
Brukkk
Pemuda ketiga itu langsung berlutut dengan satu kali menghadap Li Shang Yue. Tentu apa yang dia lakukan membuat Li Shang Yue kaget namun tetap diam membiarkan apa yang akan di sampaikan pemuda itu.
"Saya ataupun teman-teman saya mungkin tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan barisan para prajurit di belakang Putri. Kami tidak menjanjikan sebuah kata yang akan menjadi kuat agar bisa melindungi anda, kami tidak akan menjanjikan untuk mengikuti anda kemana pun anda pergi. Namun satu hal yang kami janjikan, kami akan berjanji dan bersumpah jika kesetiaan kami hanyalah untuk anda. Bahkan jika anda meminta untuk mengakhiri nyawa saya sendiri maka akan saya lakukan.” Ungkap Pria ketiga dengan tegas dan yakin.
Deg
Li Shang Yue menatap pria ketiga yang berlutut di depannya itu. Pria di depannya itu begitu yakin dan tanpa keraguan untuk mengikutinya walaupun dengan keadaan yang masih lemah seperti sekarang.
“Baiklah, jika begitu tusuk perutmu dengan pedang ini.” Kata Li Shang Yue yang menyodorkan pedang birunya.
Sontak hal itu membuat semua orang kaget terutama Jendral Xin dan Jendral Feng. apa yang di lakukan oleh Putri Li Shang Yue sangat menakutkan. Namun berbeda dengan ketiga orang pria yang berlutut di hadapan Li Shang Yue ketiganya nampak tenang.
“Baik Putri.” Pria itu langsung berdiri menghampiri Li Shang Yue dan langsung memegang pedang biru milik Li Shang Yue.
Brakkk
“Lay…!” seru kedua temannya.
Pria ketiga yang bernama Lay itu jatuh terduduk dengan pedang biru di tangannya. Tangannya melotot menatap Li Shang Yue yang bisa mengangkat pedang seberat di tangannya itu.
“Lakukan!” titah Li Shang Yue dengan suara datar miliknya.
Lay yang mendengar itu berusaha bangkit berdiri tegak dengan pedang biru yang ada di tangan kanannya.
“Aku harus bisa.” Tekad Lay dalam hati mengangkat pedang biru itu dengan kedua tangannya.
Jleb
Uhukk uhukk
Tanpa adanya keraguan sedikitpun Lay menancapkan pedang biru itu di perutnya. Darah segar mulai keluar dari perut Lay dengan deras. Tak hanya lewat luka di perut saja tapi pria itu juga terbatuk darah.
Lay menoleh ke arah Li Shang Yue yang berwajah datar tanpa ekspresi. Lay mengangkat tangannya bersiap untuk menekan pedang biru itu agar semakin mensuknya.
Hap
Tangan Lay yang ingin menekan pedang itu langsung di tangkap oleh tangan kecil Li Shang Yue.
“Cukup,” bisik Li Shang Yue dengan suara rendah namun terdengar lembut.
Li Shang Yue memegang ganggang pedang birunya lalu menariknya kembali hingga Lay lagi lagi memuntahkan seteguk darah dari bibirnya.
__ADS_1
“Selamat, mulai sekarang kamu telah menjadi pengikutku.” Ucap Li Shang Yue dengan senyum tipis.
“Kalian juga jika ingin menjadi pengikutku maka luka tangan kalian dengan pedang biru ini,” ucap Li Shang Yue dengan lantang menunjuk kedua pria yang masih berlutut di depannya.
Tanpa saling menoleh, tanpa berpikir dua kali, dan tanpa keraguan sedikitpun kedua pria itu langsung berdiri di depan Li Shang Yue.
Jleb
Jleb
Uhukk uhukk
“Apa yang kalian lakukan? Aku menyuruh kalian untuk melukai tangan kalian!” bentak Li Shang Yue yang menatap kedua orang di depannya itu.
“Itu tidak adil untuk teman kami, dia terluka di perut maka kami juga harus seperti itu.” Jawab pria pertama.
“Berikan!”
Pria kedua segera mencabut pedang itu dari perutnya lalu di berikannya kepada Li Shang Yue kembali.
“Mulai saat ini kalian adalah anggotaku,” LI Shang Yue tersenyum tipis dengan berbalik menatap ke arah jendral Xin yang berdiri mematung menatap ke arahnya.
“Untuk kalian terutama anda Jendral Xin, tolong jaga anak buah anda agar tidak mengusik orang-orangku karena jika itu terjadi maka bayarannya adalah nyawa.” Sarkasme Li Shang Yue yang penuh penekanan pada setiap katanya.
