Rebirth Of Queen Needles

Rebirth Of Queen Needles
BAB 114


__ADS_3

“Salam Yang Mulia Kaisar,” Jendral Feng dan juga Xin Qion langsung membungkukkan badan mereka sebagai bentuk penghormatan.


“Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat cemas seperti itu?” tanya Kaisar Ming.


“Saya sedang mencari putri saya Yang Mulia,” jawab Jendral Feng.


“PUTRI…?”


“Benar Yang Mulia,”


“Sejak kapan kau punya seorang putri Jendral Feng? Setahu-ku kau hanya punya satu putra saja yaitu jednral Xin Qion,” tanya Kaisar Ming lagi.


“Ah itu memang bukan putri kandung saya tapi saya mengangkatnya menjadi putriku. Namun saat pagi tadi kami mencarinya bersama putraku kami tidak menemukannya,”` terang Jendral Feng dengan wajah khawatir.


“Ah jika seperti itu mari kita cari keberadaan putrimu itu,” ucap Kaisar Ming yang memang bersahabat baik dengan Jendral Feng hingga ia akan membantu sang sahabat menemukan keberadaan sang putri angkatnya itu.


“Yang Mulia aku ikut,” suara lembut dari arah belakang membuat mereka semua langsung menoleh ke arah asal suara.


“Salam Permaisuri,”


“Salam Yang Mulia Putra Mahkota,” 


Jendral Feng bersama Jendral Xin segera membungkukkan badan mereka saat sang Permaisuri dan Putra Mahkota kekaisaran Ming mendekat ke arah mereka.


“Yang Mulia, aku akan ikut mencari keberadaan putri sahabatmu ini. Ju’er juga akan ikut mencari, iya kan Ju’er?” ucap sang Permaisuri yang langsung meminta pendapat pada sang Putra.


“Benar Ayahanda,” ujar Putra Mahkota Ju.


“Baiklah, semakin banyak semakin baik. Ayo Kaisar Li kita ikut mencari keberadaan Putri Jendral Feng,” ajak Kaisar Ming kepada Kaisar Li yang sedari tadi tak mereka anggap keberadaannya.


“Ah iya saya juga akan iky mencarinya,” kata Kaisar Li dengan gugup.


Sebenarnya dalam hatinya Kaisar Li tidak ingin ikut dengan rombongan Jendral Feng mencari Li Shang Yue yang jelas-jelas menjadi putri yang telah ia buang.

__ADS_1


Jendral Feng di bantu oleh Kaisar Ming, Permaisuri, dan Putra Mahkota membuat beberapa penjaga mencari gadis yang sama seperti yang ada di dalam lukisan yang di berikan Jendral Feng. 


“Jendral biasanya dimana putrimu akan pergi?” tanya Kaisar Ming yang bertanya kepada Jendral Feng.


“Yue’er biasanya jika bosan maka dia akan ke pasar atau kehutan dan jika dia lapar akan pergi ke da…dapur..!” jawab Jendral Feng dengan wajah pucat.


“Ada apa Jendral Feng? Kenapa wajah kalian menjadi pucat seperti itu? Apa ada masalh?” tanya sang Permaisuri yang bernama Permaisuri shashang.


“Mungkin kita bisa ke dapur dulu Yang Mulia, Meimei jika sudah lapar maka dia akan masuk dapur,” kata Jendral Xin yang sejak tadi diam.


“Tapi Jendral Xin itu tidak masuk akal, bagaimana bisa seorang Nona muda apalagi anak seorang Jendral masuk ke dapur,” ucap Putra Mahkota Ju dengan dingin.


“Saya lebih memahami meimei saya Yang Mulia Putra Mahkota Ju. Yue’er kami memang berbeda dengan gadis muda lainnya yang tidak akan pernah masuk ke dalam dapur. Meimeiku jika sudah lapar maka dia kaan masuk ke dalam dapur tanpa peduli jika dia adalah seorang putri seorang Jendral. Bahkan jika tidak pelayan maka dia akan langsung memasak sendiri,” kata Jendral Xin dengan menatap tajam Putra Mahkota Ju.


Entah kenapa Jendral Xin tidak menyukai jika sang adik di samakan dengan gadis muda pada umumnya. Jelas saja Jendral Xin tidak terima karena menurutnya Li Shang Yue berbeda dengan yang lain. Li Shang Yue akan bersikap apa adanya dan selalu tak memperdulikan yang namanya penampilan.


“Maaf jika kata-kata putra saya sedikit menyinggung karena memang yang kami tahu seorang Nona muda tidak akan pernah mau masuk ke dalam dapur,” ujar Permaisuri Shashang dengan lembut dan bijaksana.


