
“Bagaimana Tabib? Apa putri Wei Rong keracunan?” tanya Kaisar Li dengan penasaran.
“Begini Yang Mulia…, apa yang di alami oleh Putri Wei Rong sangat aneh. Saya tidak menemukan adanya tanda-tanda racun di dalam tubuh Putri. Mungkin ini hanya efek Putri Wei Rong akan segera kedatangan bulan,” ucap sang tabib dengan tenang.
“Apa kamu mengatakan yang sebenarnya tabib?”
“Saya mengatakan kebenarannya Yang Mulia jika Yang Mulia tidak percaya maka panggil-lah tabib di tempat lain untuk membuktikan ucapan saya ini,”
Kaisar yang mendengar itu langsung terdiam kaku menatap ke arah Putri Wei Rong yang terus berusaha untuk menggaruk badannya. Kaisar Li Sebenarnya kurang yakin dengan penjelasan sang tabib namun juga tak bisa mencurigainya begitu saja. Tabib itu adalah tabib istana sudah pasti dianogsanya tidak akan salah.
“Yang Mulia ini bagaimana? Jika kita membiarkan Wei’er seperti ini terus maka kulitnya akan rusak karena sering di garuk,” kata Selir Hua Rong yang sedang memegang kedua tangan Putri Wei Rong.
“Aku juga bingun Selir, tabib tadi mengatakan jika Wei’er tidak terkena racun mungkin karena mau kedatangan bulan,” jawab Kaisar Li seperti apa yang di jelaskan oleh tabib.
“Itu tidak mungkin Yang Mulia..! Wei’er bukan pertama kalinya akan mengalami yang namanya datang bulan. Ini pasti ada yang salah..!” teriak Selir Hua Rong yang murka karena merasa di bohongi.
“Saya mengatakan yang sebenarnya Selir Hua Rong…! Apa kamu pikir tabib itu akan berkhianat dengan membohongi kita semua? Tabib itu adalah tabib khusus kerajaan tidak masuk akal jika di sampai berbohong…1” bentak Kaisar Li dengan menatap tajam Selir Hua Rong.
“Kalian cepat ambil tali lalu ikat kedua tangan dan kedua kaki Putri Wei Rong di kepala ranjang..!” teriak Kaisar Li yang memberi perintah kepada parah penjaga.
Selir Hua Rong yang mendengar perintah dari sang Kaisar tentu saja merasa kaget dengan apa ayng dilakukan oleh Kaisar itu. Dengan gerakan cepat Selir Hua Rong segera mendekat ke arah Kaisar Li.
“Yang Mulia apa yang anda lakukan? Anda mau mengikat Putri Wei Rong? Yang Mulia dia putri anda,” kata Selir Hua Rong dengan menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih.
“Selir Hua Rong harusnya anda mengerti akan hal ini bukan?”
“Tapi Yang mulia…,”ucapan Selir Hua Rong langsung di potong sama Kaisar Li.
“Selir Hua Rong apa kamu ingin melihat Putri Wei Rong mati? Jika tidak maka ikuti apa yang aku lakukan. Hanya ini satu-satunya cara agar Putri Wei Rong tidak bergerak bebas dengan mengikat tangan dan kakinya. Jika dilepaskan maka Putri Wei Rong akan terus bergerak menggaruk kulitnya hingga terluka,” terang Kaisar Li dengan panjang kali lebar.
__ADS_1
Mendengar akan hal itu kali ini Selir Hua Rong tidak lagi melakukan protes. Beberapa saat kemudian masuk beberapa penjaga dan pelayan yang membawa sebuah tali.
“Cepat ikat..! Pastikan ikatannya kuat..!” kata Kaisar Li dengan dingin.
“Baik Yang Mulia,” sahut para penjaga Dan Pelayan itu.
Selir Hua Rong yang melihat keadaan putrinya yang di-ikat seperti orang gila hanya bisa menatap sendu. Selir Hua Rong tak bisa melakukan apapun karena memang hanya itu satu-satunya cara untuk membuat Putri Wei Rong tidak menggaruk badannya.
Kembali lagi ke kediaman Jenderal Feng yang kini Jendral Xin dan Li Shang Yue telah berkumpul di ruangan kerja Jendral feng.
“ Sebenarnya ada apa Ayah memanggil kami untuk berkumpul di ruangan ini?” tanya Jendral Xin setelah terdiam cukup lama.
Terlihat jika jenderal Feng tak langsung menjawab pertanyaan dari Sang putra. Hal itu tentu membuat jenderal Xin dan Li Shang Yue merasa kesal.
