
“APA MAKSUDMU KAMU AKAN BERADA DI PIHAK ANAK ITU DAN MENINGGALKANKU BEGITU HA…?”
`
Kaisar Li menatap tajam pengawal bayangannya yang sudah bertahun-tahun itu menemaninya tak di sangka hari ini tiba pengawal itu ingin pergi dari sisinya.
“Tugas saya telah selesai Yang Mulia, saat ini sudah saatnya saya menjadi pelindung untuk seseorang yang menjadi orang yang di sayang oleh Permaisuri,” kata Aron dengan tegas.
Selesai berkata seperti itu Aron langsung keluar dari ruangan sang Kaisar tanpa mendengarkan lagi apa yang di ucapkan. Aron sudah bertekad untuk melindungi Li Shang Yue.
Sedangkan di sisi lain Li Shang Yue dan yang lainnya baru sampai di kediaman Jendral Feng. Terlihat dari luar jika kediaman itu seperti begitu terawat dan begitu bersih.
Jendral Xin dengan siaga langsung turun dari kudanya lalu menghampiri Li Shang Yue membantu gadis itu turun dari kudanya. Sebenarnya Li Shang YUe tidak butuh bantuan karena tanpa adanya bantuan dari Jendral Xin pasti Li Shang Yue bisa turun sendiri. Namun karena Jendral Xin menawarkan bantuan membuat Li Shang Yue dengan senang hati menerima perlakuan itu karena dia sangat senang di perlakukan penuh akan kasih sayang seperti saat ini.
“Putriku ayo kita masuk,” Jendral Feng segera meraih tangan kecil Li Shang Yue membawanya masuk ke dalam kediamanya.
“Ayah di saat kau sudah mendapatkan putri kau melupakan aku?” teriak Jendral Xin yang kesal.
“Cih kau hanya anak laki-laki tak perlu di manja-manja tugasmu adalah medan perang sedangkan putriku hanya akan ada di rumah merias diri,” jawab Jendral Feng dengan senyum manis. Namun saat mendengar kalimat apa yang keluar dari mulut Li Shang Yue membuat Jendral Feng bungkam.
“Ayah aku tidak mau berdiam diri di rumah, aku tidak mau merias diri, aku hanya mau menjadi Dewi perang, seseorang yang memimpin banyak orang untuk berperang,” ujar Li Shang Yue dengan tegas.
“APA….? XIN QION KEMARI KAU…! APA YANG KAU KATAKAN PADA ADIKMU HA…?” teriak Jendrak Feng yang menggelegar di seluruh tempat kediamannya.
Jendral Xin yang mendengar sang ayah memanggilnya dengan nama aslinya langsung bergegas mendekat ke arah Jendral Feng.
__ADS_1
“Ada apa Ayah?” Jendral Xin bertanya kepada Jendral Feng.
“Masih bertanya? Apa yang kamu katakan pada adikmu ha?” Jendral Feng menatap tajam putranya itu.
‘Lihat saja aku akan benar-benar memberimu hukuman gantung terbalik jika kamu benar-benar mempengaruhi Yuyu,” kata Jendral Feng dalam hati.
“Apa maksud ayah? Aku tidak mengatakan apapun pada Yuyu,”
“Bohong..! Jika kamu tidak mempengaruhinya bagaimana bisa di lebih baik memilih pergi berperang di bandingkan merias diri di rumah?” sentak Jendral Feng dengan kesal menatap tajam Jendral Xin seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Jendral Xin yang mendengar apa yang dikatakan oleh sang ayah langsung menoleh ke arah Li Shang YUe yang hanya bisa cengengesan sendiri dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Lalu apa masalahnya ayah? Jika dia ikut ke medang perang berrati dia akan semakin kuat. Namanya akan semakin terkenal dan si Kaisar bodoh itu pasti akan menyesal,” cetus Jendral Xin yang justru senang jika Li Shang Yue mau terjun di medang perang artinya sekarang dia akan mempunyai peluang besar selalu dekat dengan adiknya.
