
“Salam Yang Mulia Selir saat ini Putri Wei Rong sedang mengamuk di dalam kamarnya. Sesuatu yang buruk terjadi pada wajahnya,”
“APA…?AYO KITA KESANA CEPAT…!”
Selir Hua Rong dengan wajah panik dan cemas segera melangkah ke arah kamar Putri Wei Rong yang memang berada di paviliunnya karena paviliun Putri Wei Rong telah rata dengan tanah karena ulah dari Li Shang Yue.
Sedangkan di sisi lain Kaisar juga melakukan hal yang sama seperti apa yang di lakukan oleh Selir hua Rong yaitu menuju kediaman Putri Wei Rong setelah ada pelayan yang memberitahunya keadaan Putri Wei Rong.
Beberapa saat kemudian Selir Hua Rong sampai di kamar Putri Wei Rong lalu di susul Kaisar Li yang juga datang tak berselang lama Selir Hua Rong.
“Salam Yang Mulia, Salam Yang Mulia Selir,” para pelayan dan juga penjaga di depan pintu kamar Putri Wei Rong segera berlutut.
AAAA
PRANG
Selir Hua Rong dan Kaisar Li hanya bisa saling melirik satu sama lain saat mendengar suara pecahan barang-barang yang berasal dari dalam kamar. Tak hanya suara barang pecah namun suara tangisan dan juga teriakan dari Putri Wei Rong sampai terdengar jel;as di luar kamar.
“Buka pintunya biarkan kami masuk melihat kondisi Putri Wei Rong,” titah sang Kaisar.
“Baik Yang Mulia,” seorang penjaga langsung bangun lalu membuka pintu kamar Putri Wei Rong.
Ceklek
Kaisar Li bersama Selir Hua Rong masuk ke dalam kamar Putri Wei Rong ayng sudah berantakan seperti kapal pecah. Semua barang di dalam kamar itu telah hancur berkeping-keping membuat Kaisar Li menarik napas dalam-dalam.
Selir Hua Rong yang melihat Putri Wei Rong yang sedang menangis di pojokan langsung menghampirinya begitu juga Kaisar.
“Wei’er ada apa? kenapa kamu mengamuk seperti ini? Siapa yang menyakitimu? Katakan pada Ibunda, biar Ibunda yang memberinya pelajaran,” kata Selir Hua Rong yang menyentuh bahu Putri Wei Rong.
Selir Hua Rong belum melihat keadaan wajah Putri Wei Rong karena pada posisinya Putri Wei Rong menangis dengan menenggelamkan wajahnya di antara tangannya dan lutut jadi tidak kelihatan wajahnya.
__ADS_1
“Putri Wei Rong berhentilah menangis dan katakan apa yang terjadi…!” sentak Kaisar Li yang setengah kesal.
“HIks hiks wajahku..,”
Dengan gerakan pelan Putri Wei Rong mendongak ke atas hingga wajahnya bisa di lihat oleh Kaisar Li dan juga Selir Hua Rong.
“AAAAA A…APA YANG TERJADIO DENGAN WAJAHMU…!” teriak Selir Hua Rong yang terjungkal di belakang.
Selir Hua Rong melihat dengan attapan ngeri kepada Putri Wei Rong begitu juga Kaisar Li yang merasa tak percaya melihat wajah rusak sang putri.
“Apa yang terjadi pada wajahmu Wei Rong?” tanya Kaisar Li dengan mengalihkan pandangannya tak menatap ke arah Putri Wei Rong.
“Saya tidak tahu Yang Mulia, saat saya terbangun sudah seperti ini,” lirih Putri Wei Rong dengan sedih.
“PELAYAN CEPAT PANGGILKAN TABIB….! PANGGILKAN TABIBI…!” teriak histeris Selir Hua Rong yang merasa cemas melihat wajah buruk sang putri.
Ceklek
Li Shang Yue membuka pintu kamarnya hingga pintu terbuka maka terlihatlah Jendral Xin sedang duduk termenung di depan pintu kamarnya.
“Yue’er..,”
“Gege ayo kita ke ruang makan..! Yue’er lapar,” kata Li Shang Yue yang langsung pergi begitu saja.
