
Sinar mentari pagi menunjukan sinarnya membuat Li Shang Yue yang masih tertidur lelap harus dipaksa bangun karena hari ini mereka harus ke benua Ming.
“Nona bangun anda harus segera mandi dan bersiap. Tuan muda dan Tuan Jendral sudah menunggu anda,” ucap Se se pelayan pribadi Li Shang Yue.
“Sebentar lagi Se Se, aku masih mengantuk,” ucap Li Shang Yue yang ingin menarik kembali selimutnya tapi terhenti oleh Jendral Xin.
“Yue’er bangunlah, u tahu ayah menyediakan banyak kue bulan di kereta. Jika kau tak bangun maka aku akan memakan semuanya,” bisik Jendral Xin.
Bugh
“Enak saja kau ingin memakan kue bulanku..! Minggir aku mau mandi,” sentak Li Shang Yue yang langsung turun dari ranjang lalu berjalan ke arah permandian dengan mata yang masih tertutup setengah.
“Tuan muda,”
“Segera siapkan pakaian Yue’er..!” titah dari Jendral Xin.
Selesai memberi perintah Jendral Xin langsung keluar dari kamar Li Shang Yue dengan memegang rahangnya yang lumayan sakit karena bogeman mentah dari Li Shang Yue.
“Aku akan selalu kehilangan wibawa ku jika sudah berhadapan dengan gadis itu,” gerutu Jendral Xin yang berjalan menuju ke kediaman utama.
Sedangkan di dalam kamar Li SHang Yue baru saja keluar dari permandian dengan pakaian dalam tipis di tubuhnya.
“Nona pakaian ini cocok untuk anda,” Pelayan Se Se memberikan sebuah hanfu merah mudah kepada Li Shang Yue.
Mata Li Shang Yue yang masih melek langsung terbuka sempurna melihat hanfu di depannya.
“Jauhkan pakaian yang merepotkan itu..!” teriak Li Shang Yue yang menatap jijik pakaian yang berada di tangan sang pelayan.
Bukan hanya warnanya yang sangat Li SHang Yue tidak sukai akan tetapi semuanya yang berada di hanfu itu membuatnya bergidik ngeri.
“Biarkan aku memilih pakaianku sendiri,” ucap Li Shang Yue yang langsung berjalan ke arah lemari kayu mencari pakaiannya sendiri.
Hingga beberapa menit kemudian Li Shang Yue mulai mengeluarkan beberapa pakaian yang berada di dalam lemarinya. Terlihat pilihan Li Shang Yue jatuh pada hanfu merah gelap dengan corak hitam di kerah dan juga lengannya.
“Aku pakai ini dan sisahnya itu bungkus untuk di bawah ke Benua Ming. Jangan coba-coba memasukan pakaian yang tidak aku suruhkan jika tidak ingin berakhir tragis,” ucap Li Shang Yue yang langsung memakai hanfu luarnya. Tak lupa juga Li Shang Yue menggunakan tali pinggang berwarna hitam di pinggangnya.
Pelayan Se se yang mendengar apa yang dikatakan oleh sang junjungan hanya bisa pasrah menatap pakaian yang dipilih sang junjungan.
“Kenapa di saat banyak putri dan Nona muda menginginkan gaun yang indah tapi Nona muda ku malah memakai pakaian yang sederhana. Di tambah lagi pakaiannya tidak tahu apa pakaian wanita atau pakaian pria. Lebih mirisnya lagi adalah kenapa warnanya hanya hitam dan biru laut?” batin pelayan Se Se yang ingin protes kepada Nona mudanya tapi tak bisa.
“Sudah Nona,” Pelayan Se se mendekat ingin membantu menyisir rambut Li Shang Yue. Namun pelayan itu lagi-lagi terkejut saat melihat Li SHang Yue hanya menyisir satu kali lalu rambutnya di ikat tinggi-tinggi seperti pria.
__ADS_1
“Ya Dewa apa yang aku lakukan di kehidupanku yang dulu? Kenapa aku mendapatkan Nona yang seperti ini? Bukannya mendapatkan Nona yang anggun justru mendapatkan Tuan muda yang tersesat di dalam tubuh seorang wanita," batin Pelayan Se se dengan miris.
"Ayo berangkat, aku takut kue bulanku di habiskan oleh Gege," ucap Li Shang Yue yang langsung pergi begitu saja.`
“AYAH…..!”
Jendral Feng yang berada di depan gerbang langsung menoleh ke arah belakang saat mendengar suara anak yang sangat dia sayangi itu. Dari jauh sana Jendral Feng dan Jendral Xin melihat Li Shang Yue yang berlari kencang ke arah mereka menggunakan hanfu berwarna merah gelap.
“Cih lihat putri ayah itu, dia seorang gadis tapi lihat dandanannya seperti pria,” Jendral Xin mengejek sang ayah yang begitu semangat memilihkan hanfu untuk Li Shang Yue tapi gadis itu justru memakai hanfu pria.
“Cih apa salahnya? Anak gadisku akan tetap cantik dan menggemaskan apapun yang dia kenakan,” sahut Jendral Feng dengan santai.
