
“Pak Tua, kamu membuat adikku ketakutan,” desis Jendral Xin yang menatap tajam Jendral Feng begitu pula Aron yang menatap dingin Jendral Feng.
“Eh ayah tidak bermaksud memarahimu, ayah hanya takut amu di serang dan kamu menyembunyikan hal itu. Ayah hanya ingin kamu tidak menutupi apapun dari ayah,” kata Jendral Feng dengan cepat berjongkok mengelus kepala dari Li Shang Yue.
“Tapi Yue’er tidak di serang ayah, Yue’er hanya sedang berlatih jurus baru saja,” balas Li Shang Yue.
Glek
“Jurus baru? Sedahsyat ini? Ya Dewa apa dia benar-benar Putri yang di katakan rumor itu?” guman Aron yang menatap Li SHang Yue dengan bingung.
“Jurus baru? Ck ck aku bahkan tak bisa menyamai kultivasinya dan sekarang aku juga bahkan harus kalah darinya lagi. Tapi tak apa jika au kalah dia adalah adikku,” kata Jendral Xin dengan perasaan senang.
“Jurus apa Yue’er?” tanya Jendral Feng.
Ketiga orang di depannya itu menatapnya seperti sedang menantikan seorang bayi yang lahir. Rasa-rasanya Li SHang Yue ingin sekali tertawa karena ulah dari ketiga pria beda usia itu.
“Yue’er sedang menyempurnakan jurus Tebasan seribu pedang milik Yue’er,”
“TEBASAN SERIBU PEDANG?” teriak mereka bertiga kompak.
Li Shang Yue hanya bisa menutup mata lalu menganggukan kepalanya sebagai pertanda.
“I…ini dia aan benar-benar akan menjadi sosok yang tak bisa di usik di masa depan,” batin Aron yang menatap Li Shang Yue dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Sekarang sudah bukan? Jika sudah segera masuk ke dalam kamarmu. Hari sudah gelap kita akan segera makan malam segeralah bersiap,” kata Jendral Feng.
“Baik Ayah,”
__ADS_1
Jendral Feng segera berdiri lalu menyeret Jendral Xin dan juga Aron untuk ikut dengannya. Bahkan pria paruh baya itu tidak peduli menarik keras mereka berdua tanpa peduli protes keduanya. Setelah agak jauh dari kediaman Li SHang Yue barulah Jendral Feng melepaskan tarikannya pada kedua pria di depannya itu.
“Ayah kenapa menarikku seperti itu? Aku masih ingin berbincang dengan Yue’er,” kesal Jendral Xin karena sang ayah yang seenak jidat membawanya pergi.
“Dasar anak bodoh,” umpat Jendral Feng yang memukul kepala Jendral Xin, “Apa kamu tidak lihat jika saat ini hari sudah malam? Adik,u itu hanya makan kue kering tadi siang ia belum makan apa-apa sejak tadi pagi tahu…!” sentak Jendral Feng.
Mendengar apa yang dikatakan oleh sang ayah Jendral Xin langsung terdiam kaku. Pria muda itu lupa jika sanga adik belum makan sama sekali selain kue kering cemilan yang dibawakan oleh pelayan.
“Untuk kamu,” Jendral Feng menunjuk Aron, “Jangan pernah berfikir karena aku mengizinkanmu menjadi pengawal pribadi putriku kamu bebeas mendekati Yue’er ku,” tekan Jendral Feng yang menekan setiap katanya.
“Baik Tuan,” balas Aron dengan wajah datar.
“Cih aku kira hanya Kaisar Li yang akan begitu buta pada anak gadisnya. Akan tetapi sekarang aku sadar bahkan sebuta-butanya Kaisar Li akan lebih parah lagi pria tua ini. Bagaimana bisa dia begitu posesif kepada Putri?” kesal Aron dalam hatinya.
“Sudah sana kembali ke kediaman kalian masing-masing jangan hanya harus aku mengantar kalian seperti anak gadi saja,” ucap Jendral Feng dengan nada sindiran pedas.
Sedangkan situasi di istana terlihat Putri Wei Rong yang menatap pantulan dirinya di cermin buram di depannya sebagai cermin pada masa itu. Di belakang Putri Wei Rong terdapat dua pelayan yang sedang menyisir rambut Putri Wei Rong dan juga memasangkan segala aksesoris hiasan di kepala Putri Wei Rong.
