
“Pelayan Se se dimana Nona muda?” tanya Jendral Feng yang tiba-tiba muncul.
“Itu…,”
“Gadis kecil itu menghilang lagi, aku bahkan sampai di ikat di pohon itu,” gerutu Aron.
Jendral Feng dan Xin Qion menatap arah yang di tunjuk Aron. Disana memang ada pohon dengan tali yang telah jatuh.
“Lalu dimana Yue’er?”
“Kami tidak tahu Jendral, tadi Nona menyuruh saya untuk mengambilkannya makanan. Saat saya kembali saya tidak menemukannya lagi bahkan saya sudah mengelilingi kediaman ini hingga saya menemukan Aron yang sedang di ikat di pohon,” terang pelayan Se se dengan menundukan kepalanya.
“Kamu kenapa bisa di ikat Aron?” Jendral Feng bertanya pada Aron.
“Tadi Nona ingin jalan-jalan di hutan dan saya melarangnya tapi malah saya berakhir di pohon itu,” kata Aron dengan wajah yang setengah kesal.
“Nona memang benar-benar aktif, dia bahkan menjadi seperti seekor kera yang terus menjahili orang lain,” kata Aron dalam hati.
“Ayah bagaimana jika Yue’er benar-benar pergi menuju hutan? Ini sudah sore sebentar lagi mau malam,” kata Xin Qion dengan cemas.
“Justru karena itu saya melarangnya pergi Tuan Muda tapi Nona malah membuatku tak sadarkan diri dan mengikatku di pohon itu,’’ kata Aron.
Jendral Feng yang mendengarnya juga ikut menggaruk kepala. Jendral Feng kira karena selama berada di kerajaan Ming Li Shang Yue tidak membuat masalah Jendral Feng menganggap jika sang putri sudah bertobat tidak tahunya malah semakin menjadi.
“Haruskah aku mendaftarkan Yue’er ke kelas tata krama? Tapi dengan sifatnya yang nakal itu aku yakin seratus persen Yue’er pasti akan selalu kabur. Lebih parahnya lagi adalah dia akan mengganggu orang lain,” kata Jendral dalam hati yang memijit pelipisnya.
“Ayah lebih baik kita mencari Yue’er ke hutan segera sebelum hari gelap,” kata Xin Qion yang mendesak sang ayah untuk segera ke hutan.
Baru saja Jendral Feng akan membuka mulut untuk menjawab tiba-tiba seorang prajurit datang berlarian ke arah mereka.
“Salam Jendral Feng, Jendral muda Xin,” ucap pengawal itu.
“Ada apa? Kenapa kalian berlarian seperti itu?” tanya Jendral Feng dengan dahi yang mengkerut.
“Itu Jendral para kuda lepas dari kandangnya,” lapor prajurit itu dengan napas yang terengah-engah.
__ADS_1
“Bagaimana bisa?” kaget semua orang.
Bagaimana bisa kuda-kuda itu lepas dari kandangnya sementara mereka tidak pernah memberi perintah untuk melepaskannya.
“Tuan saya…, saya melihat Nona muda berada di kumpulan para kuda,” kata salah satu prajurit.
“APAAAAA?” teriak mereka semua. Terutama Jendral Feng dan Xin Qion langsung melototkan matanya mendengar kabar itu.
“Anak nakal itu,” geram Aron yang mengepalkan tangannya.
“Yue’er kenapa kamu sangat nakal?” guman Jendral Feng dan juga Xin Qion dalam hati.
Dengan langkah lebar mereka semua langsung menuju tempat para kuda. Setelah berjalan beberapa saat akhirnya mereka sampai di tempat kuda di simpan. Dari jauh disana mereka melihat seorang gadis kecil yang tengah berbaring di atas kuda yang paling menonjol karena kuda itu hanya dia yang memiliki bulu putih bersih.
“Yue’er…..!”
Li Shang Yue yang sedang berbaring langsung bangun saat mendengar suara yang sangat dia kenali.
“Ayah…!” seru Li Shang Yue yang berlari menghampiri Jendral Feng.
“Sembarangan…! Dia Yue’er itu gadis cantik tahu,” kesal Jendral Feng yang melototi Xin Qion Sang putra.`
“Tapi lihatlah nakalnya minta ampun,” balas Xin Qion dengan senyum menyebalkan.
“Ya sudah kalau begitu kamu jangan menemui atau memeluk Yue’er lagi. Mulai saat ini Yue’er hanya bisa memeluk ayah aja,” kesal Jendral Feng.
Sontak saja hal itu membuat Xin Qion gelagapan sendiri karena tadi dia hanya mau membuat kesal sang ayah. Tak disangka Ayahnya benar-benar marah dan membuat dia tak bisa berkutik apapun lagi.
