Rebirth Of Queen Needles

Rebirth Of Queen Needles
bab 165


__ADS_3

Matahari telah keluar dari tempatnya membuat kicauan burung di dalam hutan itu saling bersahutan satu sama lain. Kelompok Li Shang Yue yang memang berada di hutan langsung mulai terbangun satu persatu tinggal satu yang masih asyik di mimpi indahnya entah apa yang dia impian.


Sosok yang masih tertidur lelap tanpa terganggu dengan adanya kicauan burung dan juga sinar matahari tak lain dan tak bukan adalah Li Shang Yue. Gadis itu bahkan dengan nyenyak nya tertidur dengan memeluk buntelan kain yang di jadikan seperti guling.


Lay yang melihat Li Shang Yue masih tertidur hanya tersenyum kecil. Dirinya tentu tahu jika sang Nona memang tukang tidur dan tukang makan namun badannya tetap kecil.


"Yuren jaga Nona, aku akan berburu dulu. Aku yakin saat Nona bangun pasti yang dia cari pertama adalah makanan," kata Lay yang mengambil pedangnya bersiap untuk pergi berburu.


"Tunggu…!" Lay menoleh ke arah asal suara.


Fan Hu mengambil pedangnya berjalan mendekati Lay. Tentu saja dia juga akan berburu karena jika satu orang saja tidak akan cukup.


"Kalian jaga Yuyu, aku akan ikut dengannya untuk berburu," kata Fan Hu pada teman-temannya.


"Aku ikut, aku akan mencari buah-buahan saja. Kalian jaga Yuyu dengan baik," kata Hi An yang langsung berjalan mendekati Fan Hu dan Lay.


"Ayo kita berangkat," Ajak Hi An mengajak kedua pria yang berwajah datar itu untuk pergi berburu.


Ketiganya masuk ke dalam hutan mencari buruannya hingga mereka menemukan seekor rusa yang sedang minum di sungai.


"Ini bagajmana cara menangkapnya? Kita tidak punya panah," bisik Hi An.


Fan Hu dengan Lay saling melirik satu sama lain sebelum keduanya menganggukan kepala samar. Saat ini keduanya memutuskan untuk berdamai dulu guna untuk menangkap rusa itu. Jika mereka bisa menangkap rusa itu maka mereka tidak perlu masuk dan berjalan jauh dari sisi Li Shang Yue nanti.


Fan Hu dan Lay langsung menuju ke arah yang berlawanan membuat Hi menjadi bingung seketika melihat kedua kanannya yang sedang mengendap-ngendap.


"Hey apa yang kalian lakukan?" Kata Hi An dengan suara yang sedikit tinggi.


Sontak saja Fan Hu dan Lay langsung berbalik menatap tajam Hi An.


"Diam, jangan banyak tanya. Daripada kamu banyak tanya mending gunakan elemen tumbuhan mu itu untuk menangkap rusa itu," kesal Lay yang menatap tajam Hi An seperti ingin menelannya hidup-hidup.


"Baik-baik," balas Hi an dengan takut.


Gubrak

__ADS_1


Tiba-tiba saja mereka mendengar suara yang keras dengan serentak mereka menoleh ke arah asal suara yang dimana Fan Hu baru saja bangun dari tanah dengan wajah yang kotor.


"Dasar bodoh jangan hanya diam lihat rasanya bodoh…!" Teriak Can Hu yang langsung menarik pedangnya mengarahkannya pada rusa yang sudah berlari kencang itu.


Laya dan Hi An yang mendengar teriakan Fan Hu tidak jadi tertawa saat melihat rusa itu lewat di depan mereka.


"Sialan..! Cepat kejar…!" Kata Lay yang langsung menghadang rusa itu.


Fan Hu dan Lay berusaha untuk menangkap rusa itu namun tidak bisa karena kalah cepat. Begitu pula dengan Hi An yang menyerang rusa dengan menggunakan elemen tumbuhannya untuk menarik tumbuhan mengikat rusa tapi bukannya rusa yang kena justru kadang mengikat Fan Hu dan Lay membuat kedua pria itu kesal bukan main.


