
Malam yang gelap tanpa adanya suara kebisingan dengan hawa dingin. Di saat semua orang tertidur berbeda dengan Li Shang Yue yang terus melompat dari satu pohon ke pohon yang lain.
Tak
Tak
Suara kaki Li Shang yue yang sedang berpindah tempat ke tempat lain. Jubah hitamnya berkibar dengan sebuah topeng rubah di wajahnya menutup sebagian wajahnya. Setelah berlalu beberapa saat akhirnya Li Shang Yue sampai di sebuah tempat yang menjadi tujuannya.
“Sial, ternyata ada penjaga,” Li Shang Yue mengumpat kesal saat mendapati jika pengawasan istana lumayan ketat.
Tak kehabisan ide Li Shang Yue segera mengelabui penjaga lalu bergerak masuk ke dalam istana. Sampai di dalam tanpa ba-bi-bu Li Shang Yue langsung bergerak cepat menuju kediaman Seli Hua Rong karena saat ini Putri WEi Rong tinggal disana karena kediamannya telah hancur rata dengan tanah
“Mana sih kamarnya sih medusa itu?” guman Li ShangYue yang sedang memantau keadaan lewat pohon.
“Disana rupanya..!” Li Shang Yue langsung bergerak cepat mendekat ke arah ruangan ayng dia yakini jika itu adalah kamar tidur Putri Wei Rong.
Klik
Li Shang Yue membuka jendela kamar Putri Wei Rong dengan sangat pelan lalu masuk ke dalam kamar itu. Terlihat jika Putri W ei Rong sedang tertidur nyenyak di atas pembaringan. Dengan gerakan pelan dan hati-hati Li Shang Yue mendekat ke arah Putri Wei Rong ayng sedang tertidur pulas itu.
“Hidupmu sangat nyaman Puteri Wei Rong, tempat tidur yang indah dan empuk, pakaian yang cantik, perhiasan yang banyak, koin yang berlimpah dan kasih sayang dari Yang Mulia Kaisar. Sedangkan aku, aku hanya bisa menjadi pelayan yang abhkan pelayan pun masih dihormati di bandingkan aku. Sudah saatnya kamuoh no…, bukan hanya kamu tapi Selir Hua Rong dan Kaisar bodoh itu pun harus mendapatkan balasan dariku. Salahkan saja kalian membunuh putri Li SHang Yue yang asli alu au ada di dunia ini,” bisik LI Shang Yue yang menatap penuh akan kebencian pada Putri Wei Rong.
Li Shang Yue mendekat ke arah pembaringan Putri Wei Rong hingga sampai di depannya. Li Shang Yue hanya tersenyum sinis saat melihat jika targetnya itu hanya tersenyum seperti tidak ada bahaya.
__ADS_1
Li Shang Yue merogoh jubahnya lalu keluarlah sebuah botol di tangan-nya. Dengan gerakan hati-hati Li Shang Yue membuka mulut Putri Wei Rong lalu memasukan sebuah cairan di dalam mulut Putri Wei Rong. Tak hanya itu Li Shang Yue juga mencampur cairan itu dengan teko di samping meja bahkan semua air yang ada di dalam kamar itu Li Shang Yue campur.
“Kamu paling senang karena aku dianggap sampah dan monster buruk rupa bukan? Jadi mari kita lihat apa yang akan kamu lakukan jika keadaan berbalik padamu? Apa kamu masih bisa naik di tahta Putri Mahkota atau tidak?” sinis Li Shang Yue yang langsung keluar dari kamar itu.
Li Shang Yue keluar namun bukannya langsung pulang gadis itu justru berbalik lalu menuju ke arah suatu ruangan.
Ternyata Li Shang Yue datang di kamar Selir Hua Rong yang sedang tertidur lelap. Li Shang Yue dengan gerakan pelan segera masuk kedalam kamar tidur Selir Hua Rong. Seperti apa ayng di temuinya di kamar Putri Wei Rong kini juga Selir Hua Rong sedang terlelap tanpa menyadari jika bahaya sedang mendekat ke arahnya.
“Tidurlah kalian dengan sangat nyenyak karena hanya malam ini lagi kalian semua akan merasakan yang namanya kenyamanan. Saatnya aku bermain wahai ibu tiri yang jahat,” ucap Li Shang Yue dengan senyum sinis.
