Rebirth Of Queen Needles

Rebirth Of Queen Needles
Bab 205


__ADS_3

Hari terus berlalu dengan begitu cepat hingga tak terasa kini sudah 6 bulan berlalu dengan cepat tanpa mereka sadari.  Di sebuah halaman rumah berdiri seorang pemuda dengan terus mengayunkan pedangnya melawan beberapa prajurit yang mengepungnya dan menyerangnya. Terlihat pria itu tidak kesusahan sama sekali walau saat ini dia tengah terkepung.


Bugh


Trang


Orang-orang yang mengepung pria itu langsung terbang setelah pria itu langsung memukul mereka mundur dengan energi spiritualnya. Sosok itu mendengus dingin saat melihat prajurit yang dia latih sama sekali tidak memiliki peningkatan tang dia inginkan.


''Apa hanya ini kemampuan kalian? Bagaimana kalian akan menang di medang perang jika kekuatan kalian hanya seperti ini saja?" sentak pria itu yang menatap tajam para prajurit yang dia latih.


Mendengar akan hal itu para prajurit itu langsung saja menundukkan kepala mereka. Mereka semua tidak ada yang berani melawan atau protes dengan apa yang dikatakan oleh pria mudah itu. Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Jendral Xin lebih tepatnya Xin Qion.


Sejak kepergian Li Shang Yue Xin Qion semakin menjadi orang yang sangat dingin tak tersentuh sama sekali. Pria itu menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan melatih para prajurit dan membantu pekerjaan sang ayah yaitu Jendral Feng.

__ADS_1


''Istrahat setelah itu kita mulai kembali,'' ucap Jendral Xin yang langsung meleset pergi meninggalkan para prajurit di lapangan.


Selepas kepergian Jendral Xin para prajurit itu langsung saling melirik satu sama lain dengan menghela napas lega. Jujur saja tempramen sang Jendrall muda itu selama beberapa bulan ini terlihhat sangatlah menyeramkan. Bahkan jika mereka lengah sedikit saja dalam pelatihan maka tak akan segan-segan Jendral muda itu langsung menghukum mereka. Sejak saat itu mereka berlatih dengan keras tanpa mengenal lelah.


Jendral Xin terduduk sendiri di danau buatan yang begitu sunyi namun entah kenapa dia merasa nyaman akan dengan hal itu. Pria muda itu menatap danau buatan di depannya itu dengan sendu seperti sedang menunggu seseorang dan sangat merindukan seseorang itu.


''Yue'er kamu dimana sekarang? Sudah 6 bulan berlalu tapi tak pernah kamu mengirimkan surat untuk kami. Apa kau melupakan kami Yue'er? Apa kau hidup bahagia dan baik-baik saja disana?'' guman sosok itu dengan meneteskan air matanya.


Xin Qion yang mendengar suara itu langsung mendongak ke atas menatap pria yang sekarang duduk di sampingnya. Xin Qion hanya menatapnya sebentar lalu langsung kembali menatap danau kembali.


''Ayah tidak merindukan Yue'er? Aku sangat merindukannya. Kenapa Yue'er tidak mengirimkan kita surat ayah? Aku merindukannya,'' ucap Xin Qion yang nyaris seperti bisikan.


Hahhh

__ADS_1


Jendral Feng yang mendengar apa yang dikatakan oleh sang putra langsung menarik napas dalam-dalam dengan mengeluarkan-nya secara perlahan dengan menatap sendu putranya.


''Ayah juga merindukannya Xin'er tapi saat ini juga kita tidak bisa apa-apa. Dari awal Yue'er memang sudah mengatakannya jika dia ingin menjadi pengembara. Apa yang harus kita lakukan saat ini adalah medoankan dia agar dia tetap baik-baik dan selalu berada di lindungan Dewa. Ayah yakkin Yue'er akan kembali ketika dia sudah lelah mengembara oleh karena itu, kita harus menunggunya,'' terang Jendral Feng dengan senyum sendunya.


Jendral Xin yang mendengar apa yang dikatakan oleh sang ayah langsung menarik napas dalam-dalam menahan sesak dalam dadanya. Dirinya tak apa harus berpisah seperti ini tapi tidak bisakah Li Shang Yue mengirimkan mereka surat untuk mengobati rindu mereka.


''Sampai kapan kamu akan seperti ini? Lihat, badan kamu sudah kurus seperti ini Xin Qion. Para prajurit itu bukan tidak kuat melainkan kamu yang terlalu keras hingga tidak melihat perubahan mereka. Mereka sudah snagat berubah dan bahkan kekuatan mereka sudah setara dengan kekuatan prajurit dalam istana,''


''Ayah benar, aku terlalu egois selama ini,''


Kedua pria beda usia itu hanya bisa saling menghela napas saja. Selama 6 bulan terakhir mereka hidup seperti mayat hidup. Tidak ada lagi senyum manis dan tawa yang keluar dari mulut mereka. Kedua pria itu sudah seperti patung yang hanya berdiam diri. Semenjak Li Shang Yue pergi hidup mereka kembali gelap tanpa adanya cahaya lagi.


''Yue'er dimana pun kamu berada kami hanya berharap kamu baik-baik saja disana. Kami merindukanmu Yue'er,'' ungkap mereka dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2