“Mana bisa seperti itu, Yue’er juga harus memelukku,’ kata Xin Qion denga segera berbalik berbalik berlari ke arah Li Shang Yue untuk memeluk gadis itu.
Tapi sayang seribu sayang kali ini Li Shang Yue hanya mengacuhkannya lalu berlalu memeluk Jendral Feng.
“Ayah…!”
Li Shang Yue bergelayut manja di lengan Jendral Feng membuat Xin Qion tersenyum masam. Wajahnya di tekuk hingga tidak enak di pandang mata.
__ADS_1
‘‘Kamu melepaskan kuda-kuda itu?”
Jendral Feng bertanya dengan nada yang lemah lembut membuat Li Shang Yue nyaman. Padahal tadi di perjalanan Jendral Feng sudah menyakinkan diri untuk memarahi Li Shang Yue tapi saat melihat wajah polos dan lugu Li Shang Yue langsung meruntuhkan amarah Jendral Feng.
‘‘Jika melihat wajah polosnya mana bisa aku marah. Mungkin karena disini dia merasa aman dan di terima sisi anak-anaknya keluar. Tak apalah lagi pula umur Yue’er baru 14 tahun.” kata Jendral Feng dalam hati.
“Sudah sekarang pulang mandi, lihat pakaianmu kotor tanpa sisa hanya karena kamu bermain di rerumputan itu,” ucap Jendral Feng yang membalik badannya dan juga Li Shang Berjalan menjauh dari kandang kuda.
‘‘Xin Er urus semuanya…!” titah Jendral Feng pada Xin Qion sang putra.
“A…apa?”
Xin Qion membulatkan mata dengan mulut yang terbuka saat mendengar perintah dari sang ayah. Matanya melirik sekitar melihat kuda-kuda itu yang berhamburan segala arah. Sedikit bingung karena di lapangan yang biasanya di gunakan untuk latihan kuda kini lapangan itu di tumbuhi rumput-rumput hijau yang subur hingga kuda-kuda itu makan dengan begitu lahap. Anehnya lagi sejauh ini Xin Qion tidak menemukan adanya satu kuda pun yang membuang kotorannya di lapangan itu.
Hahhhh
Terdengar helaan napas berat dari Xin Qion yang menandakan pria itu sungguh frutasi dengan apa yang di lakukan oleh sang adik itu.
“Yue’er yang berbuat tapi aku juga yang kena,” guman Xin Qion namun tak urung ia mulai menarik tali kuda-kuda itu membawanya di kandang di bantu dengan beberapa pengawal dan juga Aron yang membantunya.
Anehnya kuda putih milik Li Shang Yue bergerak sendiri menuju kandangnya tanpa harus ditarik dulu membuat Xin Qion dan juga Aron saling pandang satu sama lain.
“Kuda putih itu kenapa seperti punya pemikiran layaknya manusia?” guman Xin Qion yang menatap kuda putih yang sudah berada di dalam kandangnya.
“Aku merasa dia bukan kuda biasa, samar-samar aku merasakan adanya energi spiritual pada kuda putih itu. Namun sepertinya dia sengaja bersembunyi maka dari itu biarkan saja. Jika sudah waktunya jika memang kuda itu bukan kuda biasa maka dia akan menunjukan wujudnya,” terang Aroon yang mendengar apa yang dikatakan Xin Qion tadi.
“Lalu bagaimana jika ternyata kudanya jahat?”
‘‘Tidak, aku tidak merasakan adanya aura jahat di tubuhnya apalagi saat bersama Nona Yuyu kuda itu terlihat menjaga Nona Yuyuy,”
Xin Qion yang mendengarnya hanya bisa menarik napas. Apapun yang terjadi atau apapun yang dilakukan jika memang itu adalah demi kebaikan untuk Li Shang Yue maka Xin Qion akan diam.
“Aku harap begitu,” guman Xin Qion lirih.
Xin Qion dan Jendral Feng terlalu takut jika harus kehilangan Li Shang Yue. Bagi mereka berdua Li Shang Yue adalah matahari sekaligus bulan untuk mereka berdua. Dia adalah cahaya dalam kegelapan yang menyinari hidup mereka. Jika Li Shang Yue tidak datang di kehidupan mereka mungkin sampai saat ini mereka masih seperti dulu. Xin Qion yang di kenal dengan julukan Jendral muda yang bringgas dan sangat dingin. Lalu Jendral Feng Jendral besar yang sangat kejam tanpa ampun.
__ADS_1
Dulu bahkan hanya untuk tersenyum saja mereka tidak bisa. Hingga Li SHang Yue datang memberi warna baru. Bukan hanya senyuman namun Li Shang Yue membuat mereka tahu apa itu arti tawa yang sesungguhnya.