“Ayah…,”
“Ada apa kenapa berlari nanti kamu terjatuh bagaimana? Kamu jalannya pelan-pelan saja,” ucap Jendral Feng dengan mengelus kepala Li Shang Yue.
“Ayah mana kue bulanku?” Li SHang Yue bertanya dengan menatap Jendral Feng dengan mata yang mengeluarkan bintang-bintang kecil.
Uhuk uhuuk
Semua orang yang mendengar apa yang dikatakan oleh Li Shang Yue langsung menahan tawa. Para pelayan dan pengawal sudah tahu kebiasaan dari gadis itu yang akan selalu mengutamakan makanan terlebih dahulu.
“Baik ayah, ayo Se se kita naik kereta,” Li Shang Yue langsung menarik tangan pelayannya lalu naik di atas kereta kuda.
“Lihat meimei mu itu, apa saja yang ada di kepalanya hanyalah makanan saja,”
“Biarkan saja, biar Yue’er gemuk. Ayah tidak lihat jika Yue’er hanya tulang dan kulit? Ini semua pasti karena di istana ia tidak amakan dengan baik,” kata Jendral Xin yang langsung berbalik pergi menaiki kudanya.
“Hm ada benarnya jika Yue’er gemuk pasti dia akan menggemaskan. Aku harus berjaga-jaga jangan sampai Kaisar mau mengambil lagi Yue’er,” guman Jendral Feng.
Mereka segera berangkat menuju benua ming dengan membawa perbekalan dan juga pasukan secukupnya saja. Di dalam kereta Li Shang Yue tak henti-hentinya mengunyah makanan di depannya. Pelayannya bahkan hanya bisa geleng-geleng kepala di saat Nona muda lain menghindari makanan manis justru Nona-nya mengejar makanan itu.
“Aku rasa Nona-ku sedikit berbeda? Ah bukan sedikit tapi memang berbeda dari yang lain,” guman Se se yang melihat Li SHang Yue kedua tangannya penuh dengan makanan.
“Pelayan Se Se aku mengantuk,” lirih Li Shang Yue yang mengucek matanya.
“Tidurlah Nona, berbaring saja di paha saya,” balas Pelayan Se Se yang langsung membaringkan Li SHang Yue di pangkuannya.
Mereka terus berjalan hingga tak terasa hari sudah mau gelap dan mereka berada di hutan berantara. Saat mereka berhenti ingin membangunkan tenda tiba-tiba datang juga rombongan Kaisar.
“Ayah mereka rombongan Kaisar,” bisik Jendral Xin.
__ADS_1
“Iya lebih baik kita menyambut mereka dulu,” kata Jendral Feng.
Jendral Xin dan Feng segera berdiri lalu menghampiri rombongan Kaisar.
“Salam Yang Mulia,” Jendral Xin dan Jendral Feng membungkukkan badan mereka.
“Bangunlah, kebetulan sekali kita bertemu disini. Saya beserta rombongan saya ingin membangun tenda juga disini,” kata Kaisar Li yang seakan mengatakan jika dia ingin membangun tenda di tempat itu.
“Ah silahkan Yang Mulia dengan senang hati kami akan sangat senang jika Yang Mulia bisa berdekatan dengan kami,”
“Hm, cepat bangun tenda..!” titah Kaisar Li kepada para penjaganya.
“Yang Mulia,”
Kaisar Li beserta Jendral Xin dan Jendral Feng segera menoleh ke arah suara ternyata disana terlihat Selir Hua Rong dan juga Putri Wei Rong. Namun Jendral Feng dan Xin Qion merasa heran kenapa Putri Wei Rong menggunakan cadar.
“Salam Selir Agung Hua Rong, Salam Putri Wei Rong,” ucap Jendral Feng dan Xin Qion.
“Hm,” Selir Hua Rong dan Putri Wei Rong hanya menatap Jendral Feng dengan acuh membuang muka.
“Cih hanya seorang selir dan anak selir tapi kelakuan mereka sudah seperti penguasa saja. Apa jadinya kerajaan ini jika gadis sepertinya yang menjadi Ratu?” batin Jendral Feng yang menatap sinis Selir Hua Rong dan juga Putri Wei Rong.
“Tuan,”
“Pelayan Se se dimana Yue’er?” tanya Jendral Feng serentak dengan snag putra.
“Nona sedang ada di kereta Tuan, Nona tidak ingin bangun,” jawab pelayan Se se.
“Anak itu…, Xin Qion cxepat bangun tenda untuk Yue’er..!” titah Jendral Feng kepada Jendral Xin.
“Baik Ayah,”
Jendral Xin langsung memberi hormat kepada Kaisar lalu berbalik pergi. Kini hanya tersisah Jendral Feng yang berada di depan Kaisar.
“Maaf Jendral, bukannya anda tidak memiliki istri lain selain istri pertama anda. Lalu siapa itu Yue’er?” tanya Selir Hua Rong.
“Dia putriku..!” jawab acuh tak acuh Jendral Feng.
“Tapi bukannya..,”
“Kalian akan tahu nanti Yang Mulia,”
__ADS_1