Rebirth Of Queen Needles

Rebirth Of Queen Needles
bab 23


__ADS_3

“Salam Yang Mulia,” 


Kaisar Li yang sedang fokus membaca kertas di depannya langsung terkaget saat ada suara yang menyapanya. Kaisar Li menurunkan kertas yang ia baca menatap lurus ke depan sana. Kaisar Li langsung bisa melihat Selir Hua Rong dan Putri Wei Rong yang masih menundukan kepala mereka.


“Ada apa?” tanya Kaisar Li dengan datar.


“Ayahanda, Wei Rong kemari ingin mengucapkan terima kasih banyak karena Ayahanda sudah memenuhi keinginan Wei Rong untuk tinggal di Paviliun mawar.” Terang Wei Rong dengan senyum di bibirnya.


“Haaaah” Terdengar helaan napas berat dari Kaisar Li memandang Putri Wei Rong dengan pandangan yang sulit di artikan. Kaisar Li tidak tahu harus bagaimana ia mengungkapkan jika paviliun itu tidak akan lagi pernah dia tempati.


“Wei Rong,”


“Iya, Ayahanda.”


“Dengar, mulai saat ini dan seterusnya kamu tidak akan tinggal di Paviliun itu lagi.” Tegas Kaisar Li.


“Kenapa?” tanya Putri Wei Rong dengan suara yang sedikit tinggi.


“Li Shang Yue tidak ingin meninggalkan Paviliun itu.”


“A…,APAAA?” Bukan hanya Putri Wei Rong yang Kaget tetapi dengan Selir Hua Rong pun ikut berteriak.


Jika saja Paviliun Mawar mereka tidak dapatkan maka Paviliun Sakura tidak akan pernah Selir Hua Rong miliki lagi. Hal itu tentu membuat mereka kesal dan juga marah di waktu yang bersamaan.


“Bagaimana bisa Li Shang Yue tida ingin pindah dari sana? Harusnya Ayahanda memaksanya untuk pindah dari sana! Aku tidak mau tinggal di Paviliun lain selain Paviliun Mar. Paviliun Mawar adalah kediamanku dan milikku kenapa Li Shang Yue silan itu yang harus menempatinya!” teriak Putri Wei Rong yang tak bisa menahan amarah lagi.


“CUKUP!” bentak Kaisar Li kepada Putri Wei Rong yang ingin berteriak lagi.

__ADS_1


“Dengar, dari awal Paviliun Mawar adalah milik Li Shang Yue karena dia adalah anak dari Permaisuri dan masih Putri Mahkota. Jadi, sudah wajar jika ia tinggal dia tinggal disana. Kamu sebagai anak selir harus sadar pada posisi kamu yang memang harus keluar dari tempat itu. Jangan karena terbiasa di manja kamu sampai melupakan fakta itu. Bagaimana bisa jika kamu menjadi Putri Mahkota jika kamu hanya tahu merebut milik orang lain?” terang Kaisar Li yang berbicara panjng kali lebar.


Deg


Deg


Jantung Putri Wei Rong dan juga Selir Hua seperti tertusuk belati tajam saat mendengar kalimat Kaisar Li yang begitu pahit dan pedas menyakiti hati keduanya. Selama ini apapun yang di inginkan oleh Putri Wei Rong akan selalu Kaisar Li berikan. Tapi hari ini Kaisar Li bahkan berani meninggikan suaranya di depan Putri Wei Rong.


“Yang Mulia bukankah itu pilihan yang salah? Dengan membirkan Li Shang Yue tinggal disana akan menimbulkan banyak asumsi di luar jika Li Shang Yue yang menjadi Putri Mahkota.” Ucap Selir Hua Rong dengan tenang.


“Bukankah dia memang Putri Mahkota jika anda lupa Selir Rong.” Sinis Kaisar Li.


Entah kenapa pandangannya selama ini yang menganggap jika Putri Wei Rong dan juga Selir Hua Rong yang begitu baik dan sempurna hari ini Kaisar Li menemukan adanya perbedaan.


