Rebirth Of Queen Needles

Rebirth Of Queen Needles
bab 124


__ADS_3

“Bagus-bagus Zhen sangat menyukai tarian pedang dari Nona Feng. Kasim kirim satu peti koin emas dan satu lusin kain sutra pada kediaman Jendral Feng…!” ucap Kaisar Ming dengan lantang.


Semua orang langsung kaget pasalnya kaisar Ming bukanlah orang yang akan dengan mudah memberikan hadiah kepada orang kecuali orang itu benar-benar di sukai oleh Kaisar Ming. Semuanya langsung berbisik-bisik saat melihat Li Shang Yue yang berhasil menerima hadiah dari Sang Kaisar Ming.


“Terima kasih Yang Mulia Kaisar,” Li Shang Yue langsung mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Mengatupkan tangannya disini adalah dimana Li Shang Yue mempertemukan kedua tangannya dengan satu tangan yang mengepal dan satu tangannya lagi terbuka. itu adalah hal yang sering dia lakukan di masa depan untuk mengucapkan terima kasih atau memberi hormat pada orang yang membantunya.


Jika semua merasa kagum dan juga terpesona akan bakat dari Li Shang Yue. Namun hanya 3 wajah yang sepertinya tidak senang dengan apa yang telah Li Shang Yue capai. Ketiga wajah itu adalah Kaisar Li bersama Selir Hua Rong dan Putri Wei Rong.


Selir Hua Rong dan Putri Wei Rong merasa iri dengan apa yang telah Li Shang Yue dapatkan karena menurut mereka harusnya Putri Wei Rong yang menjadi pemegang semuanya. Sedangkan Kaisar Li hanya bisa menunduk entah kenapa rasanya dadanya seperti dihimpit saat melihat pencapaian Li Shang Yue yang begitu dipuja-puja. Akan tetapi, bukan dirinya yang di samperin dan dipeluk oleh gadis itu.


“Kenapa rasanya sakit saat anak itu mengabaikanku? Tapi bukan salahku jika dia pergi dari istana. Bukan salahku juga membuangnya karena dia sendiri sudah menyakiti Wei’er. Seharusnya anak sepertinya memang pantas untuk di buang. Jendral Feng saja yang bodoh karena memungut anak sampah sepertinya,” kata Kaisar Li dalam hati.


Kaisar Li merasakan perasaan bersalah itu tapi karena ego dan rasa cintanya pada anak selirnya membutakannya hingga terus menyalahkan Li Shang Yue. Kaisar Li tidak ingin mengakui kesalahannya karena itu memang bukan kesalahannya tapi kesalahan Li SHang Yue. Kaisar Li tidak tahu saja jika semakin hari pintu maaf Li Shang Yue semakin tertutup untuknya.


“Sialan kenapa seperti ini? Bagaimana bisa anak pembawa si4l itu merampas semua milikku? Harusnya aku yang dipuja-puja seperti itu, harusnya kau yang bersanding dengan Putra Mahkota Ju, harusnya aku yang menerima hadian dari Yang Mulia Kaisar Ming, bukan dia. Kenapa harus dia yang merebut segalanya?” kata Putri Wei Rong dalam hati.


Putri Wei Rong menunduk dan mengepalkan tangannya dengan kuat meremas sisi hanfu yang dia kenakan. Amarahnya berada di ubun-ubun saat ini. Dia benar-benar marah karena Li Shang yue mencuri segala perhatian yang harusnya menjadi miliknya malah berpindah kepada Li Shang Yue gadis yang sangat dia benci itu.


“Aku harus segera mencari cara agar segera menyingkirkan anak sial4n itu. Jika seperti ini terus maka Wei Rong tidak akan di lihat oleh orang. Harusnya sedari dulu anak ini telah lama mati,” umpat Selir Hua Rong di dalam hati.


Selir Hua Rong dan juga Putri Wei Rong menatap tajam penuh iri dan dengki kepada Li Shang Yue. Kebencian mereka semakin meningkat pada Li Shang Yue namun orang yang mereka tatap tajam hanya bersikap bodoh amat saja.


Li SHang Yue dengan langkah ringan turun dari panggung pertunjukan dengan memeluk pedang milik sang ayah. Jendral Feng yang menatap putrinya sedang kemari segera  beri menyambut kedatangan Putri kecilnya itu.

__ADS_1


“Ayah ini pedangmu,” Li Shang Yue memberikan kembali pedang sang ayah dengan senyum polos di wajahnya.


Jendral Feng yang melihat senyum sang putri hanya bisa tersenyum mengelus kepala Li Shang Yue dengan lembut.


“Ayo duduk kembali, lihat..! Selir Agung memberikanmu kue bulan kesukaanmu,” Jendral Feng menarik lembut tangan Li Shang Yue mendudukannya di tengah-tengah antara dirinya dan juga Xin Qion.


