
Sinar matahari bersinar terang di atas sana namun sosok gadis kecil yang masih berada di atas ranjang itu terlihat sedang santai tanpa merasa terganggu ataupun peduli jika haris sudah tinggi apa belum.
Gadis kecil itu tak lain dan tak bukan adalah Li Shang Yue yang masih asyik tertidur lelap tanpa peduli dengan apapun. Di luar kamarnya di depan pintu berdiri Jendral Xin yang sedang menantinya.
“Biarkan aku masuk bukankah ini sudah tinggi matahari? Aku ingin menemui meimei ku..!” sentak Jendral Xin yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang adik.
“Maaf Tuan tapi Tuan besar tidak mengizinkan siapapun masuk jika bukan Nona muda sendiri yang bangun,” kata Aron dengan tegas menghalangi Jendral Xin masuk ke dalam kamar Li Shang Yue.
“Tapi aku ingin…,” uapan Jendral Xin langsung berhenti saat pintu kamar Li Shang Yue terbuka tiba-tiba.
Li Shang yue keluar dengan rambut acak-acakan dan mata yang masih tertutup rapat. Akan tetapi Jendral Xin yang melihat Li Shang yue merasa senang tanpa peduli lagi jika bisa saja sebentar lagi dia dalam bahaya.
“Yue’er..,”
“Kalian mengganggu tidurku sialan,” umpat Li Shang Yue yang langsung mengangkat kakinya hingga di detik berikutnya sebuah kibasan angin muncul menerba mereka semua.
Wushhhh
Bruk
Bruk
Bruk
“YUE’ER…!”
Jendral Xin hanya bisa berteriak kesal saat Li Shang Yue dengan gampangnya menerjang mereka dengan anginnya hingga mereka terlempar jauh dan menghantam tanah dengan kasar.
“JANGAN MENGGANGGU TIDURKLU LAGI JIKA TIDAK AKAN AKU BUNUH KALIAN SEMUA…!” teriak Li Shang Yue dengan suara yang lantang.
BRAK
Li Shang Yue menutup pintu kamarnya demngan kencang membuat Jendral Xin dan para pengawal hanya bisa melongo saja di buatnya.
“Apa salahku? Aku hanya ingin membangunkannya?” tanya Jendral Xin dengan mengelus-elus pantatnya yang sakit.
“Nona memang tidak suka jika tidurnya di ganggu bahkan ini masih hukuman ringan jika Nona mengamuk akan sangat mengerikan,”
Jendral Xin dan yang lainnya langsung menoleh ke arah asal suara. Seorang pria yang memegang sebuah cangkul berdiri di belkang mereka.
“Kau siapa?” tanya Jendral Xin dengan datar.
“Saya Lay anggota Nona Yuyu,” jawab pria itu yang ternyata Lay.
“Apa yang kau lakukan disini/”
__ADS_1
“Hanya membersihkan tanaman saja,” jawab Lay yang langsung berbalik pergi.
“Hey kau…,”
“Saya tidak akan memberi hormat lagi pada anda Jendra Xin karena memang Nona memerintahkan kami untuk tidak tunduk pada siapapun itu,” ujar Lay yang semakin menjauh.
“Ini semua salah kalian, kenapa kalian tidak bilang jika Yue’er akan mengamuk jika di bangunkan?” sentak Jendral Xin yang menatap kesal ke arah pengawal yang berjaga di depan pintu kamar Li Shang Yue.
“Kami juga tidak tahu menahu akan soal ini Jendral Xin, Tuan besar hanya berpesan untuk tidak emmbangunkannya selain dia tidak bangun sendiri makanya kami melarang anda masuk,” kata sang pengawal dengan kepala ang tertunduk.
“Jika di pikir-pikir ini bukan salah kami tapi salah anda Tuan muda,” timpal Aron tiba-tiba.
Kedua pengawal itu hanya diam lalu menganggukan kepalanya dengans amar. Karena memang semuanya berawal dari Jendral Xin. Jika saja Jendral Xin tidak datang maka masalah ini tidak akan menimpa mereka seperti ini.
“Kalian menyalahkan ku begitu?” kesal Jendral Xin dengan wajah memerah.
“Ka..kami ti..tidak menyalahkan a…anda Tuan muda ta..tapi memang seperti itu adanya. Ji..jika Tuan muda ti..tidak datang maka kita tidak akan berakhir seperti ini,” kata sang pengawal dengan terbata-bata.
“Kalian..,” Jendral Xin hanya bisa menarik napas karena tidak mungkin dia mengajak mereka bertarung jika sampai bertarung maka bisa saja mereka akan langsung di hajar lagi oleh Li Shang Yue.
Sedangkan di istana terlihat Putri Wei Rong baru bangun dari tidur nyenyaknya. Wanita muda itu terus menggaruk wajahnya yang terasa gatal.
“Ssttt sebenarnya ada apa denganku kenapa wajahku begitu gatal?” guman Putri Wei Rong yang turun dari ranjang miliknya.
