
“Jangan memanggil dirimu dengan Ayahanda, karena kamu tidak pantas untuk menjadi seorang ayah. Aku akan mencari orang untuk menjadi ayahku.” Kata Li Shang Yue dengan enteng.
Kaisar Li yang mendengarapa yang di katakan oleh Li Shang Yue langsung mengepalkan tangannya dengan kuat.
“Apa kamu sedang mendoakan aku mati ha..?” bentak Kaisar Li yang menatap tajam Li Shang Yue.
“Apa bedaya? Anda juga tidak bisa menjadi ayah yang baik untukku. Jadi, biarkan aku mencari ayah baru.”
“Kau…, benar-benar putri sampah.”
“Hati-hati Kaisar, karena putri sampah ini bisa kapan saja meratakan istana yang kamu banggakan ini.” Kata Li Shang Yue dengan datar dan dingin.
Glek
Entah kenapa Kaisar Li bisa merasakan adanya bahaya di dalam ucapan Li Shang Yue barusan.
“Ada apa Yang mulia Kaisar Li memanggil putri sampah ini?”
“Kembalikan Paviliun Mawar kepada Putri Wei Rong.” Ucap Kaisar Li dengan dingin.
Li Shang Yue yang mendengar itu sontak mengerutkan dahi. Ternyata pria tua di depannya itu belum juga sadar.
“Apa anda bercanda Yang Mulia? Paviliun itu milikku dan sudah menjadi hak ku untuk tinggal disana.” Terang Li Shang Yue dengan datar.
“Berikan Paviliun mawar pada Putri Wei Rong kakakmu. Kamu bisa tinggal di Paviliun Tulip.”
“Tidak. Saya tidak akan pindah kemana pun selain dari Paviliun Mawar.”
__ADS_1
“Tapi Putri Wei Rong tidak bisa tidur di Paviliun lain selain Paviliun Mawar. Kakakmu Wei Rong sedari kecil sudah berada di Paviliun itu jadi dia sudah terbiasa dengan suasana disana,”
“Karena sejak awal anda tidak pernah sadar dan terus memanjakannya hingga anda lupa jika anda memiliki Putri yang lain yang memiliki hak untuk tinggal di Paviliun itu. Sedangkan Putrimu itu karena terbiasa di manja hingga sampai lupa dan selalu merebut apa yang bukan miliknya.” Sarkasme Li Shang Yue yang menatap sinis Kaisar Li.
Sedangkan Kaisar Li hanya bisa terdiam mendengar ucapan Li Shang Yue yang sangat menohok hati. Jauh di dalam lubuk hatinya ia menyadari akan hal itu tapi menolak untuk mengakuinya.
“Dengar Yang Mulia Kaisar, jangan mengusikku lagi. Ajari putri kesayangan kamu itu untuk sadar diri dan jangan menggangguku. Jika itu terjadi jika sesuatu yang buruk akan terjadi pada Putri kesayangan kamu itu,” ucap Li Shang Yue.
Setelah mengeluarkan apa yang ingin di katakannya Li Shang Yue langsung berdiri berbalik ingin keluar dari ruangan itu sebelum amarahnya meledak.
“Kamu menginginkan kasih sayang Ayahanda, bukan? Akan Ayahanda berikan dan menyayangi kamu seperti Ayahanda menyayangi Wei Rong Kakakmu. Akan tetapi, berikan Paviliun itu pada kakakmu Wei Rong.” Ucap Kaisar Li dengan tiba-tiba menghentikan pergerakan Li Shang Yue.
"Yang Mulia Kaisar, perlu saya ingatkan lagi kepada anda. Jika hari ini,i Shang Yue yang berdiri bukanlah Li Shang Yue yang beberapa tahun lalu mengemis cinta dan kasihmu sebagai Ayahanda. Li Shang Yue yang berdiri di depanmu ini adalah Li Shang Yue yang baru. Li Shang Yue yang tak akan mengemis atau meminta-minta kasih sayang padamu. Li Shang Yue yang mengemis cintamu telah mati 1 tahun lalu di saat kamu sibuk memanjakan putri kesayangan mu itu tanpa menyadari jika nyawa putrimu yang lain berada di ujung tanduk!" Teriak Li Shang Yue yang membuat Kaisar Li tertegun.