"Dasar bodoh…! Serang yang benar sialan..!" Teriak kesal Lay yang memotong tanaman rambut di kakinya.


"Kami menyuruhmu untuk menangkap rusa itu bukan menangkap kami Hi An..!" Teriak Fan Hu yang benar-benar kesal dengan tingkah konyol sang sahabat.


"Maaf, kau tahu aku tidak terlalu tahu menggunakan elemen ini bagaimana. Jadi aku selalu gagal mengikutinya," balas Hi An yang sedang berusaha mengurang rusa itu di lingkaran tanaman rambut miliknya.


"Daripada aku capek-capek mengejarnya mendingan aku biarkan saja si kalajengking merah yang menangkapnya," kata Hi An dalam hati dengan senyum kemenangan.


Dengan semangat empat lima Hi An langsung mengeluarkan Kalajengking merah yang dia simpan di cincin ruangnya lalu menyuruhnya untuk menghapus rusa itu.


Sedangkan Lay dan Fan Hu yang baru terbebas dari lilitan tumbuhan rambut Hi An langsung melototkan mata mereka saat melihat kalajengking merah milik Hi An sudah mendekati rusa target mereka. Keduanya langsung berteriak panik.


"HI AN JAUHKAN KALAJENGKING MERAH MILIK MU DARI RUSA ITU….!" teriak Fan Hu dan Lay secara bersamaan.


Tak


Terlambat sudah rusa itu sudah mati kaki kalajengking yang menancap sempurna di atas perutnya.


"HI AN…..!" teriak Fan Hu yang menggelegar di hutan itu hingga burung-burung berterbanban kesana kemari.


"Eh apa salahkan? Kalian menyuruhku untuk menangkap rusa itu kan? Akh sudah menangkapnya. Lalu apalagi salahkan?" Tanya Hi An dengan wajah tak berdosa.


"Temanmu bukan temanku," ucap Lay frustasi akan ulang dari Hi An.


Tak

__ADS_1


Fan Hu memukul kepala Hi An dengan kesal, "Kami menyuruhmu menangkap rusa itu menggunakan elemen tumbuhan milikmu bukan kalajengking itu."


"Apa bedanya? Yang penting kan rasanya dapat," kata Hi An dengan santai.


"Iya dapat tapi rusanya tidak bisa di makan,"


"Kenapa?"


"KALAJENGKING ITU BERACUN OTOMATIS RUSA ITU JUGA IKUT BERACUN," teriak Lay dan Fan Hu dengan lantang.


Ting


Hi An langsung menjatuhkan rahangnya lalu menatap ke arah rusa yang sudah mati itu. Matanya kembali berbalik menatap ke arah Fan Hu dan juga Lay.


"Aku lupa," kata Hi An yang cengengesan.


Fan Hu dan Lay segera berbalik berjalan memasuki hutan dengan kesal. Kedua pria itu ingin sekali mematahkan batang leher Hi An untuk melampiaskan emosi mereka berdua. Sudah capek-capek mengejar rusa belum lagi selalu terkena serangan Hi An justru rusanya malah kena racun karena ulah dari peliharaan Hi An.


"Sudah jatuh eh malah tertimpa batu pula," batin Fan Hu dan Lay melirik kesal Hi An yang berjalan di belakang mereka.


"Buaknnya membantu malah menyusahkan," guman Lay yang sepertinya pria itu benar-benar kesal.


Setelah beberapa saat berjalan mereka mulai menemukan buruan walau hanya seekor kelinci ci dan juga ayam hutan. Sedangkan Hi An juga sudah mendapatkan beberapa buah-buahan seperti pisang, apel, dan alpukat.


"Sutt ada kijang sana," bisik Fan Hu pada Lay.


Lay yang mendengar bisikan Fan Hu langsung menoleh ke arah asal yang di tunjuk oleh Fan Hu.


"Kita serang berdua saja, jangan beritahu dia," kata Lay yang mendekati Kijang yang sedang minum itu.


"Ini pakai ini," Fan Hu segera memberikan sebuah tombak pada Lay.


"Terimah kasih," ucap Lay yang langsung melempar tombak itu ke arah kijang.


Tak

__ADS_1


Brukk


__ADS_2