Putri Wei Rong segera mengambil cermin yang berada tak jauh darinya. Namun saat melihat abyangan wajahnya seketika itu pula Putri Wei Rong berteriak kaget.
Putri Wei Rong berteriak nyaring saat melihat kondisi wajahnya yang sudah memerah dan di penuhi dengan jerawat besar dan juga bernanah.
“TIDAK….! APA YANG TERJADI PADA WAJAHKU? PELAYAN…! PELAYAN…!”
Putri Wei Rong berteriak memanggil pelayan dengan terus meraba wajahnya yang sudah sangat menakutkan dengan jerawat yang tumbuh di mana-mana.
Sedangkan teriakan Putri Wei Rong membuat para pengawal dan juga pelayan yang sedang berjaga langsung kaget dan menuju ke junjungan mereka.
“Putri ada apa?” tenya para pelayan saat melihat junjungan mereka yang sedang meraung-raung menangis histeris di lantai kamar.
“PANGGILKAN TABIB..! CEPAT PANGGILKAN TABIB…!” teriak Putri Wei Rong yang mengamuk.
“Putri..,”
PRANG…
“AKU BILANG PANGGILKAN TABIB SIALAN..!” bentak Putri Wei Rong pada pelayannya.
“Astaga…,”
__ADS_1
Para pelayan itu langsung kaget terbelalak saat melihat wajah junjungan mereka yang kini telah berwajah jelek. Tak ingin membuat masalah lagi salah satu pelayan langsung berlari keluar mencari tabib untuk sang putri.
Prang
Brukk
Srekk
“AAAAAAAA”
Putri Wei Rong mengamuk dengan menghancurkan apapun yang ada di dalam kamarnya itu. Para pelayan dan penjaga yang melihatnya hanya bisa berdiam kaku menjauh dari jangkauan Putri Wei Rong. Saat ini mereka tidak berani bertindak karena jika mereka maju dalam keadaan sang putri marah dapat di pastikan jika mereka akan menjadi sasaran empuk kemarahan dari junjungan mereka.
“Cepat panggil Yang Mulia Kaisar dang juga Selir Hua Rong,” perintah salah satu pelayan yang memberi perintah kepada kedua pelayan di depannya untuk memanggil Selir Hua Rong dan juga Kaisar Li.
“Baik,”
“Cepatlah jangan sampai terlambat..!”
Kedua pelayan itu langsung berlari keluar menuju tempat Kaisar Li dan juga Selir Hua Rong. HIngga salah satu pelayan sampai di depan kamar Selir Hua Rong namun ada penjaga yang menjaga agar tidak ada orang yang masuk ke dalam kamar sang Selir.
“Ada apa kamu kemari? Yang Mulia Selir masih tidur belum bangun..!” sentak salah satu penjaga itu.
“Maafkan hamba karena menerobos tapi bisakah kalian membangunkan Yang Mulia Selir sekarang juga? Saat ini kondisi Putri Wei Rong sangatlah kacau. Putri Wei Rong sedang mengamuk di kamarnya karena terjadi sesuatu pada wajahnya,” terang pelayan itu dengan jujur.
“Apa kamu sedang bercanda? Kami tidak akan percaya begitu saja,” sinis salah satu penjaga itu.
“Tuan saya mengatakan yang sebenarnya, jika kalian tidak membangunkan Yang Mulia Selir baiklah saya tidak akan memaksa. Namun jika Kaisar bertanya kenapa Yang Mulia Selir Hua Rong terlambat datang menjenguk Putri Wei Rong maka kalian akan tanggung sendiri akibatnya,” Pelayan itu dengan terpaksa memberikan ancaman kepada kedua penjaga di depannya itu.
Kedua penjaga saling melirik satu sama lain sebelum menganggukkan kepala dengan samar sebagai tanda persetujuan;.
“Baiklah kamu tunggu disini,”
Penjaga itu segera mengetuk pintu kamar Selir Hua Rong dengan sedikit keras membuat orang yang sedang tertidur di dalam terganggu dan bangun.
“Sial4n, siapa yang mengganggu tidur nyenyak?” kesal Selir Hua Rong dengan suara serak orang bangun tidur.
“Ada apa?” teriak Selir Hua Rong tanpa membuka pintu.
“Pelayan Yang Mulia Putri Wei Rong sedang mencari anda Yang Mulia Selir,” jawab penjaga di luar pintu.
“Pelayan Wei’er? Ada apa lagi dengan anak itu?” guman Selir Hua Rong yang bangun lalu merapikan rambutnya tak lupa mengambil jubah luarnya.
Dengan gerakan malas Selir Hua Rong berjalan ke arah pintu. Membuka pintu dengan pelan hingga bisa melihat seorang pelayan sedang berlutut di depan pintu kamarnya.
“Ada apa? Kenapa Putriku sampai menyuruhmu datang mencariku?” tanya Selir Hua Rong dengan nada malas.
__ADS_1
“Salam Yang Mulia Selir saat ini Putri Wei Rong sedang mengamuk di dalam kamarnya. Sesuatu yang buruk terjadi pada wajahnya,”
“APA…?”