Rebirth Of Queen Needles

Rebirth Of Queen Needles
bab 92


__ADS_3

Li Shang Yue berjalan pulang dengan Roti panggang di tangannya. Gadis itu tanpa terganggu sama sekali memakan makanannya seperti hanya dia yang ada di dunia itu. Saat melewati tokoh yang menjual senjata Li Shang Yue berbalik lalu masuk ke dalam tokoh itu.


“Nona…,”


Kedua pengawal itu ahnya bisa menarik napas lalu menyusul Nona kecil mereka yang benar-benar seperti anak kecil.


“Selamat datang Nona, ada yang bisa saya bantu?” sambut pemilik tokoh senjata itu.


“Saya hanya ingin melihat-lihat siapa tahu ada yang saya suka,” jawab Li Shang Yue dengan senyum tulus.


“Silahkan Nona,” ucap sang pemilik tokoh.


“Nino apa kau bisa mencari letak dimana sesuatu yang menarikmu itu?” tanya Li Shang Yue kepada Nino yang berada di ruang dimensi miliknya.


“Ada di bagian kanan anda Nona, saya merasakan energi kuat di arah sana. Nona cepat kesana,” teriak kegirangan Nino di dalam sana.


Yups Li Shang Yue masuk ke tokoh itu karena arahan dari Nino yang berada di dalam ruang dimensi.


Li Shang Yue berjalan ke arah yang di tunjuk oleh Nino menelusuri  senjata-senjata di depannya itu namun tak ada yang menarik perhatiannya. Hingga saat akan berbalik mata Li Shang Yue tak sengaja melihat sebuah belati yang berpasangan.


“Nona cepat beli belati itu, cepat Nona..!” heboh Nino sendiri.


“Itu memang menarik tapi apa gunanya lihat belati itu bahkan sudah berkarat,” guman Li Shang Yue yang terus memperhatikan belati itu.


“Nona belati itu bukanlah belati sembarang, belati itu adalah Belati Kembar Jiwa. Belati itu memiliki kelebihan dnegan memiliki jiwa sehingga bisa membunuh musuh yang di perintahkan oleh Tuannya. Nona harus membelinya karena tidak mungkin menggunakan kedua pedang yang sangat berbahaya itu di saat Nona bertarung nanti,” terang Nino dengan panjang kali lebar.


“Haish baiklah,” dengan wajah muung dan sedikit terpaksa Li Shang Yue mengambil Belati yang katanya adalah Belati Kembar Jiwa.


Deg


“Aneh kenapa aku merasa akrab dengan belati ini seakan-akan aku sering menggunakannya tapi aku baru memegangnya. Sudahlah mungkin perasaanku saja,” kata Liu Shang Yue yang langsung pergi ke arah pemilik tokoh.


“Apa Nona sudah mendapatkan apa yang Nona cari?” tanya sang pemilik tokoh.


“Aku mau ini,” Li Shang Yue menyodorkan kedua belati di tangannya.

__ADS_1


Pemilik tokoh yang melihat belati di tangan Li Shang Yue terkejut sebelum pemilik tokoh itu tersenyum tipis dengan tatapan yang sulit di artikan.


“Nona benar-benar ingin mengambil Belati ini?” tanya sang pemilik tokoh.


“Yah aku membeli ini, mau bagaimana lagi hanya ini yang menarik,” jawab Li Shang Yue yang acuh-tak acuh.


Uhukk uhukkk


Kedua pengawal dan juga pemilik tokoh itu sampai terbatuk-batuk karena ulah dari Li Shang Yue yang menjawab dengn santai tanpa peduli akan perasaan orang lain.


“Nona.., kenapa bicara Nona kecil lebih pedas di banding dengan Tuan jendral?” batin kedua pengawal itu.


“Jadi ini berapa?” Li Shang Yue bertanya dengan acuh.


“Jika Nona ingin mengambilnya amka ambillah saya tidak akan mengambil Koin karena itu barang rusak tak penting,” jawab sang pemilik tokoh.


“Baiklah jika seperti itu, Paman Pengawal ayo pulang aku mengantuk aku ingin tidur,” kata Li Shang Yue yantg langsung pergi begitu saja dari tokoh itu.


