
“Itu pasti sakit,” ungkap Bonzhu dengan sedih.
“Berhenti bergerak kamu harus seger diobati di masa depan kita harus menjaga dan melindungi gadis kecil itu,” kata Lou Yi dengan menutup luka Bonzhu menggunakan bunga melati darah yang di ambil oleh Li Shang Yue.
Fan Hu yang melihat keringat di wajah lelah Li Shang Yue langsung mengeluarkan sapu tangannya lalu mulai mengelap keringat Li Shang Yue.
“Aku jadi penasaran siapa identitas asli dari Yuyu?”
Deg
`Mereka semua langsung tertegun saat mendengar apa yang di ucapkan oleh Fan Hu. Mereka memang tidak mengetahui siapa identitas asli dari gadis di depan mereka itu karena dari awal berkenalan gadis itu hanya menyebut satu nama yaitu Yuyu.
“Mungkin identitasnya sangat rahasia hingga tak bisa memberitahu kita. Jadi kita jangan memaksanya karena ada beberapa orang yang tidak bisa membuka identitasnya begitu saja.” Ucap Lou Yi dewasa.
“Ah kau benar, mungkin identitas Yuyu sangat rahasia hingga tak ingin memberitahu kita tapi aku penasaran kenapa YUyu sampai ikut berburu?” Hi An menatap wajah damai Li Shang Yue yang sedang tertidur lelap.
“Itu akan menjadi rahasianya jika dia sudah mempercayai kita pasti dia akan mengatakannya sendiri,” timpal Bonzhu yang tiba-tiba menyahut.
“Sudah jangan banyak bicara cepat tidur! Besok kita harus menjalankan misi yang tersisa,” kata Fan Hu yang tidur di bawah dengan mengalaskan sebuah kain yang di ambilnya dari ruang dimensinya.
Mereka mulai membaringkan tubuh mereka masing-masing lalu menutup mata menuju alam mimpi.
Sinar matahari memasuki kamar itu dengan sinarnya yang terang membuat beberapa orang yang sedang tidur itu terbangun itu terbangun menyisakan satu gadis kecil yang justru membalik badannya hingga membelakangi sinar matahari itu.
“Kalian sudah bangun?” Lou Yi menatap ketiga temannya di depannya itu yang sudah mulai bangun.
“Sudah,” jawab mereka semua serentak.
“Baiklah aku akan mengecek keadaan kamu dulu Bonzhu,” Lou Yi segera berjalan ke arah Bonzhu kembali membuka luka yang di tutupnya menggunakan obat herbal dengan bantuan bunga melati darah yang di ambil oleh Li Shang Yue.
“Syukurlah lukanya sudah kering,” kata Lou Yi yang melihat luka Bonzhu.
__ADS_1
“Apa aku bisa berjalan?” tanya Bonzhu dengan suara rendah.
Bonzhu tidak ingin menjadi beban untuk teman-temannya yang lain oleh karena itu, ia bertanya seperti itu.
“Ku rasa bisa hanya saja mungkin kita harus menggunakan kereta api untuk menuju ke hutan selanjutnya.” ungkap Lou Yi dengan yakin.
Mendengar itu Bonzhu langsung terdiam jika seperti itu maka sama saja dengan membebani mereka semua. Di saat ada bahaya dirinya bahkan hanya bisa duduk tanpa bisa melakukan apapun untuk m3mbantu. Memikirkan itu membuat Bonzhu semakin merasa bersalah.
“Tenanglah kami tidak merasa terbebani akan dirimu yang seperti ini. Bukankah di saat kami terluka kamu juga mati-matian melindungi kami semua. Tak perlu merasa bersalah karena kami semua akan menjaga kalian kamu dan si gadis kecil Yuyu.” Kata Lou Yi dengan nada tegas dan yakin.
“Yuyu!” Bonzhu segera mengedarkan pandangannya mencari sosok gadis kecil yang sudah berani berkorban demi dirinya itu.
“Dia ada di sampingmu,” sahut Fan Hu tiba-tiba saat melihat jika Bonzhu tidak mendapati Li Shang Yue.