Tanpa ba-bi-bu Li Shang Yue langsung bergerak cepat mencampurkan cairan di tangannya ke segala air di dalam kamar itu tak lupa memasukan ke dalam mulut Selir Hua Rong.
“Kita lihat akan ada kejadian apa besok pagi. Eh tapi sepertinya ada yang kurang,” guman Li Shang YUe yang berpikir keras lalu tiba-tiba matanya langsung berubah berbintang-bintang.
“Ini baru sempurna….! Saatnya ku pergi sampai jumpa ibu tiri yang jahat.” Li SHang Yue langsung melompat ke jendela dan pergi meninggalkan istana.
“Lebih baik aku seghera pulang bisa bahaya jika ayah sampai mengecek kamarku. Aku harus bergerak cepat,” monolog Li Shang yue yang semakin mempercepat lompatannya menuju kediaman Jendral Feng yang menjadi tempat ia tinggal sekarang ini.
Setelah melompat beberapa saat akhirnya Li Shang Yue segera masuk ke dalam lewat pintu belakang yang berada di dapur. Dengan gerakan cepat Li Shang Yue menuju ke kediamannya yang bernama kediaman Lily. Sampai disana Li Shang Yeu membulatkan mata saat melihat dari jauh Jendral Feng sedang menuju ke kamarnya.
“Gawat itu ayah,” lirih Li Shang Yue dengan keadaan panik.
“Jendela akui harus lewat jendela,”
__ADS_1
Dengan keadaan yang panik Li Shang yue langsung berbalik menuju belakang kediamnnya lalu naik ke jendela masuk ke dalam kamar. Sampai di kamar Li Shang Yue dengan gerakan cepat melepas jubahnya dan juga topeng rubah nya lalu di lempar ke bawah ranjang. Li Shang Yue naik di atas ranjang lau membaringkan badannya menutup mata.
Bersamaan dengan Li Shang Yeu yang menutup mata bersamaan dengan itu pula kamar Li Shang Yue terbuka. Sepasang kaki muncul di dalam kamar Li Shang Yue yang tak lain dan tak bukan adalah kaki dari Jendral Feng. Jendral Feng berjalan mendekat ke arah Li Shang Yue yang sedang tertidur lebih tepatnya pura-pura tidur.
“Putri kecil ayah sudah tertidur rupanya tapi kenapa tidak menggunakan selimut?” kata Jendral Feng yang mengambil selimut itu lalu memakaikannya sampai dada.
“Mimpi yang indah putri kecil ayah,” bisik Jendral Feng yang mengecup kening Li Shang yue dengan sayang.
Cup
Setelah mengecup kening sang putri dengan sayang dan memastikan jika saat ini putri kecilnya itu sudah tertidur Jendral Feng segera berjalan keluar dari kamar sang putri. Jendral menutup pintu dengan memanggil kedua pengawal yang tadi menemani LI Shang Yue ke pasar lalu di tambah Aron.
“Kalian jaga putriku..! Jangan bangunkan jika bukan dia yang bangun,” kata Jendral Feng dengan aura dingin.
“Baik Jendral,” balas mereka serentak.
Jendral Feng segera berbalik lalu pergi dari kediaman Li SHang Yue menuju ke kediamannya. Sampai disana Jendral Feng masuk kedalam kamarnya.
Tatapan Jendral Feng jatuh pada berbagai botol guci yang berisikan anggur merah dan juga alkohol lainnya.
“Aku akan membuang ini semua, aku ingin berumur panjang dan selalu menemani putriku. Aku masih belum ingin mati,” monolog Jendral Feng yang langsung menuju pembaringan.
Biasanya pria paruh abya itu akan lansgung minum alkohol jika sudah berada di dalam kamarnya. Namun semenjak ia mengangkat Li Shang Yue menjadi putrinya tak lagi pernah dia meminum minuman beralkohol itu. Dulu dia sering minum karena ingin cepat mati menyusul istri tercintanya akan tetapi kehadiran Li Shang Yue membuat Jendral Feng membuang pikiran itu.
__ADS_1
“Istriku maafkan suamimu ini yang belum bisa menyusulmu, aku harus menjaga putri kecil kita itu bukan?”