Tak hanya itu bahkan tiba-tiba saja terdengar petir di siang bolong membuat Kaisar Li semakin tertegun dengan kejadian barusan.
"AKU LI SHANG YUE,TIDAK AKAN MENGEMIS CINTA PADAMU LAGI. AKU LI SHANG YUE AKAN MEREBUT APA YANG MEMANG MILIKKU, AKU LI SHANG YUE AKAN MENCARI KEADILAN UNTUK DIRIKU SENDIRI. AKU LI SHANG YUE AKAN BERDIRI TEGAK DI BAWAH KAKIKU SENDIRI TANPA ADANYA ORANG TUA…!"
Jedarrrr
Setelah mengeluarkan unek-uneknya Li Shang Yue kembali melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan Kaisar Li. Li Shang Yue sama sekali tidak berhenti atau menoleh kembali ke arah Kaisar Li yang menatap punggung Li Shang Yue yang menghilang di depan pintu.
"Dasar Kaisar bodoh, apa dia pikir aku sebodoh dirinya yang akan menuruti apa yang di inginkan oleh Putri manja itu? Cih…, jangan harap." Gerutu Li Shang Yue yang berjalan cepat menuju Paviliunnya.
Tanpa di ketahui oleh Li Shang Yue jika ada orang lain yang melihatnya berjalan dengan wajah raut masam dan kesal. Kedua orang itu adalah Putri Wei Rong dan juga Selir Hua Rong.
"Lihat Ibunda, Wajah anak sialan itu terlihat masam dan kesal." Bisik Putri Wei Rong kepada sang Ibunda Selir Hua Rong.
__ADS_1
"Kamu benar, Putriku. Anak sialan itu pasti kesal karena Paviliun mawar akan jatuh kembali ke tanganmu Putriku." Balas Selir Hua Rong.
"Jika begitu ayo, kita pergi menemui Ayahanda Kaisar, Ibunda." Ajak Putri Wei Rong yang langsung di setujui oleh Selir Hua Rong.
Dengan hati yang berbunga-bunga kedua wanita itu segera keluar dari tempat persembunyiannya mereka. Keduanya berjalan dengan sedikit cepat karena sudah tidak sabar inginsampai di ruangan kerja Kaisar Li.
"Dengar Wei Rong, Setelah ini kamu harus membantu Ibunda untuk mendapatkan kembali paviliun Sakura dari tangan anak silan itu.” Kata Selir Hua Rong dengan menggertakkan giginya menahan amarah.
“Ibunda tenang saja, aku pasti membantu ibunda untuk mendapatkannya.” Balas Putri Wei Rong dengan tenang dan yakin,
Setelah berjalan beberapa saat akhirnya mereka sampai di ruangan Kaisar Li. Namun, Putri Wei Rong dan Selir Hua Rong bingun melihat jika ruangan Kaisar Li terbuka. Lebih tepatnya ruangan itu tak memiliki pintu.
“Salan Selir Rong, salam Putri.” Prajurit itu langsung membungkukkan badanya saat melihat jika Selir Hua Rong dan juga Putri Wei Rong berhenti di depannya.
“Apa Kaisar ada di dalam?” tanya Selir Hua Rong kepda sang penjaga.
“Ada di dalam Selr.” Jawab dari sang prajurit
Mendengar jawaban prajurit itu Selir Hua Rong dan juga Putri Wei Rong segera masuk ke dalam ruangan kerja Kaisar Li.
“Salam Yang Mulia,”
Kaisar Li yang sedang fokus membaca kertas di depannya langsung terkaget saat ada suara yang menyapanya. Kaisar Li menurunkan kertas yang ia baca menatap lurus ke depan sana. Kaisar Li langsung bisa melihat Selir Hua Rong dan Putri Wei Rong yang masih menundukan kepala mereka.
“Ada apa?” tanya Kaisar Li dengan datar.
“Ayahanda, Wei Rong kemari ingin mengucapkan terima kasih banyak karena Ayahanda sudah memenuhi keinginan Wei Rong untuk tinggal di Paviliun mawar.” Terang Wei Rong dengan senyum di bibirnya.
__ADS_1