
,"Saya disini Nona…!"
Semuanya langsung menoleh ke arah asal suara hingga mereka melihat langsung Lay yang berjalan mendekati mereka semua.
"Kau sudah selesai?" Tanya Cha Si menatap Lay yang terlihat lebih segar dari tadi.
"Sudah, terima kasih atas pil yang anda berikan nona," Lay membungkukkan badannya pada Li Shang Yue.
"Tak apa, itu hal biasa," balas Li shang Yue dengan santai.
Krucukk krhcukk
Mereka semua langsung menoleh ke arah asal suara dimana suara itu berasal dari perut si Li Shang yue.
"Hehe aku lapar," kata Li Shang Yue cengengesan sendiri.
Fan Hu yang dekat dengan Li Shang Yue hanya tersenyum mengelus kepala Li Shang Yue dengan lembut.
"Sabar ya, sebentar lagi," ucap Fan Hu yang membalik daging ayam itu.
Lay yang melihat bagaimana pria di depannya mengelus kepala Li Shang Yue langsung melayangkan tatapan tajam seragam silet ke arah pria itu.
"Pria ini benar-benar menyebalkan, kenapa dia sangat dekat dengan Yue'er?" Kesal Lay dalam hati.
Beberapa saat kemudian akhirnya ayam panggang mereka semua masak. Li Shang Yue dengan paling semangat mengambil daun pisang yang sudah di kumpulkan tadi. Gadis itu membukanya hingga untuk meletakan ayam-ayam itu untuk dimakan.
"Ayo makan…!" Ajak Li Shang Yue yang langsung mengulurkan tangannya.
Tak
Fan Hu menatap tajam Li Shang Yue yang hanya bisa cemberut.
"Kenapa kau memukul tangannya?" Kesal Lay yang menatap tajam Fan Hu.
"Kau tidak lihat, itu masih sangat panas," balas Fan Hu dengan ketus.
__ADS_1
Lay menatap ayam yang ingin di ambil oleh Li Shang Yue yang masih berasap-asap. Yuren yang melihat jika sang Nona sangat ingin makan segera mengulurkan tangannya untuk mengalirkan udara dingin ke arah ayam itu.
"Eh apa bisa seperti itu?" Kaget Li Shang Yue.
"Silahkan Nona, itu sudah tidak panas lagi," ucap Yuren.
Li Shang Yue yang mendengar itu langsung menggulung bajunya lalu meraup ayam bakar itu. Gadis itu makan lahap seperti biasanya membuat mereka semua hanya bisa tersenyum tipis. Seburuk apapun mood Li Shang Yue akan langsung membaik jika dihadapkan dengan makanan.
Setelah menyelesaikan acara makan malam mereka semua langsung menuju tempat yang akan di jadikan tempat istirahat.
"Yuyu ayo tidur disini,"
Fan Hu dan Lay saling menatap tajam satu sama lain karena menawarkan secara bersamaan.
Li Shang Yue menatap ke arah Lay dan juga Fan Hu yang sudah mempersiapkan tempat tidur.
Melihat Li Shang Yue yang sepertinya terlihat bingun memilih antara Fan Hu dan juga Lay. Tak ingin membuat Li Shang Yue merasa bingung membuat Fan Hu langsung mengangkat kain yang sudah dia susun sedemikian rupa lalu di pindahkan ke tempat Lay.
"Tidurlah Yuyu," kata Fan Hu yang mengekus kepala Li Shang Yue.
"Terima kasih," Li Shang Yue langsung membaringkan dirinya di tempat yang sudah di sediakan oleh Lay.
"APA KALIAN TIDAK BISA BEKERJA DENGAN BENAR HA…? AKU MEMINTA OBAT UNTUK MENGHILANGKAN BEKAS-BEKAS INI TAPI APA INI? AKU HANYA MENDAPATKAN BANYAKNYA SESUATU YANG MENJIJIKAN INI…?" teriak Selir Hua Rong yang memarahi 3 orang tabib di depannya.
