
“Aku pergi bukan untuk tidak kembali, aku pergi untuk kembali mulai saat ini bangunan megah ini tidak akan pernah tentram.” Guman Li Shang Yue yang menatap penuh kebencian istana kekaisaran Li.
Jendral Feng yang melihat Li Shang Yue menatap istana itu segera merangkulnya. Jendral Feng tahu jika saat ini mungkin perasaan Li Shang Yue sedang campur aduk antara kekecewaan,kemarahan, kebencian, semuanya menjadi satu membuat anak itu bimbang.
"Ayah paham apa yang kamu rasakan, jika nanti kamu ingin balas dendam akan ayah dukung. Di saat semua orang bahkan jika dunia menolak pun jangan takut ada ayah yang akan selalu mendukung," ucap Jendral Feng yang mengelus kepala Li shang yue dengan lembut.
'Kata-kata itu…, semua masih sama. Kata-kata itu selalu terucap dengan rapi dan terdengar indah di telingaku. Hanya saja di kehidupan ini ayah tidak mengingatkan tetapi terus menerimaku. Akan tetapi apa ayah juga akan pergi tiba-tiba seperti di kehidupan sebelumnya?'
Ingin sekali Li Shang Yue menanyakan apa yang ada di pikirannya saat ini. Namun apa daya lidahnya terasa kelu saat akan bertanya akan hal itu. Namun Li Shang Yue berjanji dalam dirinya jika dia tidak akan membiarkan lagi pria paruh baya itu pergi dari dalam hidupnya.
Jendral Feng adalah orang yang menerima dan melatih Li Shang Yue di kehidupan dulu saat dirinya masih menjadi Clara. Pria yang memiliki wajah sama seperti Jendral Feng menemukannya di pinggir jalan lalu membawanya di rumah. Clara kecil di asuh dalam asuhannya yang seperti anak laki-laki. Walaupun di asuh seperti anak laki-laki tapi Clara tak pernah merasa terganggu sama sekali.
Hingga di usia Clara yang beranjak remaja pria itu menghilang begitu saja dengan cepat. Clara berusaha keras mencari keberadaan pria itu tapi Clara tak menemukan petunjuk apapun itu. Bahkan di saat tinggal bersama bersama Clara tak mengetahui siapa nama pria penolongnya itu.
Pahk
Li Shang Yue yang merasakan tepukan di bahunya langsung kaget menoleh ke arah sang penepuk.
“Apa yang kamu pikirkan Putriku? Kamu berfikir kami akan membuangmu atau mungkin memperlakukan mu dengan buruk? Jangan ragu semua akan baik-baik saja,” kata Jendral Feng dengan lembut.
Jendral Xin yang melihat jika sang Ayah Jendral Feng sepertinya mulai memonopoli sang Adik langsung menghampiri Jendral Feng dan Li Shang Yue.
__ADS_1
“Jangan takut mei mei nanti jika ada yang mengganggumu atau menggertakmu, kamu hanya perlu mengatakannya pada gegemu ini, akan gege bereskan dengan cepat untukmu.” kata Jendral Xin dengan merangkul Li Shang Yue membawanya jauh dari jangkauan Jendral Feng.
Jendral Feng yang melihat jika Li Shang Yue lepas darinya langsung berdecak kesal menatap tajam Jendral Xin selaku pelaku utama yang membuatnya menjauh dari sang putri.
“Anak nakal itu…, bagaimana bisa ia menjauhkan aku dengan putriku? Ini tidak bisa di biarkan aku harus memberi mereka pelajaran. Tidak akan aku biarkan kamu menguasai putri kecilku.” kata Jendral Feng dalam hati.
“Ehem apa kamu tidak cukup sibuk dengan mengatakan seperti itu? Putriku jika ada yang menggertakmu tak perlu amu laporkan pada anak nakal ini karena dia tidak berguna sama sekali. Ada baiknya langsung laporkan pada ayah akan dengan segera ayah selesaikan untukmu. Tak ada yang boleh menghina apalagi menyakiti Putri kecil kesayangan ayah ini,” terang Jendral Feng dengan menepuk bangga dadanya.