Bonzhu yang mendengar ucapan Fan Hu dengan segera menoleh ke arah samping yang benar-benar ada Li Shang Yue yang sedang terlelap. Bonzhu menatap dalam dan sendu gadis kecil di depannya itu yang dengan berani berkorban untuknya tanpa mengharapkan adanya balasan.
“Dia belum bangun?”
Mendengar apa yang di ucapkan oleh Fan HU mereka semua langsung terdiam bukan karena tidak setuju tapi mereka dapat melihat luka di tangan Li SHang Yue yang penuh akan luka pasti karena memanjat tebing.
“Baiklah, aku akan memesan sarapan untuk kita dulu.” Hi An segera berdiri lalu menuju keluar kamar sewa mereka.
“Pesan yang banyak terutama yang daging, Yuyu sangat menyukai daging.” Kata Fan HU dengan sedikit keras.
“Baiklah,” Hi An keluar dari kamar sewa menuju lantai bawah untuk mencari seorang pelayan.
“Ada yang bisa saya bantu Tuan?” tanya seorang pelayan yang menghampiri Hi An.
“Ah akuy ingin memesan makanan untuk di bawakan ke dalam kamar 153. Pastikan untuk membawa menu dengan yang memperbanyak daging,”
“Baik Tuan akan saya laksanakan, Tuan bisa kembali ke kamar anda saya akan membawanya setelah selesai.” kata Pelayan itu dengan ramah.
__ADS_1
Hi AN hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban lalu berbalik beranjak menaiki tangga. Namun baru tangga kedua Hi An langsung di hentikan oleh suara yang sangat ingin dia hindari.
“Tuan….!”
Hi An yang mendengar itu mau tak mau akhirnya dengan terpaksa berbalik dengan memasang senyum manis yang di paksakan.
“Ada apa Tuan kepala desa?” tanya Hi AN yang menatap pria paruh baya di depannya itu sedang menatapnya.
“Apa mereka tidak punya pekerjaan selain mengganggu pagi kami yang cerah?” kesal Hi An.
Walau begitu bibirnya melemparkan senyum manis ke arah Kepala Desa dan Putrinya. Jika bibirnya tersenyum maka berbeda dengan matanya yang menatap tajam pasangan ayah dan anak itu yang menurut Hi An sangat menjengkelkan.
“Tuan ada dimana teman anda yang lain? Saya selaku kepala desa ingin mengucapkan rasa terima kasih saya secara langsung kepada mereka semua.” Kata Kepala desa dengan senyum lebarnya.
“Mereka ada di kamar sewa kami,” jawab Hi An dengan acuh tak acuh.
“Kalau begitu ayo kita kesana saya akan berterima kasih kepa mereka semua.” Kata Kepala desa yang sudah mendahului Hi An.
“Pak Tua ini benar-benar, ini juga nenek sihir kenapa ikut coba?” Hi AN dengan wajah masam hanya bisa berjalan menuju kamar sewa mereka.
Sampai dio kamar sewa Hi AN tidak langsung masuk ke dalam kamar. Pria itu berdiri menatap tajam Kepala desa dan putrinya.
“Sebelum masuk saya ingin memperingati anda Tuan kepala desa, jaga sopan santun putri anda baik-baik. JIka sampai dia menghina saudari perempuan kami maka jangan salahkan kami jika kami menyerangnya karena mulut putri TUan kepala desa tak pernah di ajari sopan santun.” Hi An menatap tajam Kepala desa itu dengan mengeluarkan aura intimidasinya yang kuat membuat kepala desa dan putrinya berkeringat dingin./
“Baik Tuan putri saya tidak akan mengatakan apa-apa saya berani jamin,” kata Kepala desa dengan gugup.
Hi An yang mendengar itu hanya tersenyum sinis sebelum membuka pintu kamar itu dengan lebar.
“Mana makanannya?” tanya Lou Yi saat pintu di buka namun hanya Hi An yang muncul.
“Lagi di masak,” jawab acuh Hi An.
__ADS_1
“Mereka…, untuk apa mereka disini?”