“Bagaimana Putri, apa anda menyukainya?” tanya pelayan yang memakaikan beberapa perhiasan di atas kepala Putri Wei Rong.
“Apa-apaan ini kenapa sangat sedikit? Kaian ingat ya aku ini sebentar lagi akan menjadi Putri Mahkota Wei Rong jadi perhiasan yang aku gunakan harus mewah dan elegan agar aku tak mempermalukan ayahanda dan juga kekaisaran ini,” sentak dari Putri Wei Rong.
Kedua pelayan itu hanyabisa saling menatap satu sama lain sebelum bersujud di kaki Putri Wei Rong yang memohon ampunan.
“Mohon maafkan ami Yang Mulia Calon Putri Mahkota,” kata kedua pelayan itu.
Putri Wei Rong yang ingin marah langsung terhenti saat mendnegar kedua pelayan itu yang mengatakan Yang Mulia Calon Putri Mahkota. Dalam sekejap mata wajah marah dari Putri Wei Rong langsung berubah wajah memerah menahan malu.
__ADS_1
“Ehem.., sudahlah kalian cepatlah bangun. Kali ini aku tidak akan menghukum kalian karena aku cukup senang dengan itu. Akan tetapi jika kalian masih saja mencari perkara yang lainaku tak akan segan-segan menghukum kalian dengan hukuman cambukkan,” kata Putri Wei Rong dengan penuh akan ancamannya.
“Baik Putri,” jawab dari kedua pelayan itu.
“Cepat pakaikan lagi yang lain pastikan aku terlihat cantk malam ini,” pesan Putri Wei Rong dengan angkuh.
“Akan kami lakukan Putri,”
Kedua pelayan itu segera menambahkan beberapa hiasan kepala kepada Puteri Wei Rong. Hingga kepala itu kini penuh dengan hiasan yang sepertinya bukan lagi kepala tapi tempat gantungan hiasan rambut dan kepala. Andaikan jika ada Li Shang Yue pasti gadis itu akan tertawa terbahak-bahak melighat dandanan menor dari Puteri Wei Rong.
“Baiklah, mari kita ke ruang makan pasti Ayahanda dan Ibunda sudah menunggu disana,” ucap Putri Wei Rong dengan segera berdiri lalu keluar dari kamar itu menuju ruang makan yang terletak lumayan jauh dari kediaman Selir Hua Rong.
Setelah berjalan beberapa saat akhirnya mereka sampai di ruangan makan. Penjaga yang berjaga langsung membukakan pintu untuk Putri Wei Rong.
“Salam Ayahanda, salam Ibunda,” Putri Wei terlihat membungkukkan badannya memberi hormat kepada Kaisar Li dan juga Selir Hua Rong.
“Selir apa anda tidak mendidik Putri Wei Rong untuk tahu tata krama?” sentak Kaisar Li yang entah kenapa selalu sensi.
“Maksud Yang Mulia apa..?” Selir Hua Rong bertanya dengan wajah bu\=bingung.
“Kamu masih bertanya saat kesalahan putri kamu sendiri berada di depan mata..!”
“Tapi Yang Mulia…,”
“Apa kamu lupa Selir Hua Rong jika anak dari seolah selir di larang memanggilku hanya dengan sebuatan Ayahanda tanpa adanya embel-embel Yang Mulia. Apa sekarang kalian benar-benar tidak mempelajari tata krama yang benar? Apa perlu aku masukan lian di istana dingin agar kalian bisa menyadari kesalahan kalian?” sentak Kaisar Li yang hampir berteriak.
Entah kenapa Kaisar Li tidak menyukai saat Putri Wei Rong memanggilnya Ayahanda tanpa ada embel-embel Yang Mulia. Walau biasanya Putri Wei Rong akan memanggilnya seperti itu tapi kli ini entah kenapa Kaisar Li mendengarnya menjadi kesal.
__ADS_1
Sedangkan Selir Hua Rong dan Putri Wei Rong ahnya bisa menunduk diam. Sebenarnya mereka berdua merasa bingung kenapa Kaisar Li marah hanya karena soal panggilan. Selama ini bukankah Kaisar Li biasa saja lalu kenapa sekarang dia menjadi marah pikir Selir Hua Rong dan Putri Wei Rong.