Sedangkan Selir Hua Rong yang mendengar balasan dari Kaisar Li hanya bisa menggigit jari. Wanita paruh baya itu tidak lagi bisa mengatakan apapun lagi. Kata-kata tajam nan sinis Kaisar     Li barusan menandakan jika pria paruh baya itu sedang tidak baik-baik saja.


“Baik Yang Mulia,” balas Selir Hua ong dengan anggukan kepala pelan.


Selir Hua Rong berusaha tenang dan memasang senyum manis kepada Kaisar Li tanpa mereka ketahui jika tangan wanita paruh baya itu telah mengepal dengan erat di bawah sana. Selir Ha Rong begitu marah dengan apa yang baru saa terjanji yang membuat Putrinya Wei Rong tidak mendapatkan apa yang di inginkannya hanya karena statusnya yang hanya anak seorang selir.


“Kalau begitu kami permisi, Yang Mulia.” Selir Hua Rong segera membungkukkan badannya lalu menarik Putri Wei Rong yang masih tidak ingin pergi dari ruangan Kaisar Li.


Sedangkan di tempat lain Li Shang Yue memandang Paviliun Mawar dari atas pohon apel yang tumbuh di depan kediamannya. Li Shang Yue sengaja naik ke pohon yang tinggi karena gadis kecil itu sedang mencari tempat yang akan dia jadikan sebagai tempat latihannya nanti.


“Disana,” guman Li Shang Yue dengan sebuah senyum miring yang tercetak sempurna di bibirnya.


Li Shang Yue segera meleset turun dari pohon yang tinggi itu dengan sekali lompatan dan mendarat sempurna di tanah. Dengan langkah ringan Li Shang Yue langsung menuju ke halaman belakang Paviliun mawar yang akan di jadikan sebagai tempat latihannya nanti. Setelah berjalan beberapa saat akhirnya mereka sampai di tempat yang Li Shang Yue tujuh.

__ADS_1


“Perfect, ini sangat bagus untuk aku jadikan tempat latihan nanti.” Guman Li Shang Yue yang mulai memperhatikan keadaan sekitar.


“YUYU!”


Li Shang Yue yang sedang fokus mengamati keadaan sekitar langsung terperanjat kaget saat namanya di panggil tiba-tiba.


“Kalian membuatku kaget, tahu.” Kesal Li Shang Yue kepada kedua pria di depannya itu yang tak lain dan tak bukan adalah Long dan Snake yang baru kembali setelah menjalankan tugas dari Li Shang Yue berikan.


 “Snake bukan aku,” balas Long yang menatap sinis Snake yang hanya bisa cengengesan sendiri.


“Waaaah Long, kau bawah rusa lagi?” Li Shang Yue menatap Long dan juga rusa di tangannya dengan pandangan penuh binar.


“Hm, akan aku buatkan kamu makanan Yuyu.” Ucap Long yang berlalu pergi untuk membersihkan buruannya di sungai yang tidak jauh dar Paviliun Li Shang Yue.


“Bersihkan saja, jangan masak dulu. Aku akan mencari bumbu dulu cari bumbu di dapur istana.” Kata Li Shang Yue berblik ingin pergi tapi di hentikan oleh Long.


“Tunggu!”


“Ada apa Long?” Li Shang Yue bertanya dengan dahi yang mengkerut.


“Snake temani Yuyu! Aku takut disana Yuyu aan menemui hama lagi.” Perintah Long kepada Snke.


“Baik. Ayo, Yuyu.’


Li Shang Yue dan Snake segera berjalan menjauh dari Long keluar dari Paviliun Mawar menuju dapur istana yang tidak terlalu jauh jaraknya. Sepanjang jalan banyak pasang mata yang menatapnya dengan sinis yang berasal dari para pelayab dan juga penjaga yang sedang berjaga. Namun, Li Shang Yue hanya diam hingga mereka sampai di dapur istana.


“Hey lihat, untuk apa putri sampah ini ke dapur?” teriak salah satu pelayan dengan lantang membuat beberapa pelayan menatap ke arah Li Shang Yue dengan pandangan hina dan merendahkan.

__ADS_1


__ADS_2