Sejak kabar jika sang Kaisar akan mengangkat selir baru membuat selir Hua Rong ketar ketir. Apalagi di tambah dengan dirinya yang masih dalam kondisi seperti sekarang membuat Selir Hua Rong takut. Selir Hua Rong tentu saja takut posisinya di geser oleh Selir Kaisar yang baru. Hal yang paling ditakutkan Selir Hua Rong adalah posisi yang dia incar selama ini ternyata justru tidak dia dapatkan.
Permaisuri…
Tata itu adalah hal yang dia nantikan selama bertahun-tahun. Apa jadinya jika dia tidak bisa memiliki tahta itu padahal dia sudah berusaha sekelas itu. Memikirkan posisinya tergeser di tambah dengan posisi yang dia incar akan besar peluang di isi orang lain membuat Selir Hua Rong mengamuk.
"Aku tidak mau tahu, kalian cari obat untuk mengobati. Jika tidak kepala kalian yang aku tebas…!" Teriak Selir Hua Rong.
"Baik selir," ketiga tabib itu langsung keluar dengan cepat dari kamar Selir Hua Rong. Mereka tidak akan menetap dan menerima kemarahan dari seorang Selir Hua Rong.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
Selir Hua Rong yang sedang marah-marah langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu kamarnya do ketok dari luar.
"Masuk…!" Teriak Selir Hua Rong.
Ceklek
"Selamat malam yang mulia Selir Hua Rong," sosok itu membungkukkan badannya menghadap sang Selir.
"Ada apa? Apa persiapan perjamuan sudah siap?" Tanya Selir Hua Rong pada sosok itu.
"Hampir selesai Selir,"
Mendengar akan hal itu tentu saja sudah menyulut amarah Selir hua Rong. Tangannya mengepal sempurna dengan mata yang melotot tajam.
"Aku tidak mau tahu lakukan apapun untuk menghentikan perjamuan itu," kata Selir hua Rong dengan marah.
"Tapi selir…,"
"Aku tidak terima bantahan apapun kau tahu itu. Jika sampai Yang Mulia mengangkat selir maka posisi ku bisa terancam. Lebih parahnya lagi posisi yang aku incar selama bertahun-tahun ini bisa saja di dapatkan oleh orang lain. Kamu tahu aku sudah banyak berkorban hanya demi posisi itu. Aku tidak mau tahu cari cara untuk menghentikan perjamuan itu," teriak Selir hua Rong dengan penuh penekanan pada setiap katanya.
Mendengar kemarahan Selir hua Rong membuat sosok itu tak lagi berbicara. Jika dia menjawab lagi maka sosok akan mendapat hukuman dari selir Hua Rong.
"Akan saya lakukan Selir," jawab sosok itu yang membungkukkan badannya.
"Hm pergilah, jangan lupa untuk mencarikan aku tabib hebat untuk menyembuhkan ku dan juga Putri Wei Rong. Anak itu tidak berguna sama sekali jika dia menjadi sampah seperti sekarang ini,"ucap selir Hua Rong dengan sinis.
Lagi lagi sosok itu hanya bisa diam menerima apa yang Selir Hua Rong katakan. Bahkan dengan teganya sang Selir mengatakan jika Sang putri merupakan sampah.
"Saya permisi Selir," sosok itu membungkuka. Badannya lalu keluar dari kamar selir hua Rong dengan tergesa-gesa.
"Apapun yang terjadi pemilihan selir itu tidak boleh terjadi lagi. Aku tidak akan membiarkan dia seenaknya saja padaku. Aku tidak akan membiarkan posisi kh tergeser apalagi sampai posisi Permaisuri tidak bisa aku dapatkan. Aku sudah banyak berkorban untuk posisi itu, aku tidak akan membiarkan orang lain meraih posisi itu. Tidak akan pernah…!" Kata Selir Hua Rong dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
__ADS_1
Usahanya bertahun-tahun akan sia-sia jika dia harus berakhir menjadi wanita Kaisar Li yang diasingkan.
"Kenapa juga anak itu sampai harus sakit-sakitan segala. Lebih parahnya lagi kenapa kultivasinya sampai menurun drastis. Karenanya posisiku sudah sangat terancam," geram Selir Hua Rong dengan kesal.