“Ayah, aku pikir sesibuk apapun aku akan lebih sibuk ayah lagi. Apa ayah lupa dengan posisi ayah yang saat ini sebagai jendral Besar kekaisaran Li apa ayah lupa?” sinis Jendral Xin yang langsung menutup mulut Jendral Feng.
Li Shang Yue sampai menutup mulutnya menahan tawa saat melihat wajah pias sang ayah angkat dan wajah penuh kemenangan dari sang Jendral Xin.
“Anak nakal ini bagaimana bisa mempermalukan ayahnya seperti ini terlebih di depan Putri kecilku? Lihat saja, sampai dirumah aku akan benar-benar menghukum anak nakal ini.” kata Jendral Feng dalam hati dengan kekesalan yang menggebu-gebu.
“Apa-apaan senyumnya itu he? Meledekku? Anak kurang ajar berani sekali dia meledek ayahnya ha…?” Jendral Feng ingin sekali memukul kepala Jendral Xin yang merupakan anaknya sendiri.
“Ayah gege lebih baik kita segera pergi sebelum ada kekacauan yang di sebabkan oleh Kaisar.” kata Li SHang Yue yang membuat kedua orang itu langsung tersadar.
“Baik, ayo naik kereta kuda bersama ayah,” kata Jendral Feng yang mengajak Li Shang Yue untuk naik kereta kuda bersamanya.
Namun lagi lagi Jendral Xin tak ingin kalah dengan sang ayah langsung membantah apa yang di ajakan oleh sang Jendral Feng.
__ADS_1
“Ayah Yuyu tidak suka naik kereta tapi Yuyu suka naik kuda jadi biarkan Yuyu bersamaku saja menunggang kuda.” kata Jendral Xin dengan senyum manis namun di mata Jendral senyum itu adalah senyum yang sangat menyebalkan.
“KAU…,”
“Maaf ayah tapi apa yang dikatakan oleh Xin gege benar, aku tidak menyukai naik kereta aku lebih menyukai menunggang kuda karena di atas kuda aku merasa bebas dan menemukan kebebasanku sendiri,” kata Li Shang Yue yang memotong ucapan Jendral Feng.
Jendral Feng yang tadinya berwajah kesal dan marah dalam sekejap mata langsung berubah menjadi hangat dan penuh kasih menatap ke arah Li SHang Yue.
“Baiklah kamu bisa naik kuda bersama gegemu tapi berhati-hatilah ayah takut kamu terluka dan juga jatuh dari kuda,”
“Yuyu akan berhati-hati Ayah,” jawab Li Shang Yue yang langsung mengikuti Jendral Xin.
“Ini kuda milikku kamu bisa menungganginya, gege akan membiarkanmu lagi pula kuda gege juga tidak keberatan,”
“Terima kasih gege,” ujar Li Shang Yue yang langsung mengucapkan terima kasih sebelum naik ke atas kuda itu.
Jika li Shang Yue dengan wajah ceria pergi meninggalkan istana maka berbeda jauh dengan apa yang terjadi di dalam istana. Di dalam istana tengah di hebohkan Putri Wei Rong yang terus memuntahkan darah padahal gadis itu belum juga bangun dari pingsannya.
Kaisar Li hanya membantu selir Hua Rong dan memanggilkan tabib untuk memeriksa Selir Hua Rong dan juga keadaan Putri Wei Rong yang sangat memprihatinkan.
“Kalian cepat panggilkan tabib untuk melihat keadaan Putri Wei Rong Selir Hua Rong…” teriak sang Kaisar yang memerintahkan para pelayan untuk memanggilkan tabib.
__ADS_1
“Yang MUlia lihat We’er sepertinya dia terluka cukup parah,” ucap Selir Hua Rong dengan suara lemah yang entah itu sandiwara atau memang kenyataannya seperti itu.
“Tenanglah selir, aku sudah memerintahkan para pelayan untuk memanggil tabib untuk memeriksa kalian berdua. Saat ini lebih baik kita segera menuju ke kediamanmu karena We’er di bawah disana,”