Rebirth Of Queen Needles

Rebirth Of Queen Needles
bab 87


__ADS_3

Li Shang Yue terbangun saat hari sudah sore dengan gerakan malas gadis itu bangun dari atas pembaringan menuju permandian untuk mencuci muka. Li Shang Yue tidak panik saat berada di ruangan itu karena Li Shang Yue tahu jika ruangan itu pasti milik dari Jendral Feng ayah barunya.


Ceklek


Ternyata hari sudah sore ada baiknya jika aku berlatih,” guman Li Shang Yue yang langsung menuju ke halaman depan.


Sampai Li Shang Yue berhenti di bawah pohon yang rindang. Gadis itu mengambil ranting lalu mulai bergerak layaknya sedang memainkan sebuah tarian pedang. Gerakan yang dilakukan Li Shang YUe terlihat lebut namun mematikan karena gerakan itu adalah gerakan taichi.


“Ah aku lupa jika aku masih punya buku satu lagi yang tentang pedang,” guman Li Shang Yue yang mengayunkan tangannya.


Cring


Sebuah buku dengan sampul sebuah pedang muncul di depannya itu. Li Shang Yue segerad duduk lalu mulai membaca buku itu yang ternyata berisi 3 jurus dengan tingkat tinggi. Ketiga jurus itu adalah,


Tebasan seribu pedang adalah jurus pertama yang berada di buku itu. Jurus itu bisa menghasilkan seribu pedang yang akan tunduk pada perintah darinya.


Tebasan Kilat adalah jurus kedua yang di jelaskan Tebasan Seribu Pedang pada jurus pertama akan membentuk sebuah pedang besar dan memiliki tebasan di atas rata-rata.


Tebasan Kematian Adalah jurus ketiga yang dimana pergabungan antara jurus pertama, kedua, dan ketiga itu. Di jurus Tebasan Kematian bertujuan untuk membunuh lawan dengan sekali serangan.


Li Shang Yue dengan sangat konsentrasi membaca dan memahami semua gerakan di dalam buku itu hingga sebuah seringaian aneh tercetak di bibirnya.


“Jadi ketiga jurus ini saling berhubungan? Namun ini an terlihat keren dan dahsyat. Aku harus bisa menguasainya dengan baik,” guman Li Shang Yue yang langsung berdiri lalu mulai menutup mata mulai menggerakan dirinya mengikuti gambaran di buku yang dia baca tadi.


Percobaan pertama gagal namun tak pantang menyerah Li Shang Yue kembali mencoba yang kedua kalinya dengan berusaha lebih berkonsentrasi dengan penuh. Kerja keras tak menghianti hasil seperti itulah apa yang di alami oleh Li Shang Yue.


Puluhan pedang terlihat melayang di udara dengan getaran aneh. Keringat dingin mulai menetas dari kening Li Shang Yue tapi gadis itu terus berusaha membentuk kekuatan seribu peedang itu sempurna.


“TEBASAN SERIBU PEDANG…!” teriak Li Shang Yue yang langsung mengarahkan telapak tangannya ke arah depan.

__ADS_1


Boom


Boom


Suara ledakan dari jurus itu begitu keras hingga membuat semua orang yang ebrada di kediaman itu bisa mendengarnya dengan jelas.


“Ayah itu suara apa?” tanya Jendral Xin dengan menatap penuh tanda tanya pada sang Jendral Feng.


“Ledakan itu berasal dari tempat Nona Shang Yue,” sahut Aron dengan tenang.


Namun di detik berikutnya mereka langsung berdiri lalu berlari keluar dari ruangan itu menuju tempat asal ledakan itu.


Sedajngkan kembali pada posisi Li Shang Yue yang terduduk di bawah pohon setelah melemparkan serangan itu.


“Gila ternyata menguras tenaga juga, tapi tak apa dengan begini aku akan semakin kuat nanti,” guman Li Shang Yue yang bersandar opada pohon itu menutup matanya.


“PUTRIKU…!”


Li Shang Yue yang menutup mata langsung membuka matanya saat mendengan suara yang sudah ia kenali itu.


“Ayah dan gege? Untuk apa mereka datang mencariku?” batin Li Shang Yue yang bertanya-tanya.


“AYAH.. AKU DISINI DI HALAMAN DEPAN BALIK POHON…!” sahut Li Shang Yue juga dengan teriakan.