“Dasar anak nakal kamu tidak tahu jika medang perang sangat menakutkan.. Bahkan untuk kesana saja harus mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu mereka tidak kembali. Putriku hentikan keinginanmu itu, kamu cukup menjadi seorang putri biasanya tak perlu membanggakan ayah bahkan jika kamu menjadi sampah kultivasi dan monster wajah ayah akan menerimamu tapi jangan pernah pergi ke medang perang,” Jendral Feng sangat sedih mendengar jika Putri kecilnya itu memiliki keinginan yang sangat jauh dari ekspetasinya.
“Ternyata mereka orang berbeda, jika itu dia maka dia dengan senang hati melepasku di medang perang karena di medang perang hanya akan ada adu kekuatan bukan adu sifat munafik. namun bagaimanapun bagiku mereka tetap orang yang sama, orang yang sama-sama menerimaku apa adanya,” kata Li Shang Yue dalam hati.
Jendral Feng yang mendengarnya tertegun namun jika dihadapkan dengan pergi berkelana dan masuk di medang perang Jendral Feng makan lebih memilih untuk menjadi Berkelana saja.
“Baiklah tapi tidak boleh masuk di medang perang.” kata Jendral Feng dengan tegas.
“Aku tidak berjanji karena untuk berjaga-jaga aku harus membuat kelompokku sendiri. Tidak ada yang menjamin jika kehidupanku di masa depan nanti tidak akan terganggu dengan adanya Kaisar dan kedua alat rusak itu di dekatnya,” kata Li Shang Yue dalam hatinya.
Sedangkan para pelayan dan prajurit kaget mendengar ada seseorang yang bernegosiasi dengan Jendral Feng. Padahal yang mereka ketahui selama ini tidak ada yang berani menyinggung Jendral Feng apalagi bernegosiasi termasuk Kaisar sendiri pun jika Jendral Feng Sudah membuka suara maka akan langsung terdiam tanpa mengeluarkan lagi taringnya.
__ADS_1
Akan tetapi di depan Li Shang Yue gadis kecil yang baru saja Jendral Feng angkat menjadi putrinya Jendral Feng langsung tunduk pada apa yang dikatakan oleh gadis kecil itu.
“Putri sangat hebat bisa membuat Jendral mati kutu,”
“Aku merasakan Putri akan menjadi orang berkuasa di masa depan,”
“Putri akan menjadi pembawa warna warni di kediaman ini,”
“Kau benar, lihat bahkan Jendral Feng dan Jendral Xin yang tidak pernah tersenyum sedikit demi sedikit mulai mencair,”
“Aku berharap Putri nyaman tinggal disini,”
“Hey apa kamu lupa jika di istana putri bahkan di tempatkan di gubuk reok,”
“Ah iya andaikan aku punya kekuatan yang melampaui kaisar akan aku hajar Kaisar bodoh itu,”
“Lihat bahkan tubuhnya sangat kurus, harusnya dia tubuh dengan baik dengan sedikit berisi pasti wajahnya akan sangat menggemaskan,”
“Aku juga ingin membawanya pulang ke rumah, aku dan istriku tidak punya anak mungkin dengan adanya dia keluarga kami akan tambah lengkap,”
Jendral Feng dan Jendral Xin yang mendengar apa yang dikatakan oleh prajurit di belakang mereka itu langsung menatap ke arah prajurit yang sedang bergosip itu. Wajah hangat dan senyuman yang terpampang jelas di wajah Jendral Feng dan Jendral Xin langsung musnah berganti dengan wajah datar dan dingin. Jangan lupakan tatapan tajam itu sudah seperti mata pedang yang siap kapan saja menebas leher mereka.
“Ingin menculikku putriku akan aku penggal kepala kalian semua,”
“Ingin membawa kabur meimei ku cih akan aku bantai kalian,”
__ADS_1
Sontak para prajurit itu segera bersujud meminta ampunan pada Jendral Feng dan Jendral Xin karena memiliki niat yang tidak baik pada Li Shang Yue.
“Ampuni kami Jendral…!”