sebarkan kepada seluruh penduduk jika Ratu mereka akan segera kembali.” Kata pria yang masih berlutut itu.


“Ratu?” terlihat jika pria itu sepertinya tidak mengerti namun, di detik berikutnya sang bawahan langsung melebarkan senyumnya.


“Baik Yang Mulia,”sosok itu langsung berlari sekencang mungkin terbang ke angkasa. 


“Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu Permaisuriku.” 


Kembali di sisi Li Shantg Yue yang sedang berlatih pedang. Li Shang Yue berlatih keras dan sungguh-sungguh, kartena menggunakan kayu selalu gagal Li Shang Yue nekat dengan menggunakan hPedang aslinya sebagai bahan latihan.


“Blue jangan membuatku kesal, jika itu terjadi aku akan benar-benar memukulmu.” Kata Li Shang Yue dengan mengetuk ngetuk ganggang pedang biru di tangannya.


Disis lain Long hanya bisa mengerutklan dahi melihat tibngkah Li Shang Yue dengan wajahnya yang begitu kesal karena mengalami kegagagalan. Sampai disini Long mengetahui jika Li Shang Yue sangat tidak menyukai sebuah kegagalan.


“Anak nakal itu masih terlalu labil dan naif, bagaimana dia berfikir jika tidak akan mengalami yang namanya kegagalan?” 


Long hanya bisa geleng-geleng kepala memikirkan Li Shang Yue yang terkadang begitu dewasa dan juga bijak. Namun, di satu sisi kadang pula gadis itu akan seperti anak kecil yang polos dan Naif.


Li Sahng Yue menutup matanya mulai berkonsentrasi yang penuh membuka matanya lalu mulai mengayunkan pedangnya di udara. Menyabet, menusuk, menyerang, terus di lakukan Li Shang Yue sehingga gerakannya terlihat seperti tarian pedang.


Keringat mulai membasahi wajah Li Shang Yue yang masih terus meliuk-liukkan badannya hingga putaran terakhir Li Shang Yue langsung mengarahkannya pada batu besar yang beada di tengah danau.


BOOOM

__ADS_1


BRUUKKKK


__ADS_2