Jendral Feng dan juga Jendral Xin yang mendengarnya pun langsung menuju asal suara. Namun saat sampai disana ketiga orang itu menjatuhkan rahang mereka saat melihat sesuatu di depan mereka itu. Bagaimana tidak taman yang dulunya hidup tenang dan tentram kini justru layu dan juga seperti habis di babat.


Sontak saja memikirkan itu membuat Jendral Feng dan juga Jendral Xin panik karena berfikir jika Li Shang Yue di serang oleh sekelompok orang.


“YUE’ER…. APA KAU TERLUKA?” tanya Jendral Feng dengan panik.

__ADS_1


“Yuyu apa kamu baik-baik saja?” Jendral Xin mendekat menempelkan punggung tangannya ke arah kening Li Shang Yue.


“Aku baik-baik saja gege, ayah. Kalian tidak perlu khawatir akan keselamatan Yue’er,” jawab Li SHang Yue yang masih senantiasa menutup matanya.


Bukannya tenang justru ayah dan anak itu semakin panik saja melihat Li Shjang Yue yang tak membuka matanya.


“Yue’er katakan pada ayah siapa yang menyerang kamu nak?” tanya Jendral Feng dengan lembut namun tatapannya menajam seperti mata pedang.


“Eh…, tidak ada yang menyerang Yue’er,”sahut Li Shang Yue yang bengon sendiri kenapa orang di depannnya itu mengatakan jika dia di serang.


“Lalu jika memang Yue’er tidak di serang itu apa Yue’er?” Jendral Feng menatap tajam Li Shang Yue karena beranggapan jika Li Shang Yue berbohong padanya.


Namun sepertinya Li Shang Yue justru salah mengartikan. Li Shang Yue Menganggap jika dia marah karena kediaman itu hancur karena ulahnya. Sebenarnya Li Shang Yue juga merasa tidak percaya jika efek dari jurus yang baru saja dia peragakan itu akan sedahsyat itu.


“Itu bukan bekas serangan dari orang itu tadi Yue’er berlatih jurus baru dan Yue’er mengarahkannya disana lalu terjadilah seperti itu. Yue’er meminta maaf karena telah merusak kediaman Ayah tapi Yue’er berjanji akan menggantinya lagi dengan bibit bunga yang baru,” terang Li Shang Yue.


Li Shang Yue menundukan kepalanya dengn meremas jari-jari tangannya. Li Shang Yue memiliki prinsip jika dia bersalah maka dia akan menundukan kepala tapi ketika dia benar maka dia akan terus menegakan kepalanya tanpa peduli siapa yang dia hadapi.


Deg


Jendral Feng tertegun mendengar ucapan Li SHang Yue yang akan mengganti tanaman itu dengan bibiy yang baru. Lebih membuatnya sakit adalah saat melihat Li SHang Yue yang menundukan kepalanya seperti anak kecil yang meminta ampunan.


“Aku lupa jika anak ini pernah mengalami penyiksaan yang tiada tara selama 14 tahun. Walau aku mengobatinya selamanya aku tidak yakin trauma yang di sebabkan oleg orang-orang biadap itu akan bisa lenyap dari dalam diri putri kecilku,” batin Jendral Feng yang teriris melihat ketakutan Li Shang Yue yang sampai bergetar ketakutan.


“Li Shang Yue bodoh berhentilah bergetar ketakutan aku tidak sebodoh dirimu untuk terus tunduk. Ayah juga tidak sekejam Kaisar bodoh itu,” umpat Li Shang Yue.


Entah kenapa Li SHang Yue merasakan perasaan takut yang tiada taranya saat mendengar suara datar dan nada tinggi jendral Feng barusan. Tadinya Li SHang Yue juga bingun akan tetapi setelah berpikir beberapa saat akhirnya Li SHang Yue tahu jika asal dari ketakutan ini berasal dari Putri Li SHang Yue yang sebenarnya.Walau bagaimanapun sisa kesadaran dari Li Shang Yue asli masih 30% di dalam tubuh itu. Jiwa Li Shang Yue yang asli akan menghilang sempurna ketika dia bisa membalaskan dendamnya dengan tuntas.


“Pak Tua, kamu membuat adikku ketakutan,”

__ADS_1


__ADS_2