Jendral Xin yang melihat sifat santai sang adik hanya bisa geleng-geleng kepala. Jendral Xin tak menyangka bagaimana bisa Li Shang Yue bersikap santai seperti itu setelah membuat mereka salah satunya dirinya di tendang dengan tidak etisnya.
Namun bagaimana lagi Jendral Xin juga tidak mungkin memarahi Li Shang Yue. Jika saja dirinya berani memarahi gadis itu dan ketahuan oleh Jendral Feng maka dirinya an benar-benar habis di tangan pria tua itu.
Setelah berjalan beberapa saat akhirnya mereka sampai di ruang makan. Li Shang Yue dengan enteng menendang pintu ruang makan lalu amsuk ke dalam dengan tanpa adanya rasa bersalah sedikitpun. Sedangkan Jendral Xin dan penjaga yang melihat sifat bar-bar Li Shang Yue hanya bisa menggelengkan kepala saja.
“Sepertinya aku harus mencarikan guru tata krama untuk Yue’er. Dengan sifatnya seperti itu dia tidak akan menemukan pria yang mau bersamanya,” kata Jendral Xin dalam hati.
__ADS_1
“Yue’er kamu sudah datang? Lihat ayah menyuruh para pelayan untuk memasakan daging. Kamu bisa makan sepuasnya,” kata Jendral Feng dengan semangat mendudukan Li Shang Yue di sampingnya.
Jendral Xin yang melihat bagaimana sang ayah membawa Li Shang Yue di kursi samping Jendral Feng ikut tertegun. Selama bertahun-tahun kursi itu kosong karena memang kursi itu milik mendiang ibundanya. Bahkan dirinya yang memang putranya saja tak di beri kesempatan untuk duduk di kursi itu.
“Walau bukan aku yang mendudukinya setidaknya ayah mulai bisa hidup kembali setelah kepergian ibunda,” guman Jendral Xin yang duduk di depan Li Shang Yue.
“Yue’er bisa memakan semua ini?” Li Shang Yue menatap Jendral Feng seperti anak kucing.
“Makanlah,” Jendral Feng meletakan sepotong daging di atas mangkuk Li Shang Yue.
Li SHang Yue yang emmang menyukai daging langsung saja menyantap makanannya dengan lahap. Bahkan Jendral Feng dan Jendral Xin sampai berhenti makan hingga menatap Li Shang Yue yang makan begitu lahap hingga pipinya mengembang.
Gadis itu tidak peduli jika dirinya menjadi bahan tontonan untuk kedua orang itu. Saat ini yang ada di kepala Li SHang Yue hanya ada makanan.
“Ay-yah dan geh-ge tidak makan?” tanya Li Shang Yue kepada kedua pria di depannya itu dengan mulut yang penuh.
Jendral Feng dan juga Jendral Xin yang mendengarnya langsung kaget dengan wajah yang memerah malu karena kedapatan sedang mendapatkan pertanyaan seperti itu.
“Kami juga makan Yue’er, Xin’er makanlah,” kata Jendral Feng kepada sang putra tak lupa juga mengambilkan sepotong daging untuk Jendral Xin di letakan di atas mangkuknya.
Mereka makan dengan begitu bahagia dengan perasaan masing-masing. Jendral Feng yang bahagia karena putra dan putrinya bisa saling menyayangi walau hanya kakak dan adik angkat. Jendral Xin yang bahagia karena memiliki adik seperti Li Shang yue dan juga kehidupan kelam sang ayah mulai sembuh semenjak kehadiran Li Shang Yue.
Sedangkan Li Shang Yue bahagia karena bisa makan daging banyak. Gadis itu akan menjadi bocah jika sudah di depan makanan lezat.
Jika di kediaman Jendral suasananya begitu bahagia karena kehadiran Li Shang Yue. Maka berbanding terbaling dengan keadaan istana yang kini kacau balau dengan Putri Wei Rong semakin mengamuk karena seluruh badannya terasa gatal.
Selir Hua Rong dan beberapa pelayan hanya bisa memegang Putri Wei Rong agar tidak menggaruk badannya hingga terluka.
“Bagaimana Tabib? Apa putri Wei Rong keracunan?” tanya Kaisar Li dengan penasaran.
“Begini Yang Mulia…,
__ADS_1