Li Shang Yue yang melihat piring kue bulan di depannya langsung semangat. Dengan gerakan cepat Li Shang Yue duduk di tempat duduknya seperti sedia kala.


Selir Agung memang sengaja menyuruh pelayannya untuk datang membawa kue bulan di meja Li Shang Yue karena gadis itu sangat menyukai kue bulan. Selain itu, Li Shang Yue memang menyukai makanan alias hobi makan.


Acara puncak di mulai sebenarnya Putra Mahkota Ju disuruh oleh Kaisar Ming untuk menunjuk Permaisuri atau juga Selir untuknya. Namun sayang sekali Putra Mahkota tidak menunjuk satu orang pun.


Hingga larut malam akhirnya para tamu di arahkan untuk kembali di tempat mereka beristirahat agar besok bisa menghadiri acara yang dilakukan oleh Kaisar Ming. Semuanya langsung bergegas untuk kembali ke kediaman mereka masing-masing.


“Ada apa Yang Mulia?” tanya Jendral Feng setelah sudah tidak ada orang di dalam ruangan itu.


“Bagaimana dengan Yue’er..,”


“Soal itu Yue’er sudah menyetujuinya dengan catatan identitasnya harus disembunyikan hingga usianya sampai 17 tahun nanti. Yue’er juga mengatakan walaupun ia menjadi putri atau menjadi Putri Mahkota kerajaan Ming, Yue’er akan tetap akan ikut saya dan putra saya Xin Qion untuk kembali ke kekaisaran Li kediaman kami,” ucap Jendral Feng.


“Tapi dia juga sudah setuju menjadi putriku bukankah dia harus tinggal di istana ini?” Kaisar Ming tidak setuju jika Li SHang Yue di bawah pulang di kekaisaran Li.


“Ayahanda, anda harus tahu walau saya memanggil anda Ayahanda bukan berarti anda berhak menentukan hidup saya bagaimana. Saya tidak ingin hidup dalam kekangan siapapun apalagi jika harus di paksa menikah dengan alasan tali persahabatan antara kerajaan nanti. Kalian memang keluargaku sekarang tapi Ayah Feng dan juga Gege Xin adalah duniaku. Aku tidak takut kehilangan apapun asalkan aku tidak hilangan mereka itu sudah lebih dari cukup. ANdaikan bukan karena Ibunda Selir aku juga akan berpikir seribu kali alasan untuk kembali masuk ke dalam istana yang penuh akan trauma masa laluku. Harusnya Ayahanda sudah merasa cukup dengan aku menerima kalian menjadi keluargaku tidak perlu menjadi serakah untuk memiliki-ku seutuhnya karena itu tidak akan mungkin,” kata Li Shang Yue yang sedang duduk di kursinya.


Deg

__ADS_1


Ucapan Li Shang Yue seperti menampar wajah Kaisar Ming secara tak kasat mata. Apa yang dikatakan oleh LI Shang Yue benar. Harusnya dirinya tidak sampai serakah seperti ini dengan terus memaksa Li Shang Yue untuk tinggal di istana mereka.


“Baiklah, Ayahanda akan menerima setiap keputusanmu Yue’er. Tapi jika kami rindu kami bisa menemui kamu di sana bukan?” Kaisar Ming menatap Li Shang Yue dengan penuh harap.


“Tentu saja, Ayahanda bisa menemui Yue’er kapanpun jika pekerjaan Ayahanda sudah selesai,” jawab Li Shang Yue dengan lembut.


“Syukurlah,” ucap mereka semua.


“Hoam…! Gege aku mengangantuk ayo gendong,”


“Baik…!” seru Xin Qion, Putra Mahkota Ju, dan juga Pangerah kedua Ming Jian dengan serentak mendekat ke arah Li Shang Yue.


“Hey apa yang kalian lakukan? Menyingkir dia Yue’erku..!” sentak jendral Xin kesal.


“Dasar bodoh, dia juga meimei kami sekarang,” balas Pangeran kedua Ming Jian.


“Xin gege..!” panggil li SHang Yue dengan kepala yang tertunduk dengan mata yang tertutup.


“Dengan dia memanggilku, minggir sana..!” usir Jendral Xin yang mendorong Putra Mahkota Ju dan juga Pangeran kedua Ming Jian.


“Naiklah, Yue’er,”


Jendral Xin membungkuk lalu menuntun Li Shang Yue untuk naik di punggungnya. Sedangkan Li Shang Yue yang sudah kenyang langsung saja naik di punggung Xin Qion. Pelayan Se Se yang melihat sang Nona muda begitu mengantuk memutuskan untuk mengambil kue-kue sisa yang dimakan oleh Li Shang Yue lalu membungkusnya dengan kain bersih.


“Xin Qion sial4n…!” umpat Putra Mahkota Ju dan juga Pangeran kedua Ming Jian menatap tajam Jendral Xin yang tersenyum kemenangan ke arah mereka.

__ADS_1


__ADS_2