“Itu Nona muda yang lain atau juga Putri Yang Mulia Permaisuri dan Kaisar. Namun Yue’er ku berbeda. Di istimewa,” sentak Jendral Xin.


“Maafkan perkataan putra saya Yang Mulia Putra Mahkota, Yang Mulia Permaisuri. Putra saya akan sedikit sensitif jika menyangkut tentang Yue’er kami,” kata Jendral Feng yang membungkukkan badan berulang kali.


“Ah tak apa Jendral Feng, saya mengerti perasaan Jendral Xin yang khawatir dengan keadaan adiknya,” terang Permaisuri Shashang yang begitu bijaksana.


Sedangkan di tempat lain orang yang mereka cari kini dengan tenang turun dari punggung Long. Long segera berubah menjadi sebuah gelang yang melingkar di pergelangan tangan Li Shang Yue.


“Syukur deh pagarnya tidak terlalu tinggi,” guman Li SHang Yue yang langsung meloncati pagar itu.


Hap


Li Shang Yue mendarat dengan sempurna di tanah membuat senyumnya semakin mekar saja. Li Shang Yue segera melangkahkan kakinya pergi namun baru beberapa langkah Li Shang Yue langsung menghentikan langkahnya saat mendengar suara tangisan seseorang.


Hiks hiks hiks

__ADS_1


Deg


Li Shang Yue yang mendengar suara tangisan tanpa wujud itu langsung menegang. Perlu di ketahui Li Shang Yue sangat takut dengan namanya hantu.


“Ini suara siapa? Tidak mungkin hantu kan? Orang pagi-pagi gini mana sinar matahari juga sudah keluar,” guman Li Shang Yue yang menatap ke sekitarnya mencari asal suara namun tak menemukannya.


Hingga beberapa menit berjalan di sekitar itu tiba-tiba Li Shang Yue mengetahui jika suara tangisan itu berasal dari balik pohon besar di taman itu. Tak ingin menebak-nebak Li Shang Yue langsung mendekat memastikan sendiri apa yang berada di balik pohon itu.


Sampai di balik pohon Li Shang Yue melihat seorang wanita yang dewasa yang sekitar 35-40 tahun sedang menangis sendirian di tepi danau.


Wanita itu adalah Selir Agung Zhishu yang meruapakan selir dari Kaisar Ming. Li Shang Yue mendarat dan masuk di wilayah kediaman Selir Agung Zhishu. Selir Agung Zhishu memang terkenal dengan selir yang pendiam bahkan jarang keluar dari kediamannya. Selain itu, walau hanya seorang Selir Agung namun jika ia marah maka tak ada yang berani padanya termaksud Kaisar Ming dan juga Permaisuri Shashang.


Selir Agung akan selalu menangis di danau itu tiap harinya di temani dengan pelayan pribadinya. Selir Agung selalu menangis karena ia tak bisa memiliki seorang anak. Bukan karena cacat dari lahir akan tetapi karena sebuah insiden membuatnya harus rela untuk tidak bisa memiliki seorang anak selama hidupnya.


Walau tak bisa memiliki seorang anak Kaisar Ming terus mencintai Selir Agung dan tak ada niat sedikitpun untuk menceraikan Selirnya itu.


“Kenapa Dewa…? Kenapa kau membuatku menderita seperti ini? Kesalahan apa yang telah aku perbuat di masa lalu hingga hidupku bisa sepahit ini?” ucap Selir Agung dengan suara yang oarau.


“Kenapa kau menangis?”


Selir Agung yang mendengar suara halus itu segera menoleh ke arah asal suara. Matanya terdapat ekspresi terkejut namun saat melihat apa yang di pegang gadis kecil di depannya itu Selir Agung sedikit terkekeh.


Sedangkan Pelayan pribadi Selir Agung langsung kaget saat melihat ada seseorang yang berani masuk ke dalam kediaman  sang junjungan.


“Nona kenapa bisa anda ada disini? Kenapa anda masuk di kediaman orang sembarangan…?” tanya pelayan itu dengan suara yang tegas.


“Eh, ini tidak bisa di masuki? Aku tadi lompat pagar aku tidak tahu jika kediaman ini adalah kediaman orang lain,” kata Li Shang Yue dengan jujur. Tak lupa juga gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Hahaha…


Li Shang Yue yang mendengar suara tawa langsung menoleh ke arah asal suara yang ternyata adalah suara Selir Agung. Namun Li Shang Yue yang sadar jika sang Selir terus menatap ayam di tangannya langsung memeluk ayam tanpa bulu itu.


“Ini ayamku, aku tidak akan memberikannya padamu…!” ketus Li Shang Yue.

__ADS_1


HAHAHAHA


__ADS_2