Tanpa mereka sadari jika pemilik tokoh itu menatap mereka dengan pandangan yang sulit di artikan lebih tepatnya adalah memandang ke arah Li Shang Yue.


`


Sedangkan di sisi ;ain terlihat Li Shang Yue yang berjalan dengan terlemah. Kedua pengawal di belakangnya langsung kaget saat melihat jika Nona kecil mereka sepertinya kelelahan.


“Nona kecil,”


“Paman Yue’er lelah, Yue’er mengantuk ingin tidurm,” ucap Li Shang Yue yang terdengar seperti rengekan anak kecil.


Kedua pengawal itu langsung saling pandang satu sama lain. Mereka ke pasar tidak menggunakan keret melainkan berjalan kaki karena Li Shang Yue yang tak ingin membawa kuda apalagi jika kereta kuda.


“Nona jika ingin Nona bisa naik ke punggung saya,” kata sang Pengawal yang tidak berharap lebih karena mana ada nona muda atau junjungannya yang mau bersentuhan dengan bawahan.


“Baiklah Paman pengawal,” ucap Li Shang Yue dengan riang berhenti berjalan.


Pengawal yang tadi mengusulkan ide itu kini terdiam kaku tak bisa bergerak sedikit pun. Pengawal itu tentu tidak menduga jika sang Nona muda itu akan dengan langsung mengiyakan usulannya. Bahkan tanpa ekspresi jijik datang menghadap padanya.

__ADS_1


“Baik Nona Kecil,” pengawal itu dengan gerakan cepat segera berjongkok di depan Li Shang Yue.


Li Shang Yue segera naik dio punggung sang pengawal hingga kini Li Shang Yue yang berada di punggung sang pengawal seperti seekor induk monyet yang membawa anaknya.


Lama berjalan akhirnya kedua pengawal itu sampai di kediaman Jendral Feng. Di depan gerbang sana terlihat Jendral Feng bersama Jendral Xin selaku Tuan Muda mereka dan juga Aron sang pengawal pribadi Li Shang Yue.


“Apa yang terjadi pada putriku?” tanya Jendral Feng dengan cemas karena melihat jika Li SHang Yue berada di gendongan sang Pengawal.


“Nona kecil lelah Tuan jadi saya menggendongnya, maafkan saya yang telah lancang menggendong Nona Kecil,” Pengawal itu hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda permintaan maafan.


“Sudah cepat bawah adikku ke kediamannya,” Jendral Xin segera memberi perintah kepada pengawal itu untuk segera membawa Li Shang Yue ke kamarnya.


“Baik Tuan muda,” pengawal itu segera pergi menuju kediaman Li Shang Yue di ikuti oleh Jendral Feng dan juga Jendral Xin beserta Aron.


Jika di kediaman Jendral Feng membawa kebahagiaan untuk Li Shang Yue maka berbeda lagi dengan kondisi istana saat ini terutama Putri Wei Rong.


Uhukkk uhukkk


Putri Wei Rong yang sedang meminum teh nya dengan santai tiba-tiba memuntahkan darah dari mulutnya. Sontak saja hal itu membuat Putri Wei Rong takut setengah mati.


“Uhuk ada apa denganku? Kenapa aku merasakan dada ku sangat sakit,” Putri Wei Rong membuang makanan di atas meja lalu mencuci mulutnya.


Gadis itu setengah mati memikirkan apa yang terjadi padanya hingga seperti ini. Namun berpikir sekeras apapun Putri Wei Rong tak menemukan hal yang mencurigakan.


“Sepertinya aku harus memeriksa ke tabib dada ku sangat sakit,” guman Putri Wei Rong yang langi-lagi meringis kesakitan.


“Pelayan…..!” teriak Putri Wei Rong yang memanggil pelayan.


“Ada apa Putri?”


“Panggilkan aku tabib ingat ini harus rahasia tidak ada yang boleh mengetahuinya termaksuk Ibunda dan juga Yang Mulia..!” Putri Wei Rong memberikan perintah dengan menekan kata-katanya.


“Baik Putri,” Pelayan itu segera berbalik keluar dari kamar sang junjungannya.


“Jika aku di racuni siapa yang meracuniku? Anak sialan itu tidak mungkin, Ibunda dia sudah tidak tinggal di istana lagi,”

__ADS_1


__ADS_2