
“Yue’er jika kamu punya waktyu luang maka sering-seringlah berkunjung kemari,” kata Selir Agung yang memeluk Li Shang Yue.
“Ibunda tenang saja, Yue’er akan sering berkunjung jika nanti Yue’er sudah kuat,” balas Li Shang Yue.
“Jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan,” ucap Permaisuri Shashang.
“Baik permaisuri,”
“Yu’er maafkan gege yang pernah membentakmu,” ucap Pangeran kedua Ming Jian yang memeluk Li Shang Yue.
“He aku sudah melupakannya,”
“Hati-hati di jalan jangan lupa kirimkan aku surat jika kamu sudah sampai di kediaman Jendral Feng,” ucap Putra Mahkota yang tidak memeluk Li Shang Yue.
“Berlatihlah yang keras Gege, karena aku akan kembali dan mengalahkanmu,” kata Li SHang Yue dengan senyum manis di bibirnya.
“Aku tahu aku akan kalah jika kamu tidak menyerah waktu itu. Jangan kira aku tidak tahu jika kamu sengaja mengalah Yue’er,” balas Putra Mahkota Ju dengan menatap gemas gadis kecil yang ada di depannya itu.
“Hehehe aku tidak mungkin membuat gege ,alu bukan?” kata Li Shang Yue. Di pertandingan kemarin itu memang dirinya mengalajh karena tidak mungkin Li Shang Yue membuat Putra Mahkota kalah di tangannya. Hal itu akan menjadi penghinaan untuk seorang Putra Mahkota.
“Yue’er jaga kesehatanmu dan hilangkan sifat polos dan lugu mu Nak. Di dunia ini sedikit orang yang mendekatimu dengan tulus. Jangan mudah percaya pada orang lain karena mereka bisa kapan saja menusukmu dari belakang. Ingatlah untuk selalu mengandalkan diri sendiri daripada orang lain,” Kaisar Ming memeluk gadis kecil yang sudah menjadi Putrinya itu. Tak hanya itu Kaisar Ming juga ternyata memberi sebuah pesan pada Li Shang Yue untuk tidak mudah percaya pada orang lain.
Selesai berpamitan Li Shang Yue langsung masuk ke dalam kereta kuda di bantu dengan Pelayan Se se dan juga Aron.
Perjalan mereka lalui dengan cepat hingga tak terasa 3 hari sudah berlalu. Selama di perjalanan tidak sedikit mereka mendapat amsalah tapi selalu di selesaikan oleh Jendral Feng dan juga Xin Qion. Hingga akhirnya mereka sudah sampai di kediaman Jendral Feng dengan selamat tanpa ada yang cacat walau ada beberapa prajurit yang terluka karena bertyarung dengan hewan buat atau para para bandit.
__ADS_1
Saat sampai di gerbang kediaman Feng mereka di kagetkan dengan tiga orang pemuda yang sedang berdiri seperti menunggu kedatangan mereka. Ketiga orang itu adalah May Yun, Chan Si, dan Lay.
Jika ada yang lupa, Othor ingatkan kembali. Chan Si, May Yun dan juga Lay ada di part bagian awal. Mereka adalah 3 pengawal yang bersedia berada di pihak Li Shang Yue saat Li Shang Yue dulu bertarung dulu dengan Jendral Xin di istana.
“Salam Nona,” ketiga pria itu langsung membungkuk saat melihat Li Shang Yue menghampiri mereka.
“Loh kok kalian disini? Yang lain pada kemana?” tanya Li Shang Yue.
“Menjawab Nona, anggota yang lain saat ini sedang berlatih di kediaman Nona. Selama Nona pergi kami memutuskan untuk berlatih ilmu dasar kultivasi dan juga beladiri tapi maaf ami hanya mengajari mereka sampai setahu kami bertiga,” terang May Yun.
“Tak apa, aku senang karena kalian punya inisiatif untuk belajar. Setelah ini aku sedniri yang akan turun taangan untuk berlatih. Oleh karena itu kalian harus siapkan mental dan fisik kalian untuk menghadapi pelatihanku. Aku tidak akan melatih kalian dengan ringan,” kata Li Shang Yue dengan suara datar dan dingin.
“Kami akan menerimanya Nona,” jawab mereka bertiga dengan serentak.
