
Di sebuah istana yang entah terletak pada lapisan dunia yang ke berapa. Berdiri seorang pria yang memiliki paras yang begitu tampan dan rupawan. Wajahnya yang tampan, alis yang setajam pedang, mata yang berwarna merah, hidung yang mancung, rambut hitam yang berkibar indah dan kulitnya yang pucat membuat pria itu terlihat seperti Dewa Yunani yang begitu sempurna.
“Putraku!”
Pria yang tadinya sedang memandangi pemandangan di bawah istana itu langsung berbalik saat mendengar suara wanita yang sangat di kenalinya.
“Salam ibunda,” sosok pria itu segera menundukkan kepalanya terhadap wanita di depannya itu.
“Salam Ayahanda,”
“Sudah, ayo duduk.” Pria paruh baya di samping wanita paruh baya itu segera merangkul bahu pria muda itu membawanya untuk duduk di sofa.
“Apa yang kamu pikirkan Putraku?” tanya sang pria paruh baya yang merupakan Ayah dari pria muda itu.
“Tidak ada.” Jawab pria muda itu dengan datar.
“Jangan berbohong, Ibunda tahu jika kamu pasti sedang memikirkan wanita yang menjadi takdirmu itu ‘kan? Tapi ini sudah bertahun-tahun bahkan sudah ratusan tahun kamu menunggu wanita itu tapi sampai sekarang tidak ada hasil sama sekali. Lihat! Ibunda telah membawa Alice, bukankah kalian adalah teman masa kecil? Kalian menikah saja, nanti jika wanita yang di ramalan itu ada kamu hanya menikahinya dan menjadikannya selir.”
BRAKKKK
“CUKUP….!” pria muda itu menggebrak meja sehingga meja itu pecah menjadi serpihan.
Pria muda itu menatap wanita paruh baya di depannya dengan amarah yang meluap-luap terutama wanita muda di samping sang ibunda.
“Sudah berapa kali aku katakan, jangan pernah campuri urusanku! Perlu kalian ketahui aku sama sekali tak sudi berteman dengannya. Namun, dia selalu menempeliku seperti perangko.” Bentak pria muda itu menatap tajam wanita muda yang bernama Alice itu.
“Tapi..,”
“Jika Ibunda ingin menggendong bayi maka suruh saja Ayahanda untuk mengangkat selir!”
Jedarrrrr
Apa yang baru saja pria muda itu katakan bagaikan belati yang menggores leher wanita paruh baya itu hingga tak bisa bernapas dengan bebas. Sedangkan pria paruh baya itu hanya diam, Pria itu tentu tahu bagaimana sifat sang Putra jika dia mengatakan tidak maka tidak. Namun, istrinya selalu memaksakan kehendaknya.
“Ibunda ingin menggendong bayi bukan? Baiklh, aku akan menikah dengannya tapi Ayahanda juga harus mengangkat 5 selir jika setiap selir melahirkan anak dari Ayahanda maka aku akan menikahi wanita di samping Ibunda itu.”
“Putraku…, bagaimana bisa kamu mengatakan hal kejam seperti itu? Bagaimana bisa kamu menyuruh Ayahandamu untuk mengangkat selir? Apa kamu tidak memikirkan perasaan Ibunda?”
Wanita paruh baya itu menatap pria muda di depannya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. Wanita paruh bayaitu tidak menduga jika sang Putra akan melontarkan kalimat seperti itu. Wanita mana yang mau jika suaminya harus di bagi dan di miliki wanita lain. Walalupun mereka mengatakan menerima tapi hati tidak akan bisa berbohong jika mereka tidak bisa dengan ikhlas menerima akan hal itu.
__ADS_1
“Sekarang ibunda bertanya apakah aku tidak memikirkan perasaan ibunda? Lalu bagaimana jika aku balik, apakah ibunda tidak memikirkan perasaanku? Apakah Ibunda tahu sejak ada ramalan itu aku sudah mencintai sosoknya. Wanita mana yang rela jika suamintya harus tidur bersama wanita lain? Ibunda juga tidak rela apalagi Permaisuriku. Apa Ibunda tidak berfikir jika aku bisa saja pergi dari kerajaan ini hanya karena sifat kekanak-kanakan Ibunda?”