Setelah berkata seperti itu Li Shang Yue segera berbalik menghadap kembali ketiga orang yang terluka itu.
“Ayo, ikuti aku.”
Li Shang Yue segera melangkah pergi meninggalkan arena pelatihan. Namun, baru saja melangkah Li Shang Yue langsung di hentikan oleh seseorang.
“Tunggu!”
Li Shang Yue yang mendengar suara itu langsung menghentikan langkahnya. Badannya menoleh ke arah asal suara.
“Ada apa? Katakan dengan cepat karena saya sibuk dan tak punya waktu. Anak buah saya sedang terluka mereka butuh obat.” Kata Li Shang Yue dengan sinis.
Jendral Feng maju ke depan dengan menatap Li Shang Yu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jendral tersenyum tipis menatap Li Shang Yue dengan tatapan lembut lalu berkata,
“Jadilah Putri,” ucap Jendral Feng kepada Li Shang Yue.
Sontak apa yang di katakan oleh Jendral Feng langsung membuat para prajurit kaget dan saling berbisik-bisik satu sama lain.
“Saya tidak mau.” Tolak Li Shang Yue langsung berbalik tapi terhenti lagi.
__ADS_1
“Aku mohon, jadilah putri kecilku.” Jendral Feng bahkan tanpa rasa malu memohon agar Li Shang Yue mau menjadi putrinya.
Li Shang Yue yang mendengar permohonan Jendral Feng hanya mengangkat alisnya. Li Shang Yue ingin menolak hanya saja setiap menatap wajah Jendral Li Shang Yue merasakan kerinduan.
“Jika menjadi putrimu apa aku akan di sayang?”
“Ya tentu, tentu kamu akan di sayang dan aku akan menjaga dan melindungimu.”
“Aku tidak akan di buang `kan?”
Deg
Jendral Feng yang mendengar pertanyaan itu meluncur dari mulut Li Shang Yue tertegun. Matanya menatap Li Shang Yue dengan sendu gadis itu, gadis sekecil dirinya harus merasakan penderitaan yang begitu keras. Rumah yang harusnya menjadi tempat aman untuknya berlindung justru rumah itu yang menjadi tempat dirinya menderita lahir batin.
"Aku janji demi nyawaku kamu tidak akan di buang, di kucilkan, dan di hina. Kamu akan mendapatkan apapun yang kamu mau. Hanya saja kamu tidak akan bisa merasakan kasih sayang Ibu karena istriku sudah meninggal 20 tahun lalu dan aku tidak mempunyai selir satu orang pun." Terus terang Jendral Feng.
Li Shang Yue yang mendengar itu langsung terdiam. Kepalanya tertunduk sedih kenapa takdir selalu mempermainkannya. Baik di kehidupan dulu ataupun di kehidupan sekarang apakah ia juga tidak akan mendapatkan kasih sayang ibu?.
“Apa aku akan di berikan makanan enak setiap hari? Seperti kue kering dan daging misalnya,”
Jendral Feng yang mendengar apa yang di katakan oleh Li Shang Yue hampir tertawa. Bagaimana bisa gadis itu memikirkan makanan. Bukan hanya Jendral Feng tapi semua yang berada disana merasa lucu. Bahkan Jendral Xin yang hanya diam sedari tadi langsung menggigit pipinya dalam-dalam agar tidak tersenyum.
“Apapun itu, akan aku berikan asal kamu mau menjadi Putriku.”
“Baiklah, aku setuju menjadi Putrimu tapi berita ini tidak boleh sampai bocor di luar. Jika tidak…,”
“Kamu tenang saja, akan ayah bereskan untukmu.” Potong jendral Feng dengan wajah berseri-seri.
“Hm, aku pergi dulu.” Li Shang Yue langsung berbalik pergi di ikuti ketiga orang di belakangnya.
“Kalian semua dengar! Apapun yang kalian dengar hari ini tidak boleh bocor di luar, PAHAM!” teriak Jendral Feng.
“Baik Jendral!” sahut mereka serentak.
“Bagus, lanjutkan latihan kalian.” Titah Jendral Feng yang berlalu pergi.
“Aku punya Putri, Aku punya Putri, Aku punya Putri.” Jendral Feng melewati Jendral Xin dengan terus menggumankan kata aku punya putri.
“Jendral Feng tersenyum? mimpi apa aku semalam hingga melihat Jendral Feng Tersenyum.”
Jendral Xin yang mendengar bisik-bisik para prajurit hanya bisa diam dengan ekspresi yang entahlah.
“Dia benar-benar tersenyum?”
__ADS_1