Pria itu mati-matian untuk menahan diri agar tidak berlari memeluk Li Shang Yue. Bertahun-tahun dia lontang lantung di 3 alam hanya untuk mencari keberadaan gadis kecil yang merupakan adiknya. Tak di sangka penantiannya akhirnya berbuahkan hasil hanya saja dia tidak mungkin membawa Li Shang Yue kesana jika kekuatan sang adik masih seperti itu. Untuk kesana kekuatan mereka harus setara dengan Ranah Importal.
“Ayahanda bertahanlah, aku yakin Mei-mei akan segera kuat,” lanjut sosok itu yang menatap punggung Li Shang Yue.
Li Shang Yue berjalan menuju ke kediamannya bersama Pelayan Se se di belakangnya dan beberapa pengawal lain yang membawa barang Li Shang Yue. Sampai disana Li Shang Yue dapat melihat jika halaman depannya memang sekitar 50 orang sedang melakukan latihan dasar beladiri ada juga yang saling membantu.
Saat tersadar jika di depan mereka ada orang yang membeli dan membebaskan mereka sontak mereka langsug menghentikan latihan mereka lalu membungkuk memberi hormat pada Li Shang Yue.
“Salam Nona dan selamat datang kembali,” ucap mereka serentak dengan membungkukkan badannya mereka semua.
Li Shang Yue yang melihat itu hanya tersenyum tipis sebelum membuka suaranya.
__ADS_1
“Bangunlah, hentikan latihan kalian. Istirahatlah besok pagi aku sendiri yang akan melatih kalian. Latihan yang kalian akan jalani bukan latihan santai seperti ini jadi segeralah untuk mmengistirahatkan tubuh kalian semua,”
“Baik Nona,” jawab mereka serentak.
Selesai itu mereka semua dengan serentak langsung menyingkir memberikan jalan untuk Li Shang Yue bahkan barang yang di abwa pengawal di belakang Li Shang Yue mereka ambil alih. Jika satu orang tidak mampu mengangkatnya maka mereka saling membantu satu sama lain.
Li Shang Yue yang melihat kerjasama orang-orang itu langsung menyunggingkan senyum misterius.
“Tadinya aku akan menurunkan niatku untuk membuat kelompok. Akan tetapi melihat mereka membuat aku semakin yakin untuk membangun sebuah kelompok yang kuat dari yang terkuat. Tidak ada yang tahu amsa depan seperti apa oleh karena itu au akan membangun sebuah kelompok untuk menjaga keluarga dan orang-orang yang aku sayang ke depannya,” kata Li Shang Yue mantap pada keputusannya.
Beberapa bulan lalu memang Li Shang Yue menurunkan niatnya untuk memangun sebuah kelompok apalagio saat melihat puluhan mayat dari anak buahnya yang mati. Namun sekarang Li Shang Yue yakin untuk membangun kelompok itu karena saat ini dirinya emrasakan sebuah firasat jika suatu saat nanti sesuatu yang tak enak akan terjadi.
Sedia payung sebelum hujan, itulah ayng dilakukan Li Shang Yue saat ini. Sebelum bencana itu datang maka dia aan membangun pasukannya sendiri hingga ia bisa bergerak sendiri tanpa harus tunduk pada perintah siapa.
Sedangkan di tempat lain jika Li Shang Yue sedang menyusun strategi untuk membangun sebuah kelompok maka di dalam kamar Selir Hua Rong kini sedang terdengar teriakan kesakitan dan juga abrang-barang yang di jatuhkan.
“PANAS….! GATAL..! PELAYAN PANGGILKAN AKU TABIB SEKARANG JUGA… CEPAT..!” teriak Selir Hua Rong dengan anda yang sangat keras.
Saat pulang dari kekaisaran Ming Selir Hua Rong sudah merasakan gejala itu. Namun tak ada yang menduga jika akan separah ini. Tubuhnya yang halus kini sudah memerah karena sering di garuk. Bahkan kulitnya sudah berdarah karena tidak tahan menahan rasa gatal di tubuhnya.
“Sial apa yang terjadi pada tubuhku kenapa sangat gatal seperti ini?” teriak Selir Hua Rong yang menggaruk tubuhnya
“KALIAN KIPAS YANG BENAR,...! AKU MASIH MERASAKAN RASA PANAS..!” bentak Selir Hua Rong pada pelayannya.
“Ada apa ini?”
__ADS_1