“Ayah…!” kesal Li Shang Yue.
Jendral Feng terkekeh mendengar rengekan Li Shang Yue, “Baiklah ayah akan katakan, dengarkan..! satu minggu lagi akan di adakan acara ulang tahun Putra Mahkota Ming Jang Ju…,”
“Ming Jang Ju adalah Putra Mahkota benua Ming yaitu benua dan kerajaan terkuat nomor satu di dunia tengah ini,” terang jendral Feng.
“Oh seperti itu, ayo lanjut ayah,” kata Li Shang Yue dengan senyum yang cengengesan sendiri.
“Ulang tahun itu akan di lakukan 1 minggu lagi akan tetapi menuju ke benua ming membutuhkan waktu selama 3 hari. Jadi kita akan berangkat besok pagi bersama dengan Kaisar,” kata Jendral feng yang di akhir kalimatnya ia langsung menoleh ke arah Li Shang Yue begitu pula Jendral Xin yang langsung menatap sang adik yang ada di sampingnya.
Namun apa yang mereka lihat ternyata beda dari apa yang ada di pikiran mereka berdua. Padahal Jendral Feng dan Jendral Xin sudah was-was jika sampai Li Shang yue merasa tidak nyaman.
“Yue’er jika kamu tak ingin pergi maka tidak apa-apa. Serahkan pada Ayah semuanya akan beres,” kata Jendral Feng.
“Tak apa ayah, Yue’er akan ikut. Tenang saja Yue’er akan menjaga diri sendiri,” kata Li Shang Yue dengan ringahn dan senyum manis.
__ADS_1
Akan tetapi jika orang yang jeli maka mereka akn paham jika sebenarnya senyum itu bukan senyum manis biasa. Karena senyum yang di tunjukan oleh Li SHang Yue sangatlah misteri dengan ada makna tersendiri.
“Mana mungkin aku tidak ikut, aku tidak akan melewatkan sesuatu yang bagus untuk di nonton secara langsung. Aku yakin pasti si ulat bulu kodok itu akan ikut ke acara ulang tahun si Pangeran Putra Mahkota. Ini adalah waktu yang di tunggu-tunggu,” kata Li Shang Yue dalam hati dengan kegirangan karena rencananya pasti berhasil.
“Baiklah jika kamu ingin ikut tiodak apa-apa tapi nanti disana jangan jauh-jauh dari ayah ataupun gege mu,” ucapJendral feng yang memberi ultimatum kepada Li Shang Yue.
“Baik Ayahh,” jawab Li Shang Yue dengan baik./
“Cih aku lebih suka Yue’er tidak ikut, bagaimana jika nanti Kaisar tua itu mau mengambil kembali Yue’er? Walau pun kekuatan kami juga banyak tetap saja akan kalah karena dia Kaisar,” kesal Jendral Feng di dalam hati.
“Baiklah kalau begitu Yue’er pergi dulu, Yue’er ingin melihat orang-orang Yue’er,” izin Li Shang yue.
“Pergilah,” Jendral Feng dengan senang hati mengizinkan Li Shang Yue untuk keluar.
“Kenapa kamu tidak ikut keluar?” tanya Jendral Feng kepada putrabnya Jendral Xin atau Xin Qion.
“Ayah lebih baik kita masukan Li Shang Yue ke kelas tata Krama. Aku takut dengan sifatnya yang sekarang akan menjadi bumerang di kemudian hari,” kata Jendral Xin yang memberikan usulan kepada Sang Ayah.
“Dasar anak bodoh..! Kamu pikir Yue’er tidak tahu tata krama?” sentak Jendral Feng yang langsung kesal.
“Ayah bisa lihat sendiri, Yue’er bahkan hanya…,”
“Kau amu cepat kehilangan dia ha…?” potong Jendral Feng.
“Tentu saja tidak, aku tidak akan pernah rela jika harus kehilangan Yue’er,”
“Klau begitu biarkan saja dia berbuat sesukanya. Ayah tahu walau dia kurang taat krama tapi dia akan menghormati orang yang menghormatinya. Aapalagi sekarang…,” jeda Jendral Feng dengan menggantung kalimatnya.
“Apalagi apa Ayah?”
__ADS_1
“Umur Yue’er sudah 15 tahun sebentar lagi dia akan 16 tahun. Di umur 18 tahun dia sudah masuk usia matang siap menikah. Ayah tak ingin dia cepat pergi jadi biarkan saja dia melakukan apapun yang dia suka,” terang Jendral Feng.