Deg
Wanita paruh baya itu langsung tertegun dengan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Jelas ia tidak akan bisa hidup tenang jika sang Putra semata wayangnya itu pergi dari istana ini.
“Jangan! Ibuna mohon jangan pergi, maafkan Ibunda yang terlalu egois. Ibunda hanya ingin…,”
“Berhenti beralasankan bayi, jika ibundamasih mengungkit hal itu maka aku sendiri yang akan mencarikan selir untuk Ayahanda. Ibunda jangan lupa jika saat ini pemegang tertinggi istana ini adalah aku.” Potong pria muda itu.
“Jangan, jangan lakukan itu! Maafkan Ibunda,” Wanita paruh baya itu langsung meminta maaf.
“Untukmu!” pria muda itu langsung menunjuk Alice yang berada di samping sang Ibunda.
“Jangan pernah lagi menghasut Ibundaku atau aku yang akan membakar seluruh keluargamu dengan tanganku sendiri.” Acam pria muda itu.
Glek
Alice yang mendengar itu langsung menelan ludah susah payah. Alice tentu tahu jika pria muda di epannya itu tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.
“Aku hanya…,”
Pria muda itu segera berdiri berjalan mendekat ke arah Alice. Sontak hal itui membuat Alice panik, tentu ia tida ingin mati lebih dulu.
“Ya…,,”
Plak
“Lancang! Berani sekali kamu memanggil junjunganmu hanya dengan nama saja!” Bentak pria muda itu.
“Maafkan hamba Yang Mulia Lord,” Alice segera bersujud di hadapan pria muda itu.
Alice menahan sakit yang di rasakan pada pipinya yang baru saja di di tampar oleh pria muda itu. Naun, Alice juga tidak mempunya pilihan lain selain bersujud memohon ampun. Pria muda ini bahkan tak mikir 2 kali untuk membunuh siapa saja yang mengusiknya.
Braaakkkk
“TUANKU….. LORD….!”
Tiba-tiba saja masuk seorang pria yang seumuran pria muda yang d panggil Lord itu di dalam ruangan itu membuat semua orang kaget.
__ADS_1
“Baize!” seru wanita paruh baya yang merupakan ibunda dari pria muda yang di panggil Lord.
“Salam Paman, Salam Bibi!”
Pria yang bernama Baize itu segera membungkukkan badannya terhadap Pria paruh baya dan wanita paruh baya di depannya itu.
“Kau sudah kembali? Apa kamu menemukan hal yang menarik? Ataukah kamu pulang seperti tahun-tahun sebelumnya?” Tanya sang wanita paruh baya itu yang berdiri dari duduknya.
“Ada kabar baik yang saya bawah Tuanku.” Ucap Baize yang membungkuk hormat kepada Pria muda di depannya.
“Penjaga…!” teriak pria paruh baya itu yang memanggil penjaga.
“Salam Paduka,”
“Bawah Nona Alice keluar!” perintah sang pria paruh baya.
“Baik paduka!”
Kedua penjaga itu langsung menyeret Aluice yang masih bersimpuh di kaki Pria muda yang memiliki julukan Lord.
“Bibi tolong aku! Aku tidak mau keluar, biarkan aku mendengar semuanya.” teriak Alice yang memohon kepada wanita paruh baya itu untuk membiarkannya disana.
“Maaf Alice tapi ini urusan pribadi,” ucap wanita paruh baya itu.
Sebenarnya waita paruh baya itu merasa kurang enak hati dengan Alice tapi mau bagaimana lagi meliha wajah gelap samng putra dan sang suami membuat wanita paruh baya itu takut.
“Duduklah, jika seperti ini kita adalah satu keluarga.” Kata pria paruh baya yang memiliki julukan Paduka.
“Terima kasih paman.” Baize segera duduk di sofa dengan pasangan paruh baya dan juga pria mudah yaitu Lord.
“Katakan!” titah pria muda itu yang sudah tidak sabar.
Entah kenapa kedatangan Baize kali ini membuat jantungnya berdebar kencang tidak seperti kedatangan Baize seratus tahun yang lalu.
“Aku sudah menemukan wanita yang akan bersanding dengan anda